Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Tuesday, 29 September 2015

SALAMAH

- No comments

Di hari-hari biasa, ketika tak ada yang peduli dengan kepunahan kicauan burung di pagi hari, Salamah meneriaki anak yang bagai pinang dibelah dua itu untuk bersiap-siap berbelanja pengetahuan di bangku sekolah. Ia tentunya seorang ibu yang baik dengan mengirim mereka ke sana. Sembari meneriaki mereka tangannya dengan lincah meracik bumbu untuk makan yang akan matang ketika matahari setinggi dua tombak ke langit. Lalu, mereka berdua sarapan apa? Tidak pelak lagi bahwa mie instan sudah menjadi kebiasaan menahun.

Pada jam istirahat pertama, mereka berdua –yang tua bernama Satin dan adiknya bernama Samin- akan kembali ke rumah untuk membayar hutang sarapan pagi yang ditinggalkan. Maklum, sekolah mereka hanya beberapa jengkal saja. Bahkan ujung tiang benderanya dapat diintip dari halaman rumah.

O iya…. Suami Salamah adalah mandor yang selalu pergi meninggalkan keluarganya. Orang-orang memanggilnya Obang. Nama aslinya Oemar Bangkit. Ketika pulang, isterinya akan menyambut dingin dengan senyuman, dan sesekali menanyakan keadaan proyek yang ditanganinya. Sebenarnya ia tidak suka suaminya berprofesi di sana karena sawah warisannya ayahnya tidak tergarap sama sekali. Sesekali ia curiga kalau suaminya memiliki perempuan simpanan.

Seperti malam itu ketika Satin dan Samin masih berumur beberapa bulan di gendongan. Ia serta merta menuduh suaminya berselingkuh karena uang untuk belanja sudah menipis padahal ia sering keluar menangani proyek. Bahkan ia sampai menggunakan popok kain karena uang untuk membeli popok pampers sudah habis. Untuk menunjukkan kesetiannya, akhirnya Obang melepas beberapa proyek yang akan ditanganinya yang akhirnya sangat disesali oleh Salamah.

Obeng hanya menggelengkan kepala keheran-heranan setelah melihat kekonyolannya sendiri.
Terjadi perubahan besar ketika nyawa Obang harus pergi meninggalkan mereka ditelan dunia. Salamah berdiri sendiri di atas tanah warisan ayahnya. Untungnya suaminya meninggalkan dalam keadaan kecukupan sehingga ia tidak perlu terlalu kwatir dengan ekonominya. Rumahnya sudah cukup besar untuk ditinggali empat orang, bahkan walaupun ditambah dua orang lagi.

Sehingga di tahun berikutnya setelah lulus dari SMA Satin dan Samin tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena mereka berdua sudah harus merawat rumah dan melayani suaminya. Dan benih yang dititipkan di rahim mereka telah melahirkan cucu buat Salamah.

Tentu saja dua orang yang masuk ke dalam keluarga itu sangat beruntung. Mereka sudah tidak perlu lagi mencari tanah kosong untuk menanam batu bata.
Namun, seperti kekhawatiran beberapa teman Samin, konflik keluarga pun tak mampu dielakkan lagi.

Dulu, ketika Salamah baru memiliki cucu, banyak sekali coretan kapur membentuk lingkaran mengelilingi genangan air. Perempuan yang baru menjadi nenek selalu mengambil peran untuk mengepel kencing cucunya karena hanya itu yang boleh ia kerjakan –sejak punya menantu ia tidak lagi menantang terik matahari di tengah sawah. Saat anak-anak tidur siang Salamah akan membacakan shalawat atau senandung apapun untuk menidurkan mereka.

Dindingpun sudah tidak lagi berwarna putih bersih seperti sedia kala. Banyak coretan dimana-mana menunjukkan kreatifitas alami anak. Samin dan Satin tidak pernah capek mengomeli mereka, seperti ketika mereka terus-terusan diomeli waktu kecil.

Waktu terus beranjak. Mereka mulai ada ketertarikan terhadap benda tertentu. Sesekali cucu tua memukul adiknya untuk mempertahankan yang menurutnya adalah haknya. Maka ia akan menangis dan mendatangi neneknya. Karena si cucu tua tahu apa yang akan dilakukan nenek ia memilih mengalah dan memberikan kepunyaannya ke adiknya. Bahkan Samin dan Satin sesekali bersikap bukan layaknya saudara hanya karena ingin membela anak sendiri.

Ketika malam didiami oleh kesunyian, si cucu akan lebih memilih tidur bersama nenek dari pada menerima kehangatan ibu mereka. Dan kali ini mereka berdua akan marah atau lupa bahwa mereka sedang mengumpat pada ibunya sendiri hanya karena ingin ngeloni anak meraka.

“Kang, kenapa saufi selalu menolak kalau ku ajak tidur di sini? Dia selalu memilih tidur bareng ibu di kamar belakang.” Tanya Satin dengan cemas.

“Ya… Biarkan saja. Toh Saufi tidak pergi kemana-mana?” Jawab suami dengan enteng.

“Tapi apa Kakang tidak khawatir?”

“Kenapa khawatir. Saufi kan dimomong neneknya. Dia masih memanggil kamu dengan dengan sebutan ibu kan? Dia masih memanggil saya dengan sebutan bapak kan?” Satin mengangguk cemas. “Ya sudah apa yang perlu dikwatirkan.”

Sedangkan di kamar sebelah, saksi bisu kemesraan antara Samin dan suaminya, terdengar pula perbincangan yang mengusik.

“Dik, apa tidak sebaiknya kita tinggal di rumah sendiri saja?”

“Kenapa dengan rumah ini Mas?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ada ketidak-mandirian dalam diri kita sebagai keluarga.”

“Maksud Mas?”

“Saya ingin membesarkan Asnawi dengan tangan kita sendiri?”
Samin menghela nafas panjang setelah mendengar keinginan suaminya. “Aku tidak tahu apa ibu akan menerima keinginan kita. Apa Mas tidak ingat waktu kita sampaikan keinginan yang sama dulu?”

“Saya akan bicara pada Kang Saliman. Semoga bisa dimengerti?”

[next]
* * *
Ketika dingin mulai terasa menusuk dada, keluarga mereka duduk bercengkrama di depan televisi sambil menikmati takiran dari tasyakuran panen lada tetangganya. Hanya saja, nenek Salamah tidak ada di sana. Semua orang tahu ke mana para nenek berada ketika menjelang Isya’. SepertiKetika Saufi atau Asnawi menangis mencari neneknya orang tuanya akan menjawab Nenek sedang mencari surga di masjid, tunggu sampai isya baru nenek pulang.


“Kang Man. Apa kakang tidak merasa rumah ini terlalu kecil untuk dua keluarga?”

Jelas sulaiman menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Badru karena sebenarnya rumah yang mereka tinggali masih cukup luas meskipun ditambah dua anak lagi.

“Lalu apa kamu dan Samin punya cukup uang untuk memulai dari awal?” Jawabnya langsung ke inti persoalan.

“Kami sudah membicarakan hal ini dengan Samin. Hanya saja kami tidak tahu bagaimana harus kami sampaikan ke ibu.”

Mereka berempat saling bergantian berpandangan. Dan tiba-tiba, selera makan pun menghilang. Ayam ingkung yang ada di tangan dikembalikan lagi ke atas piring.

“Saya ingin tahu masalah sebenarnya apa?” Tanya satin dengan nada sedikit dikeraskan.

“Tidak ada masalah apa-apa. Kami hanya ingin sedikit lebih mandiri.” Badru menjawab dengan hati-hati karena melihat kakak iparnya yang sering cepat naik pitam.

“Kalau permasalahannya adalah kemandirian, kita skat saja rumah ini. Nanti kita tentukan saya dengan Kang Saliman dapat bagian yang mana.”

“Bukan begitu mbak. Kami… “

“Samin! Kalau yang kamu bingungkan adalah keadaan ibu, kita bisa jatah tinggal. Satu minggu bersama kami dan satu minggu bersama kalian.”


[next]
* * *

Di malam yang sepi dengan kesendirian yang sama seperti biasanya Saliman menata kemesraan dan menaruh letih bersama isterinya.

“Kenapa tadi tidak terima saja keinginan mereka?” Ungkap Saliman membahas perhelatan sore tadi.

“Dengan membiarkan mereka pergi dari rumah ini?” Tanya isteri Saliman keheranan.

“Tidak! Mereka yang di sini dan kita yang pergi. Bukankah kamu ingin Saufi jauh dari kemanjaan neneknya?”

“Kang, ibu sudah tua. Kalau kita pergi sekarang kita hanya akan dapat tanah pekarangan kang.”

Saliman hanya tersenyum tipis mendengar alasan isterinya. Lalu ia masukkan wajahnya ke sela antara bantalnya dan bantal isterinya meninggalkan keinginan-keinginan yang sudah tampak biasa di telinganya.
Sedangkan di kamar yang lain.

“Mas, apa kita akan melanjutkan keinginan kang Saliman membuat tembok pembatas di rumah ini?”

“Entahlah.”

“Kok entahlah?”

“Kita teruskan dahulu hidup kita yang telah kita jalani. Mungkin akan ada kesempatan yang lebih baik.”


[next] * * *

Salah seorang jamaah subuh begitu terkaget-kaget ketika mendengar kedua keluarga itu beradu mulut. Pertengkaran mereka terdengar jelas dari luar rumah. Apalagi langit dan seluruh isinya masih hitam.

“Ini salahmu Dru! Kamu juga Min! Kenapa pake ada acara pingin pindah rumah segala? Apa kalian tidak belajar dari pengalaman? Apa kalian tidak tahu kalau ibu sangat menyayangi cucunya? Apa kalian tidak lihat ibu sudah tua? Sabar sedikit kenapa.”

“Begini mas…”

“Begini bagaimana? Ibu sudah udzur. Kalau mau minggat tunggu ibu kehilangan nafasnya. Sekarang, kita harus bagaimana?”

Mereka bernafas dengan kemarahan masing-masing. Asnawi dan saufi yang tidak tahu apa-apa mengkeret di ujung sofa saling berpelukan. Mata mereka menangkap keganasan dan keserakahan dari kedua mata orang tua mereka.

Kedua menantu saling berpandangan dan tertegun dengan kebingungan. Saliman menatap secarik kertas tulisan tangan mertuanya yang ternyata wasiat wakaf seluruh hartanya kecuali rumah yang mereka tempati. Di sudut bawah dibubuhi tanda tangan kepala desa dan mudin setempat. Juga tanggal kesepakatan tersebut dibuat yang ternyata hanya setelah beberapa hari setelah Samin dan Badru mengutarakan maksud untuk pindah rumah dua bulan yang lalu.

Rupanya perbincangan mereka tertangkap Salamah yang pulang untuk mengambil kitab suci yang biasa dipakai untuk tadarus karena tertinggal. Dan karena itulah ia mengambil keputusan. Ketika subuh biasanya sudah diterangi lantunan lirih ayat-ayat suci pagi itu tidak terdengar apapun kecuali detak jam dinding. Samin yang biasanya rajin menyusul ibunya menangkap kegagapan tersebut.

“Mas, kita cari ibu di masjid.” Ajak Samin. Badru sebenarnya menangkap kekonyolan dari ajakan isterinya itu, karena untuk apa sembunyi di sana dengan meninggalkan surat wasiat seperti itu. Justru ia sedang memperkirakan kepergiannya yang sangat jauh.

Berempat mereka keluar rumah meninggalkan Asnawi dan sepupunya tetap tinggal di rumah. Sesampainya di masjid disana tidak ada apa-apa kecuali beberapa jama’ah yang baru pulang yang justru menanyakan kealpaan nenek itu.

Setelah merasa pasti mereka pergi menuju ke rumah RT. Namun pak RT tidak ada di rumah sejak subuh. Isterinya beralasan kalau suaminya sedang mengantarkan tamunya.

Dengan malu-malu Satin meminjam telepon untuk menghubungi mbah Inten yang menjadi kordinator pengajian ibu-ibu. Bukannya mendapat kepastian Satin malah dihujani pertanyaan.

Lalu mereka berpamitan dengan tubuh lesuh dan saling menyalahkan.


* * *
Dan seperti hari yang lain selalu ada yang berbeda. Apalagi berada di bawah atap yang benar-benar baru. Di bawah atap itu terdapat puluhan penghuni. Hanya ada beberapa saja yang masih punya kulit mulus dan singset. Kebanyakan mereka berjalan pelan, sebagian ada yang sambil membungkuk, sebagian lagi dibantu sebatang tongkat.

“Nenek bahagia tinggal di sini.” Tanya seorang perempuan yang berkulit mulus dan berjilbab.

“Tentu saya senang. Apalagi banyak teman sejawat di sini. Tidak seperti di rumah yang dulu.”

“Emang rumah yang dulu bagaimana?”

“Panas. Enakan di sini, di panti, dingin.”

Perempuan berjilbab itu tersenyum. Lalu meninggalkan Salamah yang semakin renta di ranjang yang juga serenta umurnya.


Blitar, 20 Maret 2008

Monday, 14 September 2015

NUR TAK INGIN KEHILANGAN SUAMINYA

- No comments

Hitam semakin menelan serat-serta senja. Gugusan bintang tak lagi terang karena kalah oleh terang lampu jalanan. Sedangkan angin musim panas berhembus mengeringkan air.

Nur duduk bersandar, mengusap-usap perutnya yang mengembang. Matanya memperhatikan setiap tamu yang datang. Pandangannya agak samar karena lampu penerang memang tidak benar-benar terang dan anyaman penjalin yang menabiri antara dirinya dan para tamu cukup rapat.

Ruri duduk di sudut dekat Nur. Ia tak menyadari kalau di balik tabir penjalin itu keponakannya mengawasi wajahnya. Ia mengenakan kopiah putih yang semakin menambah kewibawaannya. Sesekali ia tertawa kecil, tentu saja bukan kepada Nur tapi kepada Din yang duduk memunggungi Nur.

Nur tiba-tiba tenggelam dalam lamunan. Bahagia yang sempat menyisir hatinya terusik oleh rasa pilu dan nelangsa. Ia seharusnya bahagia karena tiga puluhan sanak familinya saat ini sedang berkumpul di rumah hanya untuk Nur, juga untuk jabang bayi yang ada di dalam kandungannya. Ingatan pada suaminyalah yang membuatnya murung.

Sebulan yang lalu Jun pamit untuk mencari rejeki tambahan karena menurut perhitungannya uang tabungan yang sekarang ada takkan cukup untuk biaya persalinan. Ia pergi ke sebuah pulau terpencil di Pesisir Barat bersama tiga lainnya. Entah angin apa yang membaca mereka pergi ke sana. Nur sudah berusaha melarangnya. Tak perlu jauh-jauh ke sana untuk mencari tambahan biaya.

“Kau tahu Nur, mengejar mimpi terkadang harus menelan malu. Tetapi Abang akan lebih malu lagi kalau untuk kenduri kelahiran anak kita nanti Abang harus berhutang sana sini.”

“Apa yang sebenarnya Abang cari di Pesisir Barat?”

“Anugerah alam, Nur. Kalau Abang beruntung tak hanya kenduri yang bisa Abang tunaikan nanti, tapi juga rumah. Ya, rumah untuk kita dan anak kita.”

Nur menatap mata suaminya tajam-tajam mencari jawaban atas kegigihannya untuk pergi.

“Nur, orang-orang hanya mengenal Pesisir Barat dari damar, lada, dan cengkehnya. Padahal ada yang tersembunyi di balik itu semua. Abang hanya akan mengambil segenggam saja. Satu atau dua minggu abang pasti kembali.”

Nyatanya, bukan satu atau dua minggu, tapi sudah lebih satu bulan suaminya mengingkari janji. Sampai usia kandungannya semakin mengembang di bulan ketujuh. Sampai kenduri kecil sebagai rasa syukur dan doa ini ditunaikan tanpa kehadiran suaminya.

Nur bukanlah wanita yang lemah. Guncangan berat seperti ini ia hadapi dengan tabah. Ia melihat kedua teman suaminya kembali meskipun dengan tekanan mental yang sampai sekarang belum bisa dimengerti sedangkan yang satunya kembali tanpa nyawa dan juga tangan kirinya. Nur sudah kehabisan air mata tapi tidak pertanyaan-pertanyaan di kepalanya mengapa hanya suaminya yang lenyap tanpa kabar berita.

Lamunan Nur buyar ketika ia mendengar bacaan fatihah yang tersentak dibaca serentak. Surat pembuka kita suci itu dibaca berulang kali sebagai pembuka tahlil. Nur tersenyum. Tangan mengusap-usap perutnya.

“Yang mimpin tahlil itu adalah kakekmu, sayang. Kelak kalau kamu sudah lahir kamu harus belajar banyak dari kakek.”

Setelah itu, ia mengenalkan satu persatu. Tentang Ruri, lalu yang duduk di sampingnya, lalu sampingnya, lalu sampingnya, hingga ke barisan orang-orang yang tidak membaca tahlil. Mereka membaca salah satu surat Alquran yang dibagi menjadi enam bagian. Nur kembali merasakan pilu. Seandainya di antara mereka duduk pula suaminya.

Sampai-sampai di pagi hari, setelah shalat subuh, ia masih meringsek di atas kasur, antara miring dan merebah. Perutnya diganjal bantal. Tubuhnya pun masih berbalut mukenah putih. Tidak seperti biasanya, kali ini Nur tak mampu menahan kantuknya usai shalat subuh.

Hingga akhirnya ia terbangun oleh suara pintu kamarnya yang digedor-gedor diikuti oleh namanya yang dipanggil-panggil sambil mengabarkan warta.

“Nur, keluar! Nur! Suamimu, Nur, suamimu!”

Nur tersentak. Bangun. Mulutnya memanggil nama ‘mas’ untuk meyakinkan dirinya. Tentu saja tak ada jawaban apa-apa. Justru pintu kamarnya kembali digedor-gedor.

“Cepet Nur, keluar!”

Seorang lelaki tergeletak berselimut kain yang baru diambil dari lemari. Sayangnya, selimut itu tak mampu menyelimuti kekusutan paras laki-laki itu. Rambutnya gondrong dan berantankan. Begitu pula kumis dan jambangnya. Pastilah sudah berminggu-minggu tidak dipotong dan juga disisir.

Tapi Nur tak mungkin lupa dengan suaminya sendiri meskipun kulit suaminya kini kusam terbakar. Ada luka lebam di punggung dan lengannya. Juga codet di pelipis dan pipinya. Rasa bahagianya bercampur aduk dengan rasa penasaran bagaimana suaminya bisa mendapatkan luka-luka itu.

Nur tak bisa mendapatkan jawaban apa-apa karena orang yang mengantarkan suaminya sudah berlalu sejak tadi. Ia tinggal menunggu suaminya siuman.

Tarmadi yang mendengar kepulangan suami Nur juga tak lebih tenang dari Nur sendiri. Mondar-mandirnya lebih cepat dari semua yang ada di sana. Sebenarnya, Nur dan juga lainnya, merasakan kerisihan yang tertahan atas sikap Tarmadi itu. Lagi pula, untuk apa Tarmadi segelisah itu.

Benar saja, ketika Jun perlahan membuka kedua matanya Tarmadi sudah duduk paling dekat. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Jun. Kencang pula.

“Bagaimana kamu bisa pulang? Bagaimana kamu tidak kehilangan tangan?”  Tak seorang pun yang mengerti pertanyaan Tarmadi. Nur merasa kalau Tarmadi menyembunyikan sesuatu, Tarmadi mengetahui perihal ganjil yang menimpa suaminya.

Tapi Jun tidak benar-benar siuman. Matanya terbuka tapi tidak memandang apa-apa. Kesadarannya masih terjebak di bawah sana hingga hentakan tangan Tarmadi tidak dirasainya sama sekali.

Kalau bukan Nur yang membentak mungkin Tarmadi akan tetap mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Maka, ketika Tarmadi akhirnya pergi Nur menggantikan tempatnya dan menggenggam erat tangan suaminya. Tangannya dingin tak ada reaksi membalas genggaman istrinya itu. Nur memanggil suami dengan lembut.

Semua saling pandang. Masing-masing mencari jawaban. Adik Nur yang sedari tadi pergi ke mantri terdekat belum juga kembali. Mungkin karena ini masih terlalu pagi. Pak dokter belum bangun. Meskipun begitu, tak ada yang bergeming. Nur mengelap tubuh suaminya dengan kain basah. Ia membersihkan kaki suaminya yang bengkak dan pecah di bagian tumit—luka yang lumrah didapat orang yang berjalan jauh tanpa alas kaki.

Kepulangan Jun tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menyebar di desa. Tak sedikit yang mengucapkan syukur tak sedikit pula yang membubuhi kepulangannya dengan keganjilan yang kasat mata lalu dikait-kaitkan dengan Slamet dan Amat yang telah hilang kewarasannya. Tak hanya satu dua orang yang mengira-ngira kalau Jun akan bernasib sama dengan kedua temannya atau menyusul Muhib lebih dulu ke alam baka.

Waktu itu, Nur dipamiti Jun untuk pergi sekitar seminggu. Ia pergi bersama ketiga temannya. Slamet dan Muhib tak sulit mendapatkan izin untuk meninggalkan desa karena hanya orangtuanya saja yang mereka punya. Sebenarnya Muhib tidak diizinkan oleh istrinya untuk pergi. Begitu pula dengan Nur yang tak mengizinkan Jun. Tetapi tetap saja, mereka berempat pada akhirnya pergi berkelana.

Tempat tujuan mereka jelas—ke sebuah pantai terpencil di Pesisir Barat. Ada barang berharga di pulau itu. Bukan cengkeh atau kayu damar. Setelah dihitung-hitung, mereka hanya membutuhkan waktu satu minggu saja.

Tapi belum satu minggu Slamet, Muhib dan  Amat pulang lebih dulu. Tak seorang pun yang bahagia dengan kepulangan mereka bertiga. Slamet dan Amat mengalami depresi kejiwaan yang mengerikan. Hingga keluarga mereka harus menjauhkannya dari orang-orang desa yang ingin menjenguk. Sedangkan Muhib tak terselamatkan lagi jiwanya dan lebih mengerikan lagi, tangan kanannya terputus sebatas lengan.

Ketika kasak-kusuk itu sampai ke telinga Nur, ia mencari Tarmadi.

“Apa yang kamu ketahui, Madi?”

“Saya tidak tahu apa-apa. Justru saya sedang mencari tahu sesuatu.”

“Tentang suami saya?”

“Tentang kekuatan di belakang suamimu yang membuatnya bisa kembali dalam keadaan utuh.”

Nur tak menyangka ada mendapatkan jawaban yang menohok seperti itu. Jadi, seharusnya suamiku sudah mati atau bernasib sama dengan Slamet dan Amat, batin Nur.

“Lalu?”

“Kita hanya bisa menunggu, Nur, juga berdoa. Suamimu sedang berjuang untuk kembali pada kesadarannya. Jangan biarkan dia bernasib sama dengan kedua temannya.”

“Kalau begitu, segera kita bawa ke …”

“Ke dokter?! Dokter takkan mampu berbuat apa-apa.”Tarmadi menarik nafas panjang. Ada mengganjal di dadanya. Ia melihat ke arah Nur yang membopong perutnya yang membesar. Ia pun tak ingin anak yang terlahir kelak langsung menjadi yatim. “Nur.”

“Ya.”

“Sepulang dari sini, lihatlah tangan kanan suamimu apakah dia masih menggenggamkan tangan atau tidak. Dia tidak menggenggam apa-apa. Tapi sebenarnya dia sedang menggenggam sesuatu.”

Lalu diceritakanlah tentang cupu-cupu yang konon hanya ada di sebuah pulau di seberang Pesisir Barat. Banyak yang mencarinya. Iming-imingnya pun tidak sedikit. Dari semua yang pernah ke sana, belum ada yang kembali dalam keadaan waras. Hingga suatu hari, cerita tentang cupu-cupu itu sampai di desa ini dan ketika ronda malam berlangsung, Jun dan teman-temannya ingin pergi ke Pesisir Barat. Tarmadi sudah berupaya melarangnya mereka tapi tak membuahkan hasil sama sekali.

Keberadaan cupu-cupu itu belum pernah dipastikan sekali pun tapi tentang orang-orang yang hilang di pulau itu tak seorang pun yang meragukannya.

Mereka yang mati atau terpaksa harus dipasung di rumah memiliki tanda-tanda yang sama. Mereka menggenggamkan tangan kirinya. Ketika genggamannya berhasil dibuka paksa tak ada apa-apa dibalik jari-jari mereka.

“Benarkah tidak ada yang selamat?”

“Bukan tidak ada yang selamat yang ditanyakan tapi bagaimana “cara menyalamatkannya?”Tarmadi mengoreksi pertanyaan Nur, “Kalau demikian, inilah cara satu-satunya.”

Tarmadi menunjukkan tangan kirinya yang telah putus.

Untuk kedua kalinya, rumah Nur dipenuhi orang-orang. Kali ini yang datang lebih banyak dari sebelumnya. Bacaan fatihah bergemuruh di ruang depan dan dilanjutkan dengan bacaan tahlil. Di kamar Nur menggenggam tangan kanan suaminya. Begitu juga tangan Jun tapi tidak membalas genggaman tangan Nur. Ia menggenggam kealpaan yang tak dipahami orang-orang. Sementara itu, Ruri yang tak ikut jamaah di depan, duduk di dekat sumur sambil mengasah parang. []

Friday, 11 September 2015

MATA CERMIN

- No comments

Saya membenci cermin ini, meskipun awal saya sayang mencintainya. Ia tergantung di dinding yang menghadap kamar mandi. Ketika saya keluar dari kamar mandi, langsung saja kutangkap salinan tubuhku terperangkap di dalam cermin itu.

Dulu saya sangat mencintai cermin ini. Usai menuntaskan mandiku, dan keluar hanya dengan handuk setinggi pusar, salinan tubuhku di sana bergerak sendiri menuju lemari pakaian dan kembali dengan pakaian yang sudah melekat di sekujur badan. Ia selalu menunjukkan apa yang pantas hari itu. Saya pun mengikuti saran cermin itu. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun.

Sesekali saya nekat. Meskipun ada rasa ketir dan malu. Tapi akhirnya saya memberanikan diri. Usai merendam tubuhku dalam kehangatan air bath-tub, saya keluar dalam keadaan telanjang. Mataku tertutup. Malu melihatku sekujur tubuh tidak dililit seutas benang pun. Meskipun hanya dilihat oleh mataku sendiri. Ini pertama kalinya saya telanjang di depan cermin. Perlahan kubuka mataku. Saya terkejut bukan kepalang karena bayangan tubuhku sudah mengenakan kaos-T dan celana jeans. Mungkin ia memakai kaos dan celana itu ketika saya menutup mata.

Keesokan harinya, saya lebih nekat lagi. Kali ini tidak perlu menutup mata, tapi langsung saja kubuka lebar mataku. Anehnya, seluruh cermin itu menjadi buram. Berembun. Hanya seluet bayangan tubuhku yang meliuk-liuk meninggalkan cermin dan tiba-tiba muncul lagi. Setelah ia tegap berdiri, perlahan ia menjadi jernih kembali. Cermin itu tidak mengizinkanku menelanjangi diriku sendiri.

Hingga tiba-tiba cinta itu berubah menjadi kebencian dan kengerian. Cermin itu tidak lagi menunjukkan apa yang pantas, justru sebaliknya.

Mungkin ia cemburu. Karena di sudut cermin itu kuselipkan foto perempuan yang kutemui di persimpangan jalan -kami berkenalan ketika sama-sama menunggu bus yang akan membawa kami pulang. Semenjak itu, bayangan tubuhku terbujur kaku. Ia tidak bisa bergerak meskipun saya lambaikan tangan berulang kali. Bahkan, beberapa kali, ketika saya menatap foto perempuan itu, tiba-tiba bayangan dalam cermin itu menampakkan tubuhku yang terhujam pisau. Tepat di jantung. Ngeri.

Namun, kenapa harus takut dengan bayangan sendiri? Kenapa saya harus mengikuti bayangan itu, bukan sebaliknya? Bukankah ia hanya sebuah bayangan dalam cermin?

Dan hari itu, ketika cermin itu kembali menunjukkan tubuhku yang tertikam pisau, saya menjadi geram dan kalap. Harus ada yang menghakhiri. Harus saya yang mengakhiri. Kuraih pisau itu dan kuhujamkan ke batas antara saya dan bayangan saya. Tapi sebuah kekuatan gaib menepis pergelanganku. Dan pisau itu -dengan sisa-sisa tenaga yang masih mendorongnya- menghujam tepat di ulu hati perempuan di dalam foto itu.

Dua hari saya menginap di kantor. Pekerjaan yang menumpuk ini seperti sebuah pelarian yang tepat untuk mengalihkan pertengkaran antara saya dan cermin di kamar saya. Saya pulang hanya menumpang mandi. Tak kutengok sedikit pun cermin yang memantulkan cahaya mentari ke wajahku. Saya masih merasakan jengkel bukan kepalang. Saya memutuskan untuk cepat-cepat menuju halte di sebrang jalan untuk menemuinya: perempuan yang gambarnya tertikam pisau karena pertengkaranku dengan cermin di kamarku tapi saya tak menemukannya.

Ketika pulang saya menyambar koran yang kusambar dari ruang satpam. Di rumah, kututup seluruh cermin itu dengan koran yang saya ambil tadi. Ternyata ada berita yang membuat sendi sekujur tubuhku melebas tak berdaya. Halaman depan itu memberitakan seorang perempuan dirampok dan dihabisi jiwanya saat pulang kerja. Korban meninggalkan luka pisau di ulu hatinya.

Bandarlampung, 12 Desember 2010

Tuesday, 7 July 2015

SALLY

- 1 comment

Sally. Pertama kali saya melihatnya ketika tanpa sengaja kami masuk dalam satu eskalator dan menekan tombol lantai yang sama. Seperti dalam film-film drama. Momen itu ternyata membangkitkan bulu-bulu cinta. Sampai akhirnya kuputuskan bahwa saya akan mengundangnya untuk menapaki satu langkah berikutnya yang lebih serius. Tentu setelah kami sering berkomunikasi pada hari-hari berikutnya.

Justru teman saya yang sedikit meragukan apa yang kuputusan. Dia membicarakan siapa saya dan siapa dia. Lalu di ujung kalimat, ia menutup dengan ucapan yang kerap kali kudengar. Kalian mirip enggak? Biasanya kalo jodoh selalu saja ada kemiripan.

Sebelum tidur, kukeluarkan fotonya lalu kuletakkan di atas meja. Kusandingkan dengan fotoku yang dicetak dua tahun yang lalu untuk persyaratan membuat KTP. Kusimpulkan senyum.

Jelas kami mirip. Dia semampai, saya tidak pendek. Dia pintar, saya tidak bodoh. Dia baik, saya tidak jahat. Dia putih, saya tidak hitam. Dia kaya, saya tidak miskin. Dia rajin, saya tidak malas. Satu-satunya yang membedakan adalah dia cantik, saya ganteng.

Dan terjadi sebuah pernikahan. Kami menjelma menjadi raja dan ratu. Meskipun dalam bahagia, kuteteaskan air mata haru. Untung saja air mataku sempat kuusap sebelum sampai ke bibir. Kalau tidak, pasti lidahku akan mengecap-ecap asin. Rupanya, ia pun demikian. Kulihat beberapa kali ia menyeka air mata. Dan kusadari satu hal. Ternyata ia tampak anggun sekali sakali dalam keharuan.

Bahagia telah menghilangkan rasa letih. Mengantarkan kami melalui semua tetek bengek ini. Sampai akhirnya kami berada di kamar yang sudah diperuntukkan bagi kami berdua.

Dari dalam kamar mandi, Sally keluar dengan piyama cokelat muda yang menggoda. Harumnya benar-benar menyegarkan. Dari meja rias ia menatapku yang meluai merasakan letih di ujung ranjang. Mata lentiknya menjarahku, lalu menarikku untuk mendekapnya. Sialnya, sebuah biji manik-manik yang tergeletak di lantai membuatku terpelanting. Kepalaku terbentur meja.

Seluruh badan terasa tidak enak. Telingaku tidak menangkap suara apapun. Saya pun mencoba bangkit. Sambil mengais kesadaran, kulihat seluruh kamar tersedot kedalam lubang hitam yang tak kumengerti. Pernak-pernik kamar pengantin, kasur, meja, kursi, lemari, semuanya memutar seperti pusaran air dan masuk ke dalam lubang kecil tepat di hadapanku. Lalu Sally pun ikut tersedot dan akhirnya diriku sendiri. Justru ketika semuanya telah selesai tersedot, kukembali dalam kesadaranku. Kulihat Sally dan diriku sendiri terpenjara dalam kertas lux yang tadi kujejerkan sebelum tertidur. 

November, 2012

Thursday, 2 July 2015

KOTAK AMAL

- No comments

Landu tidak pernah kehabisan akal untuk mengais pundi-pundi receh. Yang terpenting dalam benaknya adalah uang.
Di pelataran rumah ia menggergaji papan, memaku sudut-sudutnya hingga membentuk persegi. Papan penutup atasnya dipasangi engsel sehingga bisa dibuka-tutup. Ia juga membuat lubang kecil di bagian atas tempat orang memasukkan uang. Ukurannya tidak begitu besar sehingga tidak terasa berat ketika dicantolkan ke leher. Sentuhan terakhirnya adalah memberi warna dan membuat nama di bagian muka: Kotak Amal Masjid Aliklas.

Istrinya menatap ragu dan getir. Ide kotak amal itu sudah ia larang semalam tapi Landu tidak mau mendengarkan.

“Bener, Pak, sudah mantap mau begitu caranya mencari uang? Jangan bawa-bawa mesjid, musola, TPA untuk urusan kayak gitu.”

Landu tidak menjawab bahkan menengok pun tidak. Ia tetap mengerjakan bagian akhir dari pembuatan kotak amal itu.

“Bapak mau operasi di mana? Warga di sini tau semua siapa kita. Kalau sampai ada yang melihat, bisa-bisa kita dimassa. Bapak mau operasi di tempat lain, di terminal atau lampu merah? Mereka mana tahu mesjid Aliklas?”

Kali ini Landu bergeming. Ia menengok ke arah istrinya yang tak membantu apa-apa, yang dari semalam mencoba menghentikan niatnya.

“Saya sudah bertekad, Bu. Saya tidak gentar. Soal di mana saya akan operasi, sampeyan tak perlu tau.”

Landu tak sempat melihat istrinya tersenyum karena keburu melanjutkan pengecatan sedangkan istrinya masih tersenyum lega. Ia tahu Landu akan segera kembali ketika kemarahannya mereda. Rasa frustasinya akan kehilangan nyala apinya hingga akhirnya padam. Dan ia akan menemukan gairah hidup yang dulu pernah menyelimuti hidupnya.

Landu sudah sampai pada titik nadir hingga marahlah yang tersisa dalam dirinya. Ia pernah meminta tolong kepada seorang sesepuh di kampungnya supaya meminjaminya sedikit dari hartanya yang melimpah tetapi tidak digubris. Yang terakhir ia mencoba meminjam uang dari kas masjid yang setiap hari bertambah, yang setiap jum’at siang jumlah kas diumumkan kepada jamaah. Namun, saat itulah triger kemarahannya benar-benar meletup. Ia tidak hanya pulang tanpa pinjaman tapi juga dengan hati yang tersayat.

“Baiknya Pak Landu tingkatkan shalatnya dulu. Istiqomah berjamaah bersama kami sehingga jelas kas masjid ini mengalir kepada jamaah siapa.”

Kata-kata itu, yang sudah coba ditepis jauh-jauh, tetap saja terngiang-ngiang sampai ke ubun-ubun. Tidurpun ia tak nyenyak, makan pun ia tak lahap. Orang beragama yang diharapkan paling dermawan justru memiliki lidah yang paling tajam.


Langit menguning. Matahari yang tertutup gedung dan asap knalpot hanya bisa dikenali dari sisa warna kuning kemerahan di langit. Suara deru mesin mobil mulai lebih lenggang. Mobil-mobil angkot sudah enggan masuk ke terminal. Mereka lebih suka menepi di pintu masuk-keluar. Hanya bus-bus antar kota yang memutar ke dalam. Itu pun tanpa ngetem.

Landu tertidur lelah. Sarung lusuh kuning tua kotak-kotak ia jadikan bantal bersama dengan peci hitam miliknya. Tangannya mendekap kotak amal seperti takut akan dirampas oranglain. Ia sendiri di musola terminal yang tak lebih luas dari kantor keamanan terminal.

Kelopak matanya sesekali bergerak, bola matanya memutar, dan nafasnya menjadi begitu berat. Ia mengalami mimpi buruk. Tubuhnya tiba-tiba kaku, ia tak mampu menggerakkan tubuhnya. Satu-satunya yang bekerja hanya telinganya. Ia mendengar langkah orang-orang dan deru kendaraan di luar. Ia ingin bangun tapi tak mampu. Alam sadarnya justru ditarik ke bawah, jauh lebih dalam ke ruang yang gelap.

Ia tersadar di sebuah bangku di pinggir jalan, berada di ambang antara sadar dan mimpi. Yang dilihatnya adalah orang-orang tak dikenal berlalu lalang.

“Ayo ke masjid, Pak. Sudah hampir maghrib.”

Landu menurut saja. Kakinya seperti ditarik untuk melangkah ke masjid yang tak jauh di sebrang jalan. Tubuhnya terasa ringan. Namun sesampainya di masjid ia tak menemukan seorang pun. Hanya ada dirinya dan seorang yang tadi mengajaknya shalat. Hingga shalat selesai ditunaikan tak ada orang lain yang datang.

“Beginilah, Pak, setiap harinya. Orang hanya lalu lalang di depan masjid tanpa terfikir untuk singgah. Bapak orang pertama yang shalat di sini sebulan masjid ini ditinggalkan.”

“Ditinggalkan? Kenapa?”

“Saya tidak tahu pasti. Saya datang seminggu yang lalu. Masjid begitu sepi. Ia hanya dibersihkan supaya kemegahannya tidak luntur.”

“Sebelum Bapak berarti ada orang lain yang mengurusi masjid ini?”

“Benar, tapi dia sudah pergi setelah mengizinkan saya tinggal di sini.”

“Bapak bukan warga sini?”

“Bukan. Setahun lalu saya pergi meninggalkan kampung halaman karena alasan tertentu. Ada yang membuat saya tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sana. Setelah pergi tak tentu arah ke sana kemari, akhirnya saya sampai di sini. Saya seperti menemukan rumah baru. Ya, begitulah. Terus, Bapak mau ke mana?”

Pertanyaan itu terasa berat untuk dijawab karena tiba-tiba ia menyadari bahwa ia benar-benar kehilangan arah, bahkan untuk sebuah tujuan pun Landu tak memahami. Ia ingin menertawakan dirinya sendiri betapa sebenarnya ia sangat rapuh. Kalau toh ia mampu berjalan sejauh ini bukan karena ia memahami arah hidupnya. Ada yang tanpa ia sadari telah menjadi penopang hidupnya.

Tiba-tiba ia teringat istrinya. Perempuan yang selama ini tidak pernah diangap benar-benar ada. Perempuan yang selalu membuatnya marah karena banyak bertanya ini-itu setiap kali ia akan pergi meninggalkan rumah. ia sadar pertanyaan-pertanyaan dari istrinyalah yang telah menopangnya selama ini.

“Maaf, saya harus pulang.”

“Ke mana?”

“Entahlah. Pokoknya saya harus pulang. Istri saya menunggu di rumah.”

“Kembali ke rumah memang cara yang baik mengerti tujuan utama kita meninggalkan rumah. Sebentar dulu.” Bapak itu mengeluarkan sebuah bingkisan, “ini sisa dari bekal saya. Mungkin akan bermanfaat buat bapak. Tidak banyak. Kurang lebih dua puluh dua juta.”

Landu terdiam. Ia tak ingin menerimanya tapi mulutnya pun tak dapat mengucapkan penolakan. Ia merasakan bahwa yang ia butuhkan selama ini bukanlah uang. Bapak itu memasukkan uangnya ke dalam kotak amal lalu menyerahkan pada Landu. Ia heran  bagaimana kotak amal yang ia buat tadi pagi bisa berada di tangannya. Akan tetapi mulutnya tak mampu bertanya apa-apa.

Ketika Landu menerima kotak amal itu ia pun langsung berpaling. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi. Semua yang ada di hadapannya menjadi hitam pekat. Seluruh tubuhnya kembali menjadi kaku. Ia tak mampu menggerakkan badan, tangan, juga kakinya. Telinganya mendengar lengkingan yang memekik. Tiba-tiba ada yang mendorong dari belakang. Ia terhempas lalu tersungkur. Setelah mampu menguasai setangah kesadaran dirinya, ia menarik nafas panjang. Matanya terbuka. Telingan kembali mendengar deru kendaraan.

Landu duduk lemas bersandar pada tembok. Matanya menyisir sekeliling. Ia mengenali keberadaannya. Ia di musola terminal dan kejadian yang baru ia lewati hanyalah mimpi tapi terasa sangat nyata. Panggilan terkuat dalam dirinya adalah pulang. Ia ingin pulang untuk melihat istrinya. Sarung dan peci yang ia jadikan bantal disambar lalu pergi meninggalkan musola tanpa peduli dengan kotak amal yang dari pagi ia tenteng ke sana kemari. 


Dari kejauhan, suara azan Maghrib berkumandang. Seorang paruh baya sedikit terburu-buru menuju musola terminal, mengambil air wudlu, lalu mengumandangkan azan. Setelah selesai, ia mendapati kotak amal di dekat pintu musola bertuliskan ‘Mesjid Aliklas’, sama dengan nama musola itu.

Tanpa ragu ia membuka kota amal itu, menghitung lembaran-lembaran yang ada di dalamnya. Ia bersyukur sekali. Sambil meneteskan air mata ia menuliskan jumlah tambahan saldo di papan pengumuman. “Hamba Allah. 21.800.000,-“ []

Wednesday, 17 June 2015

MBAH UTIS

- No comments

Saat matahari benar-benar terbenam di balik perbukitan dan cahayanya digantikan lampu neon dan pijar, sebuah percikan api menyita mata di sudut kegelapan. Berulang kali pelantiknya tidak menyalakan api karena angin dari rerumpunan bambu mengganggu. Meskipun tidak jelas wajah yang tersembunyi di balik bara api itu, kami bisa menebak kalau itu adalah Mbah Utis.

Ia hidup penuh sahaja di sebuah bantaran sungai samping balai desa. Rerumpunan bambu yang kiranya menakutkan karena banyak kunti, justru begitu akrab buatnya. Bambu-bambu itu telah menjadi bagian dari rumahnya sendiri. Geribik, kursi, meja, sampai tiang penyanggah ia ambil dari sana. Semuanya dari bambu wulung dan petung. Kecuali satu bambu yang dijadikan gagang sapu lidi. Warna kuningnya tampak mencolok di antara bambu wulung dan petung yang menghitam.

Gubugnya tidak memiliki halaman yang luas. Untuk menikmati kesendirian ia kerap sekali duduk-duduk di balai desa, meracik utis yang ia pungut di jalanan. Mulutnya kerap berucap-ucap tak jelas. Hanya telinganya sendiri yang bisa menangkap. Terlebih lagi ketika ia menyapu halaman.  
Seseorang yang belum mengenalnya pastinya akan mengira ia orang stres, bahkan mungkin akan menuduhnya gila. Tapi tidak. Ia tidak gila. Ia sedang bersenandung memanggil-manggil nama seseorang. Nama yang sangat berarti bagi dirinya.

* * *

Banyak orang nelangsa ketika hidup tanpa memiliki banyak harta. Akal sehatnya pun kerap terselip entah di mana hanya karena mengejar kebutuhan yang sejatinya hanya sia-sia. Saya jadi teringat seorang tetangga yang kehilangan semua harta bendanya karena tergiur investasi. Tapi mbah Utis jadi satu-satunya yang naif soal kekayaan. Baginya kemiskinan adalah sebuah perjalanan, sekaligus kemenangan. 

“Kamu seharusnya lebih tau tentang nasehat nabi.” Matanya yang sayu teduh menatap wajahku, “Kemenangan terbesar itu bukan kemenangan atas kemiskinan, tapi kemenangan terbesar itu berhasil mengalahkan keinginan. Kekayaan itu kan sisa-sisa dari keinginan yang terpenuhi. Kalau hartanya banyak tapi keinginannya lebih banyak, apa itu bisa disebut kaya?” 

Mbah Utis tertawa terkekeh. Mungkin ia menertawakanku dengan keinginan yang menumpuk di kepala dan mendobrak-dobrak untuk dituruti.

“Tapi terkadang miskin juga menjerumuskan orang untuk berbuat kejahatan. Nah, kalau begitu apa kaya tidak lebih baik dari miskin?”

Ia tak menjawab karena tangannya yang trampil sedang menyelesaikan racikan utisnya di atas kertas papir, melintingnya, lalu membakar bagian ujung dan menghisapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian asap mengepul dari mulut dan hidungnya, seperti ada yang terbakar di dalam tubuhnya.

“Saya tidak miskin!” Ucapnya tegas seperti memarahi saya yang menuduhnya miskin.

Saya terdiam keder. Akhirnya muncul pertanyaan dalam diri saya sendiri, kaya kah saya, atau miskinkah saya? Kepala saya pun jadi merumuskan kembali ucapan mbah Utis. Benarkah kekayaan itu sisa dari kebutuhan kita? Saya terkesima. Selama ini bangku sekolah mengajarkan kesuksesan, dan kesuksesan adalah berlimpahkan kemegahan meskipun sekedar decak kagum. Tapi kami luput belajar tentang cara hidup bersahaja.

Lelaki renta itu mengambil sapu lidi dan mulai mengerjakan kebiasaannya. Tangannya mengayun pelan. Menyapu dedaunan mangga yang terserak. Sesekali angin mengobrak-abrik sampah yang sudah dikumpulkan itu. Dan mbah Utis seperti menari-nari, menangkap dedaunan dengan sapunya supaya tidak kabur terlalu jauh.

Tidak ada yang tahu pasti apa yang ada di dalam benak kepalanya ketika dengan suka rela ia membersihkan balai desa. Di wajahnya tampak semburat cahaya perenungan. Mulutnya kumat-kamit. Kadang angin membagi suaranya, sehingga tertangkap senandung yang keluar dari mulutnya. Sola… sola…

Ada yang bilang itulah terakat hidupnya, upah kebaikannya akan diterima oleh seseorang di seberang sana. Dan hanya mbah Utis yang tahu. Orang itu kerap datang kira-kira sebulan sekali. Ia seperti memberi sembako atau entah apa wujudnya kepada mbah Utis. Saya pernah melihat seseorang masuk ke dalam rumahnya membawa bingkisan kain.

“Tidak ada yang datang.” Jawabnya, “Kalau kau melihatnya mengapa tidak kau sapa?”

Memang seharusnya saya menghampiri orang itu dan menyapanya. Tapi malam itu saya bergeming.

Ada juga yang bilang kalau kegemarannya membersihkan halaman balai desa merupakan kebiasaan masa mudanya yang giat. Kalau tidak bekerja justru akan mengundang penyakit. Lalu ada yang beranggapan kalau sebenarnya ia menyimpan sisa-sisa hartanya itu di kolong tidurnya. Tapi ketika orang itu mencoba menggeledah justru ia terperangah seperti mati kuyu karena melihat penampakan. Mbah Utis yang kemudian menemukannya membisikinya lirih untuk membuat orang yang menyelinap itu tersadar. Hanya saja ia menjadi linglung. Ketika ditanya ia tak bisa menjawab apapun. Kepalanya lupa tiba-tiba.

“Kelak di akhirat sana, semua yang kita miliki akan berbicara.” Ia mulai bicara lagi, “Saya takut nanti mereka tidak bisa jaga mulut, malah bikin saya susah. Buat apa memelihara binatang yang justru akan menggigit tuannya sendiri?”  Mbah Utis kembali terkekeh.

“Kalau disedekahin kan nanti mereka jadi ngomong yang baik-baik, mbah.”

Ia memutar. Tangannya masih mengayun pelan. Mulutnya seperti sedang mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap oleh telinga. Ia berhenti lagi untuk menghisap utisnya yang tinggal seperempat. Ketika sudah cukup dekat mbah Utis tersenyum sumringah. Terlihat giginya yang tinggal beberapa biji.

“Hanya sapu ini yang bisa saya sedekahkan.” Lalu terkekeh lagi dan tiba-tiba terbatuk hebat.

Saya hendak beranjak menolongnya tapi tangannya memberi isyarat supaya saya tidak usah repot-repot menolongnya. Mbah Utis meludah mengeluarkan dahak dari tenggorokannya. Dari mulutnya menyembur lendir kuning pekat. Saya khawatir tapi mbah Utis tampak biasa-biasa saja. Ia pun melanjutkan mengayun sapu seperti sedang mengayuh dayung di tengah samudera. Saya kembali menangkap mulutnya mengucapkan sesuatu tapi tidak tertangkap telinga.

* * *

Tidak ada yang bisa menerka kematian. Bahkan seorang pembunuh sekalipun. Apalagi seseorang yang telah menempatkan kehidupannya di atas pengabdian seperti mbah Utis. Kematian itu seperti berangkat kembali meniti perjalanan berikutnya.

Ia pernah bilang kalau teman-temannya yang telah pergi bebarapa kali datang berbagi cerita. Perjalanannya sungguh sulit, bekal yang mereka siapkan hampir habis. Mereka menasehatinya supaya menyiapkan lebih banyak lagi. Mereka pun ingin sekali berterimakasih kepada orang-orang yang mendoakan mereka. Terutama anak dan isteri mereka. Doa-doa mereka seperti segelas air di padang pasir.

Dan setelah bercerita tentang teman-temannya itu, ia akan langsung menangis. “Siapa yang akan mendoakanku? Anak dan isteriku sudah tidak ada semua.”

Namun nyatanya, ketika tubuh mbah Utis terbujur di dalam keranda, semua orang menangis. Banyak sekali yang datang. Kebanyakan yang datang justru orang-orang dari luar desai. Mereka membaca tahlil dan shalawat, mengiringi kepergiannya dengan doa. Saya terheran-heran siapa meraka? Siapa mbah Utis sehingga mereka begitu kehilangan?

Sudah seminggu sejak pemakannya, tetap saja ada orang yang datang berziarah lalu mampir ke gubuk bambunya. Dan seseorang yang tidak pernah kulihat sebelumnya tiba-tiba datang menyalami. Dari wajahnya terpancar kegamuman. Kagum pada saya kah dia?

“Kau pasti Dulah?” tanyanya.

Saya mengangguk pelan.

“Kau pasti muridnya. Kau pasti penerusnya. Seperti yang diceritakan embah kepada kami.”
Lalu lelaki itu memapahku berdiri menuju bilik kamar mbah Utis. Ia menunjuk ke sudut kamarnya. Ditunjukkannya sapu lidi yang selama ini digunakan menyapu halaman balai desa, tergantung di sudut kesepian. Saya melangkah gamang. Ingin sekali bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ketika saya membalikkan badan orang itu telah pergi.[]  

Malang, 28 Maret 2011

RAUT SEDIH YANG SUDAH BERJALAN LAMA

- No comments

Setiap kali senja datang beriringan dengan gerimis, dan pohon rambutan di halaman rumah juga berbuah ranum, aku kembali teringat padamu. Sejujurnya aku benci mengingatnya kembali; saat kau dan ibu duduk di pelataran rumah ini.

Seharusnya memang kubuang jauh-jauh peristiwa itu, tetapi tetap saja ia menemukan celah jalannya untuk kembali ke kepalaku. Seperti angin malam yang selalu menemukan lubang dinding geribik dapurku. Adakah kau merasakan getir seperti yang kurasakan dari hari ke hari, sejak peristiwa itu.

Kusuguhkan secangkir teh untuk masing-masing; kau dan ibu. Lalu kusempatkan mencuri pandang, mencari tahu apa yang telah dibicarakan. Kutatap wajahmu sedikit lebih lama—butir keringat dikeningmu mengalir pelan seperti binatang melata yang kelaparan. Selama ini tak pernah kulihat keringat seperti itu mengalir di keningmu.

Dan ibu, wajahnya yang selalu terlihat ayu, tampak sayu. Letih pada tubuhnya tak pernah ia tampakkan lewat raut wajahnya. Bahkan kepedihan demi kepedihan yang kami lalui tak pernah tampak di mata. Wajahnya yang seperti saat ini pernah kutemui sekali ketika ayah meninggalkan kami untuk selamanya empat tahun yang lalu. Setelah sekian lama tersembunyi kini tiba-tiba tergurat kembali di wajah ibu, dan itu ia tampakkan padamu, bukan padaku.

Aku menahan diri tak segera undur diri. Di samping ibu aku duduk. Namun tak lama aku diusir.
“Ratih, tolong kau angkat jemuran. Awan di timur sepertinya mendung.”

Ibu tak pernah berkata apa adanya. Maka kupahami maknanya kalau aku tak pantas duduk di antara kalian berdua. Kau yang diam saja pun setuju dengan ibu.

/1/

“Tidak bisa ditunda lagi, Ratih.” Desakmu kala itu.

Kau jadi begitu lain dari yang kukenal selama ini. Tiba-tiba kau begitu keras, begitu memaksakan kehendak. Setan apa yang telah merasukimu. Meskipun matamu tak memerah tetapi ucapanmu lebih panas dari api.

“Apakah kau menghendaki lelaki lain?”

Aku kehilangan diriku sendiri dan juga tak mengenal siapa lelaki yang ada di depanku saat ini. Peringaimu sungguh berbeda. Kelembutan yang selama ini memanjakanku telah tercabut entah oleh apa. Atau begitulah sejati dirimu dan yang kau tunjukkan selama ini adalah kepura-puraan untuk meluluhkanku, dan juga ibu.

Kau berdiri tepat di depan wajahku. Kau tundukkan sendiri nafasmu dan kau kendurkan tulang pipimu. Sepertinya kau menyesalkan ucapanmu yang tadi.

“Tidak ada yang buruk dalam pernikahan. Perkara baik tidak seyogyanya ditunda-tunda.”
Perihal pernikahan yang kita rencanakan itu, bukannya aku tak ingin segera menjalaninya. Aku punya alasan yang membuatku harus menundanya. Tidakkah kau bisa mengerti seperti yang lalu-lalu. Aku mengkhawatirkan ibu. Beberapa hari ini ada orang datang ke rumah. Berbicara tentang masa lalu yang tak pernah kuketahui. Perihal tamu-tamu itu pun ibu selalu bungkam. Tetapi melihat gelisah nafasnya saat tidur, aku tahu ia ketakutan bahkan dalam mimpinya.

“Kalau begitu biar aku yang berbicara langsung dengan ibu, Ratih.”

Kukira kau sedang menanyakan pendapatku tapi nyatanya tidak. Kau sedang memberitahuku.

/2/

Ibu belum selesai menyampaikan semuanya ketika tiba-tiba Ratih datang dengan nampan plastik hitam bermotif kembang-kembang. Ia suguhkan dua cangkir hangat. Aromanya sedap sekali. Ia tahu aku menyukai teh tubruk seperti itu dan aku yakin takarannya pasti tepat seperti biasanya. Ingin kuseruput sedikit-sedikit untuk mengendurkan urat tubuhku yang menegang. Tapi entah mengapa semuanya terasa kaku untuk digerakkan.

Aku sudah utarakan maksud dan tujuanku datang kemari. Tekadku sudah bulat. Termasuk mendengar jawaban ibu yang sarat dengan isyarat-isyarat. Bahkan aku siap dengan hardikan halusnya karena menganggapku tidak sopan menyampaikan perihal seperti ini seorang diri.

Lain yang dipersiapkan lain pula yang dialami. Ibu tak banyak meminta, justru untuk kali ini ia ingin bercerita. Bagaimana ia mau bercerita, putri kembangnya tiba-tiba datang lalu duduk di dekatnya. Aku bersyukur mendung di langit timur memberi petanda, hingga ia pun bergegas meninggalkan kami berdua.

“Sudah bulat tekadmu untuk menikahi Ratih?”

Ibu mengulangi dari awal, “Iya, Bu.”

“Sebelumnya saya ingin mengisahkan satu cerita dari bapak sebelum ia meninggal empat tahun lalu. Bapak punya seorang teman yang waskita. Mengetahui yang halus dan yang kasar. Ia memiliki seorang putri pula, hanya seorang putri, sama seperti kami.”

Aku menyimak karena menurutku ini tentang sejarah keluarga. Pikirku bagaimana bisa aku memasuki sebuah keluarga baru tanpa mengetahui sejarah kehidupannya.

“Lima tahun lalu mereka bertemu. Entah apa yang mereka bicarakan. Lalu keduanya berjabat erat seperti sedang menukar janji, tidak hanya janji tetapi juga sebuah cendramata. Bapak menerima ini –ia menunjukkan cincin keemasan—dan saya tidak tahu apa yang diberikan bapak padanya.

Baru menjelang wafat bapak bercerita tentang pertemuan itu. Kepada saya bapak berpesan supaya kelak, lelaki yang akan menikahi Ratih, terlebih dahulu harus menemui teman bapak itu, Ki Buyung. Minta ia untuk menyerahkan cincin ini dan dari Ki Buyung ia akan menerima yang lain.
Hanya lelaki yang membawa cincin dari Ki Buyung lah yang boleh menikahi Ratih.”

“Tekadku sudah bulat, Bu. Mohon restumu untuk melawati ujian ini.”

Kemudian aku pergi ke Madiun setelah mendapatkan berkah dan restu dari ibu. Juga setelah berat hati harus berpamitan dengan Ratih. Dari Madiun kutelusuri jejak Ki Buyung ke Klaten lalu ke Magelang dan berakhir di Jepara. Di sana kulihat seorang perempuan yang begitu anggun. Aku begitu mengenalnya. Aku heran bagaiamana ia bisa datang lebih dulu di rumah Ki Buyung. Namun rasa heranku redup oleh cahaya emas cakrawala: Ratih sudah sampai di sini menungguku.

/3/

Malam belum begitu larut. Angin yang bertiup pelan menghantarkan lantunan al-Barzanji dari rumah di sebrang jalan. Ternyata tidak hanya lantunan syair-syair yang berkisah tentang sang Nabi yang datang. Seseorang telah dihantarkan oleh angin malam ke teras yang mengetuk pintu tak begitu keras. Aku musykil karena selama ini tak pernah ada tamu datang di malam hari.

Sejak kepergianmu empat puluh hari yang lalu, inilah tamu pertama yang datang. Sejujurnya aku mengagumi ketampanannya; rambut kelamnya, hidung besarnya yang mancung, dan gigi putihnya yang berjajar di balik bibir memagari setiap kata-katanya yang keluar. Ibu menjawab ramah salamnya. Meskipun angin cepat membawanya pergi aku, dan mungkin ibu, takkan pernah lupa ucapan salamnya yang pertama kali ini.

Tamu itu begitu serius dan juga gamang. Beberap kali kuperhatikan ia mencoba menerobos pandangan melalui gorden yang memisahkan ruang tamu denganku. Dan dengan ragu ia menanyakan keberadaan bapak.

“Bapak sudah pergi setahun lalu. Hanya ada kami berdua di rumah ini.” Jawab ibu.

Lelaki itu tampak terkejut, lalu mengucapkan belasungkawa dan beberapa rapal doa yang umumnya diucapkan.

“Lalu, adik ini siapa? Dari mana?”

“Saya Syahidan dari Jepara, mau mengantar ini.”

Ditunjukkannya sebuah kotak antik dari saku baju lusuhnya. Baju itu tentu melekat di badan untuk beberapa hari. Tiga hari, lima hari, atau mungkin satu minggu. Daki yang menempel di kerah bajunya dan juga lipatan-lipatan di ujung baju yang mengangkat menunjukkan pinggulnya yang kekar, tak mampu berbohong meskipun wajahnya bersih tersapu air. Mungkin ia membasuhnya di masjid sebrang jalan.

“Dari Ki Buyung?”

“Betul.”

Tiba-tibu ibu lemas. Tubuhnya yang terhempas ke sandaran kursi menarik perhatianku. Nama ‘Ki Buyung’ dan kotak antik di tangan ibu mencambuk kesadaranku. Ketika kutinggikan tubuhku, menjinjit untuk mengintip dari celah gorden, kulihat cincin keemasan terselip berdiri di dalam kota dalam genggaman ibu. Aku terhenyak. Kalau lelaki itu yang datang, lalu kau di mana?

/4/

Aku, di matamu, adalah lelaki durja. Kusembunyikan satu peristiwa. Aku berhutang budi pada seseorang. Ia telah menyelamatkan keluargaku dalam keterpurukan. Lama aku mencarinya selama sepuluh tahun, namun tak juga kutemui. Kami mengenalnya dengan nama haji Rahmat. Saat ku tiba di sini, di Jepara, mataku terbelalak. Tidak lain ki Buyung itu adalah haji Rahmat. Dalam keramahtamahannya ia meminta satu hal; ia ingin aku menanggung kehidupan putrinya. Dan inilah balas budiku yang harus kubayar.

Ratih, di sini, di langkah pertamaku di pelataran rumah Ki Buyung, kulihat dirimu. Aku yakin itu kamu. Tapi Ki Buyung menjelaskan berulangkali kalau itu, yang harus kutanggung kehidupannya itu, adalah perempuan yang lain. Mungkin benar kata orang, setiap insan diciptakan dengan tujuh kembaran. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku melihatnya sebagai dirimu.

/5/

Senja hampir berlalu. Dan semoga kau pergi bersamanya untuk selamanya.


Bandar Lampung, 5 Februari 2014

Thursday, 28 May 2015

SHADA DAN GEMERICIK DALAM MASJID

- No comments


ALAM mensabdakan hujan. Seperti dalam kesempatan yang berbeda ia mensabdakan kemarau, senja, dan terkadang duka. Gemericik air dari talang rumah, atau kodok yang kegirangan di pinggir sungai, dalam sekejap mampu membawa kenangan yang telah lama terpendam. Yang entah karena kesibukan atau karena suasana baru secara mengherankan ia terlupakan. Lalu untuk membangkitkannya ternyata hanya membutuhkan bunyi gemericik air hujan. 

Siapapun boleh menafsirkan air hujan yang menggelitik atap rumahmu.

Seperti Shada yang diberhentikan oleh hujan lebat singgah ke rumah ibadah yang di dinding-dindingnya tertulis nama Allah. Ia singgah karena memang benar-benar singgah, bukan karena terpanggil untuk menjalankan ibadah. Ia sudah lama meninggalkannya yang mungkin orang-orang di sekitarnya mengatainya bahwa kekayaan telah membuatnya buta. Tapi setidaknya, hujan ini seperti sedang menghantarkannya pada rumah yang telah lama hilang.

Tepatnya kemarin sore, di tengah perjalan pulang langit menghitam di sepanjang jalan. Tak ada jaminan hujan mampu menahan diri untuk tak turun sebelum Shada sampai rumah. Tak dapat pula ia menahan diri untuk keadaan yang tak pasti seperti ini. Tekad. Maka ia pun beranjak. Di pucuk bukit matahari benar-benar telah disekap. Awan hitam di atasnya hanya menyisakan cahaya temaram. Dan sesekali seperti ada yang marah di balik awan hitam itu karena gemuruh membuat siapapun menjadi ngeri. Orang-orang dibuat kerdil oleh kilatan perak yang kemerahan. Tapi mana mungkin ia berhenti di sini?

Mungkin saja. Hujan telah menghentikan Shada dan ia tak mampu berbuat apa-apa. Hujan tak hanya mendinginkan mesin motor yang di parkir di depan masjid. Asap putih menyembul dari bagian mesin kendaraan—Itu uap dari air hujan menyirami knalpot. Juga sepatu pantopel hitam yang sudah penuh menampung hujan. Shada masih tak bisa berbuat banyak. Sama halnya dengan knopi teras yang besi-besi penyanggahnya mulai keropos. Ia tak lagi mampu menahan hujan menggerayangi muka tubuhnya lalu mengalir melalui serat-serat yang mulai bersela dan menetes tepat di kepalaku.

Setelah hampir setengah jam riuh hujan yang berjatuhan di atas knopi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Seiring bunyi rintik yang mensunyi dari dalam masjid terdengar riuh lainnya. O, itu bukan riuh tapi koor anak-anak yang duduk memangku turutan baca Alquran.

Di masjid itu, puluhan anak belum baligh ikut berjamaah, lebih banyak dari orang dewasa yang ikut berjamaah. Usai imam shalat membaca doa, anak-anak itu menyalami jamaah lainnya lalu menuju serambi masjid. Anak laki-laki duduk di sebelah selatan dan anak perempuan duduk di sebelah utara. Mereka menyandang kitab tuntunan baca Alquran, ada pula yang membuka Alquran.

Belum ada guru ngaji yang duduk di antara mereka, tapi mereka sudah memulai majlis mereka dengan membaca Al-Fatihah dan beberapa surat pendek lainnya. Shada masih mengamati mereka dari dalam. Melihat mereka yang tadarrus sendiri-sendiri untuk melancarkan bacaan sebelum menghadap guru ngaji.

Shada merasa takjub. Di saat anak-anak lainnya di luar sana berasik ria menonton kartun atau bercengkrama dengan orang tua, justru belasan anak belum baligh itu terbata-bata mempelajari kitab agama. Saat anak-anak seumuran mereka bergulat dengan asiknya teknologi dan keramaian, mereka menyepi melawan keingin mereka sendiri untuk lebih memilih mendekatkan diri pada Ilahi.

Hujan masih rintik-rintik tapi Shada harus pulang sambil terus merenungkan mereka. Semoga mereka mampu bertahan, meskipun di luar sana semakin ramai, semakin riuh. Tapi keramaian dan keriuhan pasti akan menjemukan. Semoga mereka tetap bertahan, meskipun hujan kerap menjadi penghalang. Shada membatin dalam doa.

Oktober 2012

Tuesday, 19 May 2015

RUSMINI

- No comments

Karena dorongan yang sangat -berasal dari kegelisahan dan harapan- Rusmini berpamitan. Anggrek, mawar, bunga sepatu, dan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di pot-pot harus bersiap diri merindukan sentuhan Surmini. Siapapun yang akhirnya menyiram, memupuk, memotong tunas pengganggu, tentu akan dirasa tak selembut tangan Surmini. Surmini -pada senja yang pilu- berucap pada bunga, saya akan kembali.

Kepergiannya tidaklah seberapa. Hanya sebuah pencarian untuk memenuhi jiwanya yang momplong.

Maka ketika Rusmini ditawari untuk menjaga kasir sebuah warung internet ia mengiyakan. Dari sanalah ia bertemu Raden. Lelaki yang dirasa Rusmini bisa memengisi separuh jiwanya itu.

Rusmini mendambakan ketentraman. Di saat teman-teman sebayanya bisa memenuhi kehampaan seperti yang ia rasakan maka Rusmini pun memutuskan untuk mengakhirinya. Saya harus segera menikah. Gumam Rusmini. Keputusan menikah bukan keputusan sembarangan. Ia telah mendapat nasehat dan perenungan. Toh, teman-temannya -termasuk wejangan orangtuanya sendiri- mengiming-imingi.

Dan Rusmini yang tinggal di kamar kost seperti menerima jawaban doa-doanya ketika bertemu Raden. Apalagi Raden memiliki kematangan dan kedewasaan. Sehingga ketika Raden menyatakan cinta Rusmini pun mengiyakan.

Cinta terjalin rapi antara keduanya. Rusmini ingin dicintai, Raden sudi mencintai.

Tapi Raden terkesima, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Mas cari perempuan lain saja, saya urung menikah. Kata Rusmini.

Bagaimana bisa kau bilang begitu? Raden kalap. Bukankah sejak awal mereka sudah komit bahwa hubungan mereka akan berakhir pada labuhan pernikahan. Sepuluh kali Raden meminta penjelasan sepuluh kali pula Rusmini menjelaskan dengan diam... Dan tangis.

Maafkan aku mas. Sayangnya permintaan maaf itu hanya terucap di hati.

Ruang lebar, meskipun pepohonan tampak menjulang di sana sini namun cakrawala masih bisa ditangkap mata. Dan Masih tersisa banyak untuk dimasukkan semua ke dalam kornea. Namun tidak di sini, di kota, yang jangan angin sejuk, cakrawala pun sudah habis direnggut. Setiap ruang dipenuhi batu pondasi. Meskipun tidak kunjung selesasi yang penting sudah ada pondasi. Sehingga tidak ada lagi ruang sisa. Semuanya menyempit. Sialnya, Rusmini tinggal di sana.

Tetangganya tanpa diminta sering memberi pertunjukan. Sebuah kemasan. Sialnya lagi pas malam hari. Suara dampratan, makian, dan sesekali meludah. Rusmini tidak menolak untuk tidak mendengar itu. Suami macam apa dia ini. Tidakkah terenyuh mendengar isak tangis isterinya yang mencekik itu, atau tersentuh sedikit saja permohonan ampun dari bibir yang telah mamar itu.

Di situ Rusmini berdiri. Mendengar dan menyaksikan. Dan semua itu melahirkan kengerian di batinnya. Lalu bertanya-tanya. Apakah bapak pernah melakukan hal sama kepada ibu. Mungkin tidak, karena Rusmini selalu melihat ibunya bahagia. Setidaknya di depannya.

Kalau ibu mungkin pernah menjadi korban seperti itu berarti Rusmini pun punya peluang mendapat perlakuan yang sama.

Rusmini menjadi gamang.

Ketika ia harus mengucapkan perpisahan kepada Raden batinnya pun menjerit. Lebih baik menjerit sekarang dari pada perih nantinya.

Dan ia teringat pada bunga-bunganya. Indahnya melihat bunga. Indahnya menjadi bunga. Ya... Menjadi bunga kota.

2011
[full_width]

Monday, 3 February 2014

IKAN KALENG

- No comments
Ikan Kaleng _ Sudi Purwono


/1/
Sam tiga hari di Jayapura; dia guru ukatan dinas dari Jawa. Dan, tidak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, meyadarkannya diam-diam.  Ia tersenyum mengingat ini.
Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh lega, dan rambut bergelung seperti ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.”
Sam memahami penggal dua penggal. Dia. Seperti yang diajarkan saat micro teaching, mulai mengulai senyum lalu berkata, “Bapak yang baik, kurikulum untuk pendidikan dasar itu ketrampilan dasar, matematika, bahasa, olah raga dan beberapa kerajinan …”
Ah, omong ka sama dengan dong (dia) di bukit atas! Ayo pulang!”
Kaget. Sam tersentak, belum lagi dia selesai. Dan ini tiak pernah diajarkan di pengajaran mikro. Juga di buku diktum bab penerimaan siswa baru. Dia pucat; diraihnya segelas air putih.
Pendaftar pertama memantik rasa sabar dan sesuatu yang asing dalam dirinya. Ia bersabar menunggu detik berikutnya dari lepas pukul sembilan. Ia mengelap lagi wajahnya. Di meja pendatar samping, kosong, Tati belum datang. Cuma da Markus, Waenuri, dan Titro-teman sekelasnya, yang sedang bertugas masig-masing di ruang lain; mulai dari siap berkas, mencatatan kebutuhan anggaran, dan menyiapkan papan tulis. Bismillah, ia mengharap, tepat ketika sebarisan orang-orang legam bertelanjang kaki menjejaki halaman yang setengah becek bertanah merah, dilatari sisa-sisa alat berat dan bekas pengaadukan material bangunan itu.
Dan syukurlah, meskipun dengan penjelasan yang tak kalah berat; setidaknya, tak ada yang seperti orang pertama. Begitu seterusnya sampai Tati tiba membantu. Tapi ia masih penasan, siapa sebenarnya orang itu. Ia coba mencari tahu, hasilnya, ternyata lelaki pertama tadi adalah kepala suku Lat, berada di sekitar pantai sebelah kanan, menembus seratus rengkuh darung untuk sampai di kampungnya yang ada di laut itu. Kira-kira begitu kata orang-orang yang juga ada berasal dari sana.
“Trada perlu risau, dong itu memang keras kepala,” kata si penjelas itu sambil berbisik-bisik, takut ada yang melaporkan omongannya.

/2/
Hari tadi tercatat dua puluh satu siswa mendaftar jadi angkatan baru, sekaligus kelas baru buat sekolah itu. Usia mereka beragam. Hari berjalan, minggu silih, dan bulan menumpang tindih. Tepat memasuki bulan Agustus, keganjilan itu muncul kembali. Meski sebelumnya pernah terjadi, tapi kali ini semaking sering.
Dua anak itu sering muncul di halaman. Mereka tampak mendatangi sesuatu yang mungkin aneh baginya. Teman-teman lain menghadapi sebuah tiang dengan bendera dua warna. Berbaris lalu menyanyi-nyanyi. Dari sini, Sam merasa iba. Ia dekati. Dan tahu betul, mereka itu yang tempo hari dibawa oleh kepala suku Lat.
“Kenapa kalian, ingin seperti mereka?”
“he-eh…” yang satu mengangguk. Ia menatap teman-temannya yang menyanyi bersama-sama itu, dari sana terbalas, dua tiga melambai ke mereka yang ada di dekat jalan depan sekolah itu.
“Apa ko ini Do! Trada boleh!! Bapa Ade bisa marah.”
Mereka kemudian berlari menjauh, menurun di bukit-bukit kecil bercadas, berkelok, samar dan hilang bersama suara angin dan pemandangan hijau hutan juga beberapa rumah pendudukan dan sekali dua waktu minibus berlalu dengan muatan penuh.
Sam memutuskan sore nanti ia akan mengunjungi rumah anak-anak itu dan memberikan semacam penjelasan.
Dengan dibantu salah seorang walimurid, sampailah dia di rumah lelaki itu. Sam kemudian menyampaikan maksud dan sejumlah penjelasan, terutama perihal anak-anak mereka yang sering datang ke sekolah.
“Ko trada perlu torang. Torang dah pu sekolah sendiri. Lihat mari! Justru murid ko yang mari.”
Sam, dengan setengah tak percaya, mengikuti lelaki itu. Ia turun daru rumah besar, lalu menuju perahu di antara barisan rumah-rumah, aroma laut menerbar, hidungnya di sesaki asin, dan matanya dipenuhi tatapan aneh dari penduduk sekitar. Dia menuju sebuah rumah yang sama di atas laut, dan di sana nampak sudah anak lelaki yang menyambanginya siang tadi. Dan, beberapa muridnya yang iakira sakit, ternyata mereka ada di sana.
Di tempat ini, terlihat: barisan dayung-dayung yang digantung, tombak bermata tajam, sebuah perahu di tengah ruangan, jala, pisau, sebuah titik-titik dengan cangkang karang, yang kemudian Sam tahu itu rasi bintang di langit. Lelaki Lat menjelaskan lagi, dengan bahasa alih kode semi kacau, bahwa di sinilah sekolah yang ia dirikan. Sekolah yang diberi nama Lat: sesuai dengan nama suku.
Sebenarnya lelaki tadi tidaklah bodoh terlalu. Ayahnya dulu pernah menyekolahkannya ke “sekolah pemerintah” meski hanya di kelas satu-demikian mereka menyebutnya, namun suatu hal mengganjal.
Ketika itu, kakaknya, yang sudah kelas enam di SD Jayapura 2 tak bisa apa-apa ketika harus menemani kakak mereka yang lebih tua pergi melaut menggantikan ayahnya yang sakit keras. Dia, kakaknya yang SD tersebut, hanya bisa omong dan menyanyi-nyanyi, lalu pamer angka-angka tak jelas dalam kertas, tetapi ia tak becus membaca rasi bintang, arah angin, membelah ombak, mengaahkan tombak, apalagi mencecap asin air dan jernih gelombang untuk menerka di mana ikan-ikan berkumpul. Dari situ ia benci sekolah-ia benci menghabiskan waktu dengan menyanyi dan menggambar tidak jelas. Dan, pelak, ketika ada pembukaan sekolah baru, ia selalu mencari sekolah yang mengajarkan anaknya melaut, membelah ombak, mendayung, membaca rasi bintang, menombak ikan paus, dan seterusnya. Dan itu tak ada, atau mungkin tak akan pernah ada!
Sam terdiam. Ia paku bagai kelana: semua diktum terkulum gelombang di kaki pancang; berpias-berpias.
Dan sorenya juga, Sam melihat di bawah cahaya senja yang senantiasa keemasan sebelum muram jadi gelap, lelaki itu mengajar dua anaknya dan tiga dari muridnya yang belakangan absen. Dia mengajari cara memegang dayung, menggerakkannya kanan kiri di atas perahu di tengah kelas satu. Dan, tak sekalipun lelaki itu membentak atau bahkan memukul bila salah. Dia selalu berkata,
“Ko pasti bisa! Ko dilahir atas laut, makan ikan laut, garam laut, ko anak laut! Laut ibu torang. Kitorang cintai, dayungi, dan ciumi angin asin ini. Laut tempat ko makan, laut tempat ko besar nanti, ko paham sa pu nasehat? Ini tujuan ko sekolah di Lat, ko belajar hidupbukan Cuma omong kosong dan menggambar. Ko dititipi laut bapa kitorang.”

/3/
Peristiwa dua tahun silam terngiang makin dalam, di meja kelas, ketika kini dia menghadapi pesan pendek berisi keluh dari sejumlah kawan kawan di Jogja yang belum juga mendapat kerja. dia menarik nafas. Untung dia dapat ikatan dinas; meski jauh seperti ini, terpisah dari keluarga.
Dia sedang mengabsen, saat tiba-tiba lelaki kepala suku Lat itu datang mengetuk pintu kelas. Dia izin sebentar pada murid-muridnya yang kini tinggal setengah-sisanyanya “sekolah” di Lat: memilih belajar membelah ombak dengan benar, membaca rasi bintang dengan sket cangkang kerang, dan seterusnya.
“Maf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Sam bertanya, dalam hati ia mengira lelaki itu, yang kini membawa kedua anaknya beserta sejumlah anak  lain, ingin menyekolahkan di tahun ajaran baru yang sebentar lagi tiba.
“Ko orang Jawa, bisa ajar torang buat ini?”
Sam mundur sedujut. Ia kaget. Lelaki itu menujukkan ikan kalengan bermerek sarden.
Usut punya usut, setelah bercakap kemduian, sekolah Lat tengah mengalami masalah. Murid-muridnya bertambah banyak, orang-orang di Batu Tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sana, yang dalam waktu tak lebih dari setahun dapat membantu menangkap ikan. Yang mengajar juga dari orang mereka sendiri yang berpengalaman. Nah, dari sana penghasilan menangkap ikan naik deras. Ketika kepala suku Lat itu pergi ke Jayapura untuk memasar ikan, ia melihatikan kaleng yang ternyata harnya sebuahnya setara dengan harga satu kilo ikan mentah. Dia terkejut. Padahal, menurut kepala suku Lat itu, atu kaleng hanya berisi dua tiga potong. Dari sini dia ingin menemui sekolah yang bisa mengajarkan “murid”-nya membuat ikan kaleng.
Dan, sekali lagi Sam menggeleng. Ia mejnelaskan kembali tentang standar pengajaran di sekolah, kurikulum, evaluasi, ijazah, dan ketrampulang, menghitung, bahasa, menghafal nama menteri, Pancasila, Undang-Undang Dasar….
“Ah, baik. Ko tau tempat buat ini?” kepala suku Lat mengas. Matanya resah. Anak-anakn di belakangnya tengah membaur bersama anak-anak dalam kelas. Sam membaca pabrik produksinya yang ternyata itu di Banyuwangi Jawa Timur.
“Sa mau ke sana! Ko kaih tau…”
Sam terbengong. Dan ia akan makin kaget, jika tahu bahwa lima hari mendatang, akan ada rombongan kecil dengan perahu layar sedang, berbekal peta yang ia berikan sewaktu bertanya, berduyun mengarungi Samudra Hindia, menuju Jawa Timur buat belajar cara mengalengkan ikan agar tidak rugi dalam menangkap demikian banyak ikan, agar anak-anak kelak sejahtera, agar listrik penuh, televisi seperti di kota, mobil, motor…. Tidak ada yang ragu; mereka anak-anak sekolah Lat; terlatih membelah ombak dengan dayung, membaca ngin, gemintang, dan asin air laut dn jejak-jejak iakan di antara buih dan gelombang. Jiah! Khiaak!

2010


* Ikan Kaleng karya Eko Triono 
Disalin dari 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas: Dari Salahat Dedaunan sampai Kunang-kunang di Langit.  Jakarta. 2012.
[full_width]