Showing posts with label Tali Rasa. Show all posts
Showing posts with label Tali Rasa. Show all posts

Monday, 9 May 2016

PETANI KECIL MERAWAT KEBUN KECIL

- No comments

Petani kecil itu bingung harus menanam apa di pekarangan yang ia dapat dari seseorang sebagai hadiah. Melihat beberapa pekarang di sekitarnya yang ditanam jagung, ia pun mencoba menanam jagung. Dibelilah tiga pack bibit jagung lalu ditanam dan disirami dengan seribu harapan dan impian.

Seminggu dua minggu berlalu benih jagung itu tidak mengeluarkan tunasnya sama sekali. Petani kecil itu marah lalu membongkar benih jagung yang telah ditanam beberapa minggu yang lalu. Ia terkejut bukan kepalang. Benih-benih itu sudah tak berisi, ludes dimakan hama yang juga melahap seluruh harapan dan mimpinya.

Ia pulang dengan wajah lesu.

Ia mengambil waktu untuk merenungi diri. Sambil meneguk kopi dan barangkali untuk kembali mengumpulkan energi. Aha… benar saja. Kini ia ingin menanam ubi jalar.

Dari bibit yang ia dapat, ubi jalar itu ditanam dan disirami lebih banyak lagi harapan dan dan impian. Pagi dan sore. Kepada tetangga ia menggadang-gadang kalau ubinya nanti akan dipanen dengan keberkahan dan kebahagiaan.

Namun, sekian hari berlalu batang-batang ubi jalar itu tidak menumbuhkan daun baru. Justru semakin layu dan kering. Akhirnya mati.

Petani kecil malang itu kembali merenungi nasib diri, mengurung harapannya dalam kekecawaan dan kegagalan, lalu menjalani hari-harinya dengan keputusasaan seperti kebanyakan orang ketika ditimpa nestapa. Bahkan bukan hanya harapannya dikurung, tubuhnya pun dikungkung dalam kemalasan.

Pekarangannya dibiarkan begitu saja, ditumbuhi rumput liar yang kian meninggi, sarang semut rang-rang di mana-mana, dan yang mengerikan di semak-semak sudut pekarangan terdapat ular yang telah memangsa ternak tetangga.

Di permulaan senja, ketika langit biru dan putih mulai ditimpa celorot kuning, si petani berdiri di bibir pekarangannya. Ia memandangi pekarangan yang telah menjadi semak belukar itu. Tak hanya ilalang yang tumbuh bahkan tumbuhan lainnya ikut bertunas.

Biji rambutan yang dibuang tetangga bersamaan dengan sampah dapur sudah mengeluarkan tunasnya, daunnya membelah biji menjadi dua. Ada cabai dan tomat. Juga cimplukan yang buahnya asam manis saat ditelan. Termasuk ubi yang dikiranya telah mati dan tak bisa diharapkan.

“Mengapa sesuatu yang alamiah seperti ini justru bisa tumbuh begitu subur?” ucapnya pada hati kecilnya.

Petani kecil malang bertekad kembali menghilangkan kemalangannya. Ia pulang mengambil sabit dan kembali ke pekarangan lalu membabat rumput-rumput liar itu. Sesekali juga bergulat dengan semut dan nyamuk. Ia juga harus waspada kalau-kalau ular yang telah menyerang ternak tetangga juga menyerang kakinya.

Dirawatlah tumbuhan itu dengan suka cita, dengan keikhlasan.

“Untuk apa kau melakukan itu? Kau merawat tumbuhan tidak berguna itu.” Tanya seseorang.

“Apa harus kusebutkan alasan itu kepadamu?”

Petani kecil itu tetap berpegang teguh pada pendiriannya, meskipun petani-petani lain menertawai dan memperoloknya. Hati kecil petani kecil itu berbisik, tidak semua tindakan membutuhkan alasan yang bisa diterima orang lain. Tapi setiap tindakan membutuhkan niat suci di setiap permulannya, dan jagalah sampai penghujungnya.

Namun, bukan berarti ia tidak diserang keragu-raguan. Dalam sepinya ia disergap pertanyaan, apakah pohon itu akan berbuah seperti yang ada di dalam benakmu? []

----------------------
Untuk  memenuhi tantangan #MenulisApaSaja.

Wednesday, 4 May 2016

TANTANGAN MENULIS UNTUK DIRI SENDIRI

- No comments

Saat waktu senggang saya menyempatkan diri untuk membuka beberapa portal yang memuat tulisan-tulisan bernas atau mungkin satir. Juga beberapa situs favorit. Mengapa? Tentu, karena saya ingin belajar. 

Tulisan mereka yang mampang di halaman depan: postingan terbaru, terpopuler, paling banyak dikomentari, sering mengilhami atau setidaknya menjadi cemeti bagi saya untuk menulis. Sering terbesit pertanyaan 'bagaimana mereka bisa menulis seperti itu?' 

Kalau kita membaca How to dan ribuan tips menjadi penulis produktif kita bisa mengambil satu titik temu: sering-seringlah menulis. Menulis apa? Ya apa saja.

Saya yakin, tulisan-tulisan yang dimuat di media masa, portal, atau buku-buku yang bertebaran di galeri toko adalah hasil dari proses panjang nan disiplin. Sama seperti kekhusyuán dalam shalat yang merupakan proses panjang penempaan diri. Bukan hasil bimsalabim

Di antara mereka barangkali telah menulis ribuan kali, mengikuti mentoring menjadi penulis kreatif, ditolak berkali-kali oleh editor, dan pengalaman yang tak terhitung sehingga mereka bisa menjadi seperti sekarang ini. 

Sedangkan saya? 
Saya menulis hanya karena suka. Parahnya lagi karena hanya kalau sempat. Kualitas kedisplinan yang bobrok yang tidak patut ditiru. 

Ketika saya bertekad untuk menyisihkan waktu tiga puluh menit sampai satu jam setelah bel sekolah berdering, membaca beberapa lembar buku, saya berharap isi kepala saya mendapatkan asupan yang baik. Tapi saya kira itu tidak cukup. Saya ingin membuat satu tantangan untuk diri saya sendiri. 

#MenulisApaSaja. Tagar yang saya buat untuk memacu kreatifitas saya dalam menulis apa saja dan harus diposting pada hari Senin dan Kamis. Orang-orang puasa, saya posting tulisan. 

Bibit yang telah ditanam harus terus dirawat.

Tuesday, 3 May 2016

RUMAH

- No comments
Pertikaian berkepanjangan di negeri seribu nabi itu tidak lain adalah masalah tanah. Berita tentang ribuan linang air mata yang menghantarkan genting dan atas seng roboh juga perihal tanah. Drama kekanakan tentang reklamasi itu juga jelas nyata tentang tanah.

Tanah yang nantinya akan ditanami rumah-rumah adalah investasi yang tak ternilai. Harganya tidak pernah surut. Bisa menjual tanah belum tentu bisa membeli tanah dengan ukuran yang serupa. Tetapi orang-orang tidak akan pernah surut untuk mencarinya.

Semenjak Qasidaria melantunkan lagu “Tahun Dua Ribu” sampai sekarang bisnis properti ini tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Justru semakin banyak sawah-sawah yang dijarah, hutan-hutan yang dirobohkan, hanya untk membuat cluster-cluster. Para pembelinya pun tidak kalah kalapnya. Dengan cara apa saja ditempuh untuk mereguknya.
Rumah adalah statemen kesabaran, kemandirian, kenyamanan, dan keamanan. Di sisi lain rumah juga bisa menjadi statemen untuk ketamakan, kemegahan, kesombongan, dan kebencian.

Ada yang memiliki rumah dibangun dari butiran keringatnya sendiri, menyisihkan keinginan untuk makan enak atau berpakaian mewah supaya bisa mendirikan bata merah. Tetapi ada juga yang memiliki rumah dengan sekali jentikkan jari yang membikin iri. Bangunannya tinggi-tinggi tetapi oleh tetangga dijauhi.

Ada yang karena tidak mampu membeli rumah, mengontrak rumah pun tak apa. Menyisihkan selembar atau dua lembar gaji supaya tahun depan bisa menyewa rumah lagi. Tetapi ada yang dengan pongahnya membeli rumah di sana-sini, mengontrakkan kepada siapa saja yang membutuhkan, memanfaatkannya sebagai ATM pribadi.

Ada yang hanya mampu tinggal di geribik-geribik, yang lobang dindingnya ditambal dengan plastik, atapnya pun dari asbes atau seng. Kalau datang musim panas, Masya Allah panasnya. Kalau datang musim hujan, Masya Allah beceknya. Tetapi ada yang setiap tahun menghiasi rumahnya dengan perabot serba mewah, memasang pendingin ruangan terbaik. Musim panas dan musim hujan tidak bisa lagi dibedakan.


Semua itu adalah ekspresi kerinduan. Rasa yang tumbuh di dalam sanubari untuk memiliki hunian yang nyaman. Sejujurnya, tidur tidak membutuhkan banyak fasilitas seperti kasur empuk dan lainnya.

Kalau saya mengantuk maka saya menyadari bahwa tubuh saya membutuhkan tidur. Tidak peduli saya tidur di lantai, dipan, atau kasur. Jangan-jangan, fasilitas mewah di kamar tidur itu justru memanjakan tubuh yang seharusnya bangkit malah merebah, yang seharusnya berkarya malah bermalas-malas.

Saya kira tidak hanya saya yang berpikir seperti itu. Ada ribuan atau jutaan orang yang tidak begitu mempedulikan apa yang menjadi alas tidurnya. Konsen hidupnya adalah berbuat baik untuk orang lain. Bekerja untuk memenuhi kewajibannya. Berkarya untuk aktualisasi hidupnya. Dengan begitu, kehidupan berjalan.


Seperti kebanyakan keluarga, akhirnya saya dan kekasih hidup saya sampai pada tema obrolan tentang rumah. Tentu saja dalam obrolan itu terdapat saran dan sanggahan, pertanyaan dan jawaban. Lalu, kesimpulan dari obrolan panjang itu adalah sebuah pertanyaan ‘kapan kita memiliki rumah?’ 

Satu yang ingin saya bagi dari diskusi kami. Saya teringat nasehat guru saya: jar qobla dar: lihatlah lingkungan sebelum kamu memutuskan untuk tinggal.

Karena rumah bukan sekedar tempat meluruskan punggung dan menggeretakkan tulang-tulang sendiri setelah lelah bekerja.

Rumah adalah tempat cinta dan kasih bersemi. Di dalamnya bukan hanya tubuhmu yang terkulai tetapi ada istri dan anakmu yang rapal wirid dan doa-doanya tak pernah berhenti. Nyanyiannya bukan hanya tetesan hujan di atas genting tetapi tangis anakmu dan cerewet mulut istrimu.

Sekolah yang sebenarnya bagi anak-anak adalah lingkungan tempat tinggal. Mereka belajar memilih diksi bahasa dari teman-teman sepermainan. Halaman rumah, pelataran masjid, jalan dan gang adalah pelajaran yang ditulis di papan tulis. Penjual jajan, teman bermain, tetangga, orang-orang di pos kamling, pangkalan ojek, mereka adalah mentor bagi anak-anak kita.

Di sana mereka melakukan elaborasi, di rumah mereka mencari konfirmasi. Tindakan kita, dengan sadar ataupun tidak, sering sekali menjadi konfirmasi bagi pencarian anak-anak. Kalau yang dikonfirmasi yang baik-baik, nah kalau ternyata yang dikonfirmasi adalah yang sebaliknya?


Ternyata, memilih rumah tidak semudah memilih selembar kain.

Thursday, 29 October 2015

SEMOGA DAVINA LEKAS MEMBACA SURATKU INI

- No comments
Davina Cahya Syakira
Nduk, sewaktu kamu lahir tangismu memekik seperti --dalam lagu Ebiet G Ade-- seruling bambu yang merayap ke langit. Sayangnya, karena kelahiranmu terjadi di siang hari, serulingmu terganggu  suara desing kendaraan bermotor. 

Tuh kan, baru lahir saja kamu sudah diribeti. Meskipun hanya tangis. Selain itu, nduk, bukan hanya kamu yang nangis siang itu. Bapak dan eyang utimu juga ikut nangis. Menangis bahagia. 

Ngomong-ngomong tentang bahagia, banyak rumus yang dapat membuat kita bahagia. Cara paling mudah merasakan bahagia adalah dengan memuasi keinginan diri sendiri. Seperti kamu di awal-awal kehidupanmu ini: lapar minta nenen, kamu nangis; popok basah minta diganti, kamu nangis; mati lampu dan pengap, kamu juga nangis. 

Suatu saat nanti, kamu akan merasakan bahagia bukan dengan memuasi apa yang kamu inginkan. Kamu bisa merasakan kebahagiaan dengan cara memberi. Memberi bukan karena kewajiban tetapi memberi karena kamu senang melakukannya. Hanya saja tidak mudah. Eh, inget, yang tidak mudah itu bukan berbarti tidak bisa dilakukan. Bisa, nduk, bisa. Hingga kalau sudah terbiasa semuanya jadi benar-benar terasa mudah.

Nduk, kamu lahir di saat yang tepat, meskipun bak kamar mandi kering karena kemarau, di saat ibumu perlu teman mengobrol di rumah kontrakan, di saat bapakmu masih saja malas pulang cepat dari kantor dengan sederet alasan. 

Kehadiranmu memang jadi pengikat, nduk

Saya pingin ceritakan tentang namamu, nduk, supaya kamu tidak bertanya-tanya kenapa bapak dan ibumu sepakat untuk menyematkan nama Davina Cahya Syakira. Dan juga cerita lucu ketika eyang utimu tanya, "terus manggilnya apa?". 

Tapi saya ceritakan lain kali saja ya, nduk. Bapak mau menghabiskan kopi dulu.

Monday, 5 October 2015

Kue Lupis dan Kesejahteraan Bangsa

- No comments

Pagi ini saya menemani isteri ke pasar, belanja keperluan untuk anak pertama kami, dan kalian pasti bisa menduga-duga betapa kami menjadi pasangan yang bahagia. Mengagumkan. Tapi ada kekaguman lain yang luput dan saya temukan pagi ini.

Kue ini, di Jawa Timur sana, disebut kue lupis. Berbahan dasar beras ketan yang dikukus terus ditaburi ampas dan disiram gula merah yang dicairkan. Kalian bisa cari resepnya lalu mencoba sendiri di rumah.

Istimewanya di mana? Ada di tengah-tengah pasar Koga, di depan toko plastik diapit antara gudang dan penjual pakaian. Kue ini dijajakan oleh perempuan tua, tak bisa kukira-kira umurnya, dengan kebaya hijau dan bersanggul. Bodohnya saya tidak membawa kamera atau memotret menggunakan handphone.

Politik negeri ini boleh jungkir balik tidak karuan tapi selama yang muda masih bisa menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, kita tetap bahagia. Apalagi kalau beras ketan dan gula merah tidak tiba-tiba menghilang. Eyang berkebaya hijau dan bersanggul itu masih bisa membuat lupis dan dijajakkan di pasar Koga.

Ada puluhan, ratusan, dan ribuan manusia di negeri ini yang hidup tak mengaduh. Mereka bekerja (coret kata bekerja dan ganti dengan berkarya) untuk kehidupan. Apa untungnya menjual kue lupis di celah sempit antara gudang dan toko baju, duduk di atas dingkelik dan bermeja anyaman bambu? Kalau kalian pernah memberi dengan tulus maka kalian akan merasakan keuntungan menjual kue lupis.

Pak presiden mungkin memang norak ketika memberi instruksi kepada jajarannya kalau rapat tidak usah beli snack macam-macam, cukup kue singkong saja. Anggaplah pak presiden ingin mengangkat ekonomi menengah ke bawah. Kalau memang begitu sebaiknya langkahnya bukan sekedar memborong produknya saja tapi coba sawah-sawah jangan ditanami beton, bangunlah irigasi supaya subuh ladang dan sawah.

Jangan salah, orang-orang pedesaan yang hidup di lereng pegunungan tak butuh apa-apa dari luar sana. Kalianlah yang butuh mereka. Hanya saja akhir-akhir ini mereka, para petani, ikut-ikutan bingun seperti pada pemimpin di parlemen dan pemerintahan. Mereka dibawa-bawa ke dalam catur perpolitikan dan ngenesnya hanya diatasnamakan saja.

Aha, kemarin undang-undang desa sudah diketok. Kita doakan saja semoga gema ketokannya betul-betul merambat sampai ke pedesaan.

Kue lupis hanya sebagian dari tradisi lama yang semakin tergerus sejak lama. Padahal masih ada klepon, gethuk lindri, otak-otak, dan banyak lagi. Kalau tiba-tiba ada kudeta pemerintahan jajanan ini akan tetep enak dinikmati.

Saturday, 26 September 2015

Menulis itu Ibarat Mendaki Gunung

- No comments
 
Setelah lama beristirahat akhirnya saya putuskan untuk kembali berangkat mendaki gunung itu. Saya yakin pasti akan ada rintangan lagi dan juga reaiki. Tapi bukankah setiap pilihan selalu disertai resiko. Bukannya menantang resiko, tapi sekedar menyadarkan diri kalau resiko itu pasti ada.

Ada banyak resiko yang akan dihadapi oleh pendaki gunung. Mungkin tergelincir atau tersesat lalu dehidrasi dan mati.

Tetapi sebenarnya tidak usah takut dengan kehabisan bekal karena alam sudah menyediakan semuanya. Kalau kehabisan bekal silahkan petik buah atau berburu. Makan rumput juga boleh. Dan kalau saja tersesat, bersyukurlah karena kau baru saja menemukan daerah baru. Jadi kalau benar-benar tersesat, catatlah rute dan gambaran tempatnya karena kelak pasti bermanfaat.

Justru binatang buaslah yang saya takuti. Selain saya tidak punya ketrampilan menaklukkan binatang, badan saya juga kecil dan ringkih. Saya paling berani melawan nyamuk atau laba-laba. Bukan laba-labanya tapi sarang laba-laba yang melintang di jalan.

Padahal menulis itu ya seperti mendaki gunung. Terdapat rintangannya masing-masing. Menurut saya kok justru lebih sulit menulis dari pada mendaki gunung. Mendaki gunung bisa menjadi bahan untuk menulis tapi menulis bisa menjadi apa saat saya mendaki?

Saya paling sering mengalami stag dan tak tahu kalimat apa yang harus disusun selanjutnya. Tulisan tidak tuntas dan idenya terus lari ke sana kemari. Ketika menulis cerita, tokoh berjalan semaunya sendiri seperti tidak mau digiring pada konflik dan klimaks yang saya susun. Ia membuat ceritanya sendiri.

Benarlah kata Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah perjuangan. Menulis tidak hanya memperjuangkan ide atau opini tapi juga keberanian untuk bergulat dengan dirinya sendiri. Tak jarang opini yang dituangkan kita bantah sendiri. Tak jarah sudut pandang kadang menjadi bias ketika sebuah permasalahan dituangkan.

Saya juga tidak pintar-pintar amat menulis. Saya terus berlatih meskipun latihan saya belum berhasil amat. Setidaknya saya menyimpan tulisan-tulisan saya dalam folder di laptop dan ketika saya membaca ulang tumpahan ide atau opini yang saya tulis sepuluh tahun ini saya merasakan hal luar biasa.

Maka mempelajari membuat outline adalah langkah selanjutnya setelah kita belajar menangkap ide. Dulu saya sering gegabah. Setiap kali menemukan ide saya langsung saya menuliskan dalam paragraf-paragraf sehingga kehilangan ruh dan konteks. Rupanya, ini yang membuat tulisan saya banyak yang tidak tuntas dan tidak enak dibaca. Belajar dari sini saya mulai membuat outline, kata kunci, premis, tesis dan anti-tesis.

Perjuangan ini belum selesai. Berani menulis berarti berani juga mempertahankan dan mempertanggungjawabkan isi tulisan. Apalagi opini yang telah ditulis akan dipublikasikan di blog. Bayangkan kalau banyak orang yang membaca kemudian terpengaruh atau terinspirasi. Bayangkan kalau ditulis ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan sedangkan sudah terlanjur ada yang meyakini atau terinspirasi. Kita bukanlah para ababil yang gemar me-rebroadcast pesan horor di gadget.