Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, 20 February 2016

THE VILLAGERS, MENGASAH KEPEKAAN SOSIAL PESERTA DIDIK

- No comments

Desa Gedong Pakuon yang terletak di kecamatan Baradatu, Way Kanan, akan menjadi destinasi kami. Siswa-siswi kami, sebanyak tiga puluh dua siswa, akan tinggal di sana untuk sepekan mulai 22 sampai 26 Februari 2016. Mereka akan berbaur dengan warga, membuat gula merah, jajanan kelanting, dan juga menderes batang pohon karet.

Kami menyebutnya The Villager. Program yang kami rancang bagi kelas selebas supaya mereka belajar berbaur dengan masyarakat, terlibat dalam kegiatan keseharian. The Villager diharapkan menjadi triger bagi kepekaan sosial peserta didik.

Bermula dari keprihatikan kami melihat intensitas peserta didik dengan teknologi, kurang aware terhadap lingkungan, dan besarnya hasrat konsumtif sehingga perlahan mengikis kepekaan terhadap kehidupan sosial dan juga lingkungan. Permasalahan yang sebenarnya tidak hanya dialami oleh peserta didik kami, tetapi secara menyeluruh generasi muda kota ini mulai bergeser ke arah sana.

Mengapa harus ke desa? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada kisah Halimatus Sa’diyyah yang menjadi ibu asi bagi Nabi. Suku-suku pedalaman Arab membutuhkan dukungan dan perlindungan dari suku-suku besar Arab untuk menjaga keamanan mereka dan sebaliknya suku-suku pedalaman dibutuhkan untuk mendidik anak-anak mereka. Suku baduwi adalah “penjaga” bagi keaslian bahasa Arab karena sebagai kota metropolis, Makkah sudah terkontaminasi oleh berbagai suku dan bangsa.

Kita menyadari bahwa kota ini sudah cukup terdesak oleh konsumtif warganya yang sejalan dengan pertumbuhan perekonomian. Disadari atau tidak, gaya hidup para remajanya banyak yang keluar dari jalur etik masyarakat Timur. Hal yang dulu terasa tabu kini menjadi begitu fulgar dipertontonkan.

Di sekolah kami mengajarkan nilai-nilai religi supaya kesadaran ubudiyyah peserta didik terus meningkat. Di sekolah pun kami mengajarkan nilai-nilai muámmlah supaya kepekaan intrapersonal mereka tetap tumbuh. Akan tetapi, yang susah payah kami bangun itu kerap sekali runtuh oleh satu atau dua momen yang mendatangi mereka melalui televisi, terutama internet.

The Villager adalah jeda, spasi yang memisahkan satu momen dengan momen lainnya, kekosongan yang menjadi pemicu tumbuhnya nilai-nilai baru. Meskipun jeda ini terlalu sebentar tetapi sama sekali tidak menyurutkan optimisme kami.

Saat briefing dengan peserta didik saya sampaikan kepada mereka bahwa The Villager bukanlah momen rekreasi, bukan ajang bersenang-senang. Ada target afektif dan kognitif yang harus dicapai. Secara diam-diam atau langsung tentu saja kami akan melakukan penilaian. Meskipun sebagai ajang trial bukan berarti kalian menjadikan kegiatan ini sebagai beban. Kita masih bisa tertawa, bercanda, dan bahagia.

Kami berharap bahwa pencapaian kegiatan ini dapat diraih secara maksimal.[]

Tuesday, 12 January 2016

PENDIDIKAN QURANI UNTUK MASYARAKAT MADANI

- No comments

Ketika Rasulullah lahir masyarakat Makkah adalah masyarakat materialistis. Riba menjadi selimut setiap aktivitas, baik perekonomian maupun peperangan. Orang-orang kaya Makkah memilih memberi modal kepada kabilah-kabilah yang akan berperang dengan meminta pengembalian harta rampasan perang yang besar.

Puncak materialisme di Makkah melahirkan kerinduan dan kecemburuan. Kerinduan untuk mendapatkan ketenangan batin dan kecemburuan atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memiliki tuntunan berupa nabi dan kitab suci. Perlu diketahui bahwa dalam sejarah turunnya nabi dan Rasul, semuanya didominasi oleh Bani Israil.

Di tengah masyarakat seperti itulah Rasulullah terlahir dan tumbuh menjadi dewasa. Semasa bayi, ia dititip-asuhkan kepada keluarga baduwi. Selain menjadi tradisi Arab untuk membuat aliansi, menitipkan pengasuhan kepada keluarga baduwi juga bertujuan untuk menjaga kemurnian bahasa Arab. Kedepannya nanti, tidak jarang penelusuran makna Alquran digali melalui makna asli bahasa Arab meminta pendapat orang baduwi.

Melihat Beliau tumbuh di masyarakat perdagangan, Rasulullah pun mahir dalam berdagang. Melihat Beliau hidup di masyarakat yang rawan konflik antar suku dan kabilah, Rasulullah pun terlibat dalam chaos perebutan kekuasaan. Selain itu, terdapat perbudakaan, konflik antara si kaya dan si miskin, dan gengsi.

Ketika Rasulullah sudah dewasa, sudah matang secara lahir dan batin, beliau tidak terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh negatif lingkungannya. Seperti ikan di samudra yang tidak terpengaruh oleh asin lautan. Tidak hanya resisten terhadap pengaruh-pengaruh negatif lingkungannya, Beliau hadir sebagai penengah, solusi, dan lentera harapan bagi masyarakat Makkah.

Kuncinya adalah pendidikan. Rasulullah dididik langsung oleh sang Maha Pengasuh alam semesta dengan Jibril sebagai juru rawatnya. Pendidikan yang dimulai sejak dini. Saya kira kita pernah mendengar kisah tentang Rasulullah kecil yang diajak untuk menghadiri jamuan pesta makan malam. Beliau turut hadir di sana tetapi Allah menyelematkannya dengan memberi rasa kantuk yang luar biasa sehingga beliau tertidur. Dan kisah-kisah menakjubkan lainnya yang menunjukkan betapa Allah sendirilah yang membimbingnya.

Istilah pendidikan dalam terminologi bahasa Arab bisa merujuk pada kata tarbiyyah, ta’lim, dan tadris. Masing-masing memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Meskipun demikian, kita tidak perlu terlalu lama berjibaku dalam perselisihan istilah tersebut tetapi kita ambil semangat dan ruhnya, yaitu membuka tabir yang menghalangi cahaya ilmu pengetahuan Ilahi.

Terpenting dalam pendidikan usia dini adalah pengenalan nilai-nilai melalui pembiasaan. Mengajarkan nilai ta’äwun (pengejewantahan dari wata’äwanü ála l-birri wa t-taqä) tidak dengan cara menjelaskan definisinya tetapi melalui pembiasaan dan praktik-praktik. Seperti mengajak menata dan merapikan barang milik pribadi di rumah supaya meringankan tugas ibu. Serta nilai-nilai qurani lainnya yang kita tanamkan kepada anak.


Alquran dan sunnah adalah induk semang dari segala pendidikan. Nilai dan dasar pendidikan terdapat di dalam keduanya. Tinggal kita mau atau tidak mempelajarinya. Rasulullah adalah Alquran yang berjalan. Sunnah yang ada dalam dirinya adalah pengejewantahan “teks” ke dalam “konteks”; dari pendidikan di keluarganya sampai pendidikan di lingkungannya; dari pendidikan nilai-nilai yang radikal sampai yang toleran; dari diri Rasulullah kepada seluruh alam semesta.

Salah satu kisah tersohor mengenai cara Rasulullah mendidik anak-anak adalah ketika Rasulullah tetap membiarkan cucunya meminta gendong beliau padahal saat itu beliau sedang menunaikan salat. Alih-alih membatalkan salat, Rasulullah justru tetap melanjutkan salatnya, memegangi cucunya tercinta di setiap gerakan supaya ia tidak terjatuh.

Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian itu adalah bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk bermain sekaligus ia meniru apa yang dilihatnya. Maka tugas orangtua dan juga guru, adalah menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, baik dalam ubudiyyah atau dalam kegiatan sehari-hari, supaya menjadi potret model yang ideal untuk ditiru.

Perilaku dan tutur kata yang belum/tidak layak dikonsumsi oleh anak harus disembunyikan. Bukannya mengajari ketidakjujuran dan ketidakterusterangan, tetapi nalar dan logika anaklah yang mungkin belum matang. Guru dan orangtua haruslah bijaksana dalam memilih permasalahan di luar konteks anak-anak yang patut dan tidak patut untuk mereka ketahui.

Kisah tentang Luqman adalah salah satu kisah dalam Alquran yang bisa kita ambil hikmah. Luqman adalah seorang budak hitam dari Habsyah. Derajatnya diangkat sangat tinggi. Konon, ada seorang yang mendatanginya dengan raut wajah heran.

“Bukankah engkau penggembala kambing?” Tanya lelaki itu.

Luqman menjawab, “Benar!”

“Lalu apakah yang menghantarkanmu sampai pada derajat yang begitu tinggi seperti sekarang ini?”

Luqman pun menjawab, “Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.”


Terlebih tentang Luqman, penulis ingin merujuk kepada Athfälu al-muslimïn, kaifa robbähum an-nabiy al-amïn yang ditulis oleh Jamaal Abdur Rahman. Kita dapat mengambil beberapa nasehat dari surat al-Luqman yang bisa kita jadikan pedoman untuk mendidik putra-putri kita.

Pesan pertama
Dalam ayat ke-13 diceritakan bahwa yang pertama-tama diajarkan Luqman kepada anaknya adalah mengenai tauhid. Ia berpesan, “Hai anakku, jangan sekali-kali mempersekutukan Allah,” tidak cukup dengan memberikan pelarangan tetapi ia pun memberi alasan dengan mengatakan, “(karena) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang amat besar.”

وَإذْ قَالَ لُقْمنُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعظُهُ يبُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِالله إن الشِرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ.

Aqidah adalah perihal yang sangat penting yang pertama-tama ditanamkan kepada anak. Kokohnya aqidah yang genggam oleh anak akan menimbulkan pengaruh kepada aktivitas-aktivitas selanjutnya. Ia mungkin akan bersedih atas kemalangan yang menimpanya tapi ia tidak akan meratap karena ia mengetahui hikmah dari kemalangan tersebut.

Pesan kedua
Dalam perjalan spiritual kita mungkin pernah mengalami masa-masa saat shalat begitu khusyuk dalam keramaian dan begitu cepat seperti menyeruput kopi panas dalam kesendirian. Atau merasa putus asa ketika perbuatan baik yang kita lakukan tidak mendapatkan apresiasi. Alih-alih mendapatkan apresiasi, setitik kesalahan yang pernah dilakukan justru diungkit terus menerus.

Pada nasehat kedua, Luqman mengingatkan anaknya supaya menjalani kehidupan dengan terus mawas diri karena sekecil apapun amal yang dilakukan, bersama-sama atau pun sendiri, disembunyikan serapat-rapatnya, seseungguhnya Allah mengetahui hal tersebut dan Dia akan datang dengan membawa balasannya.

يبُنَيّ إنها إن تَك مِثْقالَ حَبةٍ من خَرْدلٍ فتكُن في صَخْرة أو في السموت أو في الأرضِ يَأتِ بها الله إن الله لطِيْفٌ خَبِيْر

“Hai anakku,” kata Luqman, “sesungguhnya jika ada perbuatan seberat biji sawi dan disembunyikan di dalam batu, di langit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatanginya dengan membawa balasan yang setimpal.” Tak sedikitpun yang akan luput dari pengetahuan-Nya karena “Sesungguhnya Allah mahahalus lagi Maha Mengetahui.”

Pesan ketiga
Setelah berpesan mengenai dua hal mendasar di wilayah aqidah dan akhlak, selanjutnya Luqman menyampaikan nasehat tentang wilayah syariah. Ia berpesan kepada anaknya supaya menegakkan shalat (ayat ke-17).

يبُنَيّ أقم الصلوة وأمُرْ بالمَعْروفِ وانْهَ عن المنكر واصبِر عَلَى مَا أصابَك إن ذلك مِن عَزْم الأُمُــــوْرِ

Nasehat ini menjadi petunjuk bagi kita bahwa agama-agama samawi telah memerintahkan umat pemeluknya untuk menunaikan shalat. Yang membedakan shalat antara syariat sebelum Rasulullah dengan syariat ajaran Rasulullah adalah tata cara ibadahnya. Dan mengenai hal ini, kita bisa merujuk pada kitab-kitab turots.

Tidak hanya shalat Luqman pun mengajak supaya anaknya menyeru manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang munkar. Ibnu katsir menjelaskan bahwa memerintahkan perkara yang baik dan mencegah perkara yang munkan menurut batas kemampuan dan jerih payahmu karena pastinya dalam amr bil ma’ruf dan nahy án munkar akan mengalami rintangan dan gangguan dari orang lain. Untuk menguatkan hati anaknya, Luqman menyampaikan supaya ia bersabar dalam menjalankan perintah-perintah tersebut: shalat, amar ma’ruf, dan nahyu ánil munkar.

Ada pendapat lain bahwa Luqman memerintah anaknya supaya bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di dunia (álä mä ashöbak, atas apa yang menimpamu) dan jangan sampai ketidaksabaran menghadapi hal tersebut menjerumuskanmu dalam perbuatan durhaka kepada Allah.

Pesan keempat
Lalu sampailah nasehat Luqman kepada anaknya perihal hubungan antar manusia, kesopanan dalam bersosialisasi. Ia mengatakan, “Dan kamu janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (ayat ke-18)

ولا تُصَعِّر خدَّكَ للناس وَلا تَمشِ فِي الأرْضِ مَرَحً إن الله لا يحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْر

Dengan hati-hati Luqman memerintahkan supaya anaknya tidak sombong dengan cara memalingkan wajah. Memalingkan wajah adalah salah satu ekspresi kesombongan dan masih banyak lagi cara orang mengekspresikan kesombongan. Sho’ir khoddaka adalah kiasan. Makna aslinya adalah unta yang mengalami sakit pada sendiri punuknya yang membuat wajahnya tidak bisa tegak dan memalingkan muka.

Sumber kesombongan juga bermacam-macam. Ada kalanya bersumber dari kebanggaan atas diri sendiri karena perbuatan baik; atau menganggap orang lain remeh karena kesalahan atau dosa yang dilakukan.

Imam al-Qurthubi menafsiri ayat ini bahwa kita hendaknya berprilaku simpatik dan menawan kepada lawan bicara kita. Menatap wajahnya, bukan memaling wajah saat berbicara.

Pesan kelima
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan antar manusia adalah pola komunikasi. Luqman menasehati anaknya supaya baik-baik berkomunikasi dengan mereka.  Setelah mewanti-wanti supaya menjaga sikap dari sifat tercela, kali ini Luqman mengingatkan supaya anaknya senantiasa berhias diri dengan akhlak terpuji. Hai anakku, sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuh-buruk suara ialah suara keledai (ayat ke-19).

Al-qoshdu, menurut imam Qurthubi, adalah cara jalan yang tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

سُرْعَةُ المَشْي تُذْهِــبُ بَهَاءَ المُؤْمِنِ

“Cara jalan yang cepat akan menghilangkan keanggunan orang mukmin.”

Tentu saja kecepatan dalam berjalan ini disesuai dengan adat dan tata krama di lingkungan masing-masing. Bisa jadi kita hidup di lingkungan di mana orang berjalan pelan dan bisa jadi di lingkungan yang lain justru berjalan berkali-kali lebih cepat. Kita pun dapat merujuk kepada ayat lain untuk menjelaskan maksud ayat ini, yaitu:

وَعِبَادُ الرَحْمن الذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأرْض هَوْنًا

“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”

Selain dengan cara jalan, adakalanya seseorang menunjukkan kesombongannya melalui suaranya yang meninggi dan juga bahasa yang mengungguli lawan bicaranya. Allah menyindir orang-orang yang meninggikan suaranya seperti suara keledai. Mengapa perumpamaan yang dipilih adalah keledai?

Di lingkungan Arab berlaku ejekan sangat keras, salah satunya adalah menyamakan seseorang dengan keledai. Bagi kita, masyarakat Indonesia, mempersamakan dengan keledai mungkin tidak begitu keras karena secara adat dan budaya memang berbeda. Wallahu a’lam bish showab.


Nilai pendidikan
Dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Luqman di atas kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya pendidikan aqidah sebagai pondasi bagi anak. Tidak hanya perihal aqidah yang diajarkan, kesadaran untuk menunaikan ajaran (syariah) juga harus ditanamkan sejak dini.

Mengingat kita sebagai manusia dan hidup dalam lingkungan sosial, maka diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni di dalam masyarakat. Tasamuh dan saling menghormati adalah output dari kesadaran relijiusitas. Semoga pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah dapat tegar berjalan dan kokoh dari berbagai godaan.
.

Tuesday, 24 November 2015

GURU SEBAGAI CAHAYA DI DALAM KEGELAPAN

- No comments

Cara Kita Dididik
Dari semua guru yang pernah mendidik kita, berapa guru yang benar-benar menginspirasi hidup kita—baik karena nasehat-nasehat yang mereka siramkan maupun cerita-cerita mereka yang mencerahkan?

Siapakah mereka yang mendidik kita kala di sekolah dasar? Siapakah mereka yang mulai mengenalkan hal-hal rumit saat kita di sekolah menengah? Siapakah mereka yang telah menjadikan kita sarjana?

Kebanyakan dari kita memiliki pengalaman yang sama dalam belajar padahal kita tidak satu mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Saya menikmati pendidikan yang didominasi dengan pendidikan verbal. Menceramahi murid sehabis-habisnya.

Cara mendidik seperti ini bisa jadi sangat relevan pada saat itu mengingat media informasi di kampung saya hanya melalui televisi dan radio. Gurulah yang kemudian menjadi pintu pembuka wawasan melalui dialog dan diskusi. Namun kebanyakan guru saya memilih berceramah dari pada melakukan eksplorasi melalui praktik dan kegiatan lainnya.

Tapi dari guru yang “banyak bicara” itu jadilah diri saya –juga mungkin kita—yang saat ini; yang masih cadas menyanyikan lagu Gebyar-gebyar, yang membagi bilangan dengan cara porogapit; yang masih terniang-niang nama Harmoko sebagai menteri Penerangan.

Apa yang membuat kita masih mengingat-ingat apa yang kita terima selama pendidikan sepuluh tahun yang lalu? Tidak terbesitkah keinginan supaya anak didik kita, kelak, melakukan hal yang sama dengan kita sekarang?

Cara Kita mendidik

Manusia adalah mahluk mimesis yang sangat cerdas. Masa-masa menjadi mahluk mimesis yang paling efektif adalah pada masa pertumbuhan, saat manusia menjadi “sponge” yang paling haus terhadap air. Lalu ketika kita menjadi guru cara kita mengajarkan tak jauh-jauh dari cara kita mendapatkannya. Silahkan direfleksi.

Saat ini, pendidikan kita mirip dengan apa yang digambarkan oleh Thomas Lickona dalam “Educating for Character: How Our Schools Teach Respect And Responsibility”. Urusan utama sekolah adalah bekerja, beraktifitas dan berkarya sebagai pembelajaran. Sekolah harus merancang rangkaian aktifitas yang dapat membantu siswa memahami kualitas dirinya, mengerjakan sesuatu dengan kemampuan terbaiknya, dan mengembangkan kualitas karakter yang melekat pada dirinya untuk mampu doing the best.

Tapi bagaimana peserta didik kita akan dapat menerima pembelajaran itu kalau sumber cahaya inspirasi mereka masih terbelenggu oleh sistem lama?

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan “Yang berkuasa adalah mereka yang menguasai informasi”. Kalau kita tarik dalam perspektif pendidikan yang membedakan antara guru dengan murid adalah penguasaan informasi/materi. Kita dapat menemukan anomali di mana siswa tampak lebih menguasai materi dibandingkan gurunya.

Apa yang terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat kompleks. Nilai-nilai yang ditanam di sekolah diluluhlantakkan oleh dimensi layar flat. Sehingga kalau guru masih mengajar secara konvensional—ceramah, ceramah, dan ceramah lagi—kesempatan untuk memetik hasil yang maksimal dalam pendidikan menjadi sangat kecil.

Guru memang sudah seharusnya memperluas wawasan dan kritis terhadap lingkungan, senantiasa mengasah kemampuan mengajarnya untuk melakukan simulasi dan stimulus pada diri peserta didik. 

Semakin luas dan kaya wawasan guru semakin mungkin ia melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Momentum Hari Guru

Sebagai murid dari guru-guru yang telah membesarkan saya, hanyalah untaian doa yang dapat kusenandungkan untuk mereka. Dari sekian banyak bimbingan sedikit sekali yang dapat kuingat—bahkan yang teringat justru kebandelan dan pembangkangan yang saya lakukan. Saya belajar tentang keuletan, tanggungjawab, dan keikhlasan dari mereka bahkan dari guru yang mata pelajarannya tidak saya sukai.

Bukan salah mereka kalau kita harus melahap habis banyak mata pelajaran. Bukan salah kita pula kita harus menyuapi peserta didik dengan sekian banyak mata pelajaran. Kita sadar bahwa kita tidak bisa melahap habis semua. Begitu pula kita menyadari bahwa peserta didik kita tidak bisa mengkonsumsi semuanya.

Lalu, apa yang bisa guru berikan kalau faktanya mereka tidak menyukai materi yang diajarkan?

Guru tidak hanya mengajarkan materi-materi di kelas. Ada proses ‘transfer’ lainnya yang kasat mata dan yang paling kasat mata dalam pembelajaran adalah energi guru menyambar reseptor-reseptor anak didiknya. Seredup apapun cahaya yang kita pancarkan, di dalam ruang gelap cahaya itu menjadi petunjuk dan harapan yang sangat besar.

Untuk itu, dalam momentum Hari Guru ini, alangkah baiknya kita merenungi posisi kita sebagai guru. Posisi yang memiliki derajat kemulyaan yang sangat tinggi. Dengan demikian, kita tidak hanya akan bersyukur dan memperbaiki diri tetapi juga berterimakasih pada mereka, pada guru-guru kita.

Sebagai penutup, saya kutipkan catatan di buku Thomas Lickona:
Saya menghawatirkan jika saya merupakan elemen penentu di dalam kelas … sebagai guru, saya memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat kehidupan siswa menjadi yang tidak karuan atau menjadikan mereka gembira. Saya dapat menjadi sebuah alat untuk menyiksa atau menjadi sebuat alat inspirasi. Saya dapat menghina atau bercanda, menyakiti atau menyembuhkan. Dalam segala situasi, sudah merupakan tanggung jawab saya utnuk menentukan apakah sebuah konflik akan dibesar-besarkan atau diselesaikan, dan memperlakukan seseorang anak dengan baik atau tidak.
--------------Haim Ginott

Wednesday, 16 September 2015

Menjadi Ustadz SK

- No comments

Karena saya mengajar di sekolah Islam maka saya dan juga teman-teman lainnya harus memiliki kemampuan membaca Alquran. Seharusnys tidak hanya karena mengajar di sekolah Islam, mengajar atau tidak, di sekolah Islam atau bukan, tetap saja seorang muslim harus mampu membaca Alqurán.

Teman saya antusias sekali ketika ditunjuk untuk membimbing anak-anak dalam membaca Alqurán. Tak cukup sampai di situ, teman saya ini membawa-bawa saya supaya turut membantunya mengajar. “Bacaannya bagus. Saya pernah mendengarnya membaca Alquran sekali.”Begitu kata temannya saya.

Maka, mulai tahun ini saya mengajar—sekaligus membimbing—anak-anak dalam membaca Alqurán. Tapi saya mengajukan satu syarat: jangan panggil saya dengan sebutan ustadz.

Dua hari pertama, saya melakukan orientasi. Saya bingung bagaimana cara mengajari anak-anak membaca Alqurán. Saya bingung, anak-anak lebih bingung. Aha!! Saya siram dulu ah pake ice-breaking: cerita.

Saya ceritakan bagaimana kitab suci yang ada di tangan mereka ini dulu disusun; bagaimana Rasulullah dengan susah dan payah menerima dan menyampaikan wahyu; bagaiamana Zaid bin Tsabit dengan berat hati menerima perintah untuk mengkodifikasi mushaf-mushaf Alqurán yang tercecer di tangan-tangan sahabat; bagaiamana enam salinan Alquran dibagi ke gubernur-gubernur yang memegang tampuk kepemimpinan yang strategis; bagaimana dulu Alqurán ditulis tanda tanda-tanda harokat.

Antusias Anak Sebelum Setoran
Hingga diakhir cerita—yang sebenarnya lebih mirip ceramah—saya menekan nada suara saya untuk menyampaikan amanah cerita:

Sekarang kita tinggal membaca dan mempelajari Alquran, maka tekunilah dua aktifitas ini.

Saya menghidari peran sebagai ustadz, tapi ternyata berceramah ala ustadz menyenangkan. Pastas kalau tiba-tiba banyak bermunculan ustadz-ustadz. Dan saya menjadi ustadz SK. Maksud saya, saya jadi ustadz karena menerima SK dari pemimpin saya. Artinya, gelar ini bisa kapan saja dicabut.

Mumpung belum dicabut saya cerikan pengalaman asyik menjadi ustadz dadakan ini.

Ada anak yang hafalan juz amma bagus sekali. Tak hanya bagus tapi juga fasih. Saya manggut-manggut, semacam malu karena mengukur diri, melihat ketrampilan anak menghafal. Ini hasil jerih payah orangtua atau guru TPA di lingkungannya?

Ketika dulu saya belajar baca Alquran ya hanya baca Alquran. Pernah juga disuruh hafalan tapi tidak mau menghafal. Makanya kalau saya menjadi imam shalat, saya hanya bisa membaca surat qul saja. Itu lho tiga surat terakhir.

Karena ini baru bagi saya makanya saya mengajar seperti dulu saya menerima pelajarannya. Talaqqy. Satu persatu anak-anak maju membaca lembaran Iqro’. Kalau salah saya berdehem, kalau benar saya bilang guuud.

Saya sering dibuat GR oleh anak-anak. Pernah suatu hari saya tidak masuk kelas dan digantikan oleh guru lain dengan mata pelajaran lain. Mereka langsung huuuuu tidak antusias. Pernah saya menyela pelajaran baca Alquran dengan pelajaran menulis Arab dengan baik dan benar. Mereka pun langsung huuuu tidak antusias. Mereka lebih memilih belajar baca Alquran.

I’m surprised. Senang bukan main tapi saya juga penasaran kenapa mereka begitu antusias lebih memilih belajar baca Alquran. Jawaban mereka pun bikin saya mesem-mesem: “Kalau yang lain ngaji kita kan bisa mainan, pak.”Oh!

Tidak hanya itu, saya juga pernah dibuat tertawa kecil. Tentu sambil saya gelengkan kepala bukan kepalang. Dia baca hakyimi. Saya koreksi sampai tiga kali tapi tetep saja baca hakyimi. “Bukan hakyimi tapi hakiimi.”Kata saya. “Ya tah?!!”kata anak saya seperti tidak percaya.

Bagaimana pun juga pelajaran ini tetap harus berjalan. Namanya juga anak-anak. Saya dulu lebih nakal. Jadi, saya anggap ini cicilan karma. Mungkin kalau saya jadi ustadz ujian kesabaran saya akan lebih besar. []


Wednesday, 12 November 2014

Kelas Bintang

- No comments
Performace: My students show up their Time Table.

Selamat datang senja, selamat menghantarkan mereka yang lelah bekerja menemui malam.

Saya ingin bercerita tentang kelas saya hari ini. Apa?! Iya, aku tahu foto itu bukan foto kelas saya hari ini, tapi saya tak bermaksud membohongimu. Saya pasang foto itu karena hari ini sama sekali tak ada foto, jadi kupasang sekenanya saja.

Apa?! Ceritakan saja tentang foto itu? Hmmm, baiklah.

Itu foto anak bintang yang halaman rumah asalnya mungkin sudah berbatu koral indah ditata seperti taman surga dan dibelah  jalan bercor mengarah pada garansi mobil di sebelah kamar tidur ayah ibunya. Ada juga yang luas halaman rumahnya terhampar begitu saja dengan rumput yang sengaja dibiarkan tumbuh supaya bunga-bunga liar mekar dengan mesra dan kupu-kupu datang mengecup bunga.

Setiap hari, selama sembilan jam dari Senin sampai Jum'at, mereka di sini, di sekolah yang bangunannya memanas karena penyemimbang suhu ruang kelas kerap tak bekerja dengan baik. Saya dan mungkin guru yang lain tak sekali dua kali meniup semangat belajar dalam hati mereka, sehingga yang tadinya lelah dan gerah kembali tersenyum melihat ceria para gurunya.

Ah, mungkin tak seperti itu. Justru karena melihat senyum mereka yang mesra dan tatapan mereka yang tak memupus harapan, saya dan mungkin pula guru yang lain justru kembali menemukan sisa tenaga kami.

Nadira (Nadya?) is opening her presentation about her Time Table.

Itu di atas adalah foto Nadira, atau mungkin Nadya, yang sedang memulai presentasinya tentang tugas membuat Time Table. Oo iya, Nadira punya saudari kembar, namanya Nadya. Kembar identik. Sangat identik. Sialnya, saya sering lupa membedakan mana yang Nadira dan mana yang Nadya. 

Benar, itu pintu. Hari itu, kelas terasa panas sekali. Pendingin ruangan seperti tidak bekerja. Kipas angin juga tak dapat membantu apa-apa. Jadi saya panggil saja siswa yang akan mempresentasikan untuk keluar kelas. Tak hanya Nadira (Nadya?) yang mempresentasikannya di luar kelas tapi juga dua puluh enam siswa lainnya. 

Masih ada siswa yang berbicara bahasa Inggris terbata-bata. Untuk yang seperti ini saya bimbing untuk berbicara lantang tak peduli grmatikal. Yang penting kepercayaan dirinya tumbuh dulu. Dia kan merasa tak mampu lalu jadi malu-malu, karena malu-malu dia tak dapat menunjukkan performance terbaiknya. 
Kalau menyampaikan presentasi dengan suara lantang belum juga cukup, saya bimbing melalui pertanyaan-pertanyaan. Ada yang lucu, senja. Dikiranya, saya membimbing kalimat-kalimat presentasinya padahal tak begitu maksudku: 

Saya: "How many agendas do you have this month?
Dia: "How many agendas do you have this month?
Saya: "I don't have any agendas. How about you?
Dia: "I don't have any agendas. How about you?
Saya: *Senyum* "Don't repeat it.
Dia: "Don't repeat it.

Senja, saat pasti kamu tersenyum di kejauhan sana. Muridku memang masih banyak yang lugu. Saya tak tega kalau tak sungguh-sungguh membimbingnya. Senja, itu yang menempel di belakang anak-anak adalah hasil karya mereka. Dulu, semasa saya di tingkat pertama seperti mereka, tak pernah ada acara bikin-bikin karya. Sekarang, semua tak seperti dulu. Seperti kata-katamu yang lalu, peting yang baik dan buang yang tak apik.

Salam.

Pose di depan Hasil Karya


Menempel Hasil Karya

2014    
.