Showing posts with label Featured. Show all posts
Showing posts with label Featured. Show all posts

Thursday, 19 May 2016

MENULIS, KEBERANIAN BERTANYA DAN MENJAWAB

- No comments
Hari Kamis.

Bakal terasa tegang hari ini karena belum juga ada ide untuk materi #MenulisApaSaja.

Bukan hari ini saja, sejak tekad #MenulisApaSaja tertanam, hari Senin dan Kamis menjadi hari yang bukan biasa saja seperti lainnya karena di hari itu saya menantang diri sendiri untuk memposting tulisan.

Padahal sering sekali ide sekelibat terlintas di kepala. Seperti saat mandi atau berangkat ke sekolah. Secara teori, kalau ada ide tulis kata kuncinya untuk mengikat ide supaya tidak keluyuran di mana-mana tapi, bro, gak semudah itu.

Yang paling sering, ide datang bersamaan dengan takbirotul ikhrom. Nah. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Kalau memilih khusyu', ya..., harus merelakan ide cemerlang itu lenyap. Kalau mau ngelunjak, ya... terus saja runut ide itu dari awal sampai akhir. Mulai dari plot hingga isinya. Sialnya, kalau tiba-tiba ide itu lenyap bersamaan dengan salam.

Keseharian saya bergelut dalam pendidikan. Banyak kejadian menarik yang bisa ditulis. Seperti obrolan anak-anak di kamar mandi; sisa-sisa makanan di kantin, riuh obrolan anak-anak menjelang shalat Dzuhur, dan lainnya.

Ada juga keinginan untuk berbagi cerita tentang Davina Cahya Syakira. Sejak Cahya mulai bisa mengucapkan 'ba ba ba' dan 'ta ta ta' hingga kini lebih senang bermainan mulut 'brbrbrbrbr...'

Kadang, yang membuat saya urung menulis/memposting tentang mereka adalah karena ketakutan saya untuk mempertanggungjawabkan tulisan saya. Saya tidak ingin hanya mengungkapkan masalah, tetapi ada keinginan untuk menghadirkan solusi. Imbas dari ketakutan itu adalah tulisan-tulisan itu cukup berhibrenasi di folder laptop saya. Sebegitukah?

Pandangan saya:
Maraknya copy/paste opini akhir-akhir ini menunjukkan semakin besar ketakutan untuk mempertanggungjawabkan opini pribadi. Termasuk saya. Apalagi dalam melakukan copy/paste, repost, share, diawali dengan "dari group sebelah". Sebelah mana? Sebelah empang?

Mirisnya, kalau ada yang tidak setuju lantas memberi sanggahan, eh, justru mendapatkan balasan "Maaf, saya cuma berbagi tulisan. Semoga bermanfaat."

Padahal, kalau copy/paste itu dilanjutkan dengan pandangan pribadi justru akan menjadi penguat--semacam referensi--untuk opini pribadi.

Sudahlah.

Tips: 
Semua yang ditumpahkan dalam sebuah tulisan berangkat dari jawaban atas apa yang terlintas, atau barangkali berangkat dari pertanyaan atas apa yang terlintas di dalam fikiran.

Kalau kita masih mampu mempertanyakan apa yang kita temui di masyarakat sebenarnya kita masih mampu melahirkan sebuah tulisan. Kalau kita masih mampu menjawab permasalahan yang timbul di masyarakat sebenarnya kita masih mampu melahirkan sebuah tulisan.

Hanya saja, berani atau tidak kita mempertanggungjawabkan pertanyaan atau jawaban yang kita tuangkan dalam tulisan? []


----------------------
Untuk memenuhi tantangan #MenulisApaSaja.

Monday, 16 May 2016

KITA DAN TANGGUNGJAWAB ETIKA/MORAL DI TEMPAT TINGGAL

- 1 comment

Maraknya berita tentang perilaku remaja akhir-akhir ini membuat hati siapapun menjadi teriris. Sedih. Selain merasa empati kepada korban juga merasa sedih karena merekalah yang kelak akan menahkodai bumi pertiwi ini. Selain menunjukkan betapa rendah nilai etika moral para pelaku juga menunjukkan betapa pendidikan kita belum menyentuh dunia mereka.

Kalau sudah seperti ini, siapa yang dipersalahkan? Siapa yang mau bertanggungjawab?


Kita lah yang bertanggungjawab atas lingkungan tempat tinggal kita. Kita sebagai bagian dari kehidupan sosial. Kita sebagai klaster dari masyarakat yang disebut dengan keluarga.

Dari kasus-kasus menurunnya nilai moral anak bangsa itu semua kembali kepada diri kita untuk bangkit, saling peduli satu sama lain, tidak lagi opurtunis mencari kenikmatan hidup sendiri. Kita harus kembali pada dunia saling menyapa, pada dunia tanpa curiga.

Kita mulai menyapa siswa-siswi yang ada di mall, perempatan jalan, rental play station, warnet, dan tempat lainnya di saat jam aktif belajar. Barangkali mereka membolos. Karena dengan begitu kita menunjukkan pedulian dan keprihatinan.

Remaja-remaja kita adalah pemiru ulung. Mereka akan re-create apa yang dilihatnya dan diaktualisasikan dalam berbagai bentuk. Kita, sebagai bagian dari masyarakat, lah yang melakukan pendampingan.

Saya sering merasa kegeeran ketika seseorang bertanya tentang aktifitas atau kreatifitas yang saya lakukan, tak jarang justru spirit saya meledak, karena pertanyaan-pertanyaan yang positif menimbulkan energi positif. Jangan sampai under estimate dengan istilah kepo (knowing every particular object) justru kita enggan bertanya. Kalau yang dilakukan adalah perihal positif kepo justru menjadi penyalur energi.

Eh eh, kok muluk-muluk amat cita-cita hamba ini. Masyarakat—kebanyakan masyarakat—sudah sibuk mengurusi perut keluarganya. Saya dan juga mereka sibuk membanting tulang dan peras keringat. Bahkan ada, yang tidak hanya suami, istrinya pun diseret-seret untuk ikut menguli.

Barangkali sikap seperti ini timbul karena urusan moral dan etika sudah sangat dipercayakan kepada lembaga pendidikan.


Lalu, lembaga pendidikanlah yang bertanggungjawab. Mereka sudah mendaulat diri mereka untuk menjadi bagian dari lembaga yang akan mencerdaskan anak bangsa. Melalui kurikulum dan skenario pembelajaran anak-anak bangsa ini ditempa menjadi pribadi yang berkarakter dan relijius.

Lihatlah muatan pelajaran anak-anak kita. Ada lebih dari sebelas mata pelajaran mereka lahap setiap minggu. Ada ribuan aktifitas yang dikemas untuk menggembleng mereka yang tadinya hanya gabah hingga bisa menjadi nasi.

Ada pelajaran tentang tata negara, agama, seni dan budaya. Ada pelajaran tentang olahraga dan bahasa. Ada pelajaran tentang logika, matematika, hingga kimia. Lengkap sudah yang dipelajari anak-anak kita di sekolah.

Saat ini, sekolah pun telah melakukan banyak inovasi dalam pendidikan. Ada sekolah dengan konsep belajar sehari penuh (fullday school) atau sekolah yang bernuanda dan berbasis agama, seperti sekolah islam terpadu.

Sekolah-sekolah seperti ini semakin diminati karena sekolah-sekolah reguler dinilai kurang memberikan jawaban atas tantangan zaman perihal etika/moral. Selain itu, sekolah-sekolah seperti ini menjadi ‘baby sitter’ karena kedua orangtua mereka sibuk dalam berkarir.

Selain keluarga, sekolah adalah lembaga yang paling berperan dalam membentuk karakter anak. Di sekolahlah mereka belajar nilai kedisiplinan dan saling menghargai, berfikir kritis dan akademis, mengasah kepekaan sosial dan spiritual.

Jadi, kalau di luar sana terjadi aksi untuk menunjukkan eksistensi yang keluar batas norma masyarakat dan norma hukum, tentu kita bisa melihat bahwa ada yang salah dengan proses pendidikan di keluarga dan di sekolah.


Barangkali pemimpin negeri inilah yang perlu instropeksi. Seluruh jajarannya harus kembali melihat ke dalam diri sendiri.

Karena uang dan jabatan kah mereka mencari kedudukan atau karena keiginan untuk mengabdi kepada pertiwi?

Pertanyaan naif dan paradoks. Padahal semua sudah tahu sama tahu. Sedikit sekali orang yang benar-benar ingin merawat negeri ini.

Hanya karena tanah air ini pernah dikelolah layaknya sebuah perusahaan, bukan berarti kita putus asa untuk bangkit dan menjadikannya benar-benar sebuah negara. 

----------------------------
Untuk memenuhi tantangan #MenulisApaSaja.

Monday, 9 May 2016

PETANI KECIL MERAWAT KEBUN KECIL

- No comments

Petani kecil itu bingung harus menanam apa di pekarangan yang ia dapat dari seseorang sebagai hadiah. Melihat beberapa pekarang di sekitarnya yang ditanam jagung, ia pun mencoba menanam jagung. Dibelilah tiga pack bibit jagung lalu ditanam dan disirami dengan seribu harapan dan impian.

Seminggu dua minggu berlalu benih jagung itu tidak mengeluarkan tunasnya sama sekali. Petani kecil itu marah lalu membongkar benih jagung yang telah ditanam beberapa minggu yang lalu. Ia terkejut bukan kepalang. Benih-benih itu sudah tak berisi, ludes dimakan hama yang juga melahap seluruh harapan dan mimpinya.

Ia pulang dengan wajah lesu.

Ia mengambil waktu untuk merenungi diri. Sambil meneguk kopi dan barangkali untuk kembali mengumpulkan energi. Aha… benar saja. Kini ia ingin menanam ubi jalar.

Dari bibit yang ia dapat, ubi jalar itu ditanam dan disirami lebih banyak lagi harapan dan dan impian. Pagi dan sore. Kepada tetangga ia menggadang-gadang kalau ubinya nanti akan dipanen dengan keberkahan dan kebahagiaan.

Namun, sekian hari berlalu batang-batang ubi jalar itu tidak menumbuhkan daun baru. Justru semakin layu dan kering. Akhirnya mati.

Petani kecil malang itu kembali merenungi nasib diri, mengurung harapannya dalam kekecawaan dan kegagalan, lalu menjalani hari-harinya dengan keputusasaan seperti kebanyakan orang ketika ditimpa nestapa. Bahkan bukan hanya harapannya dikurung, tubuhnya pun dikungkung dalam kemalasan.

Pekarangannya dibiarkan begitu saja, ditumbuhi rumput liar yang kian meninggi, sarang semut rang-rang di mana-mana, dan yang mengerikan di semak-semak sudut pekarangan terdapat ular yang telah memangsa ternak tetangga.

Di permulaan senja, ketika langit biru dan putih mulai ditimpa celorot kuning, si petani berdiri di bibir pekarangannya. Ia memandangi pekarangan yang telah menjadi semak belukar itu. Tak hanya ilalang yang tumbuh bahkan tumbuhan lainnya ikut bertunas.

Biji rambutan yang dibuang tetangga bersamaan dengan sampah dapur sudah mengeluarkan tunasnya, daunnya membelah biji menjadi dua. Ada cabai dan tomat. Juga cimplukan yang buahnya asam manis saat ditelan. Termasuk ubi yang dikiranya telah mati dan tak bisa diharapkan.

“Mengapa sesuatu yang alamiah seperti ini justru bisa tumbuh begitu subur?” ucapnya pada hati kecilnya.

Petani kecil malang bertekad kembali menghilangkan kemalangannya. Ia pulang mengambil sabit dan kembali ke pekarangan lalu membabat rumput-rumput liar itu. Sesekali juga bergulat dengan semut dan nyamuk. Ia juga harus waspada kalau-kalau ular yang telah menyerang ternak tetangga juga menyerang kakinya.

Dirawatlah tumbuhan itu dengan suka cita, dengan keikhlasan.

“Untuk apa kau melakukan itu? Kau merawat tumbuhan tidak berguna itu.” Tanya seseorang.

“Apa harus kusebutkan alasan itu kepadamu?”

Petani kecil itu tetap berpegang teguh pada pendiriannya, meskipun petani-petani lain menertawai dan memperoloknya. Hati kecil petani kecil itu berbisik, tidak semua tindakan membutuhkan alasan yang bisa diterima orang lain. Tapi setiap tindakan membutuhkan niat suci di setiap permulannya, dan jagalah sampai penghujungnya.

Namun, bukan berarti ia tidak diserang keragu-raguan. Dalam sepinya ia disergap pertanyaan, apakah pohon itu akan berbuah seperti yang ada di dalam benakmu? []

----------------------
Untuk  memenuhi tantangan #MenulisApaSaja.

Monday, 5 October 2015

Kue Lupis dan Kesejahteraan Bangsa

- No comments

Pagi ini saya menemani isteri ke pasar, belanja keperluan untuk anak pertama kami, dan kalian pasti bisa menduga-duga betapa kami menjadi pasangan yang bahagia. Mengagumkan. Tapi ada kekaguman lain yang luput dan saya temukan pagi ini.

Kue ini, di Jawa Timur sana, disebut kue lupis. Berbahan dasar beras ketan yang dikukus terus ditaburi ampas dan disiram gula merah yang dicairkan. Kalian bisa cari resepnya lalu mencoba sendiri di rumah.

Istimewanya di mana? Ada di tengah-tengah pasar Koga, di depan toko plastik diapit antara gudang dan penjual pakaian. Kue ini dijajakan oleh perempuan tua, tak bisa kukira-kira umurnya, dengan kebaya hijau dan bersanggul. Bodohnya saya tidak membawa kamera atau memotret menggunakan handphone.

Politik negeri ini boleh jungkir balik tidak karuan tapi selama yang muda masih bisa menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, kita tetap bahagia. Apalagi kalau beras ketan dan gula merah tidak tiba-tiba menghilang. Eyang berkebaya hijau dan bersanggul itu masih bisa membuat lupis dan dijajakkan di pasar Koga.

Ada puluhan, ratusan, dan ribuan manusia di negeri ini yang hidup tak mengaduh. Mereka bekerja (coret kata bekerja dan ganti dengan berkarya) untuk kehidupan. Apa untungnya menjual kue lupis di celah sempit antara gudang dan toko baju, duduk di atas dingkelik dan bermeja anyaman bambu? Kalau kalian pernah memberi dengan tulus maka kalian akan merasakan keuntungan menjual kue lupis.

Pak presiden mungkin memang norak ketika memberi instruksi kepada jajarannya kalau rapat tidak usah beli snack macam-macam, cukup kue singkong saja. Anggaplah pak presiden ingin mengangkat ekonomi menengah ke bawah. Kalau memang begitu sebaiknya langkahnya bukan sekedar memborong produknya saja tapi coba sawah-sawah jangan ditanami beton, bangunlah irigasi supaya subuh ladang dan sawah.

Jangan salah, orang-orang pedesaan yang hidup di lereng pegunungan tak butuh apa-apa dari luar sana. Kalianlah yang butuh mereka. Hanya saja akhir-akhir ini mereka, para petani, ikut-ikutan bingun seperti pada pemimpin di parlemen dan pemerintahan. Mereka dibawa-bawa ke dalam catur perpolitikan dan ngenesnya hanya diatasnamakan saja.

Aha, kemarin undang-undang desa sudah diketok. Kita doakan saja semoga gema ketokannya betul-betul merambat sampai ke pedesaan.

Kue lupis hanya sebagian dari tradisi lama yang semakin tergerus sejak lama. Padahal masih ada klepon, gethuk lindri, otak-otak, dan banyak lagi. Kalau tiba-tiba ada kudeta pemerintahan jajanan ini akan tetep enak dinikmati.