Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Thursday, 19 May 2016

MENULIS, KEBERANIAN BERTANYA DAN MENJAWAB

- No comments
Hari Kamis.

Bakal terasa tegang hari ini karena belum juga ada ide untuk materi #MenulisApaSaja.

Bukan hari ini saja, sejak tekad #MenulisApaSaja tertanam, hari Senin dan Kamis menjadi hari yang bukan biasa saja seperti lainnya karena di hari itu saya menantang diri sendiri untuk memposting tulisan.

Padahal sering sekali ide sekelibat terlintas di kepala. Seperti saat mandi atau berangkat ke sekolah. Secara teori, kalau ada ide tulis kata kuncinya untuk mengikat ide supaya tidak keluyuran di mana-mana tapi, bro, gak semudah itu.

Yang paling sering, ide datang bersamaan dengan takbirotul ikhrom. Nah. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Kalau memilih khusyu', ya..., harus merelakan ide cemerlang itu lenyap. Kalau mau ngelunjak, ya... terus saja runut ide itu dari awal sampai akhir. Mulai dari plot hingga isinya. Sialnya, kalau tiba-tiba ide itu lenyap bersamaan dengan salam.

Keseharian saya bergelut dalam pendidikan. Banyak kejadian menarik yang bisa ditulis. Seperti obrolan anak-anak di kamar mandi; sisa-sisa makanan di kantin, riuh obrolan anak-anak menjelang shalat Dzuhur, dan lainnya.

Ada juga keinginan untuk berbagi cerita tentang Davina Cahya Syakira. Sejak Cahya mulai bisa mengucapkan 'ba ba ba' dan 'ta ta ta' hingga kini lebih senang bermainan mulut 'brbrbrbrbr...'

Kadang, yang membuat saya urung menulis/memposting tentang mereka adalah karena ketakutan saya untuk mempertanggungjawabkan tulisan saya. Saya tidak ingin hanya mengungkapkan masalah, tetapi ada keinginan untuk menghadirkan solusi. Imbas dari ketakutan itu adalah tulisan-tulisan itu cukup berhibrenasi di folder laptop saya. Sebegitukah?

Pandangan saya:
Maraknya copy/paste opini akhir-akhir ini menunjukkan semakin besar ketakutan untuk mempertanggungjawabkan opini pribadi. Termasuk saya. Apalagi dalam melakukan copy/paste, repost, share, diawali dengan "dari group sebelah". Sebelah mana? Sebelah empang?

Mirisnya, kalau ada yang tidak setuju lantas memberi sanggahan, eh, justru mendapatkan balasan "Maaf, saya cuma berbagi tulisan. Semoga bermanfaat."

Padahal, kalau copy/paste itu dilanjutkan dengan pandangan pribadi justru akan menjadi penguat--semacam referensi--untuk opini pribadi.

Sudahlah.

Tips: 
Semua yang ditumpahkan dalam sebuah tulisan berangkat dari jawaban atas apa yang terlintas, atau barangkali berangkat dari pertanyaan atas apa yang terlintas di dalam fikiran.

Kalau kita masih mampu mempertanyakan apa yang kita temui di masyarakat sebenarnya kita masih mampu melahirkan sebuah tulisan. Kalau kita masih mampu menjawab permasalahan yang timbul di masyarakat sebenarnya kita masih mampu melahirkan sebuah tulisan.

Hanya saja, berani atau tidak kita mempertanggungjawabkan pertanyaan atau jawaban yang kita tuangkan dalam tulisan? []


----------------------
Untuk memenuhi tantangan #MenulisApaSaja.

Saturday, 20 February 2016

THE VILLAGERS, MENGASAH KEPEKAAN SOSIAL PESERTA DIDIK

- No comments

Desa Gedong Pakuon yang terletak di kecamatan Baradatu, Way Kanan, akan menjadi destinasi kami. Siswa-siswi kami, sebanyak tiga puluh dua siswa, akan tinggal di sana untuk sepekan mulai 22 sampai 26 Februari 2016. Mereka akan berbaur dengan warga, membuat gula merah, jajanan kelanting, dan juga menderes batang pohon karet.

Kami menyebutnya The Villager. Program yang kami rancang bagi kelas selebas supaya mereka belajar berbaur dengan masyarakat, terlibat dalam kegiatan keseharian. The Villager diharapkan menjadi triger bagi kepekaan sosial peserta didik.

Bermula dari keprihatikan kami melihat intensitas peserta didik dengan teknologi, kurang aware terhadap lingkungan, dan besarnya hasrat konsumtif sehingga perlahan mengikis kepekaan terhadap kehidupan sosial dan juga lingkungan. Permasalahan yang sebenarnya tidak hanya dialami oleh peserta didik kami, tetapi secara menyeluruh generasi muda kota ini mulai bergeser ke arah sana.

Mengapa harus ke desa? Sebelum menjawabnya, saya teringat pada kisah Halimatus Sa’diyyah yang menjadi ibu asi bagi Nabi. Suku-suku pedalaman Arab membutuhkan dukungan dan perlindungan dari suku-suku besar Arab untuk menjaga keamanan mereka dan sebaliknya suku-suku pedalaman dibutuhkan untuk mendidik anak-anak mereka. Suku baduwi adalah “penjaga” bagi keaslian bahasa Arab karena sebagai kota metropolis, Makkah sudah terkontaminasi oleh berbagai suku dan bangsa.

Kita menyadari bahwa kota ini sudah cukup terdesak oleh konsumtif warganya yang sejalan dengan pertumbuhan perekonomian. Disadari atau tidak, gaya hidup para remajanya banyak yang keluar dari jalur etik masyarakat Timur. Hal yang dulu terasa tabu kini menjadi begitu fulgar dipertontonkan.

Di sekolah kami mengajarkan nilai-nilai religi supaya kesadaran ubudiyyah peserta didik terus meningkat. Di sekolah pun kami mengajarkan nilai-nilai muámmlah supaya kepekaan intrapersonal mereka tetap tumbuh. Akan tetapi, yang susah payah kami bangun itu kerap sekali runtuh oleh satu atau dua momen yang mendatangi mereka melalui televisi, terutama internet.

The Villager adalah jeda, spasi yang memisahkan satu momen dengan momen lainnya, kekosongan yang menjadi pemicu tumbuhnya nilai-nilai baru. Meskipun jeda ini terlalu sebentar tetapi sama sekali tidak menyurutkan optimisme kami.

Saat briefing dengan peserta didik saya sampaikan kepada mereka bahwa The Villager bukanlah momen rekreasi, bukan ajang bersenang-senang. Ada target afektif dan kognitif yang harus dicapai. Secara diam-diam atau langsung tentu saja kami akan melakukan penilaian. Meskipun sebagai ajang trial bukan berarti kalian menjadikan kegiatan ini sebagai beban. Kita masih bisa tertawa, bercanda, dan bahagia.

Kami berharap bahwa pencapaian kegiatan ini dapat diraih secara maksimal.[]

Tuesday, 12 January 2016

PENDIDIKAN QURANI UNTUK MASYARAKAT MADANI

- No comments

Ketika Rasulullah lahir masyarakat Makkah adalah masyarakat materialistis. Riba menjadi selimut setiap aktivitas, baik perekonomian maupun peperangan. Orang-orang kaya Makkah memilih memberi modal kepada kabilah-kabilah yang akan berperang dengan meminta pengembalian harta rampasan perang yang besar.

Puncak materialisme di Makkah melahirkan kerinduan dan kecemburuan. Kerinduan untuk mendapatkan ketenangan batin dan kecemburuan atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memiliki tuntunan berupa nabi dan kitab suci. Perlu diketahui bahwa dalam sejarah turunnya nabi dan Rasul, semuanya didominasi oleh Bani Israil.

Di tengah masyarakat seperti itulah Rasulullah terlahir dan tumbuh menjadi dewasa. Semasa bayi, ia dititip-asuhkan kepada keluarga baduwi. Selain menjadi tradisi Arab untuk membuat aliansi, menitipkan pengasuhan kepada keluarga baduwi juga bertujuan untuk menjaga kemurnian bahasa Arab. Kedepannya nanti, tidak jarang penelusuran makna Alquran digali melalui makna asli bahasa Arab meminta pendapat orang baduwi.

Melihat Beliau tumbuh di masyarakat perdagangan, Rasulullah pun mahir dalam berdagang. Melihat Beliau hidup di masyarakat yang rawan konflik antar suku dan kabilah, Rasulullah pun terlibat dalam chaos perebutan kekuasaan. Selain itu, terdapat perbudakaan, konflik antara si kaya dan si miskin, dan gengsi.

Ketika Rasulullah sudah dewasa, sudah matang secara lahir dan batin, beliau tidak terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh negatif lingkungannya. Seperti ikan di samudra yang tidak terpengaruh oleh asin lautan. Tidak hanya resisten terhadap pengaruh-pengaruh negatif lingkungannya, Beliau hadir sebagai penengah, solusi, dan lentera harapan bagi masyarakat Makkah.

Kuncinya adalah pendidikan. Rasulullah dididik langsung oleh sang Maha Pengasuh alam semesta dengan Jibril sebagai juru rawatnya. Pendidikan yang dimulai sejak dini. Saya kira kita pernah mendengar kisah tentang Rasulullah kecil yang diajak untuk menghadiri jamuan pesta makan malam. Beliau turut hadir di sana tetapi Allah menyelematkannya dengan memberi rasa kantuk yang luar biasa sehingga beliau tertidur. Dan kisah-kisah menakjubkan lainnya yang menunjukkan betapa Allah sendirilah yang membimbingnya.

Istilah pendidikan dalam terminologi bahasa Arab bisa merujuk pada kata tarbiyyah, ta’lim, dan tadris. Masing-masing memiliki tujuan dan metode yang berbeda. Meskipun demikian, kita tidak perlu terlalu lama berjibaku dalam perselisihan istilah tersebut tetapi kita ambil semangat dan ruhnya, yaitu membuka tabir yang menghalangi cahaya ilmu pengetahuan Ilahi.

Terpenting dalam pendidikan usia dini adalah pengenalan nilai-nilai melalui pembiasaan. Mengajarkan nilai ta’äwun (pengejewantahan dari wata’äwanü ála l-birri wa t-taqä) tidak dengan cara menjelaskan definisinya tetapi melalui pembiasaan dan praktik-praktik. Seperti mengajak menata dan merapikan barang milik pribadi di rumah supaya meringankan tugas ibu. Serta nilai-nilai qurani lainnya yang kita tanamkan kepada anak.


Alquran dan sunnah adalah induk semang dari segala pendidikan. Nilai dan dasar pendidikan terdapat di dalam keduanya. Tinggal kita mau atau tidak mempelajarinya. Rasulullah adalah Alquran yang berjalan. Sunnah yang ada dalam dirinya adalah pengejewantahan “teks” ke dalam “konteks”; dari pendidikan di keluarganya sampai pendidikan di lingkungannya; dari pendidikan nilai-nilai yang radikal sampai yang toleran; dari diri Rasulullah kepada seluruh alam semesta.

Salah satu kisah tersohor mengenai cara Rasulullah mendidik anak-anak adalah ketika Rasulullah tetap membiarkan cucunya meminta gendong beliau padahal saat itu beliau sedang menunaikan salat. Alih-alih membatalkan salat, Rasulullah justru tetap melanjutkan salatnya, memegangi cucunya tercinta di setiap gerakan supaya ia tidak terjatuh.

Hikmah yang bisa kita petik dari kejadian itu adalah bahwa anak-anak memiliki kecenderungan untuk bermain sekaligus ia meniru apa yang dilihatnya. Maka tugas orangtua dan juga guru, adalah menunjukkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, baik dalam ubudiyyah atau dalam kegiatan sehari-hari, supaya menjadi potret model yang ideal untuk ditiru.

Perilaku dan tutur kata yang belum/tidak layak dikonsumsi oleh anak harus disembunyikan. Bukannya mengajari ketidakjujuran dan ketidakterusterangan, tetapi nalar dan logika anaklah yang mungkin belum matang. Guru dan orangtua haruslah bijaksana dalam memilih permasalahan di luar konteks anak-anak yang patut dan tidak patut untuk mereka ketahui.

Kisah tentang Luqman adalah salah satu kisah dalam Alquran yang bisa kita ambil hikmah. Luqman adalah seorang budak hitam dari Habsyah. Derajatnya diangkat sangat tinggi. Konon, ada seorang yang mendatanginya dengan raut wajah heran.

“Bukankah engkau penggembala kambing?” Tanya lelaki itu.

Luqman menjawab, “Benar!”

“Lalu apakah yang menghantarkanmu sampai pada derajat yang begitu tinggi seperti sekarang ini?”

Luqman pun menjawab, “Benar dalam berbicara dan diam terhadap hal-hal yang bukan menjadi urusanku.”


Terlebih tentang Luqman, penulis ingin merujuk kepada Athfälu al-muslimïn, kaifa robbähum an-nabiy al-amïn yang ditulis oleh Jamaal Abdur Rahman. Kita dapat mengambil beberapa nasehat dari surat al-Luqman yang bisa kita jadikan pedoman untuk mendidik putra-putri kita.

Pesan pertama
Dalam ayat ke-13 diceritakan bahwa yang pertama-tama diajarkan Luqman kepada anaknya adalah mengenai tauhid. Ia berpesan, “Hai anakku, jangan sekali-kali mempersekutukan Allah,” tidak cukup dengan memberikan pelarangan tetapi ia pun memberi alasan dengan mengatakan, “(karena) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang amat besar.”

وَإذْ قَالَ لُقْمنُ لابْنِهِ وَهُوَ يَعظُهُ يبُنَيَّ لاَ تُشْرِكْ بِالله إن الشِرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ.

Aqidah adalah perihal yang sangat penting yang pertama-tama ditanamkan kepada anak. Kokohnya aqidah yang genggam oleh anak akan menimbulkan pengaruh kepada aktivitas-aktivitas selanjutnya. Ia mungkin akan bersedih atas kemalangan yang menimpanya tapi ia tidak akan meratap karena ia mengetahui hikmah dari kemalangan tersebut.

Pesan kedua
Dalam perjalan spiritual kita mungkin pernah mengalami masa-masa saat shalat begitu khusyuk dalam keramaian dan begitu cepat seperti menyeruput kopi panas dalam kesendirian. Atau merasa putus asa ketika perbuatan baik yang kita lakukan tidak mendapatkan apresiasi. Alih-alih mendapatkan apresiasi, setitik kesalahan yang pernah dilakukan justru diungkit terus menerus.

Pada nasehat kedua, Luqman mengingatkan anaknya supaya menjalani kehidupan dengan terus mawas diri karena sekecil apapun amal yang dilakukan, bersama-sama atau pun sendiri, disembunyikan serapat-rapatnya, seseungguhnya Allah mengetahui hal tersebut dan Dia akan datang dengan membawa balasannya.

يبُنَيّ إنها إن تَك مِثْقالَ حَبةٍ من خَرْدلٍ فتكُن في صَخْرة أو في السموت أو في الأرضِ يَأتِ بها الله إن الله لطِيْفٌ خَبِيْر

“Hai anakku,” kata Luqman, “sesungguhnya jika ada perbuatan seberat biji sawi dan disembunyikan di dalam batu, di langit, atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatanginya dengan membawa balasan yang setimpal.” Tak sedikitpun yang akan luput dari pengetahuan-Nya karena “Sesungguhnya Allah mahahalus lagi Maha Mengetahui.”

Pesan ketiga
Setelah berpesan mengenai dua hal mendasar di wilayah aqidah dan akhlak, selanjutnya Luqman menyampaikan nasehat tentang wilayah syariah. Ia berpesan kepada anaknya supaya menegakkan shalat (ayat ke-17).

يبُنَيّ أقم الصلوة وأمُرْ بالمَعْروفِ وانْهَ عن المنكر واصبِر عَلَى مَا أصابَك إن ذلك مِن عَزْم الأُمُــــوْرِ

Nasehat ini menjadi petunjuk bagi kita bahwa agama-agama samawi telah memerintahkan umat pemeluknya untuk menunaikan shalat. Yang membedakan shalat antara syariat sebelum Rasulullah dengan syariat ajaran Rasulullah adalah tata cara ibadahnya. Dan mengenai hal ini, kita bisa merujuk pada kitab-kitab turots.

Tidak hanya shalat Luqman pun mengajak supaya anaknya menyeru manusia untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang munkar. Ibnu katsir menjelaskan bahwa memerintahkan perkara yang baik dan mencegah perkara yang munkan menurut batas kemampuan dan jerih payahmu karena pastinya dalam amr bil ma’ruf dan nahy án munkar akan mengalami rintangan dan gangguan dari orang lain. Untuk menguatkan hati anaknya, Luqman menyampaikan supaya ia bersabar dalam menjalankan perintah-perintah tersebut: shalat, amar ma’ruf, dan nahyu ánil munkar.

Ada pendapat lain bahwa Luqman memerintah anaknya supaya bersabar dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup di dunia (álä mä ashöbak, atas apa yang menimpamu) dan jangan sampai ketidaksabaran menghadapi hal tersebut menjerumuskanmu dalam perbuatan durhaka kepada Allah.

Pesan keempat
Lalu sampailah nasehat Luqman kepada anaknya perihal hubungan antar manusia, kesopanan dalam bersosialisasi. Ia mengatakan, “Dan kamu janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan jangan pula berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (ayat ke-18)

ولا تُصَعِّر خدَّكَ للناس وَلا تَمشِ فِي الأرْضِ مَرَحً إن الله لا يحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْر

Dengan hati-hati Luqman memerintahkan supaya anaknya tidak sombong dengan cara memalingkan wajah. Memalingkan wajah adalah salah satu ekspresi kesombongan dan masih banyak lagi cara orang mengekspresikan kesombongan. Sho’ir khoddaka adalah kiasan. Makna aslinya adalah unta yang mengalami sakit pada sendiri punuknya yang membuat wajahnya tidak bisa tegak dan memalingkan muka.

Sumber kesombongan juga bermacam-macam. Ada kalanya bersumber dari kebanggaan atas diri sendiri karena perbuatan baik; atau menganggap orang lain remeh karena kesalahan atau dosa yang dilakukan.

Imam al-Qurthubi menafsiri ayat ini bahwa kita hendaknya berprilaku simpatik dan menawan kepada lawan bicara kita. Menatap wajahnya, bukan memaling wajah saat berbicara.

Pesan kelima
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan antar manusia adalah pola komunikasi. Luqman menasehati anaknya supaya baik-baik berkomunikasi dengan mereka.  Setelah mewanti-wanti supaya menjaga sikap dari sifat tercela, kali ini Luqman mengingatkan supaya anaknya senantiasa berhias diri dengan akhlak terpuji. Hai anakku, sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuh-buruk suara ialah suara keledai (ayat ke-19).

Al-qoshdu, menurut imam Qurthubi, adalah cara jalan yang tidak terlalu cepat tidak pula terlalu lambat. Mengenai hal ini Rasulullah bersabda:

سُرْعَةُ المَشْي تُذْهِــبُ بَهَاءَ المُؤْمِنِ

“Cara jalan yang cepat akan menghilangkan keanggunan orang mukmin.”

Tentu saja kecepatan dalam berjalan ini disesuai dengan adat dan tata krama di lingkungan masing-masing. Bisa jadi kita hidup di lingkungan di mana orang berjalan pelan dan bisa jadi di lingkungan yang lain justru berjalan berkali-kali lebih cepat. Kita pun dapat merujuk kepada ayat lain untuk menjelaskan maksud ayat ini, yaitu:

وَعِبَادُ الرَحْمن الذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الأرْض هَوْنًا

“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) mereka yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati”

Selain dengan cara jalan, adakalanya seseorang menunjukkan kesombongannya melalui suaranya yang meninggi dan juga bahasa yang mengungguli lawan bicaranya. Allah menyindir orang-orang yang meninggikan suaranya seperti suara keledai. Mengapa perumpamaan yang dipilih adalah keledai?

Di lingkungan Arab berlaku ejekan sangat keras, salah satunya adalah menyamakan seseorang dengan keledai. Bagi kita, masyarakat Indonesia, mempersamakan dengan keledai mungkin tidak begitu keras karena secara adat dan budaya memang berbeda. Wallahu a’lam bish showab.


Nilai pendidikan
Dari nilai-nilai yang diajarkan oleh Luqman di atas kita bisa mengambil pelajaran tentang pentingnya pendidikan aqidah sebagai pondasi bagi anak. Tidak hanya perihal aqidah yang diajarkan, kesadaran untuk menunaikan ajaran (syariah) juga harus ditanamkan sejak dini.

Mengingat kita sebagai manusia dan hidup dalam lingkungan sosial, maka diperlukan kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni di dalam masyarakat. Tasamuh dan saling menghormati adalah output dari kesadaran relijiusitas. Semoga pendidikan di lingkungan keluarga dan sekolah dapat tegar berjalan dan kokoh dari berbagai godaan.
.

Thursday, 24 December 2015

MAULID NABI DAN EKSPRESI MASSAL KECINTAAN KEPADA RASULULLAH

- No comments
Sumber: http://www.madeenah.com/

Memperingati maulid nabi adalah bentuk ekspresi kecintaan secara massal kepada junjungan tercinta, Rasulullah Saw.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa peringata seperti ini adalah bid’ah. Bahkan ada yang tega menanyakan dalilnya. Maka saya katakan kepada mereka: Ya, ini memang bid’ah. Terus kenapa?

Pemaknaan saya atas kata bid’ah adalah kreatifitas. Acara memperingati kelahiran nabi tercinta yang dipenuhi dengan bacaan shalawat, senandung syair yang romantis dan menggetarkan hati, cerita-cerita tentang Rasulullah yang menyentuh, adalah bentuk kreatifitas yang sangat agung dalam rangka mengekspresikan cinta pada Rasulullah.

Seperti dalam Hari Guru, kita memanfaatkan momentum ini untuk mengenang guru-guru kita yang sangat banyak jasanya membentuk kepribadian kita hingga menjadi seperti ini. Tak cukup dengan mengenang mereka, kita pun—adakalanya—mengunjungi mereka atau setidaknya merapalkan doa-doa kepada mereka, doa yang mereka ajarkan kepada kita. Begitu juga dalam hari Ibu, hari Pahlawan, dan peringatan hari-hari lainnya.

Apakah untuk melakukannya harus di hari yang ditentukan itu? Tentu tidak. Kita bisa melakukannya kapan saja. Hari itu hanyalah momentum untuk me-recharge. Seperti halnya Ramadhan sebagai momentum untuk me-recharge diri kita menghadapi sebelas bulan setelahnya.


Ada yang cemburu kepada para pecinta Rasulullah seperti kita ini. Mereka cemburu bagaimana bisa orang mencintai dengan begitu tulus dan romantis, merasakan kerinduan yang mendalam? Dan kita bisa melihat para pecemburu itu, mereka akan melakukan banyak hal karena posesifitasnya sehingga mereka tega melontarkan kata bid’ah.

Kalau ditanya mana dalilnya? Mana anjuran atau perbuatan yang merujuk pada pelaksanaan peringatan Maulid?

Untuk mengungkapkan rasa cinta kau tak perlu dalil, seperti ketika kau inign menolong seseorang tak perlu kau tanyakan apa agamanya. Dalil-dalil hukum itu jauh berada di bawah tataran etika. Kau bicara dalil hukum maka kau bicara tentang benar dan salah. Kau bicara nilai etis maka kau bicara baik dan buruk.

Lagi pula, maulid nabi bukanlah ibadah (ubudiyyah). Ini adalah bentuk budaya halus para ummat yang merindukan kehadirannya. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan menara (manaroh) yang diadopsi dari Persia yang Majusi itu. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan kubah yang diadopsi dari bangunan-bangun gereja di Romawi yang Nasrani itu. Apa salahnya?

Padahal ada satu jurus jitu supaya aktifitas yang tampak biasa-biasa saja bisa berubah menjadi nilai ibadah yang luar biasa.

Kita membersihkan halaman rumah, menyapu misalnya, pekerjaan ini kan menjadi pekerjaan biasa saja. Tetapi kala kita mengawalinya dengan membaca basmalah maka jadilah aktifitas menyapu ini menjadi nilai ibadah. Sebalik, yang tampak seperti ibadah kalau tak diawali dengan basmalah maka jadilah ia sekedar aktifitas buang-buang tenaga.

Ah, mereka yang terbiasa berbuat sesuatu di atas dalil-dalil tentu tahu dalil—sabda nabi—tentang basmalah ini.


Saya melihat terdapat paradoks dalam mengekspresikan relijiusitas kita. Ada yang mengaku mencintai Rasulullah dengan tulus tapi untuk mengikuti sunnahnya masih pilah-pilih. Mengikuti jalan hidup beliau bukan melulu tentang ibadah yang lima waktu itu, atau tentang rukun islam yang lima itu. Masih ada yang lain: mencintai kaum dlu’afa dan yatim, hidup bersahaja, ramah kepada sesama manusia.

Bukankah kita pernah membaca kisah menakjubkan Abu Bakar yang ingin meniru jalan hidup Rasulullah ternyata belum ada apa-apanya. Saat ia mendatangi seorang Yahudi buta di pasar, memah roti lalu disuapkan, ia tak habis pikir bagaimana Rasulullah bisa sesabar itu hingga akhir hayatnya, berbuat derma kepada non-muslim meskipun ia memberci dan mencercanya.

Dalam keadaan marah, kadang saya menjawab: Kalau kamu benar mencintai Rasulullah, seharusnya kamu tanggalkan pakaian mewahmu, singkirkan kasur empukmu, miskinkan dirimu hanya dengan mengambil apa yang cukup untuk hari ini saja.

Ada kalanya juga ingin menelisik kadar pengatahuannya, tahukah makna sunnah? Atau jangan-jangan masih menyamakan arti sunnah dan hadits? Kalau demikian, perlulah kita belajar lagi apa sunnah dan hadits, secara terminologis dan juga epistemologis (lughotan wa ishtilahan).

Kok, saya lalu curiga. Jangan-jangan mereka yang membid’ahkan ekspresi cinta ini tidak pernah benar-benar membaca maulid diba’, shimthut dluror, atau lainnya.


Banyak cara mengekspresikan rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah. Ada yang merindukannya dengan cara mengikuti jalan hidupnya (sunnah) semampunya. Ada yang merindukannya dengan cara memanggil-manggil namanya. Ada pula yang mempelajari sejarah hidupnya.

Allah menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi karena seluruh alam semesta, bahkan malaikan dan Dirinya sendiri pun bershalawat kepada Nabi. Hanya saja dalam ayat itu tidak dijelaskan apakah bershalawat dengan cara duduk, berdiri, sendiri-sendiri atau berjamaah.

Allohummu sholli álä muhammad.

Saturday, 5 December 2015

MENGANALISA BLOG MELALUI GOOGLE ANALYTIC

- No comments
http://www.whiteboardmag.com/wp-content/uploads/2013/01/analytics.jpg
Google Analytic


Beberapa bulan yang lalu ada teman yang memberi saran supaya saya menggunakan google analytic. Aih... untuk apalah. Begitu tanggapan saya. Dan dua hari yang lalu saya saya tergoda mengklik tautan googel analytic dan langsung sign up. 

Awalnya saya agak kecewa karena saat lihat menu audience ternyata page views saya masih nol. Padahal di dashboard blogger terlihat pengunjung blog sudah ribuan. 

Lalu saya pasang umpan ke berbagai media sosial sambil melihat grafik yang tidak kunjung bergerak. Page views tetap nol. Hati semakin berdebar-debar. Apa yang salah dengan blog saya? Hingga setelah beberapa jam mulailah bergerak dan setelah dua hari ternyata page views baru mencapai angka dua belas. 


Loh, kok cuma dua belas? Kemana larinya angka page views yang tertera di dashboard blogger?

Uji coba kecil-kecilan pun saya lakukan. Saya klik beberapa postingan saya yang lalu-lalu. kemudian me-refresh beberapa kali. Hasilnya, di dashboard terlihat jumlah pengunjung yang meningkat. Sedangkan di google analytic sama sekali tidak ada perubahan.

Penasaran? Ya, saya penasaran sekali. Saya pun mencari beberapa informasi dari blog-blog yang membagikan penggunaan google analytics. Tidak lupa pula mengunjungi laman support dari google. Lalu ada kesimpulan-kesimpulan kecil seperti nyala lilin. Sedikit penerangan meskipun belum terang benderang.

Pertama, google analytic akan menghitung jumlah klik, jumlah pengunjung, lama sesi, dan lainnya sejak pengguna mengaktifkan google analytic, bukan sejak blog dibuat. oh.

Kedua, ada beberapa tipe laporan harus dipahami. Dan saya belum ngeh masing-masing bentuk laporan. Setidaknya saya memahami page views yang menunjukkan jumlah halaman yang dilihat oleh pengunjung; users yang menunjukkan jumlah pengunjung; session yang menunjukkan lama pengunjung membuka laman blog kita.

Artinya, page views boleh banyak tetapi belum tentu users-nya juga banyak karena bisa jadi si pengunjung meng-klik beberapa postingan dalam satu sesi. Silahkan deh dipelajari sendiri.

Fasilitas baru dari google ini memang menyita perhatian saya. Jadi kembali termotifasi untuk menulis, bercerita, dan membagikannya di dunia maya. Selamat menjelajah.

google analytic: dingkelik.blogspot.com

google analytic: dingkelik.blogspot.com

Tuesday, 24 November 2015

AYOK NONTON JARANAN

- No comments
Di zaman sekarang ini apa enaknya nonton jaranan? Pertanyaan serupa mungkin juga pernah terlontar pada awal kemunculan televisi. Apa enaknya nonton televisi?

Jaranan itu seni rakyat. Musiknya cuma ting ting tong ting ting tong teng glung dari gamelan yang susah sekali mencari suara merdunya. Nyanyian sindennya melengking dari toa yang trible dan bass-nya sudah default. Kudanya juga cuma kuda-kudaan. Jadi apa enaknya?

Jaranan biasanya dimulai dari tari-tarian yang kecil-kecil dulu, dari kalangan anak-anak, yang gerakannya ritmis dengan suara gamelan. Terus ke yang lebih dewasa. Semakin lama tabuhan gamelan semakin seru dan cepat sampai akhirnya ada yang kesurupan, makan ini itu yang tidak wajar, tapi tetap mengikuti ritme gamelan. Jadi sebenarnya kesurupan atau tidak?

Konon, ada pawang yang menjaga jin-jin yang merasuki para penari. Berpakaian hitam, berkumis tebal, cincin akik yang menggunung, rokoknya dari tembakau dan cengkeh yang ia racik sendiri. Tangannya memegang kembang mawar. Iya, kembang mawar. Kalau di kebun binatang, pawang-pawangnya memegang cemeti. Kalau di pentas jaranan pawangnya menggenggam kembang mawar.

Nonton jaranan harus kisruh. Bukan penontonnya yang kisruh tapi penarinya. Harus ada yang kesetanan mengikuti ritme gamelan dan suara ye a ye a si pesinden. Kisruhnya justru menghibur. Penonton jadi bersorak riang. Kalau para penari tidak ada yang kesurupan, yang kesurupan justru para penonton. Biasanya kalau ada penonton yang kesurupan di luar ritme gamelan justru akan merepotkan pertunjukan. Jaranan bisa bubar segera.

Semakin kesurupan, semakin makan yang aneh-aneh, penonton semakin bersorak. Tidak hanya pemandu acara dan penabuh gamelan yang semakin kegirangan, jin-jin yang merasuki pun semakin keranjingan.

Ye a… ye a… e… e… e… yaa!!! Penonton bersorak.


Orang-orang di senayan sana pastinya sedang merindukan pertunjukan jaranan. Tapi kan tidak mungkin menggelar jaranan di halaman gedung yang terhormat itu. Bisa-bisa runtuh kehormatannya.

Seni jaranan memang ngangenin. Dari yang kecil sampai yang tua, kalau ada pertunjukan jaranan, pasti ikut menonton. Apalagi kalau semasa muda dulu pernah ikut njathil di balai desa. Ketika jarak masa lalu sudah mentok, maka kerinduannya tidak bisa dibendung lagi.

Ngangeninnya di mana?

Makanya, jaranan dirubah konsepnya. Supaya rasanya sama tapi bentuknya yang berbeda. Ada orang-orang yang memanjangkan kumisnya dan diam-diam menggenggam kembang mawar. Baju hitam pawang bisa diganti dengan jas hitam. Lalu menunggu gung yang tepat untuk memanggil jin supaya merasuk di salah satu penghuni gedung terhormat itu.

Jin zaman sekarang cuma merubah bentuk sedikit saja. Iya, sedikit saja. Yang penting sesaji dalam pertunjukan jaranan tetap dihidangkan. Apa sesajinya? Rakyat kecil.

Kalau rakyat kecil sudah bersorak maka senanglah si pawang jadi-jadian ini. Padahal rakyat kecil bukan bersorak karena kegirangan melainkan karena muak. Hanya saja siap yang bisa menahan dahsyatnya rindu. Makanya, cemoohan itu terdengar bak pujian.

Lama-kelamaan yang mabok kesurupan ini semakin banyak. Yang bersorak semakin ramai. Suaranya semakin sumbang. Yang menabuh gendang semakin tidak terhitung. Sinden berhenti bernyanyi. Bingung dia mau ikut tabuhan yang mana. Tapi yang mengherankan tidak ada satupun yang berhenti kesurupan. Justru semakin banyak.

Si pawang kelabakan karena jin yang sudah merasuk tidak mau diatur. “Enak saja. Saya bukan peliharaanmu! Gak usah ngatur-ngatur!” begitu kata si jin.

Yang kesurupan pun merambah ke televisi. Mereka yang paling seneng kalau ada yang kesurupan dan sekarang mereka yang kesurupan. Meliput sana sini, dapat berita yang laku dijual untuk disorakin. Kalau ternyata gak ada yang bersorak diplintir pun jadi. Ah, orang mabok kesurupan mana tahu baik dan salah, mana sadar benar dan salah.

Orang yang tadinya tidak suka jaranan jadi ikut-ikutan kesurupan. Ya gara-gara televisi ini. Padahal di hari televisi kemarin diingatkan kalau televisi adalah sarana untuk berbagi informasi. Loh, televisi itu untuk berbagi informasi? Iya, tapi itu dulu. Sekarang mereka berjualan.


Sudah!! Sudah!!
Saya kan tadi ingin ngomongin enaknya nonton jaranan di zaman sekarang ini tapi kenapa jadi nyinyir sana sini. 

GURU SEBAGAI CAHAYA DI DALAM KEGELAPAN

- No comments

Cara Kita Dididik
Dari semua guru yang pernah mendidik kita, berapa guru yang benar-benar menginspirasi hidup kita—baik karena nasehat-nasehat yang mereka siramkan maupun cerita-cerita mereka yang mencerahkan?

Siapakah mereka yang mendidik kita kala di sekolah dasar? Siapakah mereka yang mulai mengenalkan hal-hal rumit saat kita di sekolah menengah? Siapakah mereka yang telah menjadikan kita sarjana?

Kebanyakan dari kita memiliki pengalaman yang sama dalam belajar padahal kita tidak satu mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Saya menikmati pendidikan yang didominasi dengan pendidikan verbal. Menceramahi murid sehabis-habisnya.

Cara mendidik seperti ini bisa jadi sangat relevan pada saat itu mengingat media informasi di kampung saya hanya melalui televisi dan radio. Gurulah yang kemudian menjadi pintu pembuka wawasan melalui dialog dan diskusi. Namun kebanyakan guru saya memilih berceramah dari pada melakukan eksplorasi melalui praktik dan kegiatan lainnya.

Tapi dari guru yang “banyak bicara” itu jadilah diri saya –juga mungkin kita—yang saat ini; yang masih cadas menyanyikan lagu Gebyar-gebyar, yang membagi bilangan dengan cara porogapit; yang masih terniang-niang nama Harmoko sebagai menteri Penerangan.

Apa yang membuat kita masih mengingat-ingat apa yang kita terima selama pendidikan sepuluh tahun yang lalu? Tidak terbesitkah keinginan supaya anak didik kita, kelak, melakukan hal yang sama dengan kita sekarang?

Cara Kita mendidik

Manusia adalah mahluk mimesis yang sangat cerdas. Masa-masa menjadi mahluk mimesis yang paling efektif adalah pada masa pertumbuhan, saat manusia menjadi “sponge” yang paling haus terhadap air. Lalu ketika kita menjadi guru cara kita mengajarkan tak jauh-jauh dari cara kita mendapatkannya. Silahkan direfleksi.

Saat ini, pendidikan kita mirip dengan apa yang digambarkan oleh Thomas Lickona dalam “Educating for Character: How Our Schools Teach Respect And Responsibility”. Urusan utama sekolah adalah bekerja, beraktifitas dan berkarya sebagai pembelajaran. Sekolah harus merancang rangkaian aktifitas yang dapat membantu siswa memahami kualitas dirinya, mengerjakan sesuatu dengan kemampuan terbaiknya, dan mengembangkan kualitas karakter yang melekat pada dirinya untuk mampu doing the best.

Tapi bagaimana peserta didik kita akan dapat menerima pembelajaran itu kalau sumber cahaya inspirasi mereka masih terbelenggu oleh sistem lama?

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan “Yang berkuasa adalah mereka yang menguasai informasi”. Kalau kita tarik dalam perspektif pendidikan yang membedakan antara guru dengan murid adalah penguasaan informasi/materi. Kita dapat menemukan anomali di mana siswa tampak lebih menguasai materi dibandingkan gurunya.

Apa yang terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat kompleks. Nilai-nilai yang ditanam di sekolah diluluhlantakkan oleh dimensi layar flat. Sehingga kalau guru masih mengajar secara konvensional—ceramah, ceramah, dan ceramah lagi—kesempatan untuk memetik hasil yang maksimal dalam pendidikan menjadi sangat kecil.

Guru memang sudah seharusnya memperluas wawasan dan kritis terhadap lingkungan, senantiasa mengasah kemampuan mengajarnya untuk melakukan simulasi dan stimulus pada diri peserta didik. 

Semakin luas dan kaya wawasan guru semakin mungkin ia melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Momentum Hari Guru

Sebagai murid dari guru-guru yang telah membesarkan saya, hanyalah untaian doa yang dapat kusenandungkan untuk mereka. Dari sekian banyak bimbingan sedikit sekali yang dapat kuingat—bahkan yang teringat justru kebandelan dan pembangkangan yang saya lakukan. Saya belajar tentang keuletan, tanggungjawab, dan keikhlasan dari mereka bahkan dari guru yang mata pelajarannya tidak saya sukai.

Bukan salah mereka kalau kita harus melahap habis banyak mata pelajaran. Bukan salah kita pula kita harus menyuapi peserta didik dengan sekian banyak mata pelajaran. Kita sadar bahwa kita tidak bisa melahap habis semua. Begitu pula kita menyadari bahwa peserta didik kita tidak bisa mengkonsumsi semuanya.

Lalu, apa yang bisa guru berikan kalau faktanya mereka tidak menyukai materi yang diajarkan?

Guru tidak hanya mengajarkan materi-materi di kelas. Ada proses ‘transfer’ lainnya yang kasat mata dan yang paling kasat mata dalam pembelajaran adalah energi guru menyambar reseptor-reseptor anak didiknya. Seredup apapun cahaya yang kita pancarkan, di dalam ruang gelap cahaya itu menjadi petunjuk dan harapan yang sangat besar.

Untuk itu, dalam momentum Hari Guru ini, alangkah baiknya kita merenungi posisi kita sebagai guru. Posisi yang memiliki derajat kemulyaan yang sangat tinggi. Dengan demikian, kita tidak hanya akan bersyukur dan memperbaiki diri tetapi juga berterimakasih pada mereka, pada guru-guru kita.

Sebagai penutup, saya kutipkan catatan di buku Thomas Lickona:
Saya menghawatirkan jika saya merupakan elemen penentu di dalam kelas … sebagai guru, saya memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat kehidupan siswa menjadi yang tidak karuan atau menjadikan mereka gembira. Saya dapat menjadi sebuah alat untuk menyiksa atau menjadi sebuat alat inspirasi. Saya dapat menghina atau bercanda, menyakiti atau menyembuhkan. Dalam segala situasi, sudah merupakan tanggung jawab saya utnuk menentukan apakah sebuah konflik akan dibesar-besarkan atau diselesaikan, dan memperlakukan seseorang anak dengan baik atau tidak.
--------------Haim Ginott

Monday, 9 November 2015

PAK WID, APA HASIL KUNJUNGAN BAPAK KE LAMPUNG?

- No comments
Presiden Joko Widodo meninjau pembanguan ruas tol Trans Sumatera. Tampak di foto Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (berbatik biru) turut mendampingi Presiden. (Sumber gambar dari Kompas.com)
Apa kabar pak Wid? Bagaimana kesan bapak setelah mengunjungi Lampung lagi?

Saya penasaran selain untuk meninjau proyek jalan tol apakah ada obrolan lain dengan pemerintah daerah kami tentang –mungkin—swasembada pangan, proyek perkebunan, atau mungkin bapak berbagi ide bagaimana caranya supaya listrik di Lampung tidak byar pet terus-terusan.

Bapak kemarin lewat jalan mana? Ketemu macet enggak? Beginilah Lampung, Pak. Jalannya gak selebar Jakarta. Sudah begitu, padat oleh mobil dan motor. Bapak tentu tidak merasakan kemacetan karena Paspamres, polisi, dan satpol PP sudah menyisir jalan lebih dulu. Dramatis pak, sama dramatisnya ketika Bapak naik kapal feri Bakauheni-Merak hanya dalam waktu satu jam padahal waktu normal tiga jam.

Sekali lagi, Bapak lewat jalan mana? Ketemu perkebunan kah? Bapak tentu tidak perlu merasakan takut kena begal. Selain bapak dikawal oleh Paspamres, di benak Bapak membayangkan kalau jalanan di sini aman seperti ketika Bapak melewati Alas Roban atau hutan jati di Ngawi.

Padahal, Pak, saya takut sekali kalau melintasi kebun karet atau sawit. Saya takut sekali kena begal. Malu saya berterus terang begini tapi harus saya curhatkan. Saya menyimpulkan dari cerita-cerita teman saya, kejadian pembegalan cenderung meningkat saat harga karet dan sawit turun. Tahu kenapa kan pak?

Kami yang hidup dari buruh perkebunan hanya punya satu sumur mata pencarian. Kalau yang satu-satunya ini sudah menipis apalagi sampai kering, kami harus bagaimana lagi. Yang masih punya iman tentu meyakini kalau Gusti Allah mahakaya. Tapi kan iman itu naik dan turun.

Bapak kan bisnisman tentu tahu betapa pentingnya keamanan bagi pertumbuhan ekonomi. Lampung itu kaya dengan hasil kebunnya pak. Kopi, lada, kakao, sawit, dan karet. Yang air-air juga ada Pak. Tambak udang di mesuji dan rawajitu itu gede banget. Pajaknya sangat potensial untuk mengisi rekening kas negara. Belum lagi pantai-pantainya. Yang masih ramai saat ini adalah pantai-pantai di Pesisir Barat dan Teluk Kiluan.

Kalau masyarakat masih was-was dengan keamanan, bagaimana mereka akan bercocok tanam, mana bisa mereka menjadwalkan liburan pariwisata. Mendingan di rumah, Pak.

Tolong pak, tolong jangan menjawab kalau sudah ada mentri yang menangani sawah dan kebun, sudah ada mentri yang menangani pariwisata, sudah ada ibu cantik yang menangani laut, sudah ada polisi yang menangani keamanan. Jangan sampai jawaban seperti itu meluncur dari bibirmu, Pak.

Kami yang tak punya sawah dan ladang mencoba usaha rumahan. Membuat selendang dan sarung tapis, kripik pisang, sablon, foto kopi, PS, rental internet, jasa ketik, jasa pijet, tukang perbaikan peralatan eletronik, dan lainnya. Tapi apalah arti semua itu kalau listrik byar pet.

Saya malu sekali kalau ada teman dari Jawa singgah di rumah. Teman saya berdecak kagum melihat bendungan Batu Tegi yang diresmikan ibu Bapak, Ibu Megawati. Bagaimana saya tidak malu, sudah punya bendungan pembangkit listrik segede itu tapi tetep saja byar pet. Listriknya malah dialirkan ke Palembang. Lalu, Tarakan bisa apa?

Jadi, kalau kunjungan Bapak kali ini hanya untuk meninjau pembangunan jalan tol, saya katakan Bapak jelas-jelas menjadi pemimpin yang merugi. Maaf, pak, saya harus berterus terang begini.

Monday, 5 October 2015

Kue Lupis dan Kesejahteraan Bangsa

- No comments

Pagi ini saya menemani isteri ke pasar, belanja keperluan untuk anak pertama kami, dan kalian pasti bisa menduga-duga betapa kami menjadi pasangan yang bahagia. Mengagumkan. Tapi ada kekaguman lain yang luput dan saya temukan pagi ini.

Kue ini, di Jawa Timur sana, disebut kue lupis. Berbahan dasar beras ketan yang dikukus terus ditaburi ampas dan disiram gula merah yang dicairkan. Kalian bisa cari resepnya lalu mencoba sendiri di rumah.

Istimewanya di mana? Ada di tengah-tengah pasar Koga, di depan toko plastik diapit antara gudang dan penjual pakaian. Kue ini dijajakan oleh perempuan tua, tak bisa kukira-kira umurnya, dengan kebaya hijau dan bersanggul. Bodohnya saya tidak membawa kamera atau memotret menggunakan handphone.

Politik negeri ini boleh jungkir balik tidak karuan tapi selama yang muda masih bisa menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, kita tetap bahagia. Apalagi kalau beras ketan dan gula merah tidak tiba-tiba menghilang. Eyang berkebaya hijau dan bersanggul itu masih bisa membuat lupis dan dijajakkan di pasar Koga.

Ada puluhan, ratusan, dan ribuan manusia di negeri ini yang hidup tak mengaduh. Mereka bekerja (coret kata bekerja dan ganti dengan berkarya) untuk kehidupan. Apa untungnya menjual kue lupis di celah sempit antara gudang dan toko baju, duduk di atas dingkelik dan bermeja anyaman bambu? Kalau kalian pernah memberi dengan tulus maka kalian akan merasakan keuntungan menjual kue lupis.

Pak presiden mungkin memang norak ketika memberi instruksi kepada jajarannya kalau rapat tidak usah beli snack macam-macam, cukup kue singkong saja. Anggaplah pak presiden ingin mengangkat ekonomi menengah ke bawah. Kalau memang begitu sebaiknya langkahnya bukan sekedar memborong produknya saja tapi coba sawah-sawah jangan ditanami beton, bangunlah irigasi supaya subuh ladang dan sawah.

Jangan salah, orang-orang pedesaan yang hidup di lereng pegunungan tak butuh apa-apa dari luar sana. Kalianlah yang butuh mereka. Hanya saja akhir-akhir ini mereka, para petani, ikut-ikutan bingun seperti pada pemimpin di parlemen dan pemerintahan. Mereka dibawa-bawa ke dalam catur perpolitikan dan ngenesnya hanya diatasnamakan saja.

Aha, kemarin undang-undang desa sudah diketok. Kita doakan saja semoga gema ketokannya betul-betul merambat sampai ke pedesaan.

Kue lupis hanya sebagian dari tradisi lama yang semakin tergerus sejak lama. Padahal masih ada klepon, gethuk lindri, otak-otak, dan banyak lagi. Kalau tiba-tiba ada kudeta pemerintahan jajanan ini akan tetep enak dinikmati.

Tuesday, 25 August 2015

Ruang Sunyi

- No comments
Ruang Sunyi

 Terciptanya ruang dan waktu dalam kehidupan manusia telah memberi banyak kesempatan bagi manusia untuk menimang dan merencanakan apa yang akan dilakukan. Adanya ruang dan waktu menjadikan manusia mampu membuat tolok ukur keberhasilan dan target-taget. Dalam ruang dan waktu manusia membaca dan menciptakan sejarah masing-masing.

Ternyata, bukan hanya jasad dan fisik yang membutuhkan ruang dan waktu, namun juga jiwa, psikis manusia, pun membutuhkan sebuah "ruang sunyi". Dalam "ruang sunyi" itu ia beristirahat. Dalam ruang sunyi itu ia menangkap spirit dari pengalaman indrawi jasadi.

Sekarang, era millenium, manusia telah berhasil membongkar dan melipat ruang dan waktu. Lonjakan besar dalam dunia materi membuat semua orang(-awam) terpana. Lonjakan-lonjakan sain, teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola hidup dan kultur budaya manusia. Sekaligus lonjakan-lonjakan tersebut mengukuhkan pandangan materialisme dan kapitalisme. Dunia mengalami perkembangan yang tidak mentolelir. Kreasi yang menindas. Orang semakin banyak yang stress. Moral tidak lagi jadi pijakan. Agama tidak mampu memberi jawaban. Spiritual yang dulunya dijadikan jalan hidup, kini jadi komoditi produk karen aspiritual jadi pelarian yang nikmat. Budaya konsum membabat habis rasa empati dan memunculkan persaingan baru.

Jiwa manusia melayang entah kemana. Ia tidak lagi punya ruang di dalam jasad yang dihuninya. Ia tidak bisa lagi membaca. Jasad tubuh tidak lagi menjadi manusia sebagai khalifah -hasil perjanjian antara Khaliq dan ruh untuk menyebarkan kemashlahatan di muka bumi- dan memilih menjadi budak fikiran dan teknologi yang berhasil dikembangkannya.

Padahal, kematangan spiritual -spiritual bukan agama- yang mampu mengendalikan keneringasan jasad dan nafsu. Spirituallah yang mengajarkan dan menuntun kaki berpijak. Manusia lelah. Jiwanya pun lelah. Yang dilihat kasat mata ini hanyalah pelarian bodoh; frustasi.

Ada sebuah kisah. Seorang nenek yang beristirahat dari aktifitasnya dengan membersihkan halaman masjid. Setiap sore ia menyapu seluruhnya hingga tidak ada lagi sampah di sana. Ia melakukan itu sudah sangat lama. Suatu hari, seseorang mencari pengganti untuk membersihkan halaman masjid karena menurut orang tersebut, nenek itu sudah terlalu renta untuk melakukan tugas itu. Nyatanya, nenek tersebut menangis, sedih, karena "ruang" yang ia butuhkan selama ini telah diambil orang lain.
"Ruang sunyi" itu yang kini kita butuhkan. [ ]
 
Selasa, 6 Mei 2009

Ingin Menjadi Sempurna? Menjomblo Bisa Jadi Alternatif

- No comments

Tulisan ini saya khususkan untuk lelaki jomblo meskipun tidak ada larangan bagi wanita jomblo untuk ikut membaca. 

Pacaran bukanlah sekedar jalan ke sana kemari, bergandengria di ruang publik atau tempat wisata. Pacaran merupakan proses sosialisasi “bilateral” antar dua individu. Mereka diikat oleh komintmen-komitmen untuk saling dukung dan saling menguntung, bukan hanya perkara-perkara yang bersifat fisik dan materi tetapi juga yang terkait dengan psikologis, emosi, bahkan spritual. Makanya, pacaran yang positif akan berlanjut pada pacaran yang produktif.

Sayangnya, statusnya masih sekedar pacar. Selain diikat oleh komitmen-komitmen, mereka juga dibatasi oleh norma-norma. Sekali duakali norma yang berlaku di masyarakat diterabas dan ditabrak dengan mesin ketidaksopanan maka siap-siaplah ditikam oleh mata-mata yang tajam. Karena aktifitas pacaran yang sering kita temui di sekitar kita tidak hanya duduk berhadap-hadapan, tetapi sudah berdampingan dan bersandaran; bukan hanya tangan bertemu tangan tetapi sudah melangkah lebih jauh ke depan; duduk berduaan di teras halaman akan dianggap ketinggalan makanya mereka mencari café-café atau duduk di tempat gelap berdua-duaan.

Maka saran saya, menikahlah.

Menikah juga bukan sekedar penghalal atas ciuman dan pelukan, atau cumbu mesra yang mengenakkan. Menikah lebih menyerupai komitmen absurd dimana kedua belah pihak harus saling mendukung dan berbagi, saling mendukung dan menguatkan, senasib dan sepenanggungan. Hampir mirip dengan perusahaan lah dalam menjalin kerjasama antar instansi. Yang membedakan hanya sesuatu yang sangat absurd yang akan susah dipahami oleh para jomblo. Sesuatu itu bernama cinta.

Menikah adalah sebuah jalan menuju ke kesempurnaan. Si istri mendukung si suami dalam mengarungi hidup karena di luar sana terhampar dunia antah berantah yang kejam dan gelap, hanya semburat cahya kecil yang bermunculan—yang membutuhkan mata yang suci untuk menangkap petandanya, dan si suami membutuhkan dukungan untuk tetap kuat berdiri di dunia yang gelap dan gemerlap ini. Sebagai imbalan, si suami memberikan rasa nyaman dan aman karena itulah yang dibutuhkan oleh para wanita: nyaman membelanjakan penghasilan suami.

Konsep ini susah dipahami oleh lelaki jomblo karena sebenarnya ini bukan konsep tetapi tesis kehidupan. Sifatnya laduni.


Tapi ada sebuah antitesa. Begini: Semua pernikahan adalah cara untuk mencapai kesempernaan hidup, lalu bagaimana kalau ada orang mampu mencapai kesempurnaan itu dengan cara tetap menjomblo?

Kalau mau jujur para jomblolah yang sangat mumpuni mencapai kesempurnaan menjadi manusia super. Dia mampu bertahan di bawah hujan, malam yang gelap. Untuk menikmati pagi, ia cukup ditemi kopi dan sebatang rokok. Teman-teman saya banyak yang tak mampu meningkatkan produktifitasnya karena berada di bawah bayang-bayang “istri menunggu di rumah”.

Betapa menyusahkannya kehidupan dalam ikatan pernikahan. Ada hak dan kewajiban. Bayangkan kalau hak istri tidak dipenuhi? Kecuali kamu tidak takut dosa. Bayangkan kalau ada kewajiban yang tidak ditunaikan?

Sesungguhnya, menjomblo adalah salah satu metode hidup untuk menghindari kezhaliman. Seorang jomblo memiliki jalan sunyi untuk mencapai pencapaiannya dalam kesempurnaan hidup. Mengingat, banyaknya kasus pacaran yang sebenarnya untuk kenikmatan syahwati belaka. Begitu pula dalam pernikahan.

Bagaimana dengan dirimu sendiri? Punya hepotesa sendiri? []

Saturday, 22 August 2015

Sehari(an) Mengajar Blogging

- No comments
Indah Hapsari sedang pusing :D

Kemarin seorang teman meminta saya untuk datang ke journalist club. Jangan dibayangkan kalau klub ini berisi para jurnalis hebat dari media massa. Klub ini adalah kumpulan para pegiat pena di sekolah. Untuk apa saya diminta datang ke sana? 

Saya tidak punya bakat menulis yang baik apalagi bakat jurnalis tapi saya punya sedikit ketekunan nguprek tampilan blog yang tidak dimiliki temen saya ini. Rupanya, ini yang coba dia manfaatkan.

Satu minggu yang akan datang, anak didik teman saya akan mengikuti lomba jurnalistik sekalian blogging competition yang diselenggarakan oleh salah satu sekolah favorit di kota kami. Tidak banyak anak SMA di sekolah kami yang suka dengan blogging dan ketika saya diminta untuk membimbing Indah Hapsari seperti melihat seseorang berjalan di tengah malam membawa obor.

Syukurlah, Indah sudah punya bekal tentang blogging. Syukurlah dia punya kemauan. Jadi tidak perlu lama untuk step by step mengkostumasi template. Dan ketika waktunya praktik dia langsung bisa buat blog ini untuk berekspresi.

Hah, selamat melaksanakan amanat Pramudya. Menulis adalah perjuangan. Bukan hanya memperjuangkan keberanianmu mengutarakan pendapat tapi juga berjuang memahami orang-orang yang memiliki perspektif yang berbeda.

Sunday, 19 July 2015

Kreatifitas Bermula dari 'Menjiplak'

- No comments

Jadi orang kok tidak kreatif, kerjaannya menjiplak dan mengutip.
Begitu kata seorang teman yang beberapa kali saya sodori catatan-catatan penting dari koran atau buku. Mendengar ucapannya saya jadi bingung mau menjawab bagaimana, bukan karena saya telak tidak bisa menanggapi tapi karena saya tidak tahu harus menjelaskan dari mana.

Memang tidak semua orang memiliki kreatif tinggi, tapi hanya sedikit sekali orang yang melompati hidup langsung pada proses kreatif. Karena saya bukan bagian dari orang yang melompati hidup langsung pada proses kreatif itu, maka saya memulainya dengan proses menjiplak dan mengutip. Ya, saya berharap suatu saat kreatifitas itu betul-betul terlahir dari jiwa saya yang hampa ini. Dan semoga benar terjadi.

Dosen saya pernah membiarkan mahasiswa yang menjiplak dan mengutip makalah orang lain seenaknya. Saya yang menyampaikan protes langsung justru tertegun karena mendengar jawabannya itu. Itu proses pembelajaran bagi dia hingga suatu saat dia akan benar-benar menulis makalah dengan kepala dan tangannya sendiri, jawabnya.

Suatu hari, saya melihat teman saya memberi tugas makalah kepada murid-muridnya. Ada muridnya yang menulis dengan kreatifitas dan informatif, dan ada juga yang seperti mahasiswa tadi, menjiplak seenaknya. Saking enaknya menjiplak sampai ia lupa mengganti latar belakangnya tentang pelajaran Biologi, padahal itu tugas Bahasa Indonesia.

Kebiasaan menjiplak dan mengutip masih saya lakukan sampai sekarang. Bedanya sekarang saya menjiplak dan mengutip lebih sopan dan enaknya dibagi bersama. Saya tulis referensinya lengkap di anotasi atau di footnote. Dengan begitu semua jadi enak; saya enak menjiplak, penulis asli juga merasa enak karena tidak dienyahkan ke kotak sampah, dan pembaca juga enak karena tahu kalau ternyata kepintaran saya selama ini berkarya sebenarnya dihasilkan dari proses jiplakisasi.

Saya teringat teman saya yang juga beberapa kali –tidak sering seperti saya- menjiplak sana sini. Tujuannya menjiplak adalah untuk melatih daya kreatifitasnya, membandingkan karyanya dengan karya orang lain, lalu ia menulis sesuatu yang baru. Inilah kreasi saya, rekreasi dari kreasi sebelumnya. Kadang tampak seperti mimetik. Tak apalah yang penting saya sudah melakukan aktualisasi. Begitu katanya.

Tapi saya kok gak bisa seperti itu ya. Selalu stagnan. Mungkin ada benarnya nasehat ayah. Jatuh cintalah, maka kau akan menjadi orang paling kreatif dalam masa-masa hidupmu.

Minggu, 30 Oktober 2011