Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Friday, 4 September 2015

Mengukur Nilai Hidup dari Kary Putu Wijaya

- No comments
Membaca “KLOP” seperti bercengkrama dengan diri sendiri untuk menanyakan idealitas kita sebagai Manusia Indonesia. Isi kepala yang sudah terlanjur dibebali dengan fikiran metrialistik, kepicikan, dan besarnya hawa nafsu seperti ditantang untuk di”instal” ulang. Dorongan ke arah sana sangat terasa ketika membaca “Mawar” yang menjadi inspirasi bagi keluarga yang ia tempati. Selain itu, mawar seperti mengajak pembaca untuk mempertanyakan hakekat dan tujuan hidup dan kehidupannya.

“Mawar itu aku. Aku bukan baja atau kayu yang menjadi tiang rumah selama puluhan bahkan ratusan tahun, aku adalah mawar. Dan aku akan tetap mawar. Aku tidak menjaga, tetapi menyalakan kegembiraan, jiwa baja dan kelenturan kayu itulah yang menjaga. … . Aku tidak boleh diam terlalu lama karena harumku akan menjadi terbiasa dan cahaya yang kubawa tak akan lagi ada artinya kalau kebanyakan.”

Begitulah kira-kira pembaca diajak menjalani hidup; segera beranjak dari menikmati keberhasilan dan kesuksesan supaya tidak berlama-lama, karena jelas sekali sikap demikian sangat berbahaya. Mawar seperti menantang pembaca untuk memilih antara mempertahankan eksistensi hidup (yang sering kali dilandaskan pada ego) atau membangun dan melakasanakan kemanfaatan potensi hidup (yang biasanya akan dicampakkan ketika sudah tidak berguna). Namun ketika mawar dicampakkan dari rumah itu karena dianggap sudah layu, rupanya potensi dirinya sebagai cahaya tidak pudar, ia menjadi cahaya semangat bagi keluarga pemulung dan kemudian terhempas dan berakhir di tangan seorang seniman.

Membaca “KLOP” seperti kembali diingatkan pada kekelaman birokrasi Indonesia pada masa pasca Reformasi –bahkan sekarang masih kelam. Waktu itu, Soeharto memang sudah lengser, tapi watak birokrasi yang diwariskannya seperti menjadi penghalang bagi agenda Reformasi. Watak birokrasi Orde Baru tidak ingin digantikan –meminjam istilah Iwan Fals- Orde Paling Baru. Sehingga yang muncul adalah problematika baru. Lihat saja, Habiebie yang kehilangan Timor Timur, Gus Dur yang diangkat dan diimpeachmen oleh orang yang sama, Megawati yang tidak mampu mempertahan dua pulau yang sangat indah, pencaloan kapal tangker, dan penjualan Indosat.

Pasca Reformasi sampai tahun 2004 adalah masa-masa pendewasaan setelah memperoleh kebebasan dari kungkungan yang sangat lama. Bukan berarti setelah itu, mereka dan juga kita menjadi cukup dewasa.

Mengingat kembali sejarah memang sangat diperlukan ketika seseorang mulai berjalan menjauh dari rencana awal. KLOP mengingatkan tentang hal itu; tidak secara langsung mendiktekan apa tujuan sebenarnya, tapi cukup dengan menggambarkan pentas drama perpolitikan Indonesia pada masa itu. Seperti dalam “Jendral”.

Jendral mengabdi untuk bangsa dan negara, mempertahankan negara, dan menjaga haluannya sesuai dengan nilai kenegaraan yang dirumuskan dahulu supaya tidak jatuh di tangan yang kotor. Jendral ingin melawan birokrasi, tapi tidak mampu. Ia mengharapkan kepada anaknya, tapi harapan itu sia-sia karena anak jendral itu punya cara sendiri untuk mengabdi, mempertahankan dan menjaga negeri ini; ayah menginginkan anaknya menjadi tentara dan menjauhi politik. Alih-alih keinginan itu dipaksakan kepada anaknya, ternyata anak jendral itu menginginkan mejadi politisi.

Di sinilah, gambaran menarik tentang cara pandang dari dua generasi yang berbeda; tua dan muda, meskipun mereka memiliki tujuan yang sama. Di sinilah, menghargai kedewasaan orang digelitik. Ironisnya, jendral mengambil jalan pintas untuk “melumpuhkan” anaknya demi idealitasnya, meskipun pada detik terakhir ia sangat menyesalinya.

Membaca “KLOP” seperti diajarkan kembali nilai-nilai luhur dan semangat berbudaya yang “Indonesia”. Menafsirkan lambang dan kode-kode. Memaknai arti sesungguhnya dari hanya sekedar simbol. Mungkin itu yang coba disampaikan penulis dalam “Kartini”. Menjadi Kartini modern berarti mengambil semangat Kartini lama. Menjadi seorang Kartini modern berarti mengetahui dengan seksama tugas dan esensi yang diperjuangkan. Karena menjadi Kartini modern bukan sekedar keluar rumah untuk arisan dengan berdiri dibelakang dalih emansipasi. “Bukan kostum yang membuat perempuan menjadi Kartini, tapi cita-cita.” Begitulah kata pak Amat dalam “Kartini”.

Ada juga hal yang sangat menggelitik ketika membaca cerpen yang berjudul “Soempah Pemoeda”. Ami –anak perempuan pak Amat- bisa mewakili gambaran betapa banyak kegiatan-kegiatan yang dibungkus niat kebaikan sosial, tapi sebenarnya adalah untuk tujuan pragmatis, uang. Ami dan beberapa temannya, dalam momen peringatan Soempah Pemoeda mengadakan acara penggalangan dana yang menghabiskan dana 500 juta, dan dana yang terkumpul dari acara tersebut sebesar 200 juta. Tentu itu bukan kegiatan yang menguntungkan, justru rugi 300 juta, meskipun yang 500 juta didapat dari sponsor dan donatur.

Pak Amat yang tidak setuju dengan acara seperti itu akhirnya menyadari betapa besar arti uang pada zaman sekarang ini. Ketika ia memberi nenek pengemis uang seribu rupiah, ia menyadari “Ya Tuhan, ternyata rasa simpati, cinta, dan semangat persatuan saja tidak cukup. Memang uang penting sekali. … . karena selembar ribuan yang kumal saja sudah bisa membuat seorang perempuan yang berduka tersenyum.”

Namun, dalam paragraf terakhir, ketika pak Amat dan Ami saling memahami kesalah-pahaman masing-masing, isteri pak Amat membisiki, “Sebenarnya malam itu mereka bukan untung 200 juta, tapi 600 juta. Yang 400 mereka bagi-bagi di antara panitia untuk membayar biaya skripsi, dan S-1, S-2 dan S-3, Pak.”

* * *
Memang begitulah Putu Wijaya dengan kekhasannya menulis cerita. Karya-karyanya memang menteror bangunan fikiran pembacanya, antar sejutu dan tidak, antara suka dan duka, antara pilu dan ngelu. Buku yang diterbitkan Mei 2010 ini memuat dua puluh cerita pendek Putu Wijaya. Cobalah untuk bercengkrama dengan KLOP malam minggu ini, mungkin esok harinya akan dapat inspirasi untuk hari Senin dan seterusnya.[]

Bandarlampung, 11 Juni 2010

.

Friday, 8 August 2014

Tiga Sifat Generator yang Bernama Syahwat

- No comments

Manusia dibelaki tiga software dasar penyusun rohaniahnya. Kalau bisa mensinergiskan, mengendalikan, dan menjalankan sesuai dengan aplikasi yang benar, maka ia akan mencapai derajat kemanusiaannya. Kalau gagal, maka ia akan runtuh dan tidak ada lagi pembeda antara dirinya dan biantang. Ketiga software itu adalah syahwat, kalbu, dan akal.

Dalam nilai dan budaya kita sekarang ini syahwat sering diartikan dengan dorongan seksual belaka. Padahal,  dorongan seksual adalah salah satu output dari syahwat itu sendiri. Kalau dorongan seksual adalah sekedar output maka syahwat adalah sebuah generator yang mampu menghasilkan energi tak terbatas. Kebudayaan dan perkembangan teknologi kehidupan saat ini tidak lain adalah output dari generator yang bernama syahwat.

Salah satu unsur dari generator syahwat ini adalah egosentrisme (ananiyyah), yakni segala sesuatu yang sifatnya ke-aku-an. Bisa juga egosentrisme berarti menempatkan diri sendiri sebagai pusat. ‘Diri sendiri’ di sini bisa dimaknai sebagai perorangan, etnik, golongan, atau lainnya.

Minimal, syahwat memiliki tiga sifat. Pertama adalah penyerap. Ia akan menyerap apapun dari luar untuk dirinya sendiri, tak peduli yang diserap itu bernilai positif atau negatif. Tak peduli daya serapnya memiliki daya merusak atau tidak, yang terpenting kepentingan untuk dirinya sendiri terpenuhi. Semisal Kadir yang melihat seseorang yang sangat dihormati di lingkungannya. Ia melakukan telaah mengapa orang-orang menaruh hormat kepadanya. Ia perhatikan tutur bahasanya, sandang papannya, tingkah lakunya. Hingga akhirnya Kadir memiliki kesimpulannya sendiri bahwa untuk mendapat kehormatan orang lain maka ia harus memiliki kemampuan berbahasa yang begini, sandang papannya yang begitu, dan lainnya. Itulah salah satu bentuk syahwat yang memiliki sifat penyerap.

Kedua adalah menguasai. Menguasai dalam konteks apapun dan pada skala apapun, baik bermakna positif atau pun negatif. Syahwat tanpa sifat menguasai maka hardware-nya (manusia) akan menjadi lemah dan tak berkembang. Tetapi kalau tidak terkontrol maka ia akan menjadi kekuatan yang menghancurkan.

Sedangkan sifat terakhir dari syahwat adalah melampiaskan. Pelampiasan ini bisa dalam bentuk apapun dalam setiap ruang hidup manusia. Tidak hanya soal seksual, tapi segala sesuatu yang mengandung unsur pelampiasan dan kepuasan. Misalnya ketika si fulan sedang menjalankan puasa, seolah-olah ia ingin melahap apapun yang ada di meja: sirup, teh, daging, kolak, dan lainnya. Ketika saat berbuka puasa datang si fulan pun melahap semuanya seperti  yang ia janjikan pada dirinya sendiri sebelum berbuka hingga ia kekenyangan dan kesulitan untuk beranjak dan beraktifitas. Maka ia bukannya sedang sangat lapar tapi ia tidak mampu mengendalikan syahwatnya dalam memuaskan diri sendiri.

Keterangan di atas bukan ijtihad saya, tapi sedikit resume dari tulisan Prayogi R. Saputra tentang pemikiran dan perenungan Emha Ainun Najib yang dikemas dalam “Spiritual Journey”.

Buku ini merekam kegiatan Emha dalam pengajian rutin di Jogja yang diberi nama Pengajian Mocopat Syafaat (MS). Dalam MS jamaah Maiyah berinteraksi dan berdiskusi. Tidak hanya Emha yang menjadi penyaji, sesekali tokoh-tokoh nasional, penulis, sineas, habaib, seniman, aktris, atau siapapun diundang untuk memberi sumbangan pemikiran. Bahkan puteranya sendiri, Sabrang –vocalis Neo- menyuguhkan materi yang tak kalah luarbiasanya dengan Emha.

Spiritual Journey merekam kegiatan-kegiatan tersebut. Tidak semuanya dijadikan bahan dalam buku ini, hanya beberapa pertemuan dan tema saja yang ditulis. Tidak hanya tema-teman tasawuf yang jadi bahan perbincangan, tapi juga tentang keindonesiaan, tentang bangsa yang tidak akan tunduk pada kepedihan, tentang masyarakat yang tahan banting meskipun krisis melanda sepanjang tahun. 

Seperti ketika penulis merekam obrolan Cak Nun dengan seorang wartawan yang terus-terusan mengejar pembenaran Cak Nun mengenai keterlibatannya dalam pengunduran diri Soeharto dan proses Reformasi. Begitu pula ketika Cak Nun melakukan dialog hangat dan berfilosofis kepada Sabrang sebagai kado pernikahan. Serta beberapa kegiatan Emha lainnya yang kiranya perlu untuk kita renungkan, untuk dijadikan bahan pelapangan hati, dan pengayaan spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan.

2012