Showing posts with label Sastra dan Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sastra dan Budaya. Show all posts

Sunday, 10 January 2016

YA RASULULLAH, DATANGILAH KAMI

- No comments

Ya Rasulallöh, Ya habiballöh
Sudikah kiranya Engkau tunjukkan wajahmu yang teduh itu kepada ummatmu ini
yang semakin hari semakin gemar bertikai
memperebutkan kebenaran atas ajaran yang Engkau sampaikan ribuan tahun silam
agar turut teduh wajah kami
damai hati kami
lembut suara kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Adakah tanda-tanda kemenangan bagi kami dalam berjihad melawan hafwa nafsu kami sendiri
sementara dua pusaka yang Engkau wariskan kepada kami tak lebih hanya menjadi hiasan dinding di ruang tamu yang mengundang decak kagum ummatmu yang datang berkunjung
potongan kitab sucimu diukir menjadi kaligrafi dengan bingkai kuningan atau kayu pilihan
sunnahmu ditenggak-tegakkan padahal ia semakin miring dan menunggu saatnya jatuh tersungkur ke kubangan

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Menangiskah Engkau ketika ummatmu terpecah menjadi firqoh-firqoh
dari Washil bin Atho’ hingga Ja’ad bin Dirham
dari khawarij hingga Murji’ah
dari Ahlussunnah hingga Syiáh
ataukah justru air matamu tak kunjung berhenti hingga kini?

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Siapa di antar kami yang benar-benar mengikuti sunnahmu?
di antara kami yang mengikuti tampilan zahirmu atau di antara kami yang menyembunyikan pelajaran hikmahmu
datangi tidur malam kami
atau titipkan melalui mereka yang terbuka mata bashirohnya
yang terkantuk-kantuk di atas sajadahnya
yang lebih mencintai malamnya daripada siangnya
yang bersyukur kala terang dan bersabar kala gelap
yang di tangannya tergenggam ajaran kasih sayang

Kalau Engkau tak pula sudi,
utuslah Abu Bakar, sahabat terkasihmu, untuk menasihati kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Shalawat dan salam atasmu
Semoga kelancangaku tak menjauhkan syafa’atmu

2015
.

Tuesday, 29 September 2015

SALAMAH

- No comments

Di hari-hari biasa, ketika tak ada yang peduli dengan kepunahan kicauan burung di pagi hari, Salamah meneriaki anak yang bagai pinang dibelah dua itu untuk bersiap-siap berbelanja pengetahuan di bangku sekolah. Ia tentunya seorang ibu yang baik dengan mengirim mereka ke sana. Sembari meneriaki mereka tangannya dengan lincah meracik bumbu untuk makan yang akan matang ketika matahari setinggi dua tombak ke langit. Lalu, mereka berdua sarapan apa? Tidak pelak lagi bahwa mie instan sudah menjadi kebiasaan menahun.

Pada jam istirahat pertama, mereka berdua –yang tua bernama Satin dan adiknya bernama Samin- akan kembali ke rumah untuk membayar hutang sarapan pagi yang ditinggalkan. Maklum, sekolah mereka hanya beberapa jengkal saja. Bahkan ujung tiang benderanya dapat diintip dari halaman rumah.

O iya…. Suami Salamah adalah mandor yang selalu pergi meninggalkan keluarganya. Orang-orang memanggilnya Obang. Nama aslinya Oemar Bangkit. Ketika pulang, isterinya akan menyambut dingin dengan senyuman, dan sesekali menanyakan keadaan proyek yang ditanganinya. Sebenarnya ia tidak suka suaminya berprofesi di sana karena sawah warisannya ayahnya tidak tergarap sama sekali. Sesekali ia curiga kalau suaminya memiliki perempuan simpanan.

Seperti malam itu ketika Satin dan Samin masih berumur beberapa bulan di gendongan. Ia serta merta menuduh suaminya berselingkuh karena uang untuk belanja sudah menipis padahal ia sering keluar menangani proyek. Bahkan ia sampai menggunakan popok kain karena uang untuk membeli popok pampers sudah habis. Untuk menunjukkan kesetiannya, akhirnya Obang melepas beberapa proyek yang akan ditanganinya yang akhirnya sangat disesali oleh Salamah.

Obeng hanya menggelengkan kepala keheran-heranan setelah melihat kekonyolannya sendiri.
Terjadi perubahan besar ketika nyawa Obang harus pergi meninggalkan mereka ditelan dunia. Salamah berdiri sendiri di atas tanah warisan ayahnya. Untungnya suaminya meninggalkan dalam keadaan kecukupan sehingga ia tidak perlu terlalu kwatir dengan ekonominya. Rumahnya sudah cukup besar untuk ditinggali empat orang, bahkan walaupun ditambah dua orang lagi.

Sehingga di tahun berikutnya setelah lulus dari SMA Satin dan Samin tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena mereka berdua sudah harus merawat rumah dan melayani suaminya. Dan benih yang dititipkan di rahim mereka telah melahirkan cucu buat Salamah.

Tentu saja dua orang yang masuk ke dalam keluarga itu sangat beruntung. Mereka sudah tidak perlu lagi mencari tanah kosong untuk menanam batu bata.
Namun, seperti kekhawatiran beberapa teman Samin, konflik keluarga pun tak mampu dielakkan lagi.

Dulu, ketika Salamah baru memiliki cucu, banyak sekali coretan kapur membentuk lingkaran mengelilingi genangan air. Perempuan yang baru menjadi nenek selalu mengambil peran untuk mengepel kencing cucunya karena hanya itu yang boleh ia kerjakan –sejak punya menantu ia tidak lagi menantang terik matahari di tengah sawah. Saat anak-anak tidur siang Salamah akan membacakan shalawat atau senandung apapun untuk menidurkan mereka.

Dindingpun sudah tidak lagi berwarna putih bersih seperti sedia kala. Banyak coretan dimana-mana menunjukkan kreatifitas alami anak. Samin dan Satin tidak pernah capek mengomeli mereka, seperti ketika mereka terus-terusan diomeli waktu kecil.

Waktu terus beranjak. Mereka mulai ada ketertarikan terhadap benda tertentu. Sesekali cucu tua memukul adiknya untuk mempertahankan yang menurutnya adalah haknya. Maka ia akan menangis dan mendatangi neneknya. Karena si cucu tua tahu apa yang akan dilakukan nenek ia memilih mengalah dan memberikan kepunyaannya ke adiknya. Bahkan Samin dan Satin sesekali bersikap bukan layaknya saudara hanya karena ingin membela anak sendiri.

Ketika malam didiami oleh kesunyian, si cucu akan lebih memilih tidur bersama nenek dari pada menerima kehangatan ibu mereka. Dan kali ini mereka berdua akan marah atau lupa bahwa mereka sedang mengumpat pada ibunya sendiri hanya karena ingin ngeloni anak meraka.

“Kang, kenapa saufi selalu menolak kalau ku ajak tidur di sini? Dia selalu memilih tidur bareng ibu di kamar belakang.” Tanya Satin dengan cemas.

“Ya… Biarkan saja. Toh Saufi tidak pergi kemana-mana?” Jawab suami dengan enteng.

“Tapi apa Kakang tidak khawatir?”

“Kenapa khawatir. Saufi kan dimomong neneknya. Dia masih memanggil kamu dengan dengan sebutan ibu kan? Dia masih memanggil saya dengan sebutan bapak kan?” Satin mengangguk cemas. “Ya sudah apa yang perlu dikwatirkan.”

Sedangkan di kamar sebelah, saksi bisu kemesraan antara Samin dan suaminya, terdengar pula perbincangan yang mengusik.

“Dik, apa tidak sebaiknya kita tinggal di rumah sendiri saja?”

“Kenapa dengan rumah ini Mas?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ada ketidak-mandirian dalam diri kita sebagai keluarga.”

“Maksud Mas?”

“Saya ingin membesarkan Asnawi dengan tangan kita sendiri?”
Samin menghela nafas panjang setelah mendengar keinginan suaminya. “Aku tidak tahu apa ibu akan menerima keinginan kita. Apa Mas tidak ingat waktu kita sampaikan keinginan yang sama dulu?”

“Saya akan bicara pada Kang Saliman. Semoga bisa dimengerti?”

[next]
* * *
Ketika dingin mulai terasa menusuk dada, keluarga mereka duduk bercengkrama di depan televisi sambil menikmati takiran dari tasyakuran panen lada tetangganya. Hanya saja, nenek Salamah tidak ada di sana. Semua orang tahu ke mana para nenek berada ketika menjelang Isya’. SepertiKetika Saufi atau Asnawi menangis mencari neneknya orang tuanya akan menjawab Nenek sedang mencari surga di masjid, tunggu sampai isya baru nenek pulang.


“Kang Man. Apa kakang tidak merasa rumah ini terlalu kecil untuk dua keluarga?”

Jelas sulaiman menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Badru karena sebenarnya rumah yang mereka tinggali masih cukup luas meskipun ditambah dua anak lagi.

“Lalu apa kamu dan Samin punya cukup uang untuk memulai dari awal?” Jawabnya langsung ke inti persoalan.

“Kami sudah membicarakan hal ini dengan Samin. Hanya saja kami tidak tahu bagaimana harus kami sampaikan ke ibu.”

Mereka berempat saling bergantian berpandangan. Dan tiba-tiba, selera makan pun menghilang. Ayam ingkung yang ada di tangan dikembalikan lagi ke atas piring.

“Saya ingin tahu masalah sebenarnya apa?” Tanya satin dengan nada sedikit dikeraskan.

“Tidak ada masalah apa-apa. Kami hanya ingin sedikit lebih mandiri.” Badru menjawab dengan hati-hati karena melihat kakak iparnya yang sering cepat naik pitam.

“Kalau permasalahannya adalah kemandirian, kita skat saja rumah ini. Nanti kita tentukan saya dengan Kang Saliman dapat bagian yang mana.”

“Bukan begitu mbak. Kami… “

“Samin! Kalau yang kamu bingungkan adalah keadaan ibu, kita bisa jatah tinggal. Satu minggu bersama kami dan satu minggu bersama kalian.”


[next]
* * *

Di malam yang sepi dengan kesendirian yang sama seperti biasanya Saliman menata kemesraan dan menaruh letih bersama isterinya.

“Kenapa tadi tidak terima saja keinginan mereka?” Ungkap Saliman membahas perhelatan sore tadi.

“Dengan membiarkan mereka pergi dari rumah ini?” Tanya isteri Saliman keheranan.

“Tidak! Mereka yang di sini dan kita yang pergi. Bukankah kamu ingin Saufi jauh dari kemanjaan neneknya?”

“Kang, ibu sudah tua. Kalau kita pergi sekarang kita hanya akan dapat tanah pekarangan kang.”

Saliman hanya tersenyum tipis mendengar alasan isterinya. Lalu ia masukkan wajahnya ke sela antara bantalnya dan bantal isterinya meninggalkan keinginan-keinginan yang sudah tampak biasa di telinganya.
Sedangkan di kamar yang lain.

“Mas, apa kita akan melanjutkan keinginan kang Saliman membuat tembok pembatas di rumah ini?”

“Entahlah.”

“Kok entahlah?”

“Kita teruskan dahulu hidup kita yang telah kita jalani. Mungkin akan ada kesempatan yang lebih baik.”


[next] * * *

Salah seorang jamaah subuh begitu terkaget-kaget ketika mendengar kedua keluarga itu beradu mulut. Pertengkaran mereka terdengar jelas dari luar rumah. Apalagi langit dan seluruh isinya masih hitam.

“Ini salahmu Dru! Kamu juga Min! Kenapa pake ada acara pingin pindah rumah segala? Apa kalian tidak belajar dari pengalaman? Apa kalian tidak tahu kalau ibu sangat menyayangi cucunya? Apa kalian tidak lihat ibu sudah tua? Sabar sedikit kenapa.”

“Begini mas…”

“Begini bagaimana? Ibu sudah udzur. Kalau mau minggat tunggu ibu kehilangan nafasnya. Sekarang, kita harus bagaimana?”

Mereka bernafas dengan kemarahan masing-masing. Asnawi dan saufi yang tidak tahu apa-apa mengkeret di ujung sofa saling berpelukan. Mata mereka menangkap keganasan dan keserakahan dari kedua mata orang tua mereka.

Kedua menantu saling berpandangan dan tertegun dengan kebingungan. Saliman menatap secarik kertas tulisan tangan mertuanya yang ternyata wasiat wakaf seluruh hartanya kecuali rumah yang mereka tempati. Di sudut bawah dibubuhi tanda tangan kepala desa dan mudin setempat. Juga tanggal kesepakatan tersebut dibuat yang ternyata hanya setelah beberapa hari setelah Samin dan Badru mengutarakan maksud untuk pindah rumah dua bulan yang lalu.

Rupanya perbincangan mereka tertangkap Salamah yang pulang untuk mengambil kitab suci yang biasa dipakai untuk tadarus karena tertinggal. Dan karena itulah ia mengambil keputusan. Ketika subuh biasanya sudah diterangi lantunan lirih ayat-ayat suci pagi itu tidak terdengar apapun kecuali detak jam dinding. Samin yang biasanya rajin menyusul ibunya menangkap kegagapan tersebut.

“Mas, kita cari ibu di masjid.” Ajak Samin. Badru sebenarnya menangkap kekonyolan dari ajakan isterinya itu, karena untuk apa sembunyi di sana dengan meninggalkan surat wasiat seperti itu. Justru ia sedang memperkirakan kepergiannya yang sangat jauh.

Berempat mereka keluar rumah meninggalkan Asnawi dan sepupunya tetap tinggal di rumah. Sesampainya di masjid disana tidak ada apa-apa kecuali beberapa jama’ah yang baru pulang yang justru menanyakan kealpaan nenek itu.

Setelah merasa pasti mereka pergi menuju ke rumah RT. Namun pak RT tidak ada di rumah sejak subuh. Isterinya beralasan kalau suaminya sedang mengantarkan tamunya.

Dengan malu-malu Satin meminjam telepon untuk menghubungi mbah Inten yang menjadi kordinator pengajian ibu-ibu. Bukannya mendapat kepastian Satin malah dihujani pertanyaan.

Lalu mereka berpamitan dengan tubuh lesuh dan saling menyalahkan.


* * *
Dan seperti hari yang lain selalu ada yang berbeda. Apalagi berada di bawah atap yang benar-benar baru. Di bawah atap itu terdapat puluhan penghuni. Hanya ada beberapa saja yang masih punya kulit mulus dan singset. Kebanyakan mereka berjalan pelan, sebagian ada yang sambil membungkuk, sebagian lagi dibantu sebatang tongkat.

“Nenek bahagia tinggal di sini.” Tanya seorang perempuan yang berkulit mulus dan berjilbab.

“Tentu saya senang. Apalagi banyak teman sejawat di sini. Tidak seperti di rumah yang dulu.”

“Emang rumah yang dulu bagaimana?”

“Panas. Enakan di sini, di panti, dingin.”

Perempuan berjilbab itu tersenyum. Lalu meninggalkan Salamah yang semakin renta di ranjang yang juga serenta umurnya.


Blitar, 20 Maret 2008

Monday, 14 September 2015

NUR TAK INGIN KEHILANGAN SUAMINYA

- No comments

Hitam semakin menelan serat-serta senja. Gugusan bintang tak lagi terang karena kalah oleh terang lampu jalanan. Sedangkan angin musim panas berhembus mengeringkan air.

Nur duduk bersandar, mengusap-usap perutnya yang mengembang. Matanya memperhatikan setiap tamu yang datang. Pandangannya agak samar karena lampu penerang memang tidak benar-benar terang dan anyaman penjalin yang menabiri antara dirinya dan para tamu cukup rapat.

Ruri duduk di sudut dekat Nur. Ia tak menyadari kalau di balik tabir penjalin itu keponakannya mengawasi wajahnya. Ia mengenakan kopiah putih yang semakin menambah kewibawaannya. Sesekali ia tertawa kecil, tentu saja bukan kepada Nur tapi kepada Din yang duduk memunggungi Nur.

Nur tiba-tiba tenggelam dalam lamunan. Bahagia yang sempat menyisir hatinya terusik oleh rasa pilu dan nelangsa. Ia seharusnya bahagia karena tiga puluhan sanak familinya saat ini sedang berkumpul di rumah hanya untuk Nur, juga untuk jabang bayi yang ada di dalam kandungannya. Ingatan pada suaminyalah yang membuatnya murung.

Sebulan yang lalu Jun pamit untuk mencari rejeki tambahan karena menurut perhitungannya uang tabungan yang sekarang ada takkan cukup untuk biaya persalinan. Ia pergi ke sebuah pulau terpencil di Pesisir Barat bersama tiga lainnya. Entah angin apa yang membaca mereka pergi ke sana. Nur sudah berusaha melarangnya. Tak perlu jauh-jauh ke sana untuk mencari tambahan biaya.

“Kau tahu Nur, mengejar mimpi terkadang harus menelan malu. Tetapi Abang akan lebih malu lagi kalau untuk kenduri kelahiran anak kita nanti Abang harus berhutang sana sini.”

“Apa yang sebenarnya Abang cari di Pesisir Barat?”

“Anugerah alam, Nur. Kalau Abang beruntung tak hanya kenduri yang bisa Abang tunaikan nanti, tapi juga rumah. Ya, rumah untuk kita dan anak kita.”

Nur menatap mata suaminya tajam-tajam mencari jawaban atas kegigihannya untuk pergi.

“Nur, orang-orang hanya mengenal Pesisir Barat dari damar, lada, dan cengkehnya. Padahal ada yang tersembunyi di balik itu semua. Abang hanya akan mengambil segenggam saja. Satu atau dua minggu abang pasti kembali.”

Nyatanya, bukan satu atau dua minggu, tapi sudah lebih satu bulan suaminya mengingkari janji. Sampai usia kandungannya semakin mengembang di bulan ketujuh. Sampai kenduri kecil sebagai rasa syukur dan doa ini ditunaikan tanpa kehadiran suaminya.

Nur bukanlah wanita yang lemah. Guncangan berat seperti ini ia hadapi dengan tabah. Ia melihat kedua teman suaminya kembali meskipun dengan tekanan mental yang sampai sekarang belum bisa dimengerti sedangkan yang satunya kembali tanpa nyawa dan juga tangan kirinya. Nur sudah kehabisan air mata tapi tidak pertanyaan-pertanyaan di kepalanya mengapa hanya suaminya yang lenyap tanpa kabar berita.

Lamunan Nur buyar ketika ia mendengar bacaan fatihah yang tersentak dibaca serentak. Surat pembuka kita suci itu dibaca berulang kali sebagai pembuka tahlil. Nur tersenyum. Tangan mengusap-usap perutnya.

“Yang mimpin tahlil itu adalah kakekmu, sayang. Kelak kalau kamu sudah lahir kamu harus belajar banyak dari kakek.”

Setelah itu, ia mengenalkan satu persatu. Tentang Ruri, lalu yang duduk di sampingnya, lalu sampingnya, lalu sampingnya, hingga ke barisan orang-orang yang tidak membaca tahlil. Mereka membaca salah satu surat Alquran yang dibagi menjadi enam bagian. Nur kembali merasakan pilu. Seandainya di antara mereka duduk pula suaminya.

Sampai-sampai di pagi hari, setelah shalat subuh, ia masih meringsek di atas kasur, antara miring dan merebah. Perutnya diganjal bantal. Tubuhnya pun masih berbalut mukenah putih. Tidak seperti biasanya, kali ini Nur tak mampu menahan kantuknya usai shalat subuh.

Hingga akhirnya ia terbangun oleh suara pintu kamarnya yang digedor-gedor diikuti oleh namanya yang dipanggil-panggil sambil mengabarkan warta.

“Nur, keluar! Nur! Suamimu, Nur, suamimu!”

Nur tersentak. Bangun. Mulutnya memanggil nama ‘mas’ untuk meyakinkan dirinya. Tentu saja tak ada jawaban apa-apa. Justru pintu kamarnya kembali digedor-gedor.

“Cepet Nur, keluar!”

Seorang lelaki tergeletak berselimut kain yang baru diambil dari lemari. Sayangnya, selimut itu tak mampu menyelimuti kekusutan paras laki-laki itu. Rambutnya gondrong dan berantankan. Begitu pula kumis dan jambangnya. Pastilah sudah berminggu-minggu tidak dipotong dan juga disisir.

Tapi Nur tak mungkin lupa dengan suaminya sendiri meskipun kulit suaminya kini kusam terbakar. Ada luka lebam di punggung dan lengannya. Juga codet di pelipis dan pipinya. Rasa bahagianya bercampur aduk dengan rasa penasaran bagaimana suaminya bisa mendapatkan luka-luka itu.

Nur tak bisa mendapatkan jawaban apa-apa karena orang yang mengantarkan suaminya sudah berlalu sejak tadi. Ia tinggal menunggu suaminya siuman.

Tarmadi yang mendengar kepulangan suami Nur juga tak lebih tenang dari Nur sendiri. Mondar-mandirnya lebih cepat dari semua yang ada di sana. Sebenarnya, Nur dan juga lainnya, merasakan kerisihan yang tertahan atas sikap Tarmadi itu. Lagi pula, untuk apa Tarmadi segelisah itu.

Benar saja, ketika Jun perlahan membuka kedua matanya Tarmadi sudah duduk paling dekat. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Jun. Kencang pula.

“Bagaimana kamu bisa pulang? Bagaimana kamu tidak kehilangan tangan?”  Tak seorang pun yang mengerti pertanyaan Tarmadi. Nur merasa kalau Tarmadi menyembunyikan sesuatu, Tarmadi mengetahui perihal ganjil yang menimpa suaminya.

Tapi Jun tidak benar-benar siuman. Matanya terbuka tapi tidak memandang apa-apa. Kesadarannya masih terjebak di bawah sana hingga hentakan tangan Tarmadi tidak dirasainya sama sekali.

Kalau bukan Nur yang membentak mungkin Tarmadi akan tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Maka, ketika Tarmadi akhirnya pergi Nur menggantikan tempatnya dan menggenggam erat tangan suaminya. Tangannya dingin tak ada reaksi membalas genggaman istrinya itu. Nur memanggil suami dengan lembut.

Semua saling pandang. Masing-masing mencari jawaban. Adik Nur yang sedari tadi pergi ke mantri terdekat belum juga kembali. Mungkin karena ini masih terlalu pagi. Pak dokter belum bangun. Meskipun begitu, tak ada yang bergeming. Nur mengelap tubuh suaminya dengan kain basah. Ia membersihkan kaki suaminya yang bengkak dan pecah di bagian tumit—luka yang lumrah didapat orang yang berjalan jauh tanpa alas kaki.

Kepulangan Jun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyebar di desa. Tak sedikit yang mengucapkan syukur tak sedikit pula yang membubuhi kepulangannya dengan keganjilan yang kasat mata lalu dikait-kaitkan dengan Slamet dan Amat yang telah hilang kewarasannya. Tak hanya satu dua orang yang mengira-ngira kalau Jun akan bernasib sama dengan kedua temannya atau menyusul Muhib lebih dulu ke alam baka.

Waktu itu, Nur dipamiti Jun untuk pergi sekitar seminggu. Ia pergi bersama ketiga temannya. Slamet dan Muhib tak sulit mendapatkan izin untuk meninggalkan desa karena hanya orangtuanya saja yang mereka punya. Sebenarnya Muhib tidak diizinkan oleh istrinya untuk pergi. Begitu pula dengan Nur yang tak mengizinkan Jun. Tetapi tetap saja, mereka berempat pada akhirnya pergi berkelana.

Tempat tujuan mereka jelas—ke sebuah pantai terpencil di Pesisir Barat. Ada barang berharga di pulau itu. Bukan cengkeh atau kayu damar. Setelah dihitung-hitung, mereka hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.

Tapi belum satu minggu Slamet, Muhib dan  Amat pulang lebih dulu. Tak seorang pun yang bahagia dengan kepulangan mereka bertiga. Slamet dan Amat mengalami depresi kejiwaan yang mengerikan. Hingga keluarga mereka harus menjauhkannya dari orang-orang desa yang ingin menjenguk. Sedangkan Muhib tak terselamatkan lagi jiwanya dan lebih mengerikan lagi, tangan kanannya terputus sebatas lengan.

Ketika kasak-kusuk itu sampai ke telinga Nur, ia mencari Tarmadi.

“Apa yang kamu ketahui, Madi?”

“Saya tidak tahu apa-apa. Justru saya sedang mencari tahu sesuatu.”

“Tentang suami saya?”

“Tentang kekuatan di belakang suamimu yang membuatnya bisa kembali dalam keadaan utuh.”

Nur tak menyangka ada mendapatkan jawaban yang menohok seperti itu. Jadi, seharusnya suamiku sudah mati atau bernasib sama dengan Slamet dan Amat, batin Nur.

“Lalu?”

“Kita hanya bisa menunggu, Nur, juga berdoa. Suamimu sedang berjuang untuk kembali pada kesadarannya. Jangan biarkan dia bernasib sama dengan kedua temannya.”

“Kalau begitu, segera kita bawa ke …”

“Ke dokter?! Dokter takkan mampu berbuat apa-apa.”Tarmadi menarik nafas panjang. Ada mengganjal di dadanya. Ia melihat ke arah Nur yang membopong perutnya yang membesar. Ia pun tak ingin anak yang terlahir kelak langsung menjadi yatim. “Nur.”

“Ya.”

“Sepulang dari sini, lihatlah tangan kanan suamimu apakah dia masih menggenggamkan tangan atau tidak. Dia tidak menggenggam apa-apa. Tapi sebenarnya dia sedang menggenggam sesuatu.”

Lalu diceritakanlah tentang cupu-cupu yang konon hanya ada di sebuah pulau di seberang Pesisir Barat. Banyak yang mencarinya. Iming-imingnya pun tidak sedikit. Dari semua yang pernah ke sana, belum ada yang kembali dalam keadaan waras. Hingga suatu hari, cerita tentang cupu-cupu itu sampai di desa ini dan ketika ronda malam berlangsung, Jun dan teman-temannya ingin pergi ke Pesisir Barat. Tarmadi sudah berupaya melarangnya mereka tapi tak membuahkan hasil sama sekali.

Keberadaan cupu-cupu itu belum pernah dipastikan sekali pun tapi tentang orang-orang yang hilang di pulau itu tak seorang pun yang meragukannya.

Mereka yang mati atau terpaksa harus dipasung di rumah memiliki tanda-tanda yang sama. Mereka menggenggamkan tangan kirinya. Ketika genggamannya berhasil dibuka paksa tak ada apa-apa dibalik jari-jari mereka.

“Benarkah tidak ada yang selamat?”

“Bukan tidak ada yang selamat yang ditanyakan tapi bagaimana “cara menyalamatkannya?”Tarmadi mengoreksi pertanyaan Nur, “Kalau demikian, inilah cara satu-satunya.”

Tarmadi menunjukkan tangan kirinya yang telah putus.

Untuk kedua kalinya, rumah Nur dipenuhi orang-orang. Kali ini yang datang lebih banyak dari sebelumnya. Bacaan fatihah bergemuruh di ruang depan dan dilanjutkan dengan bacaan tahlil. Di kamar Nur menggenggam tangan kanan suaminya. Begitu juga tangan Jun tapi tidak membalas genggaman tangan Nur. Ia menggenggam kealpaan yang tak dipahami orang-orang. Sementara itu, Ruri yang tak ikut jamaah di depan, duduk di dekat sumur sambil mengasah parang. []

Friday, 11 September 2015

MATA CERMIN

- No comments

Saya membenci cermin ini, meskipun awal saya sayang mencintainya. Ia tergantung di dinding yang menghadap kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, langsung saja kutangkap salinan tubuhku terperangkap di dalam cermin itu.

Dulu saya sangat mencintai cermin ini. Usai menuntaskan mandiku, dan keluar hanya dengan handuk setinggi pusar, salinan tubuhku di sana bergerak sendiri menuju lemari pakaian dan kembali dengan pakaian yang sudah melekat di sekujur badan. Ia selalu menunjukkan apa yang pantas hari itu. Saya pun mengikuti saran cermin itu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun.

Sesekali saya nekat. Meskipun ada rasa ketir dan malu. Tapi akhirnya saya memberanikan diri. Usai merendam tubuhku dalam kehangatan air bath-tub, saya keluar dalam keadaan telanjang. Mataku tertutup. Malu melihatku sekujur tubuh tidak dililit seutas benang pun. Meskipun hanya dilihat oleh mataku sendiri. Ini pertama kalinya saya telanjang di depan cermin. Perlahan kubuka mataku. Saya terkejut bukan kepalang karena bayangan tubuhku sudah mengenakan kaos-T dan celana jeans. Mungkin ia memakai kaos dan celana itu ketika saya menutup mata.

Keesokan harinya, saya lebih nekat lagi. Kali ini tidak perlu menutup mata, tapi langsung saja kubuka lebar mataku. Anehnya, seluruh cermin itu menjadi buram. Berembun. Hanya seluet bayangan tubuhku yang meliuk-liuk meninggalkan cermin dan tiba-tiba muncul lagi. Setelah ia tegap berdiri, perlahan ia menjadi jernih kembali. Cermin itu tidak mengizinkanku menelanjangi diriku sendiri.

Hingga tiba-tiba cinta itu berubah menjadi kebencian dan kengerian. Cermin itu tidak lagi menunjukkan apa yang pantas, justru sebaliknya.

Mungkin ia cemburu. Karena di sudut cermin itu kuselipkan foto perempuan yang kutemui di persimpangan jalan -kami berkenalan ketika sama-sama menunggu bus yang akan membawa kami pulang. Semenjak itu, bayangan tubuhku terbujur kaku. Ia tidak bisa bergerak meskipun saya lambaikan tangan berulang kali. Bahkan, beberapa kali, ketika saya menatap foto perempuan itu, tiba-tiba bayangan dalam cermin itu menampakkan tubuhku yang terhujam pisau. Tepat di jantung. Ngeri.

Namun, kenapa harus takut dengan bayangan sendiri? Kenapa saya harus mengikuti bayangan itu, bukan sebaliknya? Bukankah ia hanya sebuah bayangan dalam cermin?

Dan hari itu, ketika cermin itu kembali menunjukkan tubuhku yang tertikam pisau, saya menjadi geram dan kalap. Harus ada yang menghakhiri. Harus saya yang mengakhiri. Kuraih pisau itu dan kuhujamkan ke batas antara saya dan bayangan saya. Tapi sebuah kekuatan gaib menepis pergelanganku. Dan pisau itu -dengan sisa-sisa tenaga yang masih mendorongnya- menghujam tepat di ulu hati perempuan di dalam foto itu.

Dua hari saya menginap di kantor. Pekerjaan yang menumpuk ini seperti sebuah pelarian yang tepat untuk mengalihkan pertengkaran antara saya dan cermin di kamar saya. Saya pulang hanya menumpang mandi. Tak kutengok sedikit pun cermin yang memantulkan cahaya mentari ke wajahku. Saya masih merasakan jengkel bukan kepalang. Saya memutuskan untuk cepat-cepat menuju halte di sebrang jalan untuk menemuinya: perempuan yang gambarnya tertikam pisau karena pertengkaranku dengan cermin di kamarku tapi saya tak menemukannya.

Ketika pulang saya menyambar koran yang kusambar dari ruang satpam. Di rumah, kututup seluruh cermin itu dengan koran yang saya ambil tadi. Ternyata ada berita yang membuat sendi sekujur tubuhku melebas tak berdaya. Halaman depan itu memberitakan seorang perempuan dirampok dan dihabisi jiwanya saat pulang kerja. Korban meninggalkan luka pisau di ulu hatinya.

Bandarlampung, 12 Desember 2010

Friday, 4 September 2015

Mengukur Nilai Hidup dari Kary Putu Wijaya

- No comments
Membaca “KLOP” seperti bercengkrama dengan diri sendiri untuk menanyakan idealitas kita sebagai Manusia Indonesia. Isi kepala yang sudah terlanjur dibebali dengan fikiran metrialistik, kepicikan, dan besarnya hawa nafsu seperti ditantang untuk di”instal” ulang. Dorongan ke arah sana sangat terasa ketika membaca “Mawar” yang menjadi inspirasi bagi keluarga yang ia tempati. Selain itu, mawar seperti mengajak pembaca untuk mempertanyakan hakekat dan tujuan hidup dan kehidupannya.

“Mawar itu aku. Aku bukan baja atau kayu yang menjadi tiang rumah selama puluhan bahkan ratusan tahun, aku adalah mawar. Dan aku akan tetap mawar. Aku tidak menjaga, tetapi menyalakan kegembiraan, jiwa baja dan kelenturan kayu itulah yang menjaga. … . Aku tidak boleh diam terlalu lama karena harumku akan menjadi terbiasa dan cahaya yang kubawa tak akan lagi ada artinya kalau kebanyakan.”

Begitulah kira-kira pembaca diajak menjalani hidup; segera beranjak dari menikmati keberhasilan dan kesuksesan supaya tidak berlama-lama, karena jelas sekali sikap demikian sangat berbahaya. Mawar seperti menantang pembaca untuk memilih antara mempertahankan eksistensi hidup (yang sering kali dilandaskan pada ego) atau membangun dan melakasanakan kemanfaatan potensi hidup (yang biasanya akan dicampakkan ketika sudah tidak berguna). Namun ketika mawar dicampakkan dari rumah itu karena dianggap sudah layu, rupanya potensi dirinya sebagai cahaya tidak pudar, ia menjadi cahaya semangat bagi keluarga pemulung dan kemudian terhempas dan berakhir di tangan seorang seniman.

Membaca “KLOP” seperti kembali diingatkan pada kekelaman birokrasi Indonesia pada masa pasca Reformasi –bahkan sekarang masih kelam. Waktu itu, Soeharto memang sudah lengser, tapi watak birokrasi yang diwariskannya seperti menjadi penghalang bagi agenda Reformasi. Watak birokrasi Orde Baru tidak ingin digantikan –meminjam istilah Iwan Fals- Orde Paling Baru. Sehingga yang muncul adalah problematika baru. Lihat saja, Habiebie yang kehilangan Timor Timur, Gus Dur yang diangkat dan diimpeachmen oleh orang yang sama, Megawati yang tidak mampu mempertahan dua pulau yang sangat indah, pencaloan kapal tangker, dan penjualan Indosat.

Pasca Reformasi sampai tahun 2004 adalah masa-masa pendewasaan setelah memperoleh kebebasan dari kungkungan yang sangat lama. Bukan berarti setelah itu, mereka dan juga kita menjadi cukup dewasa.

Mengingat kembali sejarah memang sangat diperlukan ketika seseorang mulai berjalan menjauh dari rencana awal. KLOP mengingatkan tentang hal itu; tidak secara langsung mendiktekan apa tujuan sebenarnya, tapi cukup dengan menggambarkan pentas drama perpolitikan Indonesia pada masa itu. Seperti dalam “Jendral”.

Jendral mengabdi untuk bangsa dan negara, mempertahankan negara, dan menjaga haluannya sesuai dengan nilai kenegaraan yang dirumuskan dahulu supaya tidak jatuh di tangan yang kotor. Jendral ingin melawan birokrasi, tapi tidak mampu. Ia mengharapkan kepada anaknya, tapi harapan itu sia-sia karena anak jendral itu punya cara sendiri untuk mengabdi, mempertahankan dan menjaga negeri ini; ayah menginginkan anaknya menjadi tentara dan menjauhi politik. Alih-alih keinginan itu dipaksakan kepada anaknya, ternyata anak jendral itu menginginkan mejadi politisi.

Di sinilah, gambaran menarik tentang cara pandang dari dua generasi yang berbeda; tua dan muda, meskipun mereka memiliki tujuan yang sama. Di sinilah, menghargai kedewasaan orang digelitik. Ironisnya, jendral mengambil jalan pintas untuk “melumpuhkan” anaknya demi idealitasnya, meskipun pada detik terakhir ia sangat menyesalinya.

Membaca “KLOP” seperti diajarkan kembali nilai-nilai luhur dan semangat berbudaya yang “Indonesia”. Menafsirkan lambang dan kode-kode. Memaknai arti sesungguhnya dari hanya sekedar simbol. Mungkin itu yang coba disampaikan penulis dalam “Kartini”. Menjadi Kartini modern berarti mengambil semangat Kartini lama. Menjadi seorang Kartini modern berarti mengetahui dengan seksama tugas dan esensi yang diperjuangkan. Karena menjadi Kartini modern bukan sekedar keluar rumah untuk arisan dengan berdiri dibelakang dalih emansipasi. “Bukan kostum yang membuat perempuan menjadi Kartini, tapi cita-cita.” Begitulah kata pak Amat dalam “Kartini”.

Ada juga hal yang sangat menggelitik ketika membaca cerpen yang berjudul “Soempah Pemoeda”. Ami –anak perempuan pak Amat- bisa mewakili gambaran betapa banyak kegiatan-kegiatan yang dibungkus niat kebaikan sosial, tapi sebenarnya adalah untuk tujuan pragmatis, uang. Ami dan beberapa temannya, dalam momen peringatan Soempah Pemoeda mengadakan acara penggalangan dana yang menghabiskan dana 500 juta, dan dana yang terkumpul dari acara tersebut sebesar 200 juta. Tentu itu bukan kegiatan yang menguntungkan, justru rugi 300 juta, meskipun yang 500 juta didapat dari sponsor dan donatur.

Pak Amat yang tidak setuju dengan acara seperti itu akhirnya menyadari betapa besar arti uang pada zaman sekarang ini. Ketika ia memberi nenek pengemis uang seribu rupiah, ia menyadari “Ya Tuhan, ternyata rasa simpati, cinta, dan semangat persatuan saja tidak cukup. Memang uang penting sekali. … . karena selembar ribuan yang kumal saja sudah bisa membuat seorang perempuan yang berduka tersenyum.”

Namun, dalam paragraf terakhir, ketika pak Amat dan Ami saling memahami kesalah-pahaman masing-masing, isteri pak Amat membisiki, “Sebenarnya malam itu mereka bukan untung 200 juta, tapi 600 juta. Yang 400 mereka bagi-bagi di antara panitia untuk membayar biaya skripsi, dan S-1, S-2 dan S-3, Pak.”

* * *
Memang begitulah Putu Wijaya dengan kekhasannya menulis cerita. Karya-karyanya memang menteror bangunan fikiran pembacanya, antar sejutu dan tidak, antara suka dan duka, antara pilu dan ngelu. Buku yang diterbitkan Mei 2010 ini memuat dua puluh cerita pendek Putu Wijaya. Cobalah untuk bercengkrama dengan KLOP malam minggu ini, mungkin esok harinya akan dapat inspirasi untuk hari Senin dan seterusnya.[]

Bandarlampung, 11 Juni 2010

.

Sunday, 19 July 2015

Tamu di Pagi Hari

- 1 comment

Ini pagi kenapa terasa beda sekali
Sehabis bangun dari mimpi ada tamu datang menghampiri
Sayangnya ia malas berkata-kata
Kusediakan saja kertas dan pena
Namun ia mengkoyaknya

Tamuku suka sekali daun telinga
Kuceritakan saja tentang hari esok
Kuhidangkan juga secangkir pop
Tapi di ujung cerita tiba-tiba ia membacakan puisi Rendra

“Itu lagi itu lagi. Apa tidak ada yang lain?” tanyaku
“Kau juga, lagi-lagi itu. Apa yang lain tidak ada?” jawabnya
Lalu ia pulang ke yang paling dalam

Kalau esok ia berkunjung lagi
Ia harus membayar selembar kertas yang dikoyaknya


Ruang Sunyi, 24 April 2010

Air Terjun Kecil dengan Pelangi Kecil

- No comments

Pelangi kecil yang sering tampak di air terjun kecil lenyap
Kami pikir karena sinar matahari terhalangi bunga-bunga di tebing sungai

Air terjun kecil dengan pelangi kecil sering kali membuat orang tertarik berkunjung
Bentuknya melengkung dengan sebelas warna
Kalau dilihat dari sisi luar ia tampak kecil
Tapi kalau kau melihat dari bawah air terjun kecil kau akan dipenuhi warna pelangi
Mereka yang datang juga mengambil sebanyak mungkin air segar yang jatuh dari langit
Ada yang hanya ingin menghilangkan rasa dahaga
Ada pula yang ingin sakti mandraguna
Selain untuk dirinya sendiri, ternyata mereka membaginya di kampung halaman
Di trotoat dan juga jalan-jalan

Lalu makin banyak pula yang datang menimba air di air terjun kecil dengan pelangi kecil
Beberapa orang yang datang mulai melihat keindahan bunga-bunga yang ada di sekitar air terjun
Pertama-tama melihat keindahannya
Lalu menceritakan kepada tetangga
Anak tetangga juga datang ke air terjun kecil dan membenarkan keindahan bunga-bunganya
Siang mereka mereka meneguk air di telaga
Sore mereka memandang bunga-bunga

Air terjun kecil tak memperdulikan pelangi kecil
Ia hanya meneruskan menghantarkan air mengaliri telaga
Untuk menghidupi segalanya; rumput, pepohonan, bahkan bunga-bunga
Air terjun kecil tak ditemani lagi oleh pelangi kecil
Apa mungkin karena sinar matahari terhalang oleh bunga-bunga di tebing sungai?

Bandar Lampung, 15 Mei 2010

Hirarki Cinta

- No comments


buah dada adalah hati
buah hati adalah cinta
buah cinta adalah anak
buah anak adalah sebilah mata pisau

Malang, 2004

Hari Ini Bising Sekali

- No comments

Hari ini bising sekali
oleh suara hasrat-hasrat yang kian menggeliat, dendam-dendam yang selalu mengganyang, dan ribuan butiran nafsu yang entah kapan mampu dibelenggu
Pagi dimulai dengan panas, siang dilalui dengan panas, dan sore mengakhirinya dengan panas. Hujan wahyu yang berabad-abad lalu mengguyur bumi mampat di kepala tak pernah turun ke hati.

Esok pun, bumi akan kembali bising
karena sabda-sabda nabi selalu melewati telinga kiri
tujuh wali entah mengembara kemana, auranya seperti luluh disergap gagap gempita dunia.

Ataukah mungkin hanya aku yang kalah, salah dalam memahami amanah-amanah.
Ya Allah, kalau memang telingaku telah rapat tersumbat, keran fikiranku telah tertutup mampat, semoga Engkau tetap membuka pintu hatiku.

5 Sya'ban

Tuesday, 7 July 2015

SALLY

- 1 comment

Sally. Pertama kali saya melihatnya ketika tanpa sengaja kami masuk dalam satu eskalator dan menekan tombol lantai yang sama. Seperti dalam film-film drama. Momen itu ternyata membangkitkan bulu-bulu cinta. Sampai akhirnya kuputuskan bahwa saya akan mengundangnya untuk menapaki satu langkah berikutnya yang lebih serius. Tentu setelah kami sering berkomunikasi pada hari-hari berikutnya.

Justru teman saya yang sedikit meragukan apa yang kuputusan. Dia membicarakan siapa saya dan siapa dia. Lalu di ujung kalimat, ia menutup dengan ucapan yang kerap kali kudengar. Kalian mirip enggak? Biasanya kalo jodoh selalu saja ada kemiripan.

Sebelum tidur, kukeluarkan fotonya lalu kuletakkan di atas meja. Kusandingkan dengan fotoku yang dicetak dua tahun yang lalu untuk persyaratan membuat KTP. Kusimpulkan senyum.

Jelas kami mirip. Dia semampai, saya tidak pendek. Dia pintar, saya tidak bodoh. Dia baik, saya tidak jahat. Dia putih, saya tidak hitam. Dia kaya, saya tidak miskin. Dia rajin, saya tidak malas. Satu-satunya yang membedakan adalah dia cantik, saya ganteng.

Dan terjadi sebuah pernikahan. Kami menjelma menjadi raja dan ratu. Meskipun dalam bahagia, kuteteaskan air mata haru. Untung saja air mataku sempat kuusap sebelum sampai ke bibir. Kalau tidak, pasti lidahku akan mengecap-ecap asin. Rupanya, ia pun demikian. Kulihat beberapa kali ia menyeka air mata. Dan kusadari satu hal. Ternyata ia tampak anggun sekali sakali dalam keharuan.

Bahagia telah menghilangkan rasa letih. Mengantarkan kami melalui semua tetek bengek ini. Sampai akhirnya kami berada di kamar yang sudah diperuntukkan bagi kami berdua.

Dari dalam kamar mandi, Sally keluar dengan piyama cokelat muda yang menggoda. Harumnya benar-benar menyegarkan. Dari meja rias ia menatapku yang meluai merasakan letih di ujung ranjang. Mata lentiknya menjarahku, lalu menarikku untuk mendekapnya. Sialnya, sebuah biji manik-manik yang tergeletak di lantai membuatku terpelanting. Kepalaku terbentur meja.

Seluruh badan terasa tidak enak. Telingaku tidak menangkap suara apapun. Saya pun mencoba bangkit. Sambil mengais kesadaran, kulihat seluruh kamar tersedot kedalam lubang hitam yang tak kumengerti. Pernak-pernik kamar pengantin, kasur, meja, kursi, lemari, semuanya memutar seperti pusaran air dan masuk ke dalam lubang kecil tepat di hadapanku. Lalu Sally pun ikut tersedot dan akhirnya diriku sendiri. Justru ketika semuanya telah selesai tersedot, kukembali dalam kesadaranku. Kulihat Sally dan diriku sendiri terpenjara dalam kertas lux yang tadi kujejerkan sebelum tertidur. 

November, 2012

Identitas Baru

- No comments
Bukan ilustrasi sebenarnya.

Beberapa minggu lalu, saya melakukan perjalanan dinas ke sebuah negeri yang dikenal sebagai negeri dengan masyarakat yang arogan. Kota nan cantik di salah satu negeri itu masih saja kelihatan kotor, termasuk kotoran anjing yang terlihat di mana-mana. Bau menyengat di stasiun kereta bawah tanahnya sama seperti saat sepuluh tahun lalu saya mengunjunginya.

Seperti Cermin

Kalalu saya bercerita demikian, saya tak sedang menghakimi sebuah negeri. Saya malah sedang mendapat pelajaran dan sejuta pertanyaan dari perjalanan dinas itu. Pertanyaannya adalah demikian. Susahkan berubah itu, terutama kalau perubahan itu ke arah yang lebih baik? Mau atau malaskan manusia berubah ke arah yang baik itu? Takutkah manusia akan perubahan dari arogan menjadi rendah hati? Dari kotor menjadi bersih? Gamangkah kalau tak bisa kotor lagi, tak bisa tinggi hati lagi? Takutkah manusia memiliki kepribadian baru meski yang baru itu menjadi lebih baik?

Perjalanan terbesar yang saya petik adalah perilaku manusia itu bisa mengubah manusia lain. Menjadi lebih baik atau menjadi lebih jahat. Singkatnya, perilaku manusia adalah cermin seberapa lingkungan meninggalkan pengaruhnya.

Sejak tujuh tahun lalu, saya memutuskan untuk sedikit berubah karena berubah banyak saya tidak mampu. Saya realistis saja karena biasanya sangat jauh dari menjadi realistis. Saya mau mengubah sikap tinggi hati saya menjadi rendah hati, termasuk lebih menguasai diri dan mengampuni. Meski belum signifikan, perubahan itu nyata dan sudah melahirkan komentar bahwa taring saya sudah tumpul. Tulisan saya sudah tidak lagi ada gregetnya, terlalu baik dan sok suci.

Meski mulut saya masih berkicau dan menggelegar, kicau dan gelegarnya sudah jauh berkurang meski masih saja ada yang terkaget-kaget. Perubahan-perubahan selama tujuh tahun ke arah yang lebih baik yang saya lakukan dengan energi nyaris terkurang menjadi sia-sia, bahkan nyaris hilang selama kunjungan dinas yang berdurasi satu minggu itu.

Ini contohnya. Setiap kali naik taksi, setiap kali saya berteriak. Sampai teman saya yang sudah kelelahan mau naik taksi saya rayu supaya tidak naik taksi lagi. Bukan saya tidak mau mengeluarkan dana, bukan saya tidak berani menghadapi si sopit taksi, saya mencegah supaya saya tidak lebih menjerit lagi dan membuat hati jadi panas seperti kompor.


Seperti Valium
Saat makan siang, pesanan saya dan teman datang lama sekali. Kami menunggu nyaris setengah jam lamanya. Saya kemudian bertanya soal pesanan kami. Salah satu pelayan muda nan tampan berkata begini, “Maaf bisakah anda menunggu karena chef kami hanya satu?” Saya menjawab, “Kalau anda punya chef hanya satu itu masalah anda, saya sudah menunggu dari 20 menit yang lalu.”

Akan ada segudang cerita yang membuat naik pitam dan saya tidak perlu membeberkan semuanya. Karena di Jakarta kejadian macam itu juga saya alami. Tak hanya dengan sopir taksi dan pegawai rumah makan, tetapi juga dengan PR yang arogan, pegawai mal yang arogan, atau staf kantor yang mulutnya seperti setrum yang menyengat.

Kebiasaan buruk itu menghancurkan kondisi baik, dan seperti anda dan saya ketahui, yang negatif itu cepat memberi efek, lebih cepat dari MLM. Maka, yang bisa mencegah agar perilaku buruk itu tak makin memburuk hanyalah saya seorang.

Saya tidak kalah kalau saya tidak membalas dengan jeritan dan kearoganan. Kalah karena tidak menjadi juara arogan, tidak menjadi juara menjerit, itu sebuah kemenangan yang telak. Itu menandakan bahwa saya mengontrol emosi dengan baik, dan mereka yang menjerit dan arogan sejujurnya sedang membutuhkan pertolongan.

Pada saat saya memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih baik, saya seperti memasuki dunia yang baru dan asing. Bayangkan saja, dari suara menggelegar ke suara yang separuh menggelegar.
Itu seperi anak kecil belajar berjalan. Gamang karena biasanya memancing amarah dan ketersinggungan, sekarang belajar membuat orang menjadi tenang. Saya harus seperti valium yang menenangkan orang yang tak saya sukai. Itu beratnya setengah mati!

Mungkin, ini hanya mungkin, kalau kehilangan separuh gelegar dan arogan itu akan menakutkan. Karena acap kali wibawa dicari denan menggunakan gelegar guntur dan kilat yang menyambar. Maka, daripada gamang, kehilangan taring dan wibawa, sebaiknya tak perlu memiliki ideintitas baru. Saya ini memang begitu. Suka diterima, nggak suak ya….., ke laut aja.

Itu hak setiap orang berkata demikian. Saya hanya menyarankan untuk mencoba sebuah pengalaman baru untuk tidak korupsi lagi, tidak arogan dan menjerit lagi. Kalaupun dulu anda pernah tidak demikian dan sekarang anda menjadi demikian, anda membutuhkan pertolongan.

Karena solusi mau kaya bukanlah korupsi, solusi mau berwibawa bukan dengan menjaerit dan menjadi arogan. Anda keliru besar! Negatif bukanlah solusi untuk menjadi positif.[]

Tulisan di atas adalah tulisan Samuel Mulia yang saya sadur dari Kompas edisi Minggu, 23 Oktober 2011

Thursday, 2 July 2015

KOTAK AMAL

- No comments

Landu tidak pernah kehabisan akal untuk mengais pundi-pundi receh. Yang terpenting dalam benaknya adalah uang.
Di pelataran rumah ia menggergaji papan, memaku sudut-sudutnya hingga membentuk persegi. Papan penutup atasnya dipasangi engsel sehingga bisa dibuka-tutup. Ia juga membuat lubang kecil di bagian atas tempat orang memasukkan uang. Ukurannya tidak begitu besar sehingga tidak terasa berat ketika dicantolkan ke leher. Sentuhan terakhirnya adalah memberi warna dan membuat nama di bagian muka: Kotak Amal Masjid Aliklas.

Istrinya menatap ragu dan getir. Ide kotak amal itu sudah ia larang semalam tapi Landu tidak mau mendengarkan.

“Bener, Pak, sudah mantap mau begitu caranya mencari uang? Jangan bawa-bawa mesjid, musola, TPA untuk urusan kayak gitu.”

Landu tidak menjawab bahkan menengok pun tidak. Ia tetap mengerjakan bagian akhir dari pembuatan kotak amal itu.

“Bapak mau operasi di mana? Warga di sini tau semua siapa kita. Kalau sampai ada yang melihat, bisa-bisa kita dimassa. Bapak mau operasi di tempat lain, di terminal atau lampu merah? Mereka mana tahu mesjid Aliklas?”

Kali ini Landu bergeming. Ia menengok ke arah istrinya yang tak membantu apa-apa, yang dari semalam mencoba menghentikan niatnya.

“Saya sudah bertekad, Bu. Saya tidak gentar. Soal di mana saya akan operasi, sampeyan tak perlu tau.”

Landu tak sempat melihat istrinya tersenyum karena keburu melanjutkan pengecatan sedangkan istrinya masih tersenyum lega. Ia tahu Landu akan segera kembali ketika kemarahannya mereda. Rasa frustasinya akan kehilangan nyala apinya hingga akhirnya padam. Dan ia akan menemukan gairah hidup yang dulu pernah menyelimuti hidupnya.

Landu sudah sampai pada titik nadir hingga marahlah yang tersisa dalam dirinya. Ia pernah meminta tolong kepada seorang sesepuh di kampungnya supaya meminjaminya sedikit dari hartanya yang melimpah tetapi tidak digubris. Yang terakhir ia mencoba meminjam uang dari kas masjid yang setiap hari bertambah, yang setiap jum’at siang jumlah kas diumumkan kepada jamaah. Namun, saat itulah triger kemarahannya benar-benar meletup. Ia tidak hanya pulang tanpa pinjaman tapi juga dengan hati yang tersayat.

“Baiknya Pak Landu tingkatkan shalatnya dulu. Istiqomah berjamaah bersama kami sehingga jelas kas masjid ini mengalir kepada jamaah siapa.”

Kata-kata itu, yang sudah coba ditepis jauh-jauh, tetap saja terngiang-ngiang sampai ke ubun-ubun. Tidurpun ia tak nyenyak, makan pun ia tak lahap. Orang beragama yang diharapkan paling dermawan justru memiliki lidah yang paling tajam.


Langit menguning. Matahari yang tertutup gedung dan asap knalpot hanya bisa dikenali dari sisa warna kuning kemerahan di langit. Suara deru mesin mobil mulai lebih lenggang. Mobil-mobil angkot sudah enggan masuk ke terminal. Mereka lebih suka menepi di pintu masuk-keluar. Hanya bus-bus antar kota yang memutar ke dalam. Itu pun tanpa ngetem.

Landu tertidur lelah. Sarung lusuh kuning tua kotak-kotak ia jadikan bantal bersama dengan peci hitam miliknya. Tangannya mendekap kotak amal seperti takut akan dirampas oranglain. Ia sendiri di musola terminal yang tak lebih luas dari kantor keamanan terminal.

Kelopak matanya sesekali bergerak, bola matanya memutar, dan nafasnya menjadi begitu berat. Ia mengalami mimpi buruk. Tubuhnya tiba-tiba kaku, ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Satu-satunya yang bekerja hanya telinganya. Ia mendengar langkah orang-orang dan deru kendaraan di luar. Ia ingin bangun tapi tak mampu. Alam sadarnya justru ditarik ke bawah, jauh lebih dalam ke ruang yang gelap.

Ia tersadar di sebuah bangku di pinggir jalan, berada di ambang antara sadar dan mimpi. Yang dilihatnya adalah orang-orang tak dikenal berlalu lalang.

“Ayo ke masjid, Pak. Sudah hampir maghrib.”

Landu menurut saja. Kakinya seperti ditarik untuk melangkah ke masjid yang tak jauh di sebrang jalan. Tubuhnya terasa ringan. Namun sesampainya di masjid ia tak menemukan seorang pun. Hanya ada dirinya dan seorang yang tadi mengajaknya shalat. Hingga shalat selesai ditunaikan tak ada orang lain yang datang.

“Beginilah, Pak, setiap harinya. Orang hanya lalu lalang di depan masjid tanpa terfikir untuk singgah. Bapak orang pertama yang shalat di sini sebulan masjid ini ditinggalkan.”

“Ditinggalkan? Kenapa?”

“Saya tidak tahu pasti. Saya datang seminggu yang lalu. Masjid begitu sepi. Ia hanya dibersihkan supaya kemegahannya tidak luntur.”

“Sebelum Bapak berarti ada orang lain yang mengurusi masjid ini?”

“Benar, tapi dia sudah pergi setelah mengizinkan saya tinggal di sini.”

“Bapak bukan warga sini?”

“Bukan. Setahun lalu saya pergi meninggalkan kampung halaman karena alasan tertentu. Ada yang membuat saya tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sana. Setelah pergi tak tentu arah ke sana kemari, akhirnya saya sampai di sini. Saya seperti menemukan rumah baru. Ya, begitulah. Terus, Bapak mau ke mana?”

Pertanyaan itu terasa berat untuk dijawab karena tiba-tiba ia menyadari bahwa ia benar-benar kehilangan arah, bahkan untuk sebuah tujuan pun Landu tak memahami. Ia ingin menertawakan dirinya sendiri betapa sebenarnya ia sangat rapuh. Kalau toh ia mampu berjalan sejauh ini bukan karena ia memahami arah hidupnya. Ada yang tanpa ia sadari telah menjadi penopang hidupnya.

Tiba-tiba ia teringat istrinya. Perempuan yang selama ini tidak pernah diangap benar-benar ada. Perempuan yang selalu membuatnya marah karena banyak bertanya ini-itu setiap kali ia akan pergi meninggalkan rumah. ia sadar pertanyaan-pertanyaan dari istrinyalah yang telah menopangnya selama ini.

“Maaf, saya harus pulang.”

“Ke mana?”

“Entahlah. Pokoknya saya harus pulang. Istri saya menunggu di rumah.”

“Kembali ke rumah memang cara yang baik mengerti tujuan utama kita meninggalkan rumah. Sebentar dulu.” Bapak itu mengeluarkan sebuah bingkisan, “ini sisa dari bekal saya. Mungkin akan bermanfaat buat bapak. Tidak banyak. Kurang lebih dua puluh dua juta.”

Landu terdiam. Ia tak ingin menerimanya tapi mulutnya pun tak dapat mengucapkan penolakan. Ia merasakan bahwa yang ia butuhkan selama ini bukanlah uang. Bapak itu memasukkan uangnya ke dalam kotak amal lalu menyerahkan pada Landu. Ia heran  bagaimana kotak amal yang ia buat tadi pagi bisa berada di tangannya. Akan tetapi mulutnya tak mampu bertanya apa-apa.

Ketika Landu menerima kotak amal itu ia pun langsung berpaling. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Semua yang ada di hadapannya menjadi hitam pekat. Seluruh tubuhnya kembali menjadi kaku. Ia tak mampu menggerakkan badan, tangan, juga kakinya. Telinganya mendengar lengkingan yang memekik. Tiba-tiba ada yang mendorong dari belakang. Ia terhempas lalu tersungkur. Setelah mampu menguasai setangah kesadaran dirinya, ia menarik nafas panjang. Matanya terbuka. Telingan kembali mendengar deru kendaraan.

Landu duduk lemas bersandar pada tembok. Matanya menyisir sekeliling. Ia mengenali keberadaannya. Ia di musola terminal dan kejadian yang baru ia lewati hanyalah mimpi tapi terasa sangat nyata. Panggilan terkuat dalam dirinya adalah pulang. Ia ingin pulang untuk melihat istrinya. Sarung dan peci yang ia jadikan bantal disambar lalu pergi meninggalkan musola tanpa peduli dengan kotak amal yang dari pagi ia tenteng ke sana kemari. 


Dari kejauhan, suara azan Maghrib berkumandang. Seorang paruh baya sedikit terburu-buru menuju musola terminal, mengambil air wudlu, lalu mengumandangkan azan. Setelah selesai, ia mendapati kotak amal di dekat pintu musola bertuliskan ‘Mesjid Aliklas’, sama dengan nama musola itu.

Tanpa ragu ia membuka kota amal itu, menghitung lembaran-lembaran yang ada di dalamnya. Ia bersyukur sekali. Sambil meneteskan air mata ia menuliskan jumlah tambahan saldo di papan pengumuman. “Hamba Allah. 21.800.000,-“ []

Wednesday, 17 June 2015

MBAH UTIS

- No comments

Saat matahari benar-benar terbenam di balik perbukitan dan cahayanya digantikan lampu neon dan pijar, sebuah percikan api menyita mata di sudut kegelapan. Berulang kali pelantiknya tidak menyalakan api karena angin dari rerumpunan bambu mengganggu. Meskipun tidak jelas wajah yang tersembunyi di balik bara api itu, kami bisa menebak kalau itu adalah Mbah Utis.

Ia hidup penuh sahaja di sebuah bantaran sungai samping balai desa. Rerumpunan bambu yang kiranya menakutkan karena banyak kunti, justru begitu akrab buatnya. Bambu-bambu itu telah menjadi bagian dari rumahnya sendiri. Geribik, kursi, meja, sampai tiang penyanggah ia ambil dari sana. Semuanya dari bambu wulung dan petung. Kecuali satu bambu yang dijadikan gagang sapu lidi. Warna kuningnya tampak mencolok di antara bambu wulung dan petung yang menghitam.

Gubugnya tidak memiliki halaman yang luas. Untuk menikmati kesendirian ia kerap sekali duduk-duduk di balai desa, meracik utis yang ia pungut di jalanan. Mulutnya kerap berucap-ucap tak jelas. Hanya telinganya sendiri yang bisa menangkap. Terlebih lagi ketika ia menyapu halaman.  
Seseorang yang belum mengenalnya pastinya akan mengira ia orang stres, bahkan mungkin akan menuduhnya gila. Tapi tidak. Ia tidak gila. Ia sedang bersenandung memanggil-manggil nama seseorang. Nama yang sangat berarti bagi dirinya.

* * *

Banyak orang nelangsa ketika hidup tanpa memiliki banyak harta. Akal sehatnya pun kerap terselip entah di mana hanya karena mengejar kebutuhan yang sejatinya hanya sia-sia. Saya jadi teringat seorang tetangga yang kehilangan semua harta bendanya karena tergiur investasi. Tapi mbah Utis jadi satu-satunya yang naif soal kekayaan. Baginya kemiskinan adalah sebuah perjalanan, sekaligus kemenangan. 

“Kamu seharusnya lebih tau tentang nasehat nabi.” Matanya yang sayu teduh menatap wajahku, “Kemenangan terbesar itu bukan kemenangan atas kemiskinan, tapi kemenangan terbesar itu berhasil mengalahkan keinginan. Kekayaan itu kan sisa-sisa dari keinginan yang terpenuhi. Kalau hartanya banyak tapi keinginannya lebih banyak, apa itu bisa disebut kaya?” 

Mbah Utis tertawa terkekeh. Mungkin ia menertawakanku dengan keinginan yang menumpuk di kepala dan mendobrak-dobrak untuk dituruti.

“Tapi terkadang miskin juga menjerumuskan orang untuk berbuat kejahatan. Nah, kalau begitu apa kaya tidak lebih baik dari miskin?”

Ia tak menjawab karena tangannya yang trampil sedang menyelesaikan racikan utisnya di atas kertas papir, melintingnya, lalu membakar bagian ujung dan menghisapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian asap mengepul dari mulut dan hidungnya, seperti ada yang terbakar di dalam tubuhnya.

“Saya tidak miskin!” Ucapnya tegas seperti memarahi saya yang menuduhnya miskin.

Saya terdiam keder. Akhirnya muncul pertanyaan dalam diri saya sendiri, kaya kah saya, atau miskinkah saya? Kepala saya pun jadi merumuskan kembali ucapan mbah Utis. Benarkah kekayaan itu sisa dari kebutuhan kita? Saya terkesima. Selama ini bangku sekolah mengajarkan kesuksesan, dan kesuksesan adalah berlimpahkan kemegahan meskipun sekedar decak kagum. Tapi kami luput belajar tentang cara hidup bersahaja.

Lelaki renta itu mengambil sapu lidi dan mulai mengerjakan kebiasaannya. Tangannya mengayun pelan. Menyapu dedaunan mangga yang terserak. Sesekali angin mengobrak-abrik sampah yang sudah dikumpulkan itu. Dan mbah Utis seperti menari-nari, menangkap dedaunan dengan sapunya supaya tidak kabur terlalu jauh.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam benak kepalanya ketika dengan suka rela ia membersihkan balai desa. Di wajahnya tampak semburat cahaya perenungan. Mulutnya kumat-kamit. Kadang angin membagi suaranya, sehingga tertangkap senandung yang keluar dari mulutnya. Sola… sola…

Ada yang bilang itulah terakat hidupnya, upah kebaikannya akan diterima oleh seseorang di seberang sana. Dan hanya mbah Utis yang tahu. Orang itu kerap datang kira-kira sebulan sekali. Ia seperti memberi sembako atau entah apa wujudnya kepada mbah Utis. Saya pernah melihat seseorang masuk ke dalam rumahnya membawa bingkisan kain.

“Tidak ada yang datang.” Jawabnya, “Kalau kau melihatnya mengapa tidak kau sapa?”

Memang seharusnya saya menghampiri orang itu dan menyapanya. Tapi malam itu saya bergeming.

Ada juga yang bilang kalau kegemarannya membersihkan halaman balai desa merupakan kebiasaan masa mudanya yang giat. Kalau tidak bekerja justru akan mengundang penyakit. Lalu ada yang beranggapan kalau sebenarnya ia menyimpan sisa-sisa hartanya itu di kolong tidurnya. Tapi ketika orang itu mencoba menggeledah justru ia terperangah seperti mati kuyu karena melihat penampakan. Mbah Utis yang kemudian menemukannya membisikinya lirih untuk membuat orang yang menyelinap itu tersadar. Hanya saja ia menjadi linglung. Ketika ditanya ia tak bisa menjawab apapun. Kepalanya lupa tiba-tiba.

“Kelak di akhirat sana, semua yang kita miliki akan berbicara.” Ia mulai bicara lagi, “Saya takut nanti mereka tidak bisa jaga mulut, malah bikin saya susah. Buat apa memelihara binatang yang justru akan menggigit tuannya sendiri?”  Mbah Utis kembali terkekeh.

“Kalau disedekahin kan nanti mereka jadi ngomong yang baik-baik, mbah.”

Ia memutar. Tangannya masih mengayun pelan. Mulutnya seperti sedang mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap oleh telinga. Ia berhenti lagi untuk menghisap utisnya yang tinggal seperempat. Ketika sudah cukup dekat mbah Utis tersenyum sumringah. Terlihat giginya yang tinggal beberapa biji.

“Hanya sapu ini yang bisa saya sedekahkan.” Lalu terkekeh lagi dan tiba-tiba terbatuk hebat.

Saya hendak beranjak menolongnya tapi tangannya memberi isyarat supaya saya tidak usah repot-repot menolongnya. Mbah Utis meludah mengeluarkan dahak dari tenggorokannya. Dari mulutnya menyembur lendir kuning pekat. Saya khawatir tapi mbah Utis tampak biasa-biasa saja. Ia pun melanjutkan mengayun sapu seperti sedang mengayuh dayung di tengah samudera. Saya kembali menangkap mulutnya mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap telinga.

* * *

Tidak ada yang bisa menerka kematian. Bahkan seorang pembunuh sekalipun. Apalagi seseorang yang telah menempatkan kehidupannya di atas pengabdian seperti mbah Utis. Kematian itu seperti berangkat kembali meniti perjalanan berikutnya.

Ia pernah bilang kalau teman-temannya yang telah pergi bebarapa kali datang berbagi cerita. Perjalanannya sungguh sulit, bekal yang mereka siapkan hampir habis. Mereka menasehatinya supaya menyiapkan lebih banyak lagi. Mereka pun ingin sekali berterimakasih kepada orang-orang yang mendoakan mereka. Terutama anak dan isteri mereka. Doa-doa mereka seperti segelas air di padang pasir.

Dan setelah bercerita tentang teman-temannya itu, ia akan langsung menangis. “Siapa yang akan mendoakanku? Anak dan isteriku sudah tidak ada semua.”

Namun nyatanya, ketika tubuh mbah Utis terbujur di dalam keranda, semua orang menangis. Banyak sekali yang datang. Kebanyakan yang datang justru orang-orang dari luar desai. Mereka membaca tahlil dan shalawat, mengiringi kepergiannya dengan doa. Saya terheran-heran siapa meraka? Siapa mbah Utis sehingga mereka begitu kehilangan?

Sudah seminggu sejak pemakannya, tetap saja ada orang yang datang berziarah lalu mampir ke gubuk bambunya. Dan seseorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya tiba-tiba datang menyalami. Dari wajahnya terpancar kegamuman. Kagum pada saya kah dia?

“Kau pasti Dulah?” tanyanya.

Saya mengangguk pelan.

“Kau pasti muridnya. Kau pasti penerusnya. Seperti yang diceritakan embah kepada kami.”
Lalu lelaki itu memapahku berdiri menuju bilik kamar mbah Utis. Ia menunjuk ke sudut kamarnya. Ditunjukkannya sapu lidi yang selama ini digunakan menyapu halaman balai desa, tergantung di sudut kesepian. Saya melangkah gamang. Ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketika saya membalikkan badan orang itu telah pergi.[]  

Malang, 28 Maret 2011

RAUT SEDIH YANG SUDAH BERJALAN LAMA

- No comments

Setiap kali senja datang beriringan dengan gerimis, dan pohon rambutan di halaman rumah juga berbuah ranum, aku kembali teringat padamu. Sejujurnya aku benci mengingatnya kembali; saat kau dan ibu duduk di pelataran rumah ini.

Seharusnya memang kubuang jauh-jauh peristiwa itu, tetapi tetap saja ia menemukan celah jalannya untuk kembali ke kepalaku. Seperti angin malam yang selalu menemukan lubang dinding geribik dapurku. Adakah kau merasakan getir seperti yang kurasakan dari hari ke hari, sejak peristiwa itu.

Kusuguhkan secangkir teh untuk masing-masing; kau dan ibu. Lalu kusempatkan mencuri pandang, mencari tahu apa yang telah dibicarakan. Kutatap wajahmu sedikit lebih lama—butir keringat dikeningmu mengalir pelan seperti binatang melata yang kelaparan. Selama ini tak pernah kulihat keringat seperti itu mengalir di keningmu.

Dan ibu, wajahnya yang selalu terlihat ayu, tampak sayu. Letih pada tubuhnya tak pernah ia tampakkan lewat raut wajahnya. Bahkan kepedihan demi kepedihan yang kami lalui tak pernah tampak di mata. Wajahnya yang seperti saat ini pernah kutemui sekali ketika ayah meninggalkan kami untuk selamanya empat tahun yang lalu. Setelah sekian lama tersembunyi kini tiba-tiba tergurat kembali di wajah ibu, dan itu ia tampakkan padamu, bukan padaku.

Aku menahan diri tak segera undur diri. Di samping ibu aku duduk. Namun tak lama aku diusir.
“Ratih, tolong kau angkat jemuran. Awan di timur sepertinya mendung.”

Ibu tak pernah berkata apa adanya. Maka kupahami maknanya kalau aku tak pantas duduk di antara kalian berdua. Kau yang diam saja pun setuju dengan ibu.

/1/

“Tidak bisa ditunda lagi, Ratih.” Desakmu kala itu.

Kau jadi begitu lain dari yang kukenal selama ini. Tiba-tiba kau begitu keras, begitu memaksakan kehendak. Setan apa yang telah merasukimu. Meskipun matamu tak memerah tetapi ucapanmu lebih panas dari api.

“Apakah kau menghendaki lelaki lain?”

Aku kehilangan diriku sendiri dan juga tak mengenal siapa lelaki yang ada di depanku saat ini. Peringaimu sungguh berbeda. Kelembutan yang selama ini memanjakanku telah tercabut entah oleh apa. Atau begitulah sejati dirimu dan yang kau tunjukkan selama ini adalah kepura-puraan untuk meluluhkanku, dan juga ibu.

Kau berdiri tepat di depan wajahku. Kau tundukkan sendiri nafasmu dan kau kendurkan tulang pipimu. Sepertinya kau menyesalkan ucapanmu yang tadi.

“Tidak ada yang buruk dalam pernikahan. Perkara baik tidak seyogyanya ditunda-tunda.”
Perihal pernikahan yang kita rencanakan itu, bukannya aku tak ingin segera menjalaninya. Aku punya alasan yang membuatku harus menundanya. Tidakkah kau bisa mengerti seperti yang lalu-lalu. Aku mengkhawatirkan ibu. Beberapa hari ini ada orang datang ke rumah. Berbicara tentang masa lalu yang tak pernah kuketahui. Perihal tamu-tamu itu pun ibu selalu bungkam. Tetapi melihat gelisah nafasnya saat tidur, aku tahu ia ketakutan bahkan dalam mimpinya.

“Kalau begitu biar aku yang berbicara langsung dengan ibu, Ratih.”

Kukira kau sedang menanyakan pendapatku tapi nyatanya tidak. Kau sedang memberitahuku.

/2/

Ibu belum selesai menyampaikan semuanya ketika tiba-tiba Ratih datang dengan nampan plastik hitam bermotif kembang-kembang. Ia suguhkan dua cangkir hangat. Aromanya sedap sekali. Ia tahu aku menyukai teh tubruk seperti itu dan aku yakin takarannya pasti tepat seperti biasanya. Ingin kuseruput sedikit-sedikit untuk mengendurkan urat tubuhku yang menegang. Tapi entah mengapa semuanya terasa kaku untuk digerakkan.

Aku sudah utarakan maksud dan tujuanku datang kemari. Tekadku sudah bulat. Termasuk mendengar jawaban ibu yang sarat dengan isyarat-isyarat. Bahkan aku siap dengan hardikan halusnya karena menganggapku tidak sopan menyampaikan perihal seperti ini seorang diri.

Lain yang dipersiapkan lain pula yang dialami. Ibu tak banyak meminta, justru untuk kali ini ia ingin bercerita. Bagaimana ia mau bercerita, putri kembangnya tiba-tiba datang lalu duduk di dekatnya. Aku bersyukur mendung di langit timur memberi petanda, hingga ia pun bergegas meninggalkan kami berdua.

“Sudah bulat tekadmu untuk menikahi Ratih?”

Ibu mengulangi dari awal, “Iya, Bu.”

“Sebelumnya saya ingin mengisahkan satu cerita dari bapak sebelum ia meninggal empat tahun lalu. Bapak punya seorang teman yang waskita. Mengetahui yang halus dan yang kasar. Ia memiliki seorang putri pula, hanya seorang putri, sama seperti kami.”

Aku menyimak karena menurutku ini tentang sejarah keluarga. Pikirku bagaimana bisa aku memasuki sebuah keluarga baru tanpa mengetahui sejarah kehidupannya.

“Lima tahun lalu mereka bertemu. Entah apa yang mereka bicarakan. Lalu keduanya berjabat erat seperti sedang menukar janji, tidak hanya janji tetapi juga sebuah cendramata. Bapak menerima ini –ia menunjukkan cincin keemasan—dan saya tidak tahu apa yang diberikan bapak padanya.

Baru menjelang wafat bapak bercerita tentang pertemuan itu. Kepada saya bapak berpesan supaya kelak, lelaki yang akan menikahi Ratih, terlebih dahulu harus menemui teman bapak itu, Ki Buyung. Minta ia untuk menyerahkan cincin ini dan dari Ki Buyung ia akan menerima yang lain.
Hanya lelaki yang membawa cincin dari Ki Buyung lah yang boleh menikahi Ratih.”

“Tekadku sudah bulat, Bu. Mohon restumu untuk melawati ujian ini.”

Kemudian aku pergi ke Madiun setelah mendapatkan berkah dan restu dari ibu. Juga setelah berat hati harus berpamitan dengan Ratih. Dari Madiun kutelusuri jejak Ki Buyung ke Klaten lalu ke Magelang dan berakhir di Jepara. Di sana kulihat seorang perempuan yang begitu anggun. Aku begitu mengenalnya. Aku heran bagaiamana ia bisa datang lebih dulu di rumah Ki Buyung. Namun rasa heranku redup oleh cahaya emas cakrawala: Ratih sudah sampai di sini menungguku.

/3/

Malam belum begitu larut. Angin yang bertiup pelan menghantarkan lantunan al-Barzanji dari rumah di sebrang jalan. Ternyata tidak hanya lantunan syair-syair yang berkisah tentang sang Nabi yang datang. Seseorang telah dihantarkan oleh angin malam ke teras yang mengetuk pintu tak begitu keras. Aku musykil karena selama ini tak pernah ada tamu datang di malam hari.

Sejak kepergianmu empat puluh hari yang lalu, inilah tamu pertama yang datang. Sejujurnya aku mengagumi ketampanannya; rambut kelamnya, hidung besarnya yang mancung, dan gigi putihnya yang berjajar di balik bibir memagari setiap kata-katanya yang keluar. Ibu menjawab ramah salamnya. Meskipun angin cepat membawanya pergi aku, dan mungkin ibu, takkan pernah lupa ucapan salamnya yang pertama kali ini.

Tamu itu begitu serius dan juga gamang. Beberap kali kuperhatikan ia mencoba menerobos pandangan melalui gorden yang memisahkan ruang tamu denganku. Dan dengan ragu ia menanyakan keberadaan bapak.

“Bapak sudah pergi setahun lalu. Hanya ada kami berdua di rumah ini.” Jawab ibu.

Lelaki itu tampak terkejut, lalu mengucapkan belasungkawa dan beberapa rapal doa yang umumnya diucapkan.

“Lalu, adik ini siapa? Dari mana?”

“Saya Syahidan dari Jepara, mau mengantar ini.”

Ditunjukkannya sebuah kotak antik dari saku baju lusuhnya. Baju itu tentu melekat di badan untuk beberapa hari. Tiga hari, lima hari, atau mungkin satu minggu. Daki yang menempel di kerah bajunya dan juga lipatan-lipatan di ujung baju yang mengangkat menunjukkan pinggulnya yang kekar, tak mampu berbohong meskipun wajahnya bersih tersapu air. Mungkin ia membasuhnya di masjid sebrang jalan.

“Dari Ki Buyung?”

“Betul.”

Tiba-tibu ibu lemas. Tubuhnya yang terhempas ke sandaran kursi menarik perhatianku. Nama ‘Ki Buyung’ dan kotak antik di tangan ibu mencambuk kesadaranku. Ketika kutinggikan tubuhku, menjinjit untuk mengintip dari celah gorden, kulihat cincin keemasan terselip berdiri di dalam kota dalam genggaman ibu. Aku terhenyak. Kalau lelaki itu yang datang, lalu kau di mana?

/4/

Aku, di matamu, adalah lelaki durja. Kusembunyikan satu peristiwa. Aku berhutang budi pada seseorang. Ia telah menyelamatkan keluargaku dalam keterpurukan. Lama aku mencarinya selama sepuluh tahun, namun tak juga kutemui. Kami mengenalnya dengan nama haji Rahmat. Saat ku tiba di sini, di Jepara, mataku terbelalak. Tidak lain ki Buyung itu adalah haji Rahmat. Dalam keramahtamahannya ia meminta satu hal; ia ingin aku menanggung kehidupan putrinya. Dan inilah balas budiku yang harus kubayar.

Ratih, di sini, di langkah pertamaku di pelataran rumah Ki Buyung, kulihat dirimu. Aku yakin itu kamu. Tapi Ki Buyung menjelaskan berulangkali kalau itu, yang harus kutanggung kehidupannya itu, adalah perempuan yang lain. Mungkin benar kata orang, setiap insan diciptakan dengan tujuh kembaran. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku melihatnya sebagai dirimu.

/5/

Senja hampir berlalu. Dan semoga kau pergi bersamanya untuk selamanya.


Bandar Lampung, 5 Februari 2014

Tuesday, 16 June 2015

Tempat Pergi Tempat Kembali

- No comments



apa kabar catatan harianku?
akhir-akhir ini aku begitu rakus: rakus waktu, rakus kesenangan 
dan tak kusisakan sedikitpun untukmu 

kau lelah menunggu?
rupanya kau tetap setulus dulu: menungguku menghampirimu
kau tahu, bukan, kuhampiri kau ketika aku lelah
dan jawabanmu selalu sama: ketulusan akan membuahkan akhir yang indah

kau jawab itu supaya aku tak pergi atau kau memang ingin berkata demikian
karena bagaimanapun juga, nanti atau esok hari, aku pasti pergi
dan kau kembali pada penantianmu
kalau aku ingat aku akan kembali
tapi bagaimana kau aku lupa
hah, memang benar, selama ini pada akhirnya aku kembali

jangan kau ajari aku tentang ketulusan seperti yang kau lakukan
jangan 
saya masih ingin membohongi diriku sendiri 
karena ini alasanku untuk selalu kembali

Thursday, 28 May 2015

SHADA DAN GEMERICIK DALAM MASJID

- No comments


ALAM mensabdakan hujan. Seperti dalam kesempatan yang berbeda ia mensabdakan kemarau, senja, dan terkadang duka. Gemericik air dari talang rumah, atau kodok yang kegirangan di pinggir sungai, dalam sekejap mampu membawa kenangan yang telah lama terpendam. Yang entah karena kesibukan atau karena suasana baru secara mengherankan ia terlupakan. Lalu untuk membangkitkannya ternyata hanya membutuhkan bunyi gemericik air hujan. 

Siapapun boleh menafsirkan air hujan yang menggelitik atap rumahmu.

Seperti Shada yang diberhentikan oleh hujan lebat singgah ke rumah ibadah yang di dinding-dindingnya tertulis nama Allah. Ia singgah karena memang benar-benar singgah, bukan karena terpanggil untuk menjalankan ibadah. Ia sudah lama meninggalkannya yang mungkin orang-orang di sekitarnya mengatainya bahwa kekayaan telah membuatnya buta. Tapi setidaknya, hujan ini seperti sedang menghantarkannya pada rumah yang telah lama hilang.

Tepatnya kemarin sore, di tengah perjalan pulang langit menghitam di sepanjang jalan. Tak ada jaminan hujan mampu menahan diri untuk tak turun sebelum Shada sampai rumah. Tak dapat pula ia menahan diri untuk keadaan yang tak pasti seperti ini. Tekad. Maka ia pun beranjak. Di pucuk bukit matahari benar-benar telah disekap. Awan hitam di atasnya hanya menyisakan cahaya temaram. Dan sesekali seperti ada yang marah di balik awan hitam itu karena gemuruh membuat siapapun menjadi ngeri. Orang-orang dibuat kerdil oleh kilatan perak yang kemerahan. Tapi mana mungkin ia berhenti di sini?

Mungkin saja. Hujan telah menghentikan Shada dan ia tak mampu berbuat apa-apa. Hujan tak hanya mendinginkan mesin motor yang di parkir di depan masjid. Asap putih menyembul dari bagian mesin kendaraan—Itu uap dari air hujan menyirami knalpot. Juga sepatu pantopel hitam yang sudah penuh menampung hujan. Shada masih tak bisa berbuat banyak. Sama halnya dengan knopi teras yang besi-besi penyanggahnya mulai keropos. Ia tak lagi mampu menahan hujan menggerayangi muka tubuhnya lalu mengalir melalui serat-serat yang mulai bersela dan menetes tepat di kepalaku.

Setelah hampir setengah jam riuh hujan yang berjatuhan di atas knopi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Seiring bunyi rintik yang mensunyi dari dalam masjid terdengar riuh lainnya. O, itu bukan riuh tapi koor anak-anak yang duduk memangku turutan baca Alquran.

Di masjid itu, puluhan anak belum baligh ikut berjamaah, lebih banyak dari orang dewasa yang ikut berjamaah. Usai imam shalat membaca doa, anak-anak itu menyalami jamaah lainnya lalu menuju serambi masjid. Anak laki-laki duduk di sebelah selatan dan anak perempuan duduk di sebelah utara. Mereka menyandang kitab tuntunan baca Alquran, ada pula yang membuka Alquran.

Belum ada guru ngaji yang duduk di antara mereka, tapi mereka sudah memulai majlis mereka dengan membaca Al-Fatihah dan beberapa surat pendek lainnya. Shada masih mengamati mereka dari dalam. Melihat mereka yang tadarrus sendiri-sendiri untuk melancarkan bacaan sebelum menghadap guru ngaji.

Shada merasa takjub. Di saat anak-anak lainnya di luar sana berasik ria menonton kartun atau bercengkrama dengan orang tua, justru belasan anak belum baligh itu terbata-bata mempelajari kitab agama. Saat anak-anak seumuran mereka bergulat dengan asiknya teknologi dan keramaian, mereka menyepi melawan keingin mereka sendiri untuk lebih memilih mendekatkan diri pada Ilahi.

Hujan masih rintik-rintik tapi Shada harus pulang sambil terus merenungkan mereka. Semoga mereka mampu bertahan, meskipun di luar sana semakin ramai, semakin riuh. Tapi keramaian dan keriuhan pasti akan menjemukan. Semoga mereka tetap bertahan, meskipun hujan kerap menjadi penghalang. Shada membatin dalam doa.

Oktober 2012

Tuesday, 19 May 2015

RUSMINI

- No comments

Karena dorongan yang sangat -berasal dari kegelisahan dan harapan- Rusmini berpamitan. Anggrek, mawar, bunga sepatu, dan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di pot-pot harus bersiap diri merindukan sentuhan Surmini. Siapapun yang akhirnya menyiram, memupuk, memotong tunas pengganggu, tentu akan dirasa tak selembut tangan Surmini. Surmini -pada senja yang pilu- berucap pada bunga, saya akan kembali.

Kepergiannya tidaklah seberapa. Hanya sebuah pencarian untuk memenuhi jiwanya yang momplong.

Maka ketika Rusmini ditawari untuk menjaga kasir sebuah warung internet ia mengiyakan. Dari sanalah ia bertemu Raden. Lelaki yang dirasa Rusmini bisa memengisi separuh jiwanya itu.

Rusmini mendambakan ketentraman. Di saat teman-teman sebayanya bisa memenuhi kehampaan seperti yang ia rasakan maka Rusmini pun memutuskan untuk mengakhirinya. Saya harus segera menikah. Gumam Rusmini. Keputusan menikah bukan keputusan sembarangan. Ia telah mendapat nasehat dan perenungan. Toh, teman-temannya -termasuk wejangan orangtuanya sendiri- mengiming-imingi.

Dan Rusmini yang tinggal di kamar kost seperti menerima jawaban doa-doanya ketika bertemu Raden. Apalagi Raden memiliki kematangan dan kedewasaan. Sehingga ketika Raden menyatakan cinta Rusmini pun mengiyakan.

Cinta terjalin rapi antara keduanya. Rusmini ingin dicintai, Raden sudi mencintai.

Tapi Raden terkesima, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Mas cari perempuan lain saja, saya urung menikah. Kata Rusmini.

Bagaimana bisa kau bilang begitu? Raden kalap. Bukankah sejak awal mereka sudah komit bahwa hubungan mereka akan berakhir pada labuhan pernikahan. Sepuluh kali Raden meminta penjelasan sepuluh kali pula Rusmini menjelaskan dengan diam... Dan tangis.

Maafkan aku mas. Sayangnya permintaan maaf itu hanya terucap di hati.

Ruang lebar, meskipun pepohonan tampak menjulang di sana sini namun cakrawala masih bisa ditangkap mata. Dan Masih tersisa banyak untuk dimasukkan semua ke dalam kornea. Namun tidak di sini, di kota, yang jangan angin sejuk, cakrawala pun sudah habis direnggut. Setiap ruang dipenuhi batu pondasi. Meskipun tidak kunjung selesasi yang penting sudah ada pondasi. Sehingga tidak ada lagi ruang sisa. Semuanya menyempit. Sialnya, Rusmini tinggal di sana.

Tetangganya tanpa diminta sering memberi pertunjukan. Sebuah kemasan. Sialnya lagi pas malam hari. Suara dampratan, makian, dan sesekali meludah. Rusmini tidak menolak untuk tidak mendengar itu. Suami macam apa dia ini. Tidakkah terenyuh mendengar isak tangis isterinya yang mencekik itu, atau tersentuh sedikit saja permohonan ampun dari bibir yang telah mamar itu.

Di situ Rusmini berdiri. Mendengar dan menyaksikan. Dan semua itu melahirkan kengerian di batinnya. Lalu bertanya-tanya. Apakah bapak pernah melakukan hal sama kepada ibu. Mungkin tidak, karena Rusmini selalu melihat ibunya bahagia. Setidaknya di depannya.

Kalau ibu mungkin pernah menjadi korban seperti itu berarti Rusmini pun punya peluang mendapat perlakuan yang sama.

Rusmini menjadi gamang.

Ketika ia harus mengucapkan perpisahan kepada Raden batinnya pun menjerit. Lebih baik menjerit sekarang dari pada perih nantinya.

Dan ia teringat pada bunga-bunganya. Indahnya melihat bunga. Indahnya menjadi bunga. Ya... Menjadi bunga kota.

2011
[full_width]

Dua Puisi

- No comments

kau pergilah sayang. tak usah sematkan lagi senyummu. seharusnya kau malu pada mentari.

bergetar hati membaca pesan singkatmu
aku takjub karena baru kali ini kau berhasil buat hatiku cemburu
ah, mentari tidak hanya datang menerangi dirimu saja kau
hanya kegeeran
kau hanya cari alasan saja kan
supaya aku menjauh dari dirimu supaya kau bisa mengukur rasa cinta dan rindumu

datanglah sayang.
tak usah kau cemberutkan lagi wajahmu yang ayu
mentari seharusnya yang malu karena selalu mengintip puisi-puisiku untukmu.
pesan terkirim

- - - -

sebelum fajar berpijar kuingin terangkan pagimu dengan sapaku.

semakin muak kubaca permainan katamu
aku hanya mendambakan kedatanganmu menjemputku mengarungi malam untuk mengeja bintang
bukan buaian kata yang maksudnya entah tersembunyi di mana
sudahlah sayang, kau bukukan saja gombalanmu itu lalu kirimkan royaltinya ke rekeningku aku jamin aku bahagia.

berhentilah berpuisi.
puisi-puisimu tak mampu menandingi diriku.
pesan terkirim.

Bandarlampung, 15 Januari 2011

Wednesday, 13 May 2015

Liburan Sekolah

- 1 comment


(1)
Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.


Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”

(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin es teh atau es jeruk. Bisa sekalian untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu tiba-tiba ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”

(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guru
yang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan. Tidak dengan kerupuk,
tapi dengan beberapa biji buah rambutan yang dipetik adik kelasku itu
dan diberikannya kepadaku, katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi, siapa tahu
bisa bertemu kembali dengan si dia. Ah, terlambat. Kulihat ia
keluar dari warung bersama entah siapa. Mereka jalan bersama
dengan mesra sambil ketawa-ketawa. Aku bengong, terpana.
Ia menoleh ke aku, matanya melirik dengan cemerlang, tapi tatapannya
tak sanggup lagi menembus mataku, bahkan seyum manisnya
telah mengubah hatiku menjadi sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku
di sampingnya juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala,
tapi aku keburu balik kanan, pulang. Pulang dengan nelangsa.

Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran
di pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
sajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.


Dikutip dari http://jokopinurbo.com