Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, 10 January 2016

YA RASULULLAH, DATANGILAH KAMI

- No comments

Ya Rasulallöh, Ya habiballöh
Sudikah kiranya Engkau tunjukkan wajahmu yang teduh itu kepada ummatmu ini
yang semakin hari semakin gemar bertikai
memperebutkan kebenaran atas ajaran yang Engkau sampaikan ribuan tahun silam
agar turut teduh wajah kami
damai hati kami
lembut suara kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Adakah tanda-tanda kemenangan bagi kami dalam berjihad melawan hafwa nafsu kami sendiri
sementara dua pusaka yang Engkau wariskan kepada kami tak lebih hanya menjadi hiasan dinding di ruang tamu yang mengundang decak kagum ummatmu yang datang berkunjung
potongan kitab sucimu diukir menjadi kaligrafi dengan bingkai kuningan atau kayu pilihan
sunnahmu ditenggak-tegakkan padahal ia semakin miring dan menunggu saatnya jatuh tersungkur ke kubangan

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Menangiskah Engkau ketika ummatmu terpecah menjadi firqoh-firqoh
dari Washil bin Atho’ hingga Ja’ad bin Dirham
dari khawarij hingga Murji’ah
dari Ahlussunnah hingga Syiáh
ataukah justru air matamu tak kunjung berhenti hingga kini?

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Siapa di antar kami yang benar-benar mengikuti sunnahmu?
di antara kami yang mengikuti tampilan zahirmu atau di antara kami yang menyembunyikan pelajaran hikmahmu
datangi tidur malam kami
atau titipkan melalui mereka yang terbuka mata bashirohnya
yang terkantuk-kantuk di atas sajadahnya
yang lebih mencintai malamnya daripada siangnya
yang bersyukur kala terang dan bersabar kala gelap
yang di tangannya tergenggam ajaran kasih sayang

Kalau Engkau tak pula sudi,
utuslah Abu Bakar, sahabat terkasihmu, untuk menasihati kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Shalawat dan salam atasmu
Semoga kelancangaku tak menjauhkan syafa’atmu

2015
.

Sunday, 19 July 2015

Tamu di Pagi Hari

- 1 comment

Ini pagi kenapa terasa beda sekali
Sehabis bangun dari mimpi ada tamu datang menghampiri
Sayangnya ia malas berkata-kata
Kusediakan saja kertas dan pena
Namun ia mengkoyaknya

Tamuku suka sekali daun telinga
Kuceritakan saja tentang hari esok
Kuhidangkan juga secangkir pop
Tapi di ujung cerita tiba-tiba ia membacakan puisi Rendra

“Itu lagi itu lagi. Apa tidak ada yang lain?” tanyaku
“Kau juga, lagi-lagi itu. Apa yang lain tidak ada?” jawabnya
Lalu ia pulang ke yang paling dalam

Kalau esok ia berkunjung lagi
Ia harus membayar selembar kertas yang dikoyaknya


Ruang Sunyi, 24 April 2010

Air Terjun Kecil dengan Pelangi Kecil

- No comments

Pelangi kecil yang sering tampak di air terjun kecil lenyap
Kami pikir karena sinar matahari terhalangi bunga-bunga di tebing sungai

Air terjun kecil dengan pelangi kecil sering kali membuat orang tertarik berkunjung
Bentuknya melengkung dengan sebelas warna
Kalau dilihat dari sisi luar ia tampak kecil
Tapi kalau kau melihat dari bawah air terjun kecil kau akan dipenuhi warna pelangi
Mereka yang datang juga mengambil sebanyak mungkin air segar yang jatuh dari langit
Ada yang hanya ingin menghilangkan rasa dahaga
Ada pula yang ingin sakti mandraguna
Selain untuk dirinya sendiri, ternyata mereka membaginya di kampung halaman
Di trotoat dan juga jalan-jalan

Lalu makin banyak pula yang datang menimba air di air terjun kecil dengan pelangi kecil
Beberapa orang yang datang mulai melihat keindahan bunga-bunga yang ada di sekitar air terjun
Pertama-tama melihat keindahannya
Lalu menceritakan kepada tetangga
Anak tetangga juga datang ke air terjun kecil dan membenarkan keindahan bunga-bunganya
Siang mereka mereka meneguk air di telaga
Sore mereka memandang bunga-bunga

Air terjun kecil tak memperdulikan pelangi kecil
Ia hanya meneruskan menghantarkan air mengaliri telaga
Untuk menghidupi segalanya; rumput, pepohonan, bahkan bunga-bunga
Air terjun kecil tak ditemani lagi oleh pelangi kecil
Apa mungkin karena sinar matahari terhalang oleh bunga-bunga di tebing sungai?

Bandar Lampung, 15 Mei 2010

Hirarki Cinta

- No comments


buah dada adalah hati
buah hati adalah cinta
buah cinta adalah anak
buah anak adalah sebilah mata pisau

Malang, 2004

Hari Ini Bising Sekali

- No comments

Hari ini bising sekali
oleh suara hasrat-hasrat yang kian menggeliat, dendam-dendam yang selalu mengganyang, dan ribuan butiran nafsu yang entah kapan mampu dibelenggu
Pagi dimulai dengan panas, siang dilalui dengan panas, dan sore mengakhirinya dengan panas. Hujan wahyu yang berabad-abad lalu mengguyur bumi mampat di kepala tak pernah turun ke hati.

Esok pun, bumi akan kembali bising
karena sabda-sabda nabi selalu melewati telinga kiri
tujuh wali entah mengembara kemana, auranya seperti luluh disergap gagap gempita dunia.

Ataukah mungkin hanya aku yang kalah, salah dalam memahami amanah-amanah.
Ya Allah, kalau memang telingaku telah rapat tersumbat, keran fikiranku telah tertutup mampat, semoga Engkau tetap membuka pintu hatiku.

5 Sya'ban

Tuesday, 16 June 2015

Tempat Pergi Tempat Kembali

- No comments



apa kabar catatan harianku?
akhir-akhir ini aku begitu rakus: rakus waktu, rakus kesenangan 
dan tak kusisakan sedikitpun untukmu 

kau lelah menunggu?
rupanya kau tetap setulus dulu: menungguku menghampirimu
kau tahu, bukan, kuhampiri kau ketika aku lelah
dan jawabanmu selalu sama: ketulusan akan membuahkan akhir yang indah

kau jawab itu supaya aku tak pergi atau kau memang ingin berkata demikian
karena bagaimanapun juga, nanti atau esok hari, aku pasti pergi
dan kau kembali pada penantianmu
kalau aku ingat aku akan kembali
tapi bagaimana kau aku lupa
hah, memang benar, selama ini pada akhirnya aku kembali

jangan kau ajari aku tentang ketulusan seperti yang kau lakukan
jangan 
saya masih ingin membohongi diriku sendiri 
karena ini alasanku untuk selalu kembali

Tuesday, 19 May 2015

Dua Puisi

- No comments

kau pergilah sayang. tak usah sematkan lagi senyummu. seharusnya kau malu pada mentari.

bergetar hati membaca pesan singkatmu
aku takjub karena baru kali ini kau berhasil buat hatiku cemburu
ah, mentari tidak hanya datang menerangi dirimu saja kau
hanya kegeeran
kau hanya cari alasan saja kan
supaya aku menjauh dari dirimu supaya kau bisa mengukur rasa cinta dan rindumu

datanglah sayang.
tak usah kau cemberutkan lagi wajahmu yang ayu
mentari seharusnya yang malu karena selalu mengintip puisi-puisiku untukmu.
pesan terkirim

- - - -

sebelum fajar berpijar kuingin terangkan pagimu dengan sapaku.

semakin muak kubaca permainan katamu
aku hanya mendambakan kedatanganmu menjemputku mengarungi malam untuk mengeja bintang
bukan buaian kata yang maksudnya entah tersembunyi di mana
sudahlah sayang, kau bukukan saja gombalanmu itu lalu kirimkan royaltinya ke rekeningku aku jamin aku bahagia.

berhentilah berpuisi.
puisi-puisimu tak mampu menandingi diriku.
pesan terkirim.

Bandarlampung, 15 Januari 2011

Wednesday, 13 May 2015

Liburan Sekolah

- 1 comment


(1)
Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.


Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”

(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin es teh atau es jeruk. Bisa sekalian untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu tiba-tiba ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”

(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guru
yang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan. Tidak dengan kerupuk,
tapi dengan beberapa biji buah rambutan yang dipetik adik kelasku itu
dan diberikannya kepadaku, katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi, siapa tahu
bisa bertemu kembali dengan si dia. Ah, terlambat. Kulihat ia
keluar dari warung bersama entah siapa. Mereka jalan bersama
dengan mesra sambil ketawa-ketawa. Aku bengong, terpana.
Ia menoleh ke aku, matanya melirik dengan cemerlang, tapi tatapannya
tak sanggup lagi menembus mataku, bahkan seyum manisnya
telah mengubah hatiku menjadi sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku
di sampingnya juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala,
tapi aku keburu balik kanan, pulang. Pulang dengan nelangsa.

Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran
di pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
sajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.


Dikutip dari http://jokopinurbo.com

Tuesday, 12 March 2013

Kau yang Menjauh dari Tepi Jendela

- No comments

Sudah mengering dan mengeras yang di dalam hati
Hampir lumat senyummu yang pernah berseri
Kau dulu senang duduk di tepi jendela dengan kaca yang terbuka selebar mata
Sesekali tersenyum sambil membuang nafas panjangmu yang kau hidup untuk kehidupan
Mereka tersenyum padaku, katamu
Padahal kau lah yang ternyum untuk mereka
Sekarang kau duduk agak menjauh
Sehasta demi sehasta
Takutmu menjadi tampak jelas terlihat di mata
Kehidupan menceritakan dukanya padaku. Melalui hembusan angin ia berbicara, ucapmu
Padahal kaulah yang melihat duka itu melalui matamu lalu kau ceritakan padanya
Hembus angin itu adalah damai yang ingin menghempas takut dalam hatimu
Dan akhirnya kau benar-benar tidak lagi berani duduk di tepi jendela
Aku tak mau lagi mendengar cerita-cerita duka, katamu
Padahal kaulah yang terus-terusan menceritakan duka
Tidak lagi melalui mata kau pun bercerita melalui tanganmu dan keberingasanmu

.

Monday, 12 July 2010

Selamat Datang Sya'ban

- No comments

tidak terasa sudah di bibir Sya'ban
bulan yang baik untuk kembali membuka firman-firman
seperti tahun-tahun sebelumnya
ayat-ayat suci akan dikumandangkan dari menara secara bergantian

rupanya, kau pun harus kembali menghafal doa-doa
menundukkan pandangan mata
memahami maknanya
serta mengangkat tinggi-tinggi tanganmu di atas kepala
supaya orang-orang yang berbuka puasa bersama bisa mengamini dengan gegap gempita

bangunmu dipagikan
tidurmu dimalamkan
shalatmu dikhusyu'kan
dzikirmu dilamakan:
bertasbih, bertahmid, bertakbir
lalu diakhiri dengan tahlil dan istighfar

sudah saatnya kau belajar menangis
renungkanlah dosa-dosa, takutlah siksa
sehingga pipimu bisa kau basahi dengan air mata
namun kalau tak bisa
kau bisa pura-pura menangis
usapkan bawang merah dekat alis
atau cukup dengan meringis

kau sudah di bibir Sya'ban
saat yang tepat meminta ampunan
ketika datang Ramadhan
kau sudah bersih jiwa dan badan
amin 


27 Rajab 1431