Showing posts with label Sumur. Show all posts
Showing posts with label Sumur. Show all posts

Tuesday, 17 May 2016

PENCARIAN AL-MA'MUN DAN PENGETAHUAN YANG HILANG [Bag. 2]

- No comments

Kagandrungan Al-Ma’mun  pada astrologi, tafsir posisi bintang, membuatnya selalu bertanya apa arti posisi bintang tertentu pada dirinya. Pencarian astrologis yang ditugaskannya pada para nujum di istananya itu berbuah berkah yang bisa jadi tak disangka orang: perkembangan ilmu astronomi dan penemuan alat-alat untuk mencandra pergerakan benda-benda langit.

Para ilmuwan ahli bahasa, ahli hitung, ahli ukur, hingga ahli ramal ia pekerjakan untuk sejumlah misi. Mereka berasal dari berbagai bangsa dengan latar belakang agama yang berbeda-beda. Salah satu penerjemahnya yang  paling produktif dan  terkemuka, Hunayn ibn Ishaq adalah seorang yang beragama Kristen Nestorian.

Situasi yang melingkupi al-Ma’mun adalah buah dari ekspansi kekuasaan dinasti islam yang kian meluas. Membentang dari jazirah Arab hingga Spanyol. Menjumpai berbagai pengguna bahasa, kebudayaan, dan agama. Mulai dari Yahudi, Kristen dari berbagai sekte, Hindu, Zoroaster, kaum Sabean pemuja bintang,  dari bangsa Persia, Mesir, Romawi, Cina, dan India. Semua itu berpengaruh pada atmosfer intelektual dunia islam saat itu.

Pada titik ini, al-Ma’mun tahu, bahwa pencariannya pada ilmu pengetahuan mensyaratkan hal yang tidak bisa disangkal: keterbukaan. Tidak gentar pada yang asing. Tidak cemas pada kemungkinan-kemungkinan baru. Sebagai seorang yang memahami kaidah ilmu, ia sangat sadar bahwa upaya pencaraian ilmu pengetahuan akan selalu mengguncang keyakinan dan pengetahuan lama. Karena itu, juga karena menjadi pengikut mu’tazilah yang teguh, dia sangat ingin menjaga keterbukaan dan kebebasan berpikir agar tidak terkungkung pada pengetahuan lama.

Dalam salah satu mimpinya, Ia bertemu seorang bijak bestari, Aristu—lidah Eropa menyebutnya Aristotle—, filsuf bangsa Yunani, yang memberinya nasihat: agama dan ilmu pengetahuan bukan pertentangan dan upayanya mempelajari hal-hal dari bangsa asing bukanlah ancaman buat kaum muslimin yang dipimpinnya.

Di bawah lindungan kuasanya yang bersandar kepada kebebasan berpikir, para intelektual dari berbagai agama itu secara bebas mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan kemustahilan. Baghdad menjadi melting pot berbagai tradisi intelektual yang selama berabad sebelumnya terpisah karena pemilahan politis. Di antaranya, mempertemukan Hellenisme dengan tradisi intelektual Hindustan.

Al-Ma’mun dibesarkan dalam lingkungan yang gandrung ilmu pengetahuan, bukan hanya ilmu-ilmu tradisional kaum muslimin tapi juga ilmu-ilmu asing yang lebih luas.

Ia menjaga warisan perpustakaan terbesar di zaman itu dari ayahnnya, mengembangkannya menjadi pusat penerjemahan karya-karya Yunani. Di masa depan—ia mungkin tak menyangka—orang perlu berdebat apakah yang dilakukan generasinya itu sekadar melakukan proyek penerjemahan karya klasik Yunani dan Persia atau juga menambahkan, mengolah, dan mengunyahnya menjadi ilmu pengetahuan baru.

Untuk impian seperti itu, harga yang dibayar pun mahal. Sangat mahal. Bukan hanya ia harus mengeruk kas negara untuk membayar mahal para ilmuwan dan penerjemah yang membuat pusing para bendahara istana, ia pun perlu mengerahkan aparat kekerasan demi memastikan proyek pencarian pengetahuan tidak direcoki oleh perkara-perkara tahayul dan keagamaan.

Sejarah kemudian mencatat peristiwa Mihnah yang diluncurkannya 4 bulan sebelum ia lengser dari kekhalifahan di tahun 833 masehi dan kemudian berkembang tanpa kendali puluhan tahun berikutnya di bawah dua khalifah penggantinya.  Melalui Mihnah ini—yang dicatat sebagai sejarah kelam terutama oleh kalangan ulama sunni—dilakukan pemeriksaan apakah seseorang percaya al-Qur’an adalah mahkluk atau bukan. Mereka yang tak percaya bahwa Al-Quran adalah makhluk akan dihukum.

Ketika semburat merah di langit mulai luntur ia beranjak dari balkon. Langkahnya berat. Tidak jelas, apakah ia sadar jika tiga generasi berikutnya, Bait al-Hikmah yang dibangunnya dengan keringat dan darah itu, luntur dan runtuh di tangan Khalifah al-Mu’tashim yang lebih gandrung kepada kepercayaan berbasis tafsir literal atas al-Qur’an dan Hadis, yang kemudian mengembalikan umat islam kepada kepercayaan tradisional mereka.

Langkah berat al-Ma’mun membawanya masuk ke dalam  perpustakaan raksasanya.   Ia tidak menunggu bulan muncul. Mungkin ia akan menunggunya dan menatapnya dalam-dalam jika ia tahu bahwa sekian abad nanti—atas jasa-jasanya dalam mempelopori pembuatan alat-alat untuk mempelajari gerakan benda-benda langit— para ilmuwan dunia menamai salah satu cekungan di permukaan bulan itu demi mengenang namanya: almanon. [Habis]

--------------------------
Dikutip dari: islami.co

PENCARIAN AL-MA'MUN DAN PENGETAHUAN YANG HILANG [Bag. 1]

- No comments

Al Ma’mun, atau lengkapnya Abū Jaʿfar Abdullāh al-Ma’mūn ibn Hārūn al-Rashīd, khalifah ketujuh dari Dinasti Abasyiah itu berdiri di balkon Bait al-Hikmah yang megah, yang dibangun berdasar saran para ahli nujum dan arsitek terbaik zaman itu. Dinasti Abasyiah tengah berada di puncak kejayaannya setelah  sekitar seabad lalu  berhasil menggulung kekuasaan para keturunan Abu Sufyan.

Di hadapannya membentang kota Baghdad yang sentosa. Orang-orang meriuh lalu lalang. Menara-menara menjulang. Suara azan berkumandang dari kejauhan menandai maghrib yang datang bersama semburat lembayung yang muncul di langit sebelah barat.

Pandangan Al-Ma’mun menatap lurus ke arah gurun besar yang terhampar di sebelah kota Bagdad. Ke sanalah ia mengutus tim ekspedisi khusus yang dibentuknya demi memenuhi ambisi  dan keingintahuannnya yang paling dalam sejak masa kanak: berapa besar sebenarnya ukuran bumi ini?

Dari salah satu kitab yang ditulis Ptolomeus, ia membaca bahwa panjang keliling bumi adalah sekian ribu shades. Tapi apa itu shades? Benarkah klaim Ptolomeus itu? Para ahli bahasa, penerjemah, dan para ilmuwan yang dipanggilnya hanya memberi jawaban yang berbeda-beda dan malah membuatnya semakin bingung.

Tim ekspedisi itu berangkat menuju gurun Sinjar di dekat kota Mosul. Di sana mereka mulai mengerjakan pemetaan bumi, mengukur satu derajat lingkaran bumi,   melanjutkan upaya yang pernah dilakukan ahli matematika Yunani kuno, Eratosthenes, untuk kemudian menghitung panjang lingkaran bumi. Tim ilmuwan itu menyusuri garis meridian sambil membawa alat pengukur berbasis sinar matahari.

Sambil membelai rambut janggutnya yang sebagian sudah mulai memutih, maghrib itu al-Ma’mun menunggu laporan para penelitinya. Sebuah penelitian yang—satu abad kemudian—oleh al-Biruni dianggap sebagai metode usang yang tidak perlu. Mewarisi pengetahuan yang dirangkum di dalam Bait al-Hikmah yang didirikan al-Ma’mun, di sebuah puncak dunung di daratan Hindustan, al-Biruni menemukan cara trigonometrik untuk mengukur keliling bumi tanpa harus berpanas-panasan di atas gurun pasir seperti yang dilakukan para peneliti al-Ma’mun. Hal-hal serupa  temuan al-Biruni inilah barangkali yang diimpikan al-Ma’mun, yang kadang tak sempat dipetiknya sendiri: pengetahuan yang melimpah dan berkembang tanpa batas.

Kegandrungan Al-Ma’mun dan keingintahuannya pada “hal-hal sepele”  (seperti ukuran bumi, letak bintang tertentu, ukuran lintasan matahari, dan semacamnya), membuat proyek ilmu pengetahuan saat itu melampaui apa yang menjadi tugas utamanya.

Jika sebelumnya para ilmuwan  hanya bergelut dengan upaya-upaya teknis pemetaan dan astronomi demi kebutuhan relijius: menentukan arah kiblat yang tepat (ingat, semakin jauh orang islam dari tanah Mekah maka semakin rumit pula mereka menentukan arah kiblat), di bawah perintahnya pencarian pengetahuan menjadi upaya besar untuk meneruskan jejak para bijak Yunani kuno yang dengan konyol dicampakkan bangsa Romawi.

Mata tajam al-Ma’mun di balkon itu masih menatap turunnya Maghrib. Di benaknya tersimpan beribu pertanyaan dan keingintahuan. Kekuasaan besar yang ia raih pada tahun 813 melalui pertikaian penuh darah dengan saudara tirinya—al Amin—ia dedikasikan betul pada upaya-upaya ilmu pengetahuan.

Ia gelontorkan begitu banyak uang demi ambisi intelektualnya,  mendirikan dan mengembangkan Bait al-Hikmah, sebuah institusi ilmu pengetahuan paling maju di zamannya. Ia mengirim satu pasukan khusus menuju Romawi Timur hanya untuk berbelanja buku, termasuk buku bekas.

Di bawah kuasanya, pengetahuan seperti lebih penting daripada hal lain. Pampasan perang berupa buku lebih dihargai daripada pampasan harta benda. Bahkan, konon, buku kuno Almagest karya Ptolomeus, adalah syarat perdamaian dengan Kekaisaran Bizantium. [bersambung]

-------------------------
dikutip dari islami.co

Thursday, 7 April 2016

BATMAN

- No comments
Batman tak pernah satu. Maka ia tak berhenti. Apa yang disajikan Christopher Nolan sejak Batman Begins (2005) sampai dengan The Dark Knight Rises (2012) berbeda jauh dari asal-muasalnya, tokoh cerita bergambar karya Bob Kane dan Bill Finger dari tahun 1939. Bahkan tiap film dalam trilogi Nolan sebenarnya tak menampilkan sosok yang sama, meskipun Christian Bale memegang peran utama dalam ketiga-tiganya.

Tiap kali kita memang bisa mengidentifikasinya dari sebuah topeng kelelawar yang itu-itu juga. Tapi tiap kali ia dilahirkan kembali sebagai sebuah jawaban baru terhadap tantangan baru. Sebab selalu ada hubungan dengan hal-ihwal yang tak berulang, tak terduga—dengan ancaman penjahat besar The Joker atau Bane, dalam krisis Kota Gotham yang berbeda-beda.

Sebab itu Batman bisa bercerita tentang asal mula, tapi asal mula dalam posisinya yang bisa diabaikan: wujud yang pertama tak menentukan sah atau tidaknya wujud yang kedua dan terakhir. Wujud yang kedua dan terakhir bukan cuma sebuah fotokopi dari yang pertama. Tak ada yang-Sama yang jadi model. Yang ada adalah simulacrum—yang masing-masing justru menegaskan yang-Beda dan yang-Banyak dari dan ke dalam dirinya, dan tiap aktualisasi punya harkat yang singular, tak bisa dibandingkan. Mana yang “asli” tak serta-merta mesti dihargai lebih tinggi.

Sebab kreativitas berbeda dari orisinalitas. Kreativitas berangkat ke masa depan. Orisinalitas mengacu ke masa lalu. Masa yang telah silam itu tentu saja baru ada setelah ditemukan kembali. Tapi arkeologi, yang menggali dan menelaah petilasan tua, perlu dilihat sebagai bagian dari proses mengenali masa lalu yang tak mungkin dikenali. Pada titik ketika masa lalu mengelak, ketika kita tak merasa terkait dengan petilasan tua, ketika itulah kreativitas lahir.

Saya kira bukan kebetulan ketika dalam komik Night on Earth karya Warren Ellis dan John Cassaday (2003), Planetary, sebuah organisasi rahasia, menyebut diri “archeologists of the impossible”.

Para awaknya datang ke Kota Gotham, untuk mencari seorang anak yang bisa membuat kenyataan di sekitarnya berganti-ganti seperti ketika ia dengan remote control menukar saluran televisi. Kota Gotham pun berubah dari satu kemungkinan ke kemungkinan lain, dan Batman, penyelamat kota itu, bergerak dalam pelbagai penjelmaannya. Ada Batman sang penuntut balas yang digambarkan Bob Kane; ada Batman yang muncul dari serial televisi tahun 1966, yang dibintangi oleh Adam West sebagai Batman yang lunak; ada juga Batman yang suram menakutkan dalam cerita bergambar Frank Miller. Dan semua itu terjadi di gang tempat ayah Bruce Wayne dibunuh penjahat—yang membuat si anak jadi pelawan laku kriminal.

Satu topeng, satu nama—sebuah sintesis dari variasi yang banyak itu. Tapi sintesis itu berbeda dengan penyatuan. Ia tak menghasilkan identitas yang satu dan pasti. Dan lebih penting lagi, sintesis itu tak meletakkan semua varian dalam sebuah norma yang baku. Tak dapat ditentukan mana yang terbaik, tepatnya: mana yang terbaik untuk selama-lamanya.

Sebab itu Kota Gotham dalam Night on Earth bisa jadi sebuah alegori. Ia bisa mengajarkan kepada kita tentang aneka perubahan yang tak bisa dielakkan dan sering tak terduga. Ia bisa mengasyikkan tapi sekaligus membingungkan. Ia paduan antara sesuatu yang “utuh” dan sesuatu yang kacau.

Dengan alegori itu tak bisa kita katakan, mengikuti Leibniz, bahwa inilah “dunia terbaik dari semua dunia yang mungkin”, le meilleur des mondes possibles. Bukan saja optimisme itu berlebihan. Voltaire pernah mencemoohnya dalam novelnya yang kocak, Candide, sebab di dunia ini kita tetap saja akan menghadapi bermacam-macam kejahatan dan bencana, 1.001 inkarnasi The Joker dengan segala mala yang diakibatkannya. Kesalahan Leibniz—yang hendak menunjukkan sifat Tuhan yang Maha Pemurah dan Pengasih—justru telah memandang Tuhan sebagai kekuasaan yang tak murah hati: Tuhan yang hanya menganggap kehidupan kita sebagai yang terbaik, dan dengan begitu dunia yang bukan dunia kita tak patut ada dan diakui.

Kesalahan Leibniz juga karena ia terpaku kepada sebuah pengalaman yang seakan-akan tak akan berubah. Padahal, seperti Kota Gotham dalam Night on Earth, dunia mirip ribuan gambar yang berganti-ganti di layar, dan berganti-ganti pula cara kita memandangnya.

Penyair Wallace Stevens menulis sebuah sajak, Thirteen Ways of Looking at a Blackbird. Salah satu bait dari yang 13 itu mengatakan,
    But I know, too,
    That the blackbird is involved
    In what I know

Memandang seekor burung-hitam bukan hanya bisa dilakukan dengan lebih dari satu cara. Juga ada keterpautan antara yang kita pandang dan “yang aku ketahui”. Dan “yang aku ketahui” tak pernah “aku ketahui semuanya”. Dengan kata lain, dunia—seperti halnya Kota Gotham—selamanya adalah dunia yang tak bisa seketika disimpulkan.

Tak berarti pengalaman adalah sebuah proses yang tak pernah tampak wujud dan ujungnya. Pengalaman bukanlah arus sungai yang tak punya tebing. Meskipun demikian, wujud, ujung, dan tebing itu juga tak terpisah dari “yang aku ketahui”. Dunia di luarku selamanya terlibat dengan tafsir yang aku bangun dari pengalamanku—tafsir yang tak akan bisa stabil sepanjang masa.

Walhasil, akhirnya selalu harus ada kesadaran akan batas tafsir. Akan selalu ada yang tak akan terungkap—dan bersama itu, akan selalu ada Gotham yang terancam kekacauan dan keambrukan. Itu sebabnya dalam The Dark Knight Rises, Inspektur Gordon tetap mau menjaga misteri Batman, biarpun dikabarkan Bruce Wayne sudah mati. Dengan demikian bahkan penjahat yang tecerdik sekalipun tak akan bisa mengklaim “aku tahu”.

--------------------------------
Dikutip dari Catatan Pinggir Gunawan Muhammad, "Batman", Majalah Tempo, Edisi Senin, 06 Agustus 2012~

Friday, 25 December 2015

CATHALA

- No comments
CATHALA. Di tengah paranoid publik Barat terhadap Islam, walikota Creteil di Prancis melawan arus dengan mengizinkan pembangunan masjid megah di kotanya. Itulah masjid Creteil, masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Eropa dalam waktu 100 tahun terakhir.

Di bangun di sebuah bukit kecil, di tepi danau yang tak jauh dari balai kota dan pos polisi, masjid Creteil menelan ongkos US$ 7,4 juta. Tempat salatnya bisa menampung 2.500 jemaah, sementara menaranya ada 81 buah. Dikutip “the Washington Post,” 9 Desember 2007; Molly Moore, periset dari Corinne Gavard menyebut pembangunan masjid di Creteil sebagai “pengecualian” di tanah Eropa.

Creteil adalah kota yang terletak di sebelah tenggara Paris. Di Prancis, Creteil merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim paling banyak bahkan mungkin untuk seluruh daratan Eropa. Dari sekitar 88 ribu penduduk di kota kecil itu, 20 persen di antaranya adalah pemeluk Islam. Mereka semua beribadah di sebuah gudang bekas penyimpanan kayu hingga datang tawaran dari Laurent Cathala, walikota Creteil saat itu untuk membangun sebuah masjid.

Dan ketika mulai dibangun [delapan tahun silam], pemerintah daerah Creteil di bawah Cathala tak hanya mendukung, melainkan turut mengongkosi pembangunan kompleks masjid. Cathala bahkan berterusterang dengan semua bantuan keuangan yang disumbangkan untuk pembangunan masjid Creteil, dan hal itu tentu saja menggembirakan Muslim di Prancis di tengah paranoid masyarakat Barat terhadap Islam.

Moore mencatat, Islam di Eropa adalah agama terbesar kedua setelah Nasrani, dan Prancis adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim paling banyak. Dari total penduduk Prancis [2007] 65 juta jiwa, sekitar 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah muslim. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan kedua, yang lahir, besar dan menjadi warga negara di sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis. Tapi hingga masjid Creteil dibangun, pembangunan masjid sangat sulit terwujud di Eropa.

Dari London, Inggris hingga Cologne dan Marseille, Prancis, penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa terus disibukkan dengan penolakan pembangunan masjid. Mereka menentang pembangunan masjid karena dianggap bisa mempengaruhi keamanan nasional dan kepribadian mereka.

Di Ibukota Inggris, London, pendirian masjid di dekat taman yang bersebelahan dengan areal Olimpiade 2012, telah ditentang besar-besaran oleh pemerintah dan warga Inggris bahkan ketika masih dalam bentuk proposal. Kaum nasionalis Swiss pernah beramai-ramai menentang pembangunan mesjid di negaranya. Di sebuah bukit kecil bernama Colle Val d’Elsa, di Tuscan, Italia, penduduk setempat melempari pintu utama menuju masjid setempat yang dalam proses pembangunan dengan sosis. Dan Kanselir Jerman, Angela Merkel pun menyerukan para anggota parlemen agar berhati-hati dengan pembangunan masjid di Jerman.

“Kubah-kubah masjid tidak boleh dibangun dengan tinggi melebihi menara-menara gereja,” kata Merkel.

Sebelum pembangunan masjid Creteil, otoritas Prancis juga sudah “berupaya” keras mengembalikan para imam masjid ke negara-negara asalnya. Para anggota DPRD di Creteil yang anti-imigran gencar memprotes penggunaan dana-dana negara untuk pembangunan pusat kebudayaan termasuk untuk masjid Creteil. Sebagian dari mereka kuatir, para wanita mereka tidak bisa lagi menggunakan bikini ketika berenang di danau dekat mesjid itu.

Tapi Moore menyebut Cathala sebagai pengecualian, dan Moore benar. Cathala, anggota Partai Sosialis Prancis yang menjabat walikota Creteil selama tiga dekade, menganggap pembangunan masjid di Creteil sebagai evolusi demografi di kotanya. Dia meyakini hal itu dan mempraktikkannya.

Lalu Senin tempo hari, sekelompok massa yang mengatasnamakan umat Islam Bekasi, Jawa Barat memprotes pembangunan gereja di kota itu. Sembari berteriak-teriak menyebut nama Allah, mereka meminta pemerintah daerah mencabut izin pendirian pembangunan Gereja Santa Clara meskipun semua persayaratan dan izin mendirikan gereja sudah selesai diurus.

Dan ini yang kemudian terjadi: Walikota Bekasi, Rahmat Effendi seperti mengamini protes yang memalukan itu, lalu menyatakan tidak boleh ada aktivitas dan pembangunan gereja sampai ada kekuatan hukum tetap oleh yang berwenang. Status quo, katanya, meski sulit dimengerti, kenapa dan untuk apa.

Gereja Katolik Santa Clara yang ditentang orang-orang Islam di Bekasi adalah gereja yang sudah ada sejak 11 Agustus 1998, dan selama 17 tahun Paroki setempat berupaya mendapatkan IMB. Dan setelah izin keluar [tiga hari sebelum Lebaran, Juli silam], entah kenapa orang-orang Islam di Bekasi kemudian menentangnya, dan perilaku mereka niscaya memalukan. Tak pelak lagi.

Saya lalu teringat Angel, perempuan asal Brastagi, Sumatra Utara yang berjualan buah tak jauh dari rumah saya. Saya dan istri sering datang ke kiosnya, dan sementara istri saya memilih buah, saya sering mengajaknya bicara. Saya memanggilnya Ito, dan dari Ito itu saya tahu, sungguh sulit bagi minoritas untuk mendirikan tempat ibadah.

Ito seorang Nasrani yang setiap Minggu terpaksa beribadah dengan menumpang sebuah aula milik kesatuan tentara. Dan setiap selesai kebaktian, dia bersama kawan-kawannya anggota jemaah gereja, berpatungan mengumpulkan dana agar bisa membayar sewa aula tempat mereka memuji Tuhan. Tak ada keluhan dari nada bicaranya, tapi kembali rumah, saya terisak. Saya malu.

Di mana saja di seluruh dunia, minoritas memang selalu mendapat tekanan termasuk untuk mendirikan tempat ibadah. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu dituntut menghormati mayoritas. Kaum mayoritas itu, celakanya sering menyandarkan alasan mereka menekan minoritas, kepada ajaran agama, termasuk yang terjadi di Bekasi, Senin silam.

Mereka tampaknya lupa, bahwa tak ada satu ayat pun di Al Quran, juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad saw. yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah. Tidak pula ada larangan untuk berbeda keyakinan karena Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak ada ajaran kebencian di sana. Tidak juga diajarkan untuk curiga dan berburuk sangka.

Dan sungguh adalah ironi, bila semua ajaran baik seperti itu, kemudian justru dipraktikkan oleh Cathala, yang delapan tahun lalu mendukung dan memberi ongkos pembangunan masjid di kotanya, Creteil.

Simaklah kemudian yang dikatakan Cathala saat menjawab protes orang-orang yang menentang pembangunan masjid di Creteil itu: “Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain, apalagi dalam soal agama dan keyakinan mereka.”

----------------------------------------------------------------------------------------
Artikel di atas saya kutip sesuai dengan aslinya dari islami.co oleh Rusdi Mathar. 
Ilustrasi gambar saya ambil dari situs resmi travelmosquee.
CATHALA. Di tengah paranoid publik Barat terhadap Islam, walikota Creteil di Prancis melawan arus dengan mengizinkan pembangunan masjid megah di kotanya. Itulah masjid Creteil, masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Eropa dalam waktu 100 tahun terakhir.
Di bangun di sebuah bukit kecil, di tepi danau yang tak jauh dari balai kota dan pos polisi, masjid Creteil menelan ongkos US$ 7,4 juta. Tempat salatnya bisa menampung 2.500 jemaah, sementara menaranya ada 81 buah. Dikutip “the Washington Post,” 9 Desember 2007; Molly Moore, periset dari Corinne Gavard menyebut pembangunan masjid di Creteil sebagai “pengecualian” di tanah Eropa.
Creteil adalah kota yang terletak di sebelah tenggara Paris. Di Prancis, Creteil merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim paling banyak bahkan mungkin untuk seluruh daratan Eropa. Dari sekitar 88 ribu penduduk di kota kecil itu, 20 persen di antaranya adalah pemeluk Islam. Mereka semua beribadah di sebuah gudang bekas penyimpanan kayu hingga datang tawaran dari Laurent Cathala, walikota Creteil saat itu untuk membangun sebuah masjid.
Dan ketika mulai dibangun [delapan tahun silam], pemerintah daerah Creteil di bawah Cathala tak hanya mendukung, melainkan turut mengongkosi pembangunan kompleks masjid. Cathala bahkan berterusterang dengan semua bantuan keuangan yang disumbangkan untuk pembangunan masjid Creteil, dan hal itu tentu saja menggembirakan Muslim di Prancis di tengah paranoid masyarakat Barat terhadap Islam.
Moore mencatat, Islam di Eropa adalah agama terbesar kedua setelah Nasrani, dan Prancis adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim paling banyak. Dari total penduduk Prancis [2007] 65 juta jiwa, sekitar 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah muslim. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan kedua, yang lahir, besar dan menjadi warga negara di sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis. Tapi hingga masjid Creteil dibangun, pembangunan masjid sangat sulit terwujud di Eropa.
Dari London, Inggris hingga Cologne dan Marseille, Prancis, penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa terus disibukkan dengan penolakan pembangunan masjid. Mereka menentang pembangunan masjid karena dianggap bisa mempengaruhi keamanan nasional dan kepribadian mereka.
Di Ibukota Inggris, London, pendirian masjid di dekat taman yang bersebelahan dengan areal Olimpiade 2012, telah ditentang besar-besaran oleh pemerintah dan warga Inggris bahkan ketika masih dalam bentuk proposal. Kaum nasionalis Swiss pernah beramai-ramai menentang pembangunan mesjid di negaranya. Di sebuah bukit kecil bernama Colle Val d’Elsa, di Tuscan, Italia, penduduk setempat melempari pintu utama menuju masjid setempat yang dalam proses pembangunan dengan sosis. Dan Kanselir Jerman, Angela Merkel pun menyerukan para anggota parlemen agar berhati-hati dengan pembangunan masjid di Jerman.
“Kubah-kubah masjid tidak boleh dibangun dengan tinggi melebihi menara-menara gereja,” kata Merkel.
Sebelum pembangunan masjid Creteil, otoritas Prancis juga sudah “berupaya” keras mengembalikan para imam masjid ke negara-negara asalnya. Para anggota DPRD di Creteil yang anti-imigran gencar memprotes penggunaan dana-dana negara untuk pembangunan pusat kebudayaan termasuk untuk masjid Creteil. Sebagian dari mereka kuatir, para wanita mereka tidak bisa lagi menggunakan bikini ketika berenang di danau dekat mesjid itu.
Tapi Moore menyebut Cathala sebagai pengecualian, dan Moore benar. Cathala, anggota Partai Sosialis Prancis yang menjabat walikota Creteil selama tiga dekade, menganggap pembangunan masjid di Creteil sebagai evolusi demografi di kotanya. Dia meyakini hal itu dan mempraktikkannya.
Lalu Senin tempo hari, sekelompok massa yang mengatasnamakan umat Islam Bekasi, Jawa Barat memprotes pembangunan gereja di kota itu. Sembari berteriak-teriak menyebut nama Allah, mereka meminta pemerintah daerah mencabut izin pendirian pembangunan Gereja Santa Clara meskipun semua persayaratan dan izin mendirikan gereja sudah selesai diurus.
Dan ini yang kemudian terjadi: Walikota Bekasi, Rahmat Effendi seperti mengamini protes yang memalukan itu, lalu menyatakan tidak boleh ada aktivitas dan pembangunan gereja sampai ada kekuatan hukum tetap oleh yang berwenang. Status quo, katanya, meski sulit dimengerti, kenapa dan untuk apa.
Gereja Katolik Santa Clara yang ditentang orang-orang Islam di Bekasi adalah gereja yang sudah ada sejak 11 Agustus 1998, dan selama 17 tahun Paroki setempat berupaya mendapatkan IMB. Dan setelah izin keluar [tiga hari sebelum Lebaran, Juli silam], entah kenapa orang-orang Islam di Bekasi kemudian menentangnya, dan perilaku mereka niscaya memalukan. Tak pelak lagi.
Saya lalu teringat Angel, perempuan asal Brastagi, Sumatra Utara yang berjualan buah tak jauh dari rumah saya. Saya dan istri sering datang ke kiosnya, dan sementara istri saya memilih buah, saya sering mengajaknya bicara. Saya memanggilnya Ito, dan dari Ito itu saya tahu, sungguh sulit bagi minoritas untuk mendirikan tempat ibadah.
Ito seorang Nasrani yang setiap Minggu terpaksa beribadah dengan menumpang sebuah aula milik kesatuan tentara. Dan setiap selesai kebaktian, dia bersama kawan-kawannya anggota jemaah gereja, berpatungan mengumpulkan dana agar bisa membayar sewa aula tempat mereka memuji Tuhan. Tak ada keluhan dari nada bicaranya, tapi kembali rumah, saya terisak. Saya malu.
Di mana saja di seluruh dunia, minoritas memang selalu mendapat tekanan termasuk untuk mendirikan tempat ibadah. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu dituntut menghormati mayoritas. Kaum mayoritas itu, celakanya sering menyandarkan alasan mereka menekan minoritas, kepada ajaran agama, termasuk yang terjadi di Bekasi, Senin silam.
Mereka tampaknya lupa, bahwa tak ada satu ayat pun di Al Quran, juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad saw. yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah. Tidak pula ada larangan untuk berbeda keyakinan karena Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak ada ajaran kebencian di sana. Tidak juga diajarkan untuk curiga dan berburuk sangka.
Dan sungguh adalah ironi, bila semua ajaran baik seperti itu, kemudian justru dipraktikkan oleh Cathala, yang delapan tahun lalu mendukung dan memberi ongkos pembangunan masjid di kotanya, Creteil.
Simaklah kemudian yang dikatakan Cathala saat menjawab protes orang-orang yang menentang pembangunan masjid di Creteil itu: “Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain, apalagi dalam soal agama dan keyakinan mereka.”
- See more at: http://islami.co/feature/511/8/cathala.html#sthash.6QqZBnFG.dpuf

Tuesday, 7 July 2015

Identitas Baru

- No comments
Bukan ilustrasi sebenarnya.

Beberapa minggu lalu, saya melakukan perjalanan dinas ke sebuah negeri yang dikenal sebagai negeri dengan masyarakat yang arogan. Kota nan cantik di salah satu negeri itu masih saja kelihatan kotor, termasuk kotoran anjing yang terlihat di mana-mana. Bau menyengat di stasiun kereta bawah tanahnya sama seperti saat sepuluh tahun lalu saya mengunjunginya.

Seperti Cermin

Kalalu saya bercerita demikian, saya tak sedang menghakimi sebuah negeri. Saya malah sedang mendapat pelajaran dan sejuta pertanyaan dari perjalanan dinas itu. Pertanyaannya adalah demikian. Susahkan berubah itu, terutama kalau perubahan itu ke arah yang lebih baik? Mau atau malaskan manusia berubah ke arah yang baik itu? Takutkah manusia akan perubahan dari arogan menjadi rendah hati? Dari kotor menjadi bersih? Gamangkah kalau tak bisa kotor lagi, tak bisa tinggi hati lagi? Takutkah manusia memiliki kepribadian baru meski yang baru itu menjadi lebih baik?

Perjalanan terbesar yang saya petik adalah perilaku manusia itu bisa mengubah manusia lain. Menjadi lebih baik atau menjadi lebih jahat. Singkatnya, perilaku manusia adalah cermin seberapa lingkungan meninggalkan pengaruhnya.

Sejak tujuh tahun lalu, saya memutuskan untuk sedikit berubah karena berubah banyak saya tidak mampu. Saya realistis saja karena biasanya sangat jauh dari menjadi realistis. Saya mau mengubah sikap tinggi hati saya menjadi rendah hati, termasuk lebih menguasai diri dan mengampuni. Meski belum signifikan, perubahan itu nyata dan sudah melahirkan komentar bahwa taring saya sudah tumpul. Tulisan saya sudah tidak lagi ada gregetnya, terlalu baik dan sok suci.

Meski mulut saya masih berkicau dan menggelegar, kicau dan gelegarnya sudah jauh berkurang meski masih saja ada yang terkaget-kaget. Perubahan-perubahan selama tujuh tahun ke arah yang lebih baik yang saya lakukan dengan energi nyaris terkurang menjadi sia-sia, bahkan nyaris hilang selama kunjungan dinas yang berdurasi satu minggu itu.

Ini contohnya. Setiap kali naik taksi, setiap kali saya berteriak. Sampai teman saya yang sudah kelelahan mau naik taksi saya rayu supaya tidak naik taksi lagi. Bukan saya tidak mau mengeluarkan dana, bukan saya tidak berani menghadapi si sopit taksi, saya mencegah supaya saya tidak lebih menjerit lagi dan membuat hati jadi panas seperti kompor.


Seperti Valium
Saat makan siang, pesanan saya dan teman datang lama sekali. Kami menunggu nyaris setengah jam lamanya. Saya kemudian bertanya soal pesanan kami. Salah satu pelayan muda nan tampan berkata begini, “Maaf bisakah anda menunggu karena chef kami hanya satu?” Saya menjawab, “Kalau anda punya chef hanya satu itu masalah anda, saya sudah menunggu dari 20 menit yang lalu.”

Akan ada segudang cerita yang membuat naik pitam dan saya tidak perlu membeberkan semuanya. Karena di Jakarta kejadian macam itu juga saya alami. Tak hanya dengan sopir taksi dan pegawai rumah makan, tetapi juga dengan PR yang arogan, pegawai mal yang arogan, atau staf kantor yang mulutnya seperti setrum yang menyengat.

Kebiasaan buruk itu menghancurkan kondisi baik, dan seperti anda dan saya ketahui, yang negatif itu cepat memberi efek, lebih cepat dari MLM. Maka, yang bisa mencegah agar perilaku buruk itu tak makin memburuk hanyalah saya seorang.

Saya tidak kalah kalau saya tidak membalas dengan jeritan dan kearoganan. Kalah karena tidak menjadi juara arogan, tidak menjadi juara menjerit, itu sebuah kemenangan yang telak. Itu menandakan bahwa saya mengontrol emosi dengan baik, dan mereka yang menjerit dan arogan sejujurnya sedang membutuhkan pertolongan.

Pada saat saya memutuskan untuk berubah ke arah yang lebih baik, saya seperti memasuki dunia yang baru dan asing. Bayangkan saja, dari suara menggelegar ke suara yang separuh menggelegar.
Itu seperi anak kecil belajar berjalan. Gamang karena biasanya memancing amarah dan ketersinggungan, sekarang belajar membuat orang menjadi tenang. Saya harus seperti valium yang menenangkan orang yang tak saya sukai. Itu beratnya setengah mati!

Mungkin, ini hanya mungkin, kalau kehilangan separuh gelegar dan arogan itu akan menakutkan. Karena acap kali wibawa dicari denan menggunakan gelegar guntur dan kilat yang menyambar. Maka, daripada gamang, kehilangan taring dan wibawa, sebaiknya tak perlu memiliki ideintitas baru. Saya ini memang begitu. Suka diterima, nggak suak ya….., ke laut aja.

Itu hak setiap orang berkata demikian. Saya hanya menyarankan untuk mencoba sebuah pengalaman baru untuk tidak korupsi lagi, tidak arogan dan menjerit lagi. Kalaupun dulu anda pernah tidak demikian dan sekarang anda menjadi demikian, anda membutuhkan pertolongan.

Karena solusi mau kaya bukanlah korupsi, solusi mau berwibawa bukan dengan menjaerit dan menjadi arogan. Anda keliru besar! Negatif bukanlah solusi untuk menjadi positif.[]

Tulisan di atas adalah tulisan Samuel Mulia yang saya sadur dari Kompas edisi Minggu, 23 Oktober 2011

Monday, 1 June 2015

Body Lotion

- No comments

“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.”

Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

Kulit kering

Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal.

Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan supaya mereka bisa sembuh dan tidak “pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil, doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya. Tuhan bisa saja menyembuhkan, tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh. Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan baik. Saya tak pernah mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak sembuh dan kehilangan. Kehilangan itu membebaskan saya dari berpikir egois. Contohnya begini. Saya ingin orangtua tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan sesak napas setiap saat, mata yang sudah tak melihat, dan telinga yang susah mendengar, sehingga sering kali malah berantem karenanya.

Saya ingin meraka ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tidak bisa melihat. Saya punya teman yang memiliki kepribadian sangat negatif. Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelamahan. Tetapi, makin hari, kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya nyaris KO. Kalau dimisalkan kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.

Tiga Folder Melalui peristiwa itu, saya belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orang tua, atau siapa pun itu adalah sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan itu bisa mengubah anda menjadi the better you. Anda dan saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna manusia adalah mahluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi mahluk sosial selalu saja ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya. Maka, setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman.

Ini saran saya saja. Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima siapa saja. Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahun teman-teman pada butir satu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step berikutnya. Ketiga, sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani. Nah, menurut pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin peka saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada folder-nya masing-masing. Saya memiliki tiga folder.

Ada folder untuk teman yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan. Kalau Anda merasa saya meperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, anda keliru besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan.

Oleh karena itu, saya takakan memusuhi, mereka bukan musuh saya. Kalau mereka kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di mal, saya sarankan sesuatu. Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri anda sendiri. Begini. Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda kemudian menyebar cerita kemana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah mati, padahal yang harus membenahi diri adalah diri Anda sendiri. Maka, cobalah berusaha menjadi body lotion yang melembabkan kulit kering mulai sekarang.

Anda siapa? Ready, set, go.

** Samuel Mutia dalam Kompas, Minggu, 25 September 2011