Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts
Showing posts with label Jejak Langkah. Show all posts

Thursday, 24 December 2015

MAULID NABI DAN EKSPRESI MASSAL KECINTAAN KEPADA RASULULLAH

- No comments
Sumber: http://www.madeenah.com/

Memperingati maulid nabi adalah bentuk ekspresi kecintaan secara massal kepada junjungan tercinta, Rasulullah Saw.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa peringata seperti ini adalah bid’ah. Bahkan ada yang tega menanyakan dalilnya. Maka saya katakan kepada mereka: Ya, ini memang bid’ah. Terus kenapa?

Pemaknaan saya atas kata bid’ah adalah kreatifitas. Acara memperingati kelahiran nabi tercinta yang dipenuhi dengan bacaan shalawat, senandung syair yang romantis dan menggetarkan hati, cerita-cerita tentang Rasulullah yang menyentuh, adalah bentuk kreatifitas yang sangat agung dalam rangka mengekspresikan cinta pada Rasulullah.

Seperti dalam Hari Guru, kita memanfaatkan momentum ini untuk mengenang guru-guru kita yang sangat banyak jasanya membentuk kepribadian kita hingga menjadi seperti ini. Tak cukup dengan mengenang mereka, kita pun—adakalanya—mengunjungi mereka atau setidaknya merapalkan doa-doa kepada mereka, doa yang mereka ajarkan kepada kita. Begitu juga dalam hari Ibu, hari Pahlawan, dan peringatan hari-hari lainnya.

Apakah untuk melakukannya harus di hari yang ditentukan itu? Tentu tidak. Kita bisa melakukannya kapan saja. Hari itu hanyalah momentum untuk me-recharge. Seperti halnya Ramadhan sebagai momentum untuk me-recharge diri kita menghadapi sebelas bulan setelahnya.


Ada yang cemburu kepada para pecinta Rasulullah seperti kita ini. Mereka cemburu bagaimana bisa orang mencintai dengan begitu tulus dan romantis, merasakan kerinduan yang mendalam? Dan kita bisa melihat para pecemburu itu, mereka akan melakukan banyak hal karena posesifitasnya sehingga mereka tega melontarkan kata bid’ah.

Kalau ditanya mana dalilnya? Mana anjuran atau perbuatan yang merujuk pada pelaksanaan peringatan Maulid?

Untuk mengungkapkan rasa cinta kau tak perlu dalil, seperti ketika kau inign menolong seseorang tak perlu kau tanyakan apa agamanya. Dalil-dalil hukum itu jauh berada di bawah tataran etika. Kau bicara dalil hukum maka kau bicara tentang benar dan salah. Kau bicara nilai etis maka kau bicara baik dan buruk.

Lagi pula, maulid nabi bukanlah ibadah (ubudiyyah). Ini adalah bentuk budaya halus para ummat yang merindukan kehadirannya. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan menara (manaroh) yang diadopsi dari Persia yang Majusi itu. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan kubah yang diadopsi dari bangunan-bangun gereja di Romawi yang Nasrani itu. Apa salahnya?

Padahal ada satu jurus jitu supaya aktifitas yang tampak biasa-biasa saja bisa berubah menjadi nilai ibadah yang luar biasa.

Kita membersihkan halaman rumah, menyapu misalnya, pekerjaan ini kan menjadi pekerjaan biasa saja. Tetapi kala kita mengawalinya dengan membaca basmalah maka jadilah aktifitas menyapu ini menjadi nilai ibadah. Sebalik, yang tampak seperti ibadah kalau tak diawali dengan basmalah maka jadilah ia sekedar aktifitas buang-buang tenaga.

Ah, mereka yang terbiasa berbuat sesuatu di atas dalil-dalil tentu tahu dalil—sabda nabi—tentang basmalah ini.


Saya melihat terdapat paradoks dalam mengekspresikan relijiusitas kita. Ada yang mengaku mencintai Rasulullah dengan tulus tapi untuk mengikuti sunnahnya masih pilah-pilih. Mengikuti jalan hidup beliau bukan melulu tentang ibadah yang lima waktu itu, atau tentang rukun islam yang lima itu. Masih ada yang lain: mencintai kaum dlu’afa dan yatim, hidup bersahaja, ramah kepada sesama manusia.

Bukankah kita pernah membaca kisah menakjubkan Abu Bakar yang ingin meniru jalan hidup Rasulullah ternyata belum ada apa-apanya. Saat ia mendatangi seorang Yahudi buta di pasar, memah roti lalu disuapkan, ia tak habis pikir bagaimana Rasulullah bisa sesabar itu hingga akhir hayatnya, berbuat derma kepada non-muslim meskipun ia memberci dan mencercanya.

Dalam keadaan marah, kadang saya menjawab: Kalau kamu benar mencintai Rasulullah, seharusnya kamu tanggalkan pakaian mewahmu, singkirkan kasur empukmu, miskinkan dirimu hanya dengan mengambil apa yang cukup untuk hari ini saja.

Ada kalanya juga ingin menelisik kadar pengatahuannya, tahukah makna sunnah? Atau jangan-jangan masih menyamakan arti sunnah dan hadits? Kalau demikian, perlulah kita belajar lagi apa sunnah dan hadits, secara terminologis dan juga epistemologis (lughotan wa ishtilahan).

Kok, saya lalu curiga. Jangan-jangan mereka yang membid’ahkan ekspresi cinta ini tidak pernah benar-benar membaca maulid diba’, shimthut dluror, atau lainnya.


Banyak cara mengekspresikan rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah. Ada yang merindukannya dengan cara mengikuti jalan hidupnya (sunnah) semampunya. Ada yang merindukannya dengan cara memanggil-manggil namanya. Ada pula yang mempelajari sejarah hidupnya.

Allah menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi karena seluruh alam semesta, bahkan malaikan dan Dirinya sendiri pun bershalawat kepada Nabi. Hanya saja dalam ayat itu tidak dijelaskan apakah bershalawat dengan cara duduk, berdiri, sendiri-sendiri atau berjamaah.

Allohummu sholli álä muhammad.

Monday, 9 November 2015

PAK WID, APA HASIL KUNJUNGAN BAPAK KE LAMPUNG?

- No comments
Presiden Joko Widodo meninjau pembanguan ruas tol Trans Sumatera. Tampak di foto Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (berbatik biru) turut mendampingi Presiden. (Sumber gambar dari Kompas.com)
Apa kabar pak Wid? Bagaimana kesan bapak setelah mengunjungi Lampung lagi?

Saya penasaran selain untuk meninjau proyek jalan tol apakah ada obrolan lain dengan pemerintah daerah kami tentang –mungkin—swasembada pangan, proyek perkebunan, atau mungkin bapak berbagi ide bagaimana caranya supaya listrik di Lampung tidak byar pet terus-terusan.

Bapak kemarin lewat jalan mana? Ketemu macet enggak? Beginilah Lampung, Pak. Jalannya gak selebar Jakarta. Sudah begitu, padat oleh mobil dan motor. Bapak tentu tidak merasakan kemacetan karena Paspamres, polisi, dan satpol PP sudah menyisir jalan lebih dulu. Dramatis pak, sama dramatisnya ketika Bapak naik kapal feri Bakauheni-Merak hanya dalam waktu satu jam padahal waktu normal tiga jam.

Sekali lagi, Bapak lewat jalan mana? Ketemu perkebunan kah? Bapak tentu tidak perlu merasakan takut kena begal. Selain bapak dikawal oleh Paspamres, di benak Bapak membayangkan kalau jalanan di sini aman seperti ketika Bapak melewati Alas Roban atau hutan jati di Ngawi.

Padahal, Pak, saya takut sekali kalau melintasi kebun karet atau sawit. Saya takut sekali kena begal. Malu saya berterus terang begini tapi harus saya curhatkan. Saya menyimpulkan dari cerita-cerita teman saya, kejadian pembegalan cenderung meningkat saat harga karet dan sawit turun. Tahu kenapa kan pak?

Kami yang hidup dari buruh perkebunan hanya punya satu sumur mata pencarian. Kalau yang satu-satunya ini sudah menipis apalagi sampai kering, kami harus bagaimana lagi. Yang masih punya iman tentu meyakini kalau Gusti Allah mahakaya. Tapi kan iman itu naik dan turun.

Bapak kan bisnisman tentu tahu betapa pentingnya keamanan bagi pertumbuhan ekonomi. Lampung itu kaya dengan hasil kebunnya pak. Kopi, lada, kakao, sawit, dan karet. Yang air-air juga ada Pak. Tambak udang di mesuji dan rawajitu itu gede banget. Pajaknya sangat potensial untuk mengisi rekening kas negara. Belum lagi pantai-pantainya. Yang masih ramai saat ini adalah pantai-pantai di Pesisir Barat dan Teluk Kiluan.

Kalau masyarakat masih was-was dengan keamanan, bagaimana mereka akan bercocok tanam, mana bisa mereka menjadwalkan liburan pariwisata. Mendingan di rumah, Pak.

Tolong pak, tolong jangan menjawab kalau sudah ada mentri yang menangani sawah dan kebun, sudah ada mentri yang menangani pariwisata, sudah ada ibu cantik yang menangani laut, sudah ada polisi yang menangani keamanan. Jangan sampai jawaban seperti itu meluncur dari bibirmu, Pak.

Kami yang tak punya sawah dan ladang mencoba usaha rumahan. Membuat selendang dan sarung tapis, kripik pisang, sablon, foto kopi, PS, rental internet, jasa ketik, jasa pijet, tukang perbaikan peralatan eletronik, dan lainnya. Tapi apalah arti semua itu kalau listrik byar pet.

Saya malu sekali kalau ada teman dari Jawa singgah di rumah. Teman saya berdecak kagum melihat bendungan Batu Tegi yang diresmikan ibu Bapak, Ibu Megawati. Bagaimana saya tidak malu, sudah punya bendungan pembangkit listrik segede itu tapi tetep saja byar pet. Listriknya malah dialirkan ke Palembang. Lalu, Tarakan bisa apa?

Jadi, kalau kunjungan Bapak kali ini hanya untuk meninjau pembangunan jalan tol, saya katakan Bapak jelas-jelas menjadi pemimpin yang merugi. Maaf, pak, saya harus berterus terang begini.

Wednesday, 16 September 2015

Menjadi Ustadz SK

- No comments

Karena saya mengajar di sekolah Islam maka saya dan juga teman-teman lainnya harus memiliki kemampuan membaca Alquran. Seharusnys tidak hanya karena mengajar di sekolah Islam, mengajar atau tidak, di sekolah Islam atau bukan, tetap saja seorang muslim harus mampu membaca Alqurán.

Teman saya antusias sekali ketika ditunjuk untuk membimbing anak-anak dalam membaca Alqurán. Tak cukup sampai di situ, teman saya ini membawa-bawa saya supaya turut membantunya mengajar. “Bacaannya bagus. Saya pernah mendengarnya membaca Alquran sekali.”Begitu kata temannya saya.

Maka, mulai tahun ini saya mengajar—sekaligus membimbing—anak-anak dalam membaca Alqurán. Tapi saya mengajukan satu syarat: jangan panggil saya dengan sebutan ustadz.

Dua hari pertama, saya melakukan orientasi. Saya bingung bagaimana cara mengajari anak-anak membaca Alqurán. Saya bingung, anak-anak lebih bingung. Aha!! Saya siram dulu ah pake ice-breaking: cerita.

Saya ceritakan bagaimana kitab suci yang ada di tangan mereka ini dulu disusun; bagaimana Rasulullah dengan susah dan payah menerima dan menyampaikan wahyu; bagaiamana Zaid bin Tsabit dengan berat hati menerima perintah untuk mengkodifikasi mushaf-mushaf Alqurán yang tercecer di tangan-tangan sahabat; bagaiamana enam salinan Alquran dibagi ke gubernur-gubernur yang memegang tampuk kepemimpinan yang strategis; bagaimana dulu Alqurán ditulis tanda tanda-tanda harokat.

Antusias Anak Sebelum Setoran
Hingga diakhir cerita—yang sebenarnya lebih mirip ceramah—saya menekan nada suara saya untuk menyampaikan amanah cerita:

Sekarang kita tinggal membaca dan mempelajari Alquran, maka tekunilah dua aktifitas ini.

Saya menghidari peran sebagai ustadz, tapi ternyata berceramah ala ustadz menyenangkan. Pastas kalau tiba-tiba banyak bermunculan ustadz-ustadz. Dan saya menjadi ustadz SK. Maksud saya, saya jadi ustadz karena menerima SK dari pemimpin saya. Artinya, gelar ini bisa kapan saja dicabut.

Mumpung belum dicabut saya cerikan pengalaman asyik menjadi ustadz dadakan ini.

Ada anak yang hafalan juz amma bagus sekali. Tak hanya bagus tapi juga fasih. Saya manggut-manggut, semacam malu karena mengukur diri, melihat ketrampilan anak menghafal. Ini hasil jerih payah orangtua atau guru TPA di lingkungannya?

Ketika dulu saya belajar baca Alquran ya hanya baca Alquran. Pernah juga disuruh hafalan tapi tidak mau menghafal. Makanya kalau saya menjadi imam shalat, saya hanya bisa membaca surat qul saja. Itu lho tiga surat terakhir.

Karena ini baru bagi saya makanya saya mengajar seperti dulu saya menerima pelajarannya. Talaqqy. Satu persatu anak-anak maju membaca lembaran Iqro’. Kalau salah saya berdehem, kalau benar saya bilang guuud.

Saya sering dibuat GR oleh anak-anak. Pernah suatu hari saya tidak masuk kelas dan digantikan oleh guru lain dengan mata pelajaran lain. Mereka langsung huuuuu tidak antusias. Pernah saya menyela pelajaran baca Alquran dengan pelajaran menulis Arab dengan baik dan benar. Mereka pun langsung huuuu tidak antusias. Mereka lebih memilih belajar baca Alquran.

I’m surprised. Senang bukan main tapi saya juga penasaran kenapa mereka begitu antusias lebih memilih belajar baca Alquran. Jawaban mereka pun bikin saya mesem-mesem: “Kalau yang lain ngaji kita kan bisa mainan, pak.”Oh!

Tidak hanya itu, saya juga pernah dibuat tertawa kecil. Tentu sambil saya gelengkan kepala bukan kepalang. Dia baca hakyimi. Saya koreksi sampai tiga kali tapi tetep saja baca hakyimi. “Bukan hakyimi tapi hakiimi.”Kata saya. “Ya tah?!!”kata anak saya seperti tidak percaya.

Bagaimana pun juga pelajaran ini tetap harus berjalan. Namanya juga anak-anak. Saya dulu lebih nakal. Jadi, saya anggap ini cicilan karma. Mungkin kalau saya jadi ustadz ujian kesabaran saya akan lebih besar. []


Tuesday, 25 August 2015

Ruang Sunyi

- No comments
Ruang Sunyi

 Terciptanya ruang dan waktu dalam kehidupan manusia telah memberi banyak kesempatan bagi manusia untuk menimang dan merencanakan apa yang akan dilakukan. Adanya ruang dan waktu menjadikan manusia mampu membuat tolok ukur keberhasilan dan target-taget. Dalam ruang dan waktu manusia membaca dan menciptakan sejarah masing-masing.

Ternyata, bukan hanya jasad dan fisik yang membutuhkan ruang dan waktu, namun juga jiwa, psikis manusia, pun membutuhkan sebuah "ruang sunyi". Dalam "ruang sunyi" itu ia beristirahat. Dalam ruang sunyi itu ia menangkap spirit dari pengalaman indrawi jasadi.

Sekarang, era millenium, manusia telah berhasil membongkar dan melipat ruang dan waktu. Lonjakan besar dalam dunia materi membuat semua orang(-awam) terpana. Lonjakan-lonjakan sain, teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola hidup dan kultur budaya manusia. Sekaligus lonjakan-lonjakan tersebut mengukuhkan pandangan materialisme dan kapitalisme. Dunia mengalami perkembangan yang tidak mentolelir. Kreasi yang menindas. Orang semakin banyak yang stress. Moral tidak lagi jadi pijakan. Agama tidak mampu memberi jawaban. Spiritual yang dulunya dijadikan jalan hidup, kini jadi komoditi produk karen aspiritual jadi pelarian yang nikmat. Budaya konsum membabat habis rasa empati dan memunculkan persaingan baru.

Jiwa manusia melayang entah kemana. Ia tidak lagi punya ruang di dalam jasad yang dihuninya. Ia tidak bisa lagi membaca. Jasad tubuh tidak lagi menjadi manusia sebagai khalifah -hasil perjanjian antara Khaliq dan ruh untuk menyebarkan kemashlahatan di muka bumi- dan memilih menjadi budak fikiran dan teknologi yang berhasil dikembangkannya.

Padahal, kematangan spiritual -spiritual bukan agama- yang mampu mengendalikan keneringasan jasad dan nafsu. Spirituallah yang mengajarkan dan menuntun kaki berpijak. Manusia lelah. Jiwanya pun lelah. Yang dilihat kasat mata ini hanyalah pelarian bodoh; frustasi.

Ada sebuah kisah. Seorang nenek yang beristirahat dari aktifitasnya dengan membersihkan halaman masjid. Setiap sore ia menyapu seluruhnya hingga tidak ada lagi sampah di sana. Ia melakukan itu sudah sangat lama. Suatu hari, seseorang mencari pengganti untuk membersihkan halaman masjid karena menurut orang tersebut, nenek itu sudah terlalu renta untuk melakukan tugas itu. Nyatanya, nenek tersebut menangis, sedih, karena "ruang" yang ia butuhkan selama ini telah diambil orang lain.
"Ruang sunyi" itu yang kini kita butuhkan. [ ]
 
Selasa, 6 Mei 2009

Ingin Menjadi Sempurna? Menjomblo Bisa Jadi Alternatif

- No comments

Tulisan ini saya khususkan untuk lelaki jomblo meskipun tidak ada larangan bagi wanita jomblo untuk ikut membaca. 

Pacaran bukanlah sekedar jalan ke sana kemari, bergandengria di ruang publik atau tempat wisata. Pacaran merupakan proses sosialisasi “bilateral” antar dua individu. Mereka diikat oleh komintmen-komitmen untuk saling dukung dan saling menguntung, bukan hanya perkara-perkara yang bersifat fisik dan materi tetapi juga yang terkait dengan psikologis, emosi, bahkan spritual. Makanya, pacaran yang positif akan berlanjut pada pacaran yang produktif.

Sayangnya, statusnya masih sekedar pacar. Selain diikat oleh komitmen-komitmen, mereka juga dibatasi oleh norma-norma. Sekali duakali norma yang berlaku di masyarakat diterabas dan ditabrak dengan mesin ketidaksopanan maka siap-siaplah ditikam oleh mata-mata yang tajam. Karena aktifitas pacaran yang sering kita temui di sekitar kita tidak hanya duduk berhadap-hadapan, tetapi sudah berdampingan dan bersandaran; bukan hanya tangan bertemu tangan tetapi sudah melangkah lebih jauh ke depan; duduk berduaan di teras halaman akan dianggap ketinggalan makanya mereka mencari café-café atau duduk di tempat gelap berdua-duaan.

Maka saran saya, menikahlah.

Menikah juga bukan sekedar penghalal atas ciuman dan pelukan, atau cumbu mesra yang mengenakkan. Menikah lebih menyerupai komitmen absurd dimana kedua belah pihak harus saling mendukung dan berbagi, saling mendukung dan menguatkan, senasib dan sepenanggungan. Hampir mirip dengan perusahaan lah dalam menjalin kerjasama antar instansi. Yang membedakan hanya sesuatu yang sangat absurd yang akan susah dipahami oleh para jomblo. Sesuatu itu bernama cinta.

Menikah adalah sebuah jalan menuju ke kesempurnaan. Si istri mendukung si suami dalam mengarungi hidup karena di luar sana terhampar dunia antah berantah yang kejam dan gelap, hanya semburat cahya kecil yang bermunculan—yang membutuhkan mata yang suci untuk menangkap petandanya, dan si suami membutuhkan dukungan untuk tetap kuat berdiri di dunia yang gelap dan gemerlap ini. Sebagai imbalan, si suami memberikan rasa nyaman dan aman karena itulah yang dibutuhkan oleh para wanita: nyaman membelanjakan penghasilan suami.

Konsep ini susah dipahami oleh lelaki jomblo karena sebenarnya ini bukan konsep tetapi tesis kehidupan. Sifatnya laduni.


Tapi ada sebuah antitesa. Begini: Semua pernikahan adalah cara untuk mencapai kesempernaan hidup, lalu bagaimana kalau ada orang mampu mencapai kesempurnaan itu dengan cara tetap menjomblo?

Kalau mau jujur para jomblolah yang sangat mumpuni mencapai kesempurnaan menjadi manusia super. Dia mampu bertahan di bawah hujan, malam yang gelap. Untuk menikmati pagi, ia cukup ditemi kopi dan sebatang rokok. Teman-teman saya banyak yang tak mampu meningkatkan produktifitasnya karena berada di bawah bayang-bayang “istri menunggu di rumah”.

Betapa menyusahkannya kehidupan dalam ikatan pernikahan. Ada hak dan kewajiban. Bayangkan kalau hak istri tidak dipenuhi? Kecuali kamu tidak takut dosa. Bayangkan kalau ada kewajiban yang tidak ditunaikan?

Sesungguhnya, menjomblo adalah salah satu metode hidup untuk menghindari kezhaliman. Seorang jomblo memiliki jalan sunyi untuk mencapai pencapaiannya dalam kesempurnaan hidup. Mengingat, banyaknya kasus pacaran yang sebenarnya untuk kenikmatan syahwati belaka. Begitu pula dalam pernikahan.

Bagaimana dengan dirimu sendiri? Punya hepotesa sendiri? []

Tuesday, 7 July 2015

Kepemimpinanmu Didasari Kasih Sayang Keibuan atau Logika Isi Kepala?

- No comments


Saya hanya ingin menuliskan ulang apa yang saya baca. Mereduksi kembali. Sekedar untuk memudahkan saya mengingat apa yang baru saja baca dan pelajari. Catatan itu tentang sebuah kepemimpinan.

Ada beberapa tipologi kepemimpinan didasarkan pada akar katanya. Yang pertama, imam/imamah. Sikap memimpin yang dibarengi dengan sikap mengayomi, welas asih, mengorbankan diri sendiri untuk kepentingan yang dipimpin karena kasih  sayang. Dalam sholat, seorang imam harus mempersiapkan diri menanggung kesalahan (dosa) yang terjadi dalam shalat jamaah itu. Begitu juga dengan al-um,  yang berarti “ibu”, memiliki kasih sayang yang luar biasa dalam membimbing anak-anaknya dan mengorbankan kepentingan pribadi.  

Lihatlah, kedua kata itu –imam dan um- berawal dari akar kata yang sama alif dan mim. Bagi anda yang pernah mempelajari filologi (tashrif) bahasa Arab, tentu akan merasakan kedekatan makna yang lebih erat lagi.

Yang kedua; rais/riasah. Kata tersebut bermula dari akar kata ro a sa. Sebuah akar kata yang sama untuk “kepala” (ro’sun). Kepala adalah tempat (hardware) bagi logika, pemikiran, analisis, benar dan salah, untung dan rugi. Kalau yang pertama memiliki akar pondasi di dalam hati (sense), maka yang kedua ini lebih menggunakan pertimbangan data. Hitam putih bisa jadi lebih dominan. Kalau salah dalam membaca, bisa jadi ia terjerumus dalam dunia hitam. Begitu pula sebaliknya.

Hari Minggu kemarin, 8 April 2012, saya membaca Kompas. Di rubrik Parodi terdapat tulisan menarik: Pemimpin. Samuel Mulia menyinggung kepekaan seorang pemimpin -ia mempersonifikasikan dirinya sendiri. Ia mengagumi keberhasilan bawahannya yang telah berhasil menghelat hajatan besar. Namun dalam evaluasinya ia tertegun ketika mendengar bawahannya protes. Salah satu stafnya bilang begini: waktu saya mendengar mas ngomel-ngomel, dalam hati saya ngomong, “Tuhan kenapa saya dapat bos kayak gini lagi.” Si staff memiliki alasan sederhana: saat geladi resik sang boss tidak hadir, menjelang acara dimulai ia pun tidak bersama mereka.

Mereka bukanlah staff-staff yang cengeng. Sama sekali tidak cengeng. Kalau mereka cengeng, bagaimana bisa acara itu terlaksana dengan baik. Kalau mereka cengeng, tentu dekor yang setinggi kelapa itu tidak akan terpasang dengan baik.

Sebenarnya yang mereka dibutuhkan adalah perhatian, kepekaan, dan kebersamaan. Toh, kalau seorang pemimpin datang ia pun tidak akan bekerja sampai manjat-manjat memasang dekor. Tapi kedatangan seorang atasan akan memberi spirit yang lebih, rasa kebersamaan.

Dari gambaran di atas, kalau suatu saat ditakdirkan menjadi seorang pemimpin, kira-kira akan menjadi pemimpin seperti apa. Sudah punya gambaran kan?

April, 20012

Friday, 19 June 2015

Masjid-masjid itu Harus Lebih Bagus dari Rumah Kita

- No comments
Kalau kamu melintas jalan Rajabasa—Kotaagung maka akan kamu dapati beberapa masjid yang sedang dibangun. Sekilah dapat terbayang betapa megah masjid yang sedang dibangun itu kalau sudah sempurna kelak. Kita bisa menerawangnya dari rencana pembangunannya, dari denah dan blue print-nya, yang dipampang tepat di depan masjid.

Supaya masjid yang menjadi impian kekhusyu’an beribadahnya di dalamnya cepat terealisasi maka warga sekitar berembug lalu bersepakat untuk memasang kotak amal di tepi jalan karena kalau mengandalkan dari sedekah jariyah warga dana ratusan juta atau mungkin milyaran itu takkan kunjung tercapai. Dan saya kira, hal seperti ini terjadi, sangat lumrah terjadi, di mana-mana.

Tak sampai setahun, pembangunan masjid yang dulu sempat membuat jalan macet sudah berdiri tegak dan megah. Kalau kamu pernah memasukkan uang lembaran seribu atau sepuluh ribu ke dalam kotak amal itu, maka sempatkanlah sesekali mampir untuk menjalankan shalat di sana. Ada sedekah jariahmu di padasan air wudlu, di pegangan pintu masuk, di karpet empuk, juga di pendingin ruangan masjid. Kalau kamu turut shalat di sana, kamu menyelamatkan hidupmu juga orang-orang yang telah memasukkan lembaran uang seribu atau sepuluh ribu sepertimu.


Selain masjid dekat rumahmu, masjid mana lagi yang sering kamu singgahi? Banyak kah atau justru tidak pernah sama sekali? Bagaimana keadaan masjid-masjid itu, karpet dan kamar mandinya, soundsystem dan lampunya?

Masjid-masjid sekarang tidak ada lagi yang seprihatin dahulu, di kala pak Smiling General masih aktif menjadi kepala negara, bahkan sampai ke beberapa penggantinya. Tak banyak masjid yang memiliki menara yang bagus, toa-toa masih menempel di kubah, bahkan ada yang hanya shaf depan saja yang menggunakan karpet dan sisanya menggunakan tikar plastik.

Masjid-masjid sekarang sudah makmur. Tuhan pasti nyaman di sana. Karpet yang empuk, pendingin ruangan, soundsystem yang lembut. Para jamaahnya pasti senang berlama-lama di sana, berdzikir menggelengkan kepala tanpa harus menggibaskan kancing baju, sujud berlama-lama tanpa merasakan pedih di kening, membaca Alqruan di depan mik yang high quality.

Masjid-masjid itu memang seharusnya begitu. Masjid adalah rumah tuhan, ia tidak boleh terlantar dan terpurukkan, ia harus lebih bagus dari rumah para jamaahnya. Meskipun untuk sementara, masjid yang bagus seperti ini baru ada di komplek perumahan orang-orang kaya.

Tapi kemudian sayang-disayang, masjid yang megah itu kembali mulai sepi. Para jamaahnya sungkah datang ke sana. Bukan karena apa-apa, tapi karena mereka tak ingin mengganggu tuhan yang sedang istirahat dengan tentram. Suara tilawah Alquran pun diganti dengan kaset atau mp3 karena tidak ada seorang jamaah pun yang memiliki suara yang bagus, makhrojnya pun tidak fasih, apa lagi langgam bacaannya. Mereka gerogi. Mereka keder.


Di pinggiran kota, di sebuah komplek padat dengan drainase yang buruk, tidak jauh dari pasar, sebuah masjid berdiri. Tak ada pendingin udara di sana sehingga ketika imam mengucapkan salam ia dapati makmumnya langsung ngeluyur keluar dengan keringat di sekujur badan. Tak ada pula soundsystem yang baik di sana, sehingga ketika adzan berkumandang suaranya tak lebih bagus dari soundsystem hajatan di seberang jalan.

Seharusnya tuhan dibuatkan rumah yang bagus di sana. Konon, tuhan senang berdekatang dengan orang-orang tak berpunya, orang-orang miskin. Siapa tahu, kalau tuhan memiliki rumah yang bagus di sana, orang-orang itu akan senang berkunjung dan berlama-lama.[]

Thursday, 18 June 2015

Mengurangi Potensi Menjadi Orang yang Merugi

- No comments


Dalam kancah pewayangan di muka bumi ini, masing-masing dari kita punya peran yang sama penting. Ada yang berperan jadi tuan, ada pula yang jadi hamba. Suatu masa berperan jadi anak, di masa yang lain berperan sebagai orangtua. Dan kalau mau meneliti satu demi satu, dari satu komposisi hidup berpindah ke komposisi lainnya kita menyandang peran yang secara otomatis melekat seperti baju.

Peranan itu bukan peran main-main sehingga kalau dijalankan dengan cara yang main-main imbasnya tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga merambat kepada kosmos kehidupan.

Bayangkan kalau kamu seorang guru yang mengajar siswa-siswimu tidak dengan kesungguhan membimbing, mengayomi, mendidik, dan menyampaikan ilmu pengetahuan. Kamu berangkat pagi-pagi sekedar untuk absen di sekolah, menyampaikan pelajaran dengan serampangan, senyum sumringah ketika gajian datang. Kira-kira, produk yang dihasilkan adalah generasi masyarakat yang tak jauh berbeda dengan gurunya. Seharusnya transfer yang terjadi di dalam kelas bukan sekedar definisi ilmu pengetahuan, tetapi juga serat-serat energi yang menjalankan kehidupan. Kalau serat-serat ini diputus atau disambung dengan cara yang tidak benar, maka akan terjadi konsleting.

Ini contoh dari lingkungan sekolah. Bagaimana kalau ditambah dengan konsleting yang ditimbulkan oleh orangtua, oleh teman sebaya, oleh lingkungan? Jangan salah kalau suatu nanti akan terjadi pemadaman cahya kehidupan karena tidak ada lagi energi yang mengalir dengan benar: orang-orang bekerja penuh pamrih, kehormatan orangtua diinjak-injak oleh anaknya sendiri, kasih sayang tidak ada lagi ruhnya.


Kita, disadari atau tidak, adalah produk masa lalu, buah dari peranan-peranan yang telah dijalani oleh orangtua, pemimpin, imam-imam, ustadz, kiai, dan guru kita. Protes atas keadaan saat ini adalah dengan cara menjalankan peranmu secara optimal. Kalau kamu seorang guru, maka mengajarlah dengan baik. Kalau kamu seorang ayah, maka bimbinglah keluargamu dengan baik. Kalau kamu seorang anak, maka tunjukkanlah baktimu dengan baik. Intinya: optimalkan kemanfaatanmu bagi manusia semaksimal mungkin.

Tetapi itu tidak cukup. Ada beberapa hal prinsip yang perlu ditanam kokoh di dalam tubuh kita. Pertama, membangun keyakinan dalam diri untuk apa kita berbuat. Seperti bersandar pada Sesuatu yang Ultima, sesuatu yang di luar diri kita jauh dari frame kekuasaan dan kekuatan manusiawi, sesuatu yang tidak bersifat duniawi. Lebih tepatnya menanam keimanan yang kokoh atas eksistensi Tuhan dan segala yang melekat pada-Nya.

Kedua, nilai-nilai kebaikan yang kita pahami dan yakini takkan sempurna—atau mungkin tiada artinya—kalau tidak terjewantahkan kepada orang-orang di sekitar kita, di lingkungan kita. Industri sudah merasuk sampai ke dalam sendi-sendi kehidupan kita. Industri sudah menanam kebiasaan konsumtif puluhan tahun lalu dan kini kita menuai hasilnya: lingkungan yang tumbuh dalam budaya matrealistis. Money talks too much.
Uang telah banyak berbicara. Hampir semua kehidupan tidak berbarti kalau di sana tidak mengalirkan uang.
Sudah saatnya kita proaktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, peduli pada lingkungan dengan membangun simpati dan empati. Yang dibutuhkan oleh lingkungan kita bukan sekedar perkembangan kognitif yang pada akhirnya melahirkan nilai ‘salah dan benar’, tetapi kita membutuhkan generasi-generasi yang tumbuh dengan nilai-nilai afektif yang akan melengkapi dengan nilai ‘baik dan buruk’.

Ketiga, kita perlu mensyarati hidup kita dengan ilmu pengetahuan. Bagaimana kita dapat melakukan kedua hal di atas kalau tak memiliki ilmu tentang tauhid? Bagaimana kita dapat berperan proaktif dalam kehidupan sosial kalau kita alpa dari ilmu muammalah.

Keempat, menyelimuti hati kita dengan kesabaran. Berbuat baik tidaklah mudah, seperti memungut sampah tidak semudah membuangnya. Jangankan kebaikan yang diperbuat untuk oranglain, kebaikan untuk diri sendiri saja susah bukan main. Butuh ketekunan dan kesabaran untuk menjadikannya sebagai kebiasaan yang melakat.


Dari banyak aktivitas yang kita lakukan dalam sehari, berapa aktivitas yang betul-betul memiliki nilai kemanfaat, baik untuk diri sendiri atau orang lain. Lalu bagaimana dengan seminggu yang lalu, sebulan yang lalu, setahun yang lalu, dan seterusnya? []

Tuesday, 16 June 2015

Mengarungi Tubuh Sendiri

- No comments


[Refleksi atas “Di Sebuah Mandi”]

Sudah seharusnya saya –manusia yang hina ini- hidup dengan membuat lompatan-lompatan. Membuat trambolin dari ilmu pengetahuan dan bisikan alam untuk meninggalkan sesuatu dan mendatangi Sesuatu (sengaja dengan S kapital).

Karena Sesuatu itu lebih mulia dan berharga dari sesuatu yang lain, maka saya harus membersihkan dan mensucikan diri, mendandani yang luar dan yang dalam. Pensucian itu harus saya lakukan dengan membaca, merenungkan, kemudian mengamalkan. Guru spiritual saya membimbing saya dalam rangka pembersihan melalui pertaubatan. Sedangkan Joko Pinurbo –biasanya dikenal dengan Jokpin- meminjam sebuah kamar mandi untuk acara pensuciannya sendiri.

Dunia tidak lagi mampu menjawab rasa kering di dalam hati. Kserakahan tubuhku semakin menjadi-jadi. Ingin ini harus segera dituruti. Ingin itu harus segera ketemu. Bahkan seandainya yang diinginkan adalah mati tentu harus diladeni. Pantas saja Jokpin menganggapku makin montok saja.

Ah, peduli amat. Orang lain menganggapku bahagia karena seolah-olah kugenggam dunia. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya aku makin ciut saja. Sebab hasrat-hasrat itu lebih liar dari ilalang, dan akhirnya aku tak kebagian lahan di tubuhku sendiri.

Siapapun orangnya –termasuk saya- pastilah pernah mengalami kesendirian yang dalam, merasa ada sebuah kehilangan yang besar, dan rasa ingin pulang entah kemana. Malan itu, aku merasakan hal itu untuk kesekian kali. Gejolak yang meledak untuk membawaku pulang meskipun sebenarnya saya tak punya lagi kampung halaman. Semua sudah direbut oleh glamor dan euforia dunia. Saya hanya bisa mengenang.

Suatu saat nanti, ketika tubuhku semakin kering, eufora dunia semakin bisu untuk memberi jawaban di mana letak telaga, semoga saya bisa menemukan sendiri sebuah mandi yang akan kuziarahi dan kudapatkan jejak-jejak cinta. Namun, apakah perjalanan pencarian itu akan terlalu lama sehingga kuhantarkan tubuhku ke waktu senja dan terlantar di simpang waktu? **

(2010)

Bodoh

- No comments


"Kamu gak usah marahin orang karena dia berbuat salah. Orang yang berbuat salah itu karena sikap dan jiwanya kurang matang." 

Nasehat orang tua seperti itu sudah luput dari telinga anak-anak mereka. Bahkan saya sendiri pun demikian. Rasa-rasanya males mau nasehatin anak terus menerus. Makanya saya selalu mengambil jalan pintas supaya anak saya kembali becus. Marah. Itulah jalan pintasnya. Anak mesti dimarahi supaya jiwa dan mentalnya kuat, karena di luar sana jauh lebih keras. Begitu pandangan saya. 

Saya punya lima anak. Artinya sudah hampir lima belas tahun saya marah-marah. Bayangkan, lima ribu tiga ratus empat puluh hari saya marah-marah ke anak saya. Perilaku lima belas tahun itu pun sudah menjadi watak. Dan ketika saya menjadi bos seperti sekarang ini, kebiasaan memarahi bawahan pun tidak bisa terhindarkan. Apa lagi saya punya alasan kuat buat marahin mereka. Saya bos mereka bawahan. 

Padahal setelah marah-marah saya selalu sedikit menyesal. Apa lagi kalo ingat nasehat teman saya yang punya ribuan buku literatur itu. "Mereka itu durung ngerti. Jiwanya sedang luput karena kurang berkembang sebagai manusia sempurna." Untuk mengimbangi hubungan kemanusiaan saya pun selalu mengakhiri acara marah-marah saya dengan berapologi sedikit. Saya minta maaf seribu maaf. saya harus melakukan ini karena saya ditugaskan untuk begini. Tau kan siapa yang menugasi saya harus begini. Saya juga bernasib sama dengan anda. Tapi bukan berarti anda menjadi pelampiasan saya. Semua ini karena memang anda harus ditegur. Harus diluruskan. Harus diingatkan kembali kepada jalur kereta yang kita lewati saat ini. Mohon anda bisa mengerti. 

Setelah lima belas tahun ditambah beberapa tahun ini saya menjadi atasan, menjadi orang yang harus dilapori, saya merasa makin lama makin bodoh. Saya hanya pintar berucap dari pada bertindak. Mereka yang saya marah-marah justru menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Atau mereka yang kemudian memutuskan untuk keluar juga mendapatkan prestasi yang gemilang. Bos saya memuji saya karena saya berhasil membina dan membimbing mereka. Itu sepengetahuan saya. Padahal nol besar. Saya hanya marah-marah. Seperti halnya orang bodoh. 

Orang bodoh itu orang yang sukanya menuruti hawa nafsu, yang bertindak untuk keuntungan pribadi. Dan saya memang bodoh. Sesuai definisi itu.

September 2012

Tuesday, 19 May 2015

Rakyat yang Bergerak, Presiden yang Diuntungkan

- No comments
Comic Panji Koming

Siapa pun yang menjadi penguasa di negeri ini, baik karena dorongan yang baik-baik atau karena dorongan nafsu untuk menguasai, sesungguhnya ia menjadi pemimpin yang paling mujur karena dua hal. Pertama, ia menguasai negeri yang berlimpah ruah dengan segala kekayaannya dan kedua, rakyatnya yang tak peduli-peduli amat dengan siapa yang menjadi presiden.

Indonesia dengan segala penindasan yang pernah dialami adalah negara dengan nilai kekayaan yang luar biasa. Kekayaan hayatinya tak ada yang mampu menandingi. Dengan daerah kelautan yang terbentang dari Sabang sampai Marauke, Indonesia memiliki potensi ternak ikan laut terkaya di dunia. Segala ikan ada di sini. Dengan daerah tropis dan hutan hijau yang sangat luas, Indonesia menjadi paru-paru dunia. Kalau ada pajak hirup udara, maka hasil pajak yang terkumpul dari seluruh dunia itu akan dibagi menjadi dua, pertama untuk Brazil dan kedua untuk Indonesia.

Kekayaan buminya pun tak habis-habis dikeruk oleh cukong-cukong yang serakahnya bukan main. Semen, batu bara, minyak, tembaga, emas, perak, dan entah apa lagi yang tak pernah terekspos oleh publik.

Yang lebih menarik lagi adalah rakyat yang tak peduli dengan siapa presidennya. Toh, partai yang menjanjikan ini itu saat musiman lima tahunan itu hanya segelintir saja yang benar-benar mengajarkan politik pada masyarakat. Toh, para anggota legestalif itu hanya menampung sangat kecil dan sedikit manusia yang mau menepati janji kampanyenya. Dan presiden yang telah dipilih oleh rakyat itu entah memenuhi janji yang mana dan yang diucapkan entah untuk siapa.

Tapi rakyat tetap biasa. Tetap jam dua pagi sudah harus bangun, duduk menunggu colt angkutan membawanya dan barang dagangannya ke pasar tradisional. Subuh sudah harus menembus dingin untuk menggarap ladang dan sawah. Obrolan tentang presiden tak jauh beda dengan gosip murahan di televisi-televisi.

Dari dulu para petani sudah berdiri di atas kaki mereka sendiri. Bertumpu pada tumit yang bengkak dan pecah. Memanggul beban hidupnya yang lebih berat dari bongkahan-bongkahan belerang yang beracun itu. Sehingga ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997, rakyat tetap enjoy dengan susah payah yang sudah seperti menjadi pakaian kesehariannya. Mereka tak khawatir sedikitpun karena uang yang mereka hasilnya disimpan di bawah kasur. Hasil uang dari warung dan kaki lima dimasukkan ke dalam celengan bumbung padi.

Jadi, siapa presiden yang tak diuntungkan oleh rakyat ini yang ngurusi negara seperti bancakan korporasi-korporasi tapi rakyatnya tak bergeming?

Namun, keserakahanlah yang telah menjadikan negeri yang kaya raya ini menjadi tampak sangat miskin. Rakyatnya yang kuat perkasa tampak sangat memilukan dan perlu dikasihani. Sebuah negara yang miskin negarawan.

Sebenarnya, rakyat akan sangat berterimakasih kepada siapa saja yang mau membangun dan memperbaiki jalan di pedesaan sehingga hasil bumi bisa segera dikirim ke luar daerah. Irigasi, tanggul, dan talut diperbaiki sehingga air mengalir dengan mesra dari hulu ke hilir. Ajarilah kami tentang teknologi pertanian yang mutakhir yang ramah lingkungan, tekhnologi bahari untuk mensejahterakan para nelayan. Sekolah-sekolah yang ramah dengan pengetahuan dan pendidikan. Transportasi massal yang ramah dengan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa penumpangnya.

Siapapun, baik presiden ataupun politisi, siapapun kalau ada yang membantu rakyat seperti itu, tentu mereka akan sangat berterimakasih. Kalau toh juga tak ada yang mau, rakyat Indonesia sudah terbiasa memikul beban mereka sendiri tanpa peduli siapa presidennya, karena obrolan tentang presiden tak jauh beda dengan gosip murahan di televisi-televisi.

September 2014

Qurban, Bukan Hanya Menyembelih Binantang

- No comments
Qurban Yuk! || Garmbar: nomor2.blogspot.com

Penyembelihan binatang qurban adalah salah satu ajaran Islam yang di dalamnya Allah ingin mendidik manusia mencapai kematangan spiritual tentang ketaatan, pengorbanan, keikhlasan atas –setidaknya- kehilangan harta benda. Selain untuk mencapai kematangan spiritual, qurban juga memberi hikmah tentang pendidikan hawa nafsu.

Qurban sering diibaratkan sebagai penyembelihan sifat-sifat kehewanan yang ada pada manusia. Ketika sifat-sifat kehewanan ini disembelih maka yang tertinggal dalam diri manusia adalah sifat-sifat kemalaikatan, yakni ketaatan menghamba pada Allah ta’ala.

Qurban bukanlah pakain jadi yang menghiasi manusia, yang kalau memakainya lantas terbebas dari sifat-sifat kebinatangannya. Atau semacam saklar yang digunakan untuk menyalakan cahya kemalaikatan dalam diri manusia. Tapi ia hanya jalan yang menuju ke cahya itu, dan karena ia hanya sebuah jalan maka wajarlah kalau di tengah perjalanan itu akan ditemui rambu-rambu dan rintangan-rintangan.

Jadi, seseorang mengurbankan seekor kambing sebagai bentuk ketaatan menjalankan sunnah Nabi. Tetapi menjalankan ketaatan itu tidaklah mudah. Bisa saja dalam proses pemilihan binatang qurban terjadi tawar menawar harga yang alot sehingga menimbulkan amarah. Itulah pengganggu pertama. Lalu dalam proses menunggu hari penyembelihan ia lalai merawat kambingnya hingga sesekali kelaparan. Itulah pengganggu kedua. Ketika membawa kambing qurbannya ke lapangan ia melihat temannya membawa binatang qurban yang lebih kecil dari miliknya sehingga ia merasa bangga diri melihat kambingnya lebih ‘bermutu’ daripada milik temannya. Itulah pengganggu ketiga. Dan mungkin akan ditemui pengganggu-pengganggu lainnya.

Seseorang membeli hewan qurban untuk merasakan kedekatannya pada Allah, atau seseorang itu telah merasakan kedekatannya kepada Allah sehingga untuk merasakan lebih akrab lagi maka ia berqurban di hari Ied Adha? Pertanyaan ini penting untuk disuapkan kepada diri kita yang akan berqurban. Karena siapa tahu dalam menjalani ibadah yang mulia ini justru sifat kehewanan itu tumbuh bersemi.

Sifat hewan yang melekat pada manusia bisa berbentuk keinginan untuk menang sendiri, kebanggaan membusungkan dada, meraup kepuasan untuk memenuhi hasrat dirinya sendiri. Padahal Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa berbagi dan menolong satu sama lain, Islam mengajarkan kerendah hatian sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisinya, dan islam tak henti-hentinya menasehati supaya keras dalam mendidik nafsu karena kecendrungan nafsu lebih pada hal-hal yang merusak dirinya.
 
Korban bukan qurban. Korban ada objek lemah dari sebuah peristiwa besar dan dalam kelemahannya itu seseorang mencoba menguatkan diri. Sedangkan qurban adalah aktifitas ‘melumpuhkan’ sesuatu dalam diri yang tadinya kuat lalu dipenggal dominasinya. Kekuatan itu kalau tumbuh justru akan menjauhkan. Sehingga pemenggalan itu adalah dalam rangka mendekat, tak hanya mendekatkan dirinya sebagai hamba kepada Allah ta’ala tetapi juga mendekatkan yang jauh. Mendekatkan rejeki melalui berbagi, mendekatkan kebahagiaan melalui nikmatnya hidangan, mendekatkan berkah melalui mengalah (ngalah karena hanya mendapatkan sedikit dari hewan qurbannya).

Qurban berasal dari bahasa arab qoruba yang berarti dekat. Ia intransitif. Orang yang dekat disebut qo:rib. Kedekatan satu sama lain disebut qorobah. Tetapi qurban bukan lagi bukan lagi intransitif. Ada pihak yang mendekati dan ada pihak yang didekati. Sehingga yang tadinya jauh berubah menjadi lebih dekat (aqrob). Yang tadinya dekat berubah menjadi lebih dekat lagi.

2014

Monday, 18 May 2015

[Tidak Bisa] Lain di Hati Lain di Bibir

- No comments


Usai menghabiskan malam bersama kekasihnya kawan saya mampir ke rumah kontrakan. Wajahnya sedikit lusuh, kehabisan tenaga seperti usai bertempur, dan nafasnya kembang kempis menahas galau di hatinya. Setelah meneguk segelas air yang ia ambil sendiri dari dispenser, mulailah ia mengeluh.

“Kok pacar saya seperti gak percaya kalau saya mencintainya ya?”

Hmm, saya membatin kalau-kalau kawan saya ini baru rehat dari pertempuran. Biarlah dia bercerita sendiri tanpa saya pancing-pancing, makanya saya jawab begini saja. Kalau begitu tinggal bilang kalau kamu mencintainya.

“Perhatian saya selama ini apa masih kurang cukup untuk menunjukkan kalau saya mencintainya?”

O, rupanya ini masalah ungkapan. Bukan ungkapan bahasa tubuh/gestur sebagaimana sering diteliti om Yasraf A. Piliang, tapi ungkapan lisan yang mencerminkan isi hati si pengucapnya.

Hati (Hampir) Berbanding Lurus dengan Bibir
Hati/kalbu seperti memiliki dimensi berfikir sendiri. Cobalah rasai sendiri perubahan berfikir hati/kalbu dari satu detik ke detik selanjutnya, dari satu menit ke menit berikutnya. Cepat sekali berubah. Berbeda dengan bibir yang merefleksikan segelintir kecil dari hasil berfikir hati/kalbu. Itu pun setelah melalui penyaringan dan penyerapan otak. Sehingga apa yang keluar dari bibir memang mewakili apa yang ada di hati. Dan perempuan senang bermain-main di sini.

Padahal, bibir tidak pernah mampu membahasakan bahasa hati/kalbu. Makanya sebagian sisanya dibahasakan oleh mata, tangan, kening, bahkan lenguhan nafas. Kalau perempuan, atau siapapun, senang dan mudah percaya dengan bahasa bibir berarti ia senang untuk dibohongi. Lah kok dibohongi? Iya, karena bahasanya masih menyembunyikan sisa lainnya dan artinya ia berbohong.

Oke lah kita perhalus bahasanya. Kalau bohong mengacu pada makna tidak menunjukkan fakta yang sebenarnya, maka ungkapan yang tepat adalah tidak sepenuhnya jujur. Misalnya teman saya mengatakan kalau dia mencintai teman perempuannya, tapi pada kenyataannya dia tidak mengungkapkan perasaan lainnya dan tetap disembunyikan di dalam hati. Mengapa tidak diungkapkan? Proses kuantum timbang menimbang antara hati dan fikiran memberi kesimpulan belum saatnya disampaikan.

Sehingga kita harus mawas diri terhadap ucapan orang lain. Ucapan yang tulus itu ya ucapan yang paling mampu meminimalisir kebohongan. Kita juga harus mawas diri terhadap ucapan diri sendiri. Jangan-jangan yang terucap itu sebenarnya untuk menutupi bahasa hati/kalbu.

Saya jadi teringat bahasa cinta Iwan Fals: kalau kita saling percaya // tak perlu nada tak perlu irama // karena cinta bukan hanya nada. Cinta lebih dari sekedar kata-kata.

Saya teringat masa SMP dulu, ketika di PAI membahas tentang niat shalat. Guru saya mengajarkan supaya lafadz niat shalat diucapkan oleh lisan. Tujuannya membimbing hati untuk menghadap ilahi. Nah, saya kira tidak hanya dalam hal niat shalat saja kita perlu berucap-ucap seperti ini. Masalah cinta pun begitu. Bukan untuk menggombal tapi untuk mengingatkan hati—yang banyak sekali urusannya dan mudah sekali berganti topik—tentang perasaan cintanya.

Di ujung curhat teman saya itu saya berucap begini, ya sudah katakan saja kalau kamu mencintainya. Pertama supaya pacarmu tidak ngomel lagi. Kedua supaya semakin yakin hatimu kalau kamu mencintainya.

2013

Thursday, 12 February 2015

Berupaya Menjadi Guru yang Sabar

- No comments
Gambar: maspaeng.blogspot.com

 Mendidik membutuhkan kesabaran yang tinggi. Begitu pula untuk menjadi orang yang terdidik. Sudah banyak loh metode mengajar ditemukan, dipaparkan, dan diseminarkan. Datanglah ke toko buku terdekat dan tengoklah etalase bagian pendidikan. Puluhan buku dengan berbagai judul yang membahas teori pendidikan termutakhir. Banyak kan?

Memiliki tekad yang kuat tidaklah cukup sebagai modal. Seorang pendidik semestinya memiliki kekayaan lain sehingga ia mampu menjadi pembimbing bagi para muridnya. Kemampuan pedagogik yang baik, profesional dalam menjalankan profesinya, memiliki hubungan yang baik dengan rekan sejawat, dan ‘inner beauty’ yang matang sebagai seorang pendidik.

Hmm, saya pingin pamer sebentar. Sejak kecil saya sudah terlibat dalam pendidikan. Semasa sekolah di tingkat menengah sudah membantu orangtua untuk membimbing adik-adik di TPA. Meskpun bukan bergelar sarjana pendidikan untungnya saya ditakdirkan menjadi pendidik. Pernah mengajar di sekolah dasar sampai menengah atas. Kalau dinilai dari sisi profesionalisme guru, tentu saya berada di tempat yang sangat jauh untuk menjadi guru profesional. Tetapi saya belajar banyak sekali dari pengalaman itu.

Saya mengenal teman-teman saya adalah guru yang profesional. Mulai dari latar belakang kependidikannya sebagai guru sampai pada ketuntasan administrasi guru. saya kalah telak. Makanya saya belajar banyak dari teman-teman saya. Saya belajar cara membuat perangkat pembelajaran, cara mengevaluasi pencapaian siswa, cara menghadapai walimurid yang gundah gulana, dan masih banyak lagi. Tapi masalah satu ini saya belajar dari sang guru saya.
Yang saya maksud dengan ‘satu ini’ adalah tentang kesabaran. Hmm, menjadi guru harus sabar. Sabar dalam mengajar, mendidik, dan membimbing. Godaan menjadi guru itu besar sekali.

Saat ini kaum brahmana berada di level yang paling rendah padahal pada masa lalu, kaum brahmana itu manusia luhur yang dipanuti. Brahmana itu ya guru (terlepas dari makna guru secara terminologis dan filosofis), orang-orang yang mengajari kita mengerti kehidupan. Dan kini mereka terjungkal, kata-katanya tak didengarkan. Siapa yang didengarkan?

Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih mendengarkan orang yang memiliki uang. Semakin kaya semakin didengarkan. Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih memiliki uang dari pada memiliki ilmu pengetahuan. Covernya ia belajar, tapi hatinya mencari kiat menjadi kaya.

Di sinilah guru-guru menghadapi godaannya. Saat orang lain berkendara mewah membelanjakan uang, ia harus berpanas-panasan di ruang kelas mengajarkan calistung. Di saat orang lain makan enak, ia justru tirakat makan ala kadarnya karena gajinya tak cukup untuk membeli daging sekilo. Kalau saja para guru itu tak memahami bahwa dari dalam dirinyalah cahaya Ilahi memancar; bahwa mereka menjadi wakil Adam as. mengenalkan ciptaan-ciptaan Ilahi dan kandungan hikmahnya; maka jatuhlah moralnya.

Tak dipungkiri, banyak pelajar-pelajar saat ini hanya mencari legalitas keilmuan bukan menggali ilmu pengetahuan, mencari angka-angka bukan memaknai nilai-nilai. Pada mulanya, nurani mereka tak menginginkan hal demikian, tetapi orangtua dan lingkungan, tontonan dan pergaulan, memaksanya meredupkan cahya nuraninya sehingga uanglah segala-galanya. Guru yang telah jatuh moralnya akan melihat ini sebagai peluang memperkaya diri.

Maka, saya sering merenungi diri saya sendiri. Sambil merenung sambil berdoa. Rasa-rasanya selama ini saya mengajar tidak baik. Lah, sudah capek-capek mengajar, tapi anak-anak tidak juga pinter. Gregetan tidak juga mencapai standar minimal. Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan teman-teman yang senasib dengan saya?

Singkatnya, saya berdiskusi dengan teman dan saya coba reduksi tanggapan beliau. Dari mana kau mengukurnya? Dari angka-angka itu atau dari persepsimu? Atau malah jangan-jangan dari peraturan-peraturan pemerintah?

Menjadi guru adalah menjadi tangan langit. Sedangkan ukuran-ukuran yang dibuat adalah ukuran-ukuran bumi. Seharusnya, dikembalikan kepada langit melalui kepasrahan akan hasilnya. Dan hasil bukan jadi konsern manusia. Yang menjadi konsern manusia adalah prosesnya. Proses yang kontinyulah yang akan menentukan baik buruk manusia menjadi tangan langit. Proses akan putus di tengah jalan kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Kesabaran seseorang akan tumbuh subur kalau ia mengetahui akar dan sumber masalah yang dihadapi. Mungkin karena kuatnya keyakinan yang ada dalam diri kita kalau orang bekerja maka hasilnya kaya, kalau orang belajar maka hasilnya pintar, sampai-sampai melupakan asal muasal segalanya. Mengapa tidak dimantapkan saja dengan berucap basmalah untuk mengajar yang baik, yang tulus, yang penuh pengharapan dan kepasrahan, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengetahui. Karena kita sudah ditempatkan sebagai guru, maka mendidik dan mengajarlah dengan sebaik-baiknya, karena kita ditempatkan sebagai murid maka belajarlah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar pintar yang dicari di bangku sekolah. Bukan hanya pintar.

Lalu saya terus berdiam diri lalu berkarya.