Thursday, 12 February 2015

Berupaya Menjadi Guru yang Sabar

- No comments
Gambar: maspaeng.blogspot.com

 Mendidik membutuhkan kesabaran yang tinggi. Begitu pula untuk menjadi orang yang terdidik. Sudah banyak loh metode mengajar ditemukan, dipaparkan, dan diseminarkan. Datanglah ke toko buku terdekat dan tengoklah etalase bagian pendidikan. Puluhan buku dengan berbagai judul yang membahas teori pendidikan termutakhir. Banyak kan?

Memiliki tekad yang kuat tidaklah cukup sebagai modal. Seorang pendidik semestinya memiliki kekayaan lain sehingga ia mampu menjadi pembimbing bagi para muridnya. Kemampuan pedagogik yang baik, profesional dalam menjalankan profesinya, memiliki hubungan yang baik dengan rekan sejawat, dan ‘inner beauty’ yang matang sebagai seorang pendidik.

Hmm, saya pingin pamer sebentar. Sejak kecil saya sudah terlibat dalam pendidikan. Semasa sekolah di tingkat menengah sudah membantu orangtua untuk membimbing adik-adik di TPA. Meskpun bukan bergelar sarjana pendidikan untungnya saya ditakdirkan menjadi pendidik. Pernah mengajar di sekolah dasar sampai menengah atas. Kalau dinilai dari sisi profesionalisme guru, tentu saya berada di tempat yang sangat jauh untuk menjadi guru profesional. Tetapi saya belajar banyak sekali dari pengalaman itu.

Saya mengenal teman-teman saya adalah guru yang profesional. Mulai dari latar belakang kependidikannya sebagai guru sampai pada ketuntasan administrasi guru. saya kalah telak. Makanya saya belajar banyak dari teman-teman saya. Saya belajar cara membuat perangkat pembelajaran, cara mengevaluasi pencapaian siswa, cara menghadapai walimurid yang gundah gulana, dan masih banyak lagi. Tapi masalah satu ini saya belajar dari sang guru saya.
Yang saya maksud dengan ‘satu ini’ adalah tentang kesabaran. Hmm, menjadi guru harus sabar. Sabar dalam mengajar, mendidik, dan membimbing. Godaan menjadi guru itu besar sekali.

Saat ini kaum brahmana berada di level yang paling rendah padahal pada masa lalu, kaum brahmana itu manusia luhur yang dipanuti. Brahmana itu ya guru (terlepas dari makna guru secara terminologis dan filosofis), orang-orang yang mengajari kita mengerti kehidupan. Dan kini mereka terjungkal, kata-katanya tak didengarkan. Siapa yang didengarkan?

Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih mendengarkan orang yang memiliki uang. Semakin kaya semakin didengarkan. Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih memiliki uang dari pada memiliki ilmu pengetahuan. Covernya ia belajar, tapi hatinya mencari kiat menjadi kaya.

Di sinilah guru-guru menghadapi godaannya. Saat orang lain berkendara mewah membelanjakan uang, ia harus berpanas-panasan di ruang kelas mengajarkan calistung. Di saat orang lain makan enak, ia justru tirakat makan ala kadarnya karena gajinya tak cukup untuk membeli daging sekilo. Kalau saja para guru itu tak memahami bahwa dari dalam dirinyalah cahaya Ilahi memancar; bahwa mereka menjadi wakil Adam as. mengenalkan ciptaan-ciptaan Ilahi dan kandungan hikmahnya; maka jatuhlah moralnya.

Tak dipungkiri, banyak pelajar-pelajar saat ini hanya mencari legalitas keilmuan bukan menggali ilmu pengetahuan, mencari angka-angka bukan memaknai nilai-nilai. Pada mulanya, nurani mereka tak menginginkan hal demikian, tetapi orangtua dan lingkungan, tontonan dan pergaulan, memaksanya meredupkan cahya nuraninya sehingga uanglah segala-galanya. Guru yang telah jatuh moralnya akan melihat ini sebagai peluang memperkaya diri.

Maka, saya sering merenungi diri saya sendiri. Sambil merenung sambil berdoa. Rasa-rasanya selama ini saya mengajar tidak baik. Lah, sudah capek-capek mengajar, tapi anak-anak tidak juga pinter. Gregetan tidak juga mencapai standar minimal. Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan teman-teman yang senasib dengan saya?

Singkatnya, saya berdiskusi dengan teman dan saya coba reduksi tanggapan beliau. Dari mana kau mengukurnya? Dari angka-angka itu atau dari persepsimu? Atau malah jangan-jangan dari peraturan-peraturan pemerintah?

Menjadi guru adalah menjadi tangan langit. Sedangkan ukuran-ukuran yang dibuat adalah ukuran-ukuran bumi. Seharusnya, dikembalikan kepada langit melalui kepasrahan akan hasilnya. Dan hasil bukan jadi konsern manusia. Yang menjadi konsern manusia adalah prosesnya. Proses yang kontinyulah yang akan menentukan baik buruk manusia menjadi tangan langit. Proses akan putus di tengah jalan kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Kesabaran seseorang akan tumbuh subur kalau ia mengetahui akar dan sumber masalah yang dihadapi. Mungkin karena kuatnya keyakinan yang ada dalam diri kita kalau orang bekerja maka hasilnya kaya, kalau orang belajar maka hasilnya pintar, sampai-sampai melupakan asal muasal segalanya. Mengapa tidak dimantapkan saja dengan berucap basmalah untuk mengajar yang baik, yang tulus, yang penuh pengharapan dan kepasrahan, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengetahui. Karena kita sudah ditempatkan sebagai guru, maka mendidik dan mengajarlah dengan sebaik-baiknya, karena kita ditempatkan sebagai murid maka belajarlah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar pintar yang dicari di bangku sekolah. Bukan hanya pintar.

Lalu saya terus berdiam diri lalu berkarya.

Friday, 6 February 2015

Paradoks Sergur: Jam Mengajar yang Musykil

- No comments
Rupanya guru yang telah tersertifikasi harus siap menanggung jam mengajar sebanyak 24 jam tatap muka. Kalau anda mengajar di tingkat SMP maka satu jam pertemuan setara dengan 40 menit. Sedangkan kalau di SMA setara dengan 45 menit. Kalau anda sudah tersertifikasi sebagai guru profesional tetapi tidak mengajar minimal 24 jam tatap muka dalam satu pekan maka anda tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Jadi sanksinya memang itu. Saya tidak tahu apakah ada dampak terhadap keprofesionalan anda yang baru disertifikasi itu atau tidak.
Cukup itu saja pemanasannya.
Setiap awal tahun pelajaran, manajemen sekolah mungkin masih bisa tidur nyenyak karena pembagian jam mengajar didesposisikan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Maka, wakil kepala sekolah dan  gurulah yang susah tidur. Apa gerangan yang menghambat mata terpejam?
Inilah curhat saya. Saya mulai dari hitung-hitungan rasionalisasi jumlah guru. Sekolah akan menentukan jumlah guru berdasarkan jumlah rombongan belajar. Tapi tidak bisa saklek seperti ini. Seperti ini contohnya: Kami memiliki dua belas kelas. Beraapa jumlah guru IPA yang dibutuhkan. Karena jumlah jam IPA adalah 4, maka jumlah untuk dua belas kelas adalah empat puluh delapan. Artinya kami hanya membutuhkan dua guru saja.
Pada kenyataannya, kami dan mungkin juga sekolah-sekolah lainnya tidak bisa sesaklek ini. Ada hitung-hitungan non-matematis seperti ini yang membuat setiap sekolah harus bermanuver meskipun resikonya juga tidak ringan.
Anggaplah, kami memiliki tiga guru IPA. Tentu sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi terkait dengan sertifikasi. Satu guru bisa mendapatkan dua puluh empat jam mengajar, tapi tidak dengan dua guru lainnya. Kalau mereka mendapatkan panggilan untuk mengikuti UKG dan lulus, manuver apa lagi yang akan dilakukan?
Saya teringat pembicaraan dengan orangtua saya. Pernah ada tamu yang datang ke rumah. Maksud dan tujuannya adalah untuk dapat mengajar di sekolah karena di sekolah asal ia tidak memenuhi dua puluh empat jam. Si tamu datang dari kecematan sebelah yang jarah tempuhnya mencapai 25km. Ini baru satu kasus, ditambah kasus rekaan saya tadi, dan ditambah kasus-kasus lain yang tak terberitakan.
Begitulah, sehingga terjadi saling silang jam mengajar antar instansi hanya untuk mendapatkan jam mengajar. Kalau guru yang bersangkutan tinggal di perkotaan, jarak satu sekolah induk dan sekolah non-induk tidaklah jauh, mungkin guru masih memiliki energi untuk mendidik, mengajar, membimbing siswa-siswinya dengan energi positif, bukan sisa-sisa. Tapi bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di luar kota?
Maka ikhlaskanlah untuk tidak mengikuti sertifikasi guru. Bukan karena tidak mau dinilai keprofesionalannya, tetapi untuk menghindari kekaprahan yang telah jamak terjadi di instansi pendidikan ini.
Sesekali dalam momen mengajar, bawalah kamera atau telepon genggam untuk merekam atau menfoto kegiatan anak-anak. Cetaklah ke dalam ukuran yang wajar, postcard misalnya. Ketika lelah lihatlah wajah mereka. Mungkin akan ada energi yang bisa diserap. Bagaimanapun juga, kelak mereka yang akan membawa anak-anak biologis kita.
Februari 2015

Thursday, 5 February 2015

Paradoks Sergur: Permainan Jam Mengajar

- No comments

Beberapa hari belakangan saya perhatikan ada peningkatan aktifitas di sekolah. Guru-guru kok mempercepat langkah kaki mereka bolak-balik dari meja kerjanya ke perpustakaan, dari main office ke ruang kepala sekolah. Yang seperti ini jarang terjadi. Saya jadi tambah heran dan gemas.
 
Kepala sekolah mendatangi saya lalu berpesan, nanti kalau ada guru yang minta izin keluar untuk mengurus PPGJ tolong dilihat dulu ada jam mengajar atau tidak. Wah, instruksi pak Kepsek ini menjadi jawaban dari keheranan saya. Pantes saja. Karena yang lalu-lalu, kalau akan ada Moneva aktifitas guru tidak meningkat seperti ini. Tapi ya tetap sibuk mempersiapkan diri.
Jadi, bulan ini akan ada dua agenda penting: Moneva dan PPGJ.
 
Dinas pendidikan di tempat saya mengajar memprogramkan kegiatan Moneva (Monitoring dan Evaluasi) untuk sekolah-sekolah swasta di semester genap. Mereka akan melihat pelaksanaan pembelajaran melalui evaluasi delapan standar pendidikan nasional. Kegiatan Moneva tidak seketat agreditasi. Setidaknya kalau penilaian moneva ini bagus maka untuk agreditasi tahun ajaran 2015—2016 mendatang kami sudah mengerti mana yang mesti diperbaiki dan dipertahankan.
 
Saya sedikit ragu kalau Moneva ini akan berjalan maksimal karena konsentrasi guru tidak hanya fokus mempersiapkannya tapi juga fokus memenuhi PPGJ (Pelatihan Profesi Guru dalam Jabatan). Tidak semua guru masuk dalam daftar PPGJ tapi jumlahnya cukup lumayan kalau mereka –pada saat yang bersamaan—pamit meninggalkan sekolah untuk ngurusi administrasi PPGJ.

Sertifikasi Guru Profesional
Bagi guru, mendapatkan sertifikat guru profesional adalah titik penting dalam karirnya sebagai guru. Keberadaannya diakui oleh negara. Begitu pula kompetensinya. Karena untuk mendapatkan sertifikat itu guru harus mengikuti serangkaian penyaringan dan tes. Ia harus sudah sekian tahun menjadi guru. Dalam sekian tahun menjadi guru pun ia memenuhi tugas pokok administrasi guru yang dua puluh dua itu. Juga mengikuti tes menggunakan sistem computer based. Sehingga, ketika lulus dan mendapatkan sertifikat seolah-olah ada statemen: Aku bukan sekedar pengabdi kehidupan tapi juga seorang guru profesional. Dan mendapatkan tunjangan dari pemerintah.

Pemerintah tampak serius menopang kehidupan guru di negeri ini. Kisah-kisah seperti guru Umar Bakri semoga tak terdengar lagi kelak. Guru benar-benar menjadi garda depan pembangunan bangsa karena di tangan mereka ilmu pengetahuan diwariskan. Guru benar-benar menjadi profesi yang sepadan sehingga untuk menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhannya mereka tak perlu lagi lompat lapangan pekerjaan.
 
Makanya, pada fase-fase pertama kelahiran ‘sertifikasi guru’ pemerintah mendahulukan guru-guru yang puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Lalu saringan itu diperketat, diperketat, dan terus diperketat. Kalau terus-terusan longgar, tidak menutup kemungkinan sertifikasi guru akan salah sasaran. Hhmm, bukan sertifikasinya yang salah sasaran tapi tunjangan sertifikasi guru yang jadi rebutan.

Permasalahan yang timbul di sekolah saya 
Di sinilah kemudian saya merasa musykil. Untuk mendapatkan sertifikat guru profesional justru tidak diimbangi dengan langkah-langkah yang profesional. Pasalnya, data yang ambil oleh pemerintah adalah data online yang diinput tahun lalu dan pada saat itu guru-guru yang bersangkutan adalah tenaga pendidik di SMP. Sekarang sebagaian guru itu mengajar di SMA.
 
Bagaimanapun juga, menjadi peserta PPGJ adalah hak guru. Mereka diundang oleh pemerintah. Tidak ada hak sama sekali dari sekolah untuk menghalang-halangi mereka. Yang perlu dipegang adalah norma. Norma untuk menghormati aturan-aturan sekolah dan aturan-aturan pemerintah.
 
Makanya, saya merevisi Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang pembagian jam mengajar guru sehingga beberapa teman yang mengajar di SMA itu terdaftar sebagai guru SMP. Langkah pendek ini bukan tanpa resiko karena kalau teman-teman lulus PPGJ maka harus dilakukan semacam ‘resuffle’ tugas mengajar. Dampak perubahan seperti ini berimbas pada atmosfir hubungan guru.
 
Ternyata permasalah di atas bukan permasalahan satu-satunya. Pada hari selanjutnya datang beberapa guru mata pelajaran yang tidak memenuhi jumlah jam mengajar. (FYI: Guru profesional harus mengajar minimal 24 jam tatap muka). Luba-lubi, meminta ini itu, lalu jadilah mereka mendapatkan 24 jam mengajar tatap muka. Bagaimana bisa? Caranya adalah saling-silang guru mata pelajaran, meminta atau mungkin merebut jam mengajar. Secara de jure sah mendapatkan 24 jam mengajar, tetapi de facto tidak.
 
Semua jadi musykil. Perihal yang tadinya untuk kebaikan berubah menjadi begitu semrawut. Alih-alih ingin menjadi guru tersertifikasi, peningkatan pedagogik, profesionalisme, personal, dan sosial sedikit sekali mendapat perhatian. Indikasinya adalah saat pelaksanaan Moneva. Semua administrasi guru dikerjakan secara spontanitas. Ada yang salah menghitung jam perpekan ada pula yang salah menulis institusi tempat mengajar.
 
Tidak hanya musykil tapi juga naif. Kenaifan yang tak bisa saya ungkapkan secara gamblang di sini. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

Februari 2015

Wednesday, 12 November 2014

Kelas Bintang

- No comments
Performace: My students show up their Time Table.

Selamat datang senja, selamat menghantarkan mereka yang lelah bekerja menemui malam.

Saya ingin bercerita tentang kelas saya hari ini. Apa?! Iya, aku tahu foto itu bukan foto kelas saya hari ini, tapi saya tak bermaksud membohongimu. Saya pasang foto itu karena hari ini sama sekali tak ada foto, jadi kupasang sekenanya saja.

Apa?! Ceritakan saja tentang foto itu? Hmmm, baiklah.

Itu foto anak bintang yang halaman rumah asalnya mungkin sudah berbatu koral indah ditata seperti taman surga dan dibelah  jalan bercor mengarah pada garansi mobil di sebelah kamar tidur ayah ibunya. Ada juga yang luas halaman rumahnya terhampar begitu saja dengan rumput yang sengaja dibiarkan tumbuh supaya bunga-bunga liar mekar dengan mesra dan kupu-kupu datang mengecup bunga.

Setiap hari, selama sembilan jam dari Senin sampai Jum'at, mereka di sini, di sekolah yang bangunannya memanas karena penyemimbang suhu ruang kelas kerap tak bekerja dengan baik. Saya dan mungkin guru yang lain tak sekali dua kali meniup semangat belajar dalam hati mereka, sehingga yang tadinya lelah dan gerah kembali tersenyum melihat ceria para gurunya.

Ah, mungkin tak seperti itu. Justru karena melihat senyum mereka yang mesra dan tatapan mereka yang tak memupus harapan, saya dan mungkin pula guru yang lain justru kembali menemukan sisa tenaga kami.

Nadira (Nadya?) is opening her presentation about her Time Table.

Itu di atas adalah foto Nadira, atau mungkin Nadya, yang sedang memulai presentasinya tentang tugas membuat Time Table. Oo iya, Nadira punya saudari kembar, namanya Nadya. Kembar identik. Sangat identik. Sialnya, saya sering lupa membedakan mana yang Nadira dan mana yang Nadya. 

Benar, itu pintu. Hari itu, kelas terasa panas sekali. Pendingin ruangan seperti tidak bekerja. Kipas angin juga tak dapat membantu apa-apa. Jadi saya panggil saja siswa yang akan mempresentasikan untuk keluar kelas. Tak hanya Nadira (Nadya?) yang mempresentasikannya di luar kelas tapi juga dua puluh enam siswa lainnya. 

Masih ada siswa yang berbicara bahasa Inggris terbata-bata. Untuk yang seperti ini saya bimbing untuk berbicara lantang tak peduli grmatikal. Yang penting kepercayaan dirinya tumbuh dulu. Dia kan merasa tak mampu lalu jadi malu-malu, karena malu-malu dia tak dapat menunjukkan performance terbaiknya. 
Kalau menyampaikan presentasi dengan suara lantang belum juga cukup, saya bimbing melalui pertanyaan-pertanyaan. Ada yang lucu, senja. Dikiranya, saya membimbing kalimat-kalimat presentasinya padahal tak begitu maksudku: 

Saya: "How many agendas do you have this month?
Dia: "How many agendas do you have this month?
Saya: "I don't have any agendas. How about you?
Dia: "I don't have any agendas. How about you?
Saya: *Senyum* "Don't repeat it.
Dia: "Don't repeat it.

Senja, saat pasti kamu tersenyum di kejauhan sana. Muridku memang masih banyak yang lugu. Saya tak tega kalau tak sungguh-sungguh membimbingnya. Senja, itu yang menempel di belakang anak-anak adalah hasil karya mereka. Dulu, semasa saya di tingkat pertama seperti mereka, tak pernah ada acara bikin-bikin karya. Sekarang, semua tak seperti dulu. Seperti kata-katamu yang lalu, peting yang baik dan buang yang tak apik.

Salam.

Pose di depan Hasil Karya


Menempel Hasil Karya

2014    
.

Friday, 8 August 2014

Tiga Sifat Generator yang Bernama Syahwat

- No comments

Manusia dibelaki tiga software dasar penyusun rohaniahnya. Kalau bisa mensinergiskan, mengendalikan, dan menjalankan sesuai dengan aplikasi yang benar, maka ia akan mencapai derajat kemanusiaannya. Kalau gagal, maka ia akan runtuh dan tidak ada lagi pembeda antara dirinya dan biantang. Ketiga software itu adalah syahwat, kalbu, dan akal.

Dalam nilai dan budaya kita sekarang ini syahwat sering diartikan dengan dorongan seksual belaka. Padahal,  dorongan seksual adalah salah satu output dari syahwat itu sendiri. Kalau dorongan seksual adalah sekedar output maka syahwat adalah sebuah generator yang mampu menghasilkan energi tak terbatas. Kebudayaan dan perkembangan teknologi kehidupan saat ini tidak lain adalah output dari generator yang bernama syahwat.

Salah satu unsur dari generator syahwat ini adalah egosentrisme (ananiyyah), yakni segala sesuatu yang sifatnya ke-aku-an. Bisa juga egosentrisme berarti menempatkan diri sendiri sebagai pusat. ‘Diri sendiri’ di sini bisa dimaknai sebagai perorangan, etnik, golongan, atau lainnya.

Minimal, syahwat memiliki tiga sifat. Pertama adalah penyerap. Ia akan menyerap apapun dari luar untuk dirinya sendiri, tak peduli yang diserap itu bernilai positif atau negatif. Tak peduli daya serapnya memiliki daya merusak atau tidak, yang terpenting kepentingan untuk dirinya sendiri terpenuhi. Semisal Kadir yang melihat seseorang yang sangat dihormati di lingkungannya. Ia melakukan telaah mengapa orang-orang menaruh hormat kepadanya. Ia perhatikan tutur bahasanya, sandang papannya, tingkah lakunya. Hingga akhirnya Kadir memiliki kesimpulannya sendiri bahwa untuk mendapat kehormatan orang lain maka ia harus memiliki kemampuan berbahasa yang begini, sandang papannya yang begitu, dan lainnya. Itulah salah satu bentuk syahwat yang memiliki sifat penyerap.

Kedua adalah menguasai. Menguasai dalam konteks apapun dan pada skala apapun, baik bermakna positif atau pun negatif. Syahwat tanpa sifat menguasai maka hardware-nya (manusia) akan menjadi lemah dan tak berkembang. Tetapi kalau tidak terkontrol maka ia akan menjadi kekuatan yang menghancurkan.

Sedangkan sifat terakhir dari syahwat adalah melampiaskan. Pelampiasan ini bisa dalam bentuk apapun dalam setiap ruang hidup manusia. Tidak hanya soal seksual, tapi segala sesuatu yang mengandung unsur pelampiasan dan kepuasan. Misalnya ketika si fulan sedang menjalankan puasa, seolah-olah ia ingin melahap apapun yang ada di meja: sirup, teh, daging, kolak, dan lainnya. Ketika saat berbuka puasa datang si fulan pun melahap semuanya seperti  yang ia janjikan pada dirinya sendiri sebelum berbuka hingga ia kekenyangan dan kesulitan untuk beranjak dan beraktifitas. Maka ia bukannya sedang sangat lapar tapi ia tidak mampu mengendalikan syahwatnya dalam memuaskan diri sendiri.

Keterangan di atas bukan ijtihad saya, tapi sedikit resume dari tulisan Prayogi R. Saputra tentang pemikiran dan perenungan Emha Ainun Najib yang dikemas dalam “Spiritual Journey”.

Buku ini merekam kegiatan Emha dalam pengajian rutin di Jogja yang diberi nama Pengajian Mocopat Syafaat (MS). Dalam MS jamaah Maiyah berinteraksi dan berdiskusi. Tidak hanya Emha yang menjadi penyaji, sesekali tokoh-tokoh nasional, penulis, sineas, habaib, seniman, aktris, atau siapapun diundang untuk memberi sumbangan pemikiran. Bahkan puteranya sendiri, Sabrang –vocalis Neo- menyuguhkan materi yang tak kalah luarbiasanya dengan Emha.

Spiritual Journey merekam kegiatan-kegiatan tersebut. Tidak semuanya dijadikan bahan dalam buku ini, hanya beberapa pertemuan dan tema saja yang ditulis. Tidak hanya tema-teman tasawuf yang jadi bahan perbincangan, tapi juga tentang keindonesiaan, tentang bangsa yang tidak akan tunduk pada kepedihan, tentang masyarakat yang tahan banting meskipun krisis melanda sepanjang tahun. 

Seperti ketika penulis merekam obrolan Cak Nun dengan seorang wartawan yang terus-terusan mengejar pembenaran Cak Nun mengenai keterlibatannya dalam pengunduran diri Soeharto dan proses Reformasi. Begitu pula ketika Cak Nun melakukan dialog hangat dan berfilosofis kepada Sabrang sebagai kado pernikahan. Serta beberapa kegiatan Emha lainnya yang kiranya perlu untuk kita renungkan, untuk dijadikan bahan pelapangan hati, dan pengayaan spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan.

2012

Sunday, 20 April 2014

Ajaklah Dirimu Sendiri untuk Berbicara

- No comments

Kenapa jadi sesulit ini? Padahal banyak yang bisa diceritakan atau setidaknya yang disimpan dalam bentuk tulisan. Seorang pelupa sepertiku takkan mampu menyimpan banyak kenangan dalam ingatan. Rupa-rupanya sekarang aku menjadi pelupa yang pintar mencari-cari alasan. Hanya karena beralas-alasan atas nama pekerjaan dan kesibukan lantas aku enyahkan aktivitas yang mulia ini: membaca lalu menuliskan.

Seminggu yang lalu, ada pengaduan-pengaduan dan ketidaksetujuan yang kalau dilihat dari kejauhan justru terlihat lucu. Bisa kuterawakan banyak hal dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tentu saja mentertawakan diriku yang konyol ini, bukan mentertawakanmu atau mentertawakan mereka. Lantas kenapa tidak ditulis?

Atau obrolan-obrolan lucu di warung samping sekolah yang kalau diangan-angan ulang justru tidak lagi lucu. Bagaimana bisa itu disebut melucu kalau bahan lelocannya adalah keyakinan mendasar seseorang?

Betapa malunya mentertawai sesuatu yang kalau dilihat baik-baik yang ditertawakan justru merasa tidak patut dan justru hancur nilai-nilai kemanusiaannya. Lantas kenapa tidak ditulis?

Ada kalanya keruwetan pribadi yang bisa dibagi untuk orang lain. bukan membagi bebannya, tetapi membagi sudut pandang antara dua sisi yang bersebrangan, sehingga kelak akan ada yang belajar dari pengalaman kecil ini. Tak sengaja terjerumus pada kesalahan tentu saja ‘tak apa-apa’, tetapi lalai sehingga harus terjerumus tentu saja ‘apa-apa’. Lalu kenapa tidak ditulis?

Seperti kebanyakan orang, aku pun merasakan cinta. Ada kalanya menjadi begitu tidak masuk akal, ada kalanya begitu menggairahkan. Ada kalanya begitu menjerumuskan, ada kalanya begitu membangkitkan. Lantas kenapa tidak ditulis?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk orang lain. Hanya untuk diriku sendiri. Bukankah melalui pertanyaan-pertanyaan kita akan mengetahui kesejatian?

2014

Monday, 3 February 2014

IKAN KALENG

- No comments
Ikan Kaleng _ Sudi Purwono


/1/
Sam tiga hari di Jayapura; dia guru ukatan dinas dari Jawa. Dan, tidak mengira, saat pembukaan penerimaan siswa baru buat SD Batu Tua 1 yang terletak sejurus aspal hitam dengan taksi (sebenarnya minibus), ada yang menggelikan sekaligus, mungkin, meyadarkannya diam-diam.  Ia tersenyum mengingat ini.
Ketika seorang lelaki bertubuh besar, dengan tubuh lega, dan rambut bergelung seperti ujung pakis lembut teratur menenteng dua anak lelakinya, sambil bertanya, “Ko pu ilmu buat ajar torang (kami) pu anak pandai melaut? Torang trada pu waktu. Ini anak lagi semua nakal. Sa pusing.”
Sam memahami penggal dua penggal. Dia. Seperti yang diajarkan saat micro teaching, mulai mengulai senyum lalu berkata, “Bapak yang baik, kurikulum untuk pendidikan dasar itu ketrampilan dasar, matematika, bahasa, olah raga dan beberapa kerajinan …”
Ah, omong ka sama dengan dong (dia) di bukit atas! Ayo pulang!”
Kaget. Sam tersentak, belum lagi dia selesai. Dan ini tiak pernah diajarkan di pengajaran mikro. Juga di buku diktum bab penerimaan siswa baru. Dia pucat; diraihnya segelas air putih.
Pendaftar pertama memantik rasa sabar dan sesuatu yang asing dalam dirinya. Ia bersabar menunggu detik berikutnya dari lepas pukul sembilan. Ia mengelap lagi wajahnya. Di meja pendatar samping, kosong, Tati belum datang. Cuma da Markus, Waenuri, dan Titro-teman sekelasnya, yang sedang bertugas masig-masing di ruang lain; mulai dari siap berkas, mencatatan kebutuhan anggaran, dan menyiapkan papan tulis. Bismillah, ia mengharap, tepat ketika sebarisan orang-orang legam bertelanjang kaki menjejaki halaman yang setengah becek bertanah merah, dilatari sisa-sisa alat berat dan bekas pengaadukan material bangunan itu.
Dan syukurlah, meskipun dengan penjelasan yang tak kalah berat; setidaknya, tak ada yang seperti orang pertama. Begitu seterusnya sampai Tati tiba membantu. Tapi ia masih penasan, siapa sebenarnya orang itu. Ia coba mencari tahu, hasilnya, ternyata lelaki pertama tadi adalah kepala suku Lat, berada di sekitar pantai sebelah kanan, menembus seratus rengkuh darung untuk sampai di kampungnya yang ada di laut itu. Kira-kira begitu kata orang-orang yang juga ada berasal dari sana.
Trada perlu risau, dong itu memang keras kepala,” kata si penjelas itu sambil berbisik-bisik, takut ada yang melaporkan omongannya.

/2/
Hari tadi tercatat dua puluh satu siswa mendaftar jadi angkatan baru, sekaligus kelas baru buat sekolah itu. Usia mereka beragam. Hari berjalan, minggu silih, dan bulan menumpang tindih. Tepat memasuki bulan Agustus, keganjilan itu muncul kembali. Meski sebelumnya pernah terjadi, tapi kali ini semaking sering.
Dua anak itu sering muncul di halaman. Mereka tampak mendatangi sesuatu yang mungkin aneh baginya. Teman-teman lain menghadapi sebuah tiang dengan bendera dua warna. Berbaris lalu menyanyi-nyanyi. Dari sini, Sam merasa iba. Ia dekati. Dan tahu betul, mereka itu yang tempo hari dibawa oleh kepala suku Lat.
“Kenapa kalian, ingin seperti mereka?”
“he-eh…” yang satu mengangguk. Ia menatap teman-temannya yang menyanyi bersama-sama itu, dari sana terbalas, dua tiga melambai ke mereka yang ada di dekat jalan depan sekolah itu.
Apa ko ini Do! Trada boleh!! Bapa Ade bisa marah.”
Mereka kemudian berlari menjauh, menurun di bukit-bukit kecil bercadas, berkelok, samar dan hilang bersama suara angin dan pemandangan hijau hutan juga beberapa rumah pendudukan dan sekali dua waktu minibus berlalu dengan muatan penuh.
Sam memutuskan sore nanti ia akan mengunjungi rumah anak-anak itu dan memberikan semacam penjelasan.
Dengan dibantu salah seorang walimurid, sampailah dia di rumah lelaki itu. Sam kemudian menyampaikan maksud dan sejumlah penjelasan, terutama perihal anak-anak mereka yang sering datang ke sekolah.
Ko trada perlu torang. Torang dah pu sekolah sendiri. Lihat mari! Justru murid ko yang mari.”
Sam, dengan setengah tak percaya, mengikuti lelaki itu. Ia turun daru rumah besar, lalu menuju perahu di antara barisan rumah-rumah, aroma laut menerbar, hidungnya di sesaki asin, dan matanya dipenuhi tatapan aneh dari penduduk sekitar. Dia menuju sebuah rumah yang sama di atas laut, dan di sana nampak sudah anak lelaki yang menyambanginya siang tadi. Dan, beberapa muridnya yang iakira sakit, ternyata mereka ada di sana.
Di tempat ini, terlihat: barisan dayung-dayung yang digantung, tombak bermata tajam, sebuah perahu di tengah ruangan, jala, pisau, sebuah titik-titik dengan cangkang karang, yang kemudian Sam tahu itu rasi bintang di langit. Lelaki Lat menjelaskan lagi, dengan bahasa alih kode semi kacau, bahwa di sinilah sekolah yang ia dirikan. Sekolah yang diberi nama Lat: sesuai dengan nama suku.
Sebenarnya lelaki tadi tidaklah bodoh terlalu. Ayahnya dulu pernah menyekolahkannya ke “sekolah pemerintah” meski hanya di kelas satu-demikian mereka menyebutnya, namun suatu hal mengganjal.
Ketika itu, kakaknya, yang sudah kelas enam di SD Jayapura 2 tak bisa apa-apa ketika harus menemani kakak mereka yang lebih tua pergi melaut menggantikan ayahnya yang sakit keras. Dia, kakaknya yang SD tersebut, hanya bisa omong dan menyanyi-nyanyi, lalu pamer angka-angka tak jelas dalam kertas, tetapi ia tak becus membaca rasi bintang, arah angin, membelah ombak, mengaahkan tombak, apalagi mencecap asin air dan jernih gelombang untuk menerka di mana ikan-ikan berkumpul. Dari situ ia benci sekolah-ia benci menghabiskan waktu dengan menyanyi dan menggambar tidak jelas. Dan, pelak, ketika ada pembukaan sekolah baru, ia selalu mencari sekolah yang mengajarkan anaknya melaut, membelah ombak, mendayung, membaca rasi bintang, menombak ikan paus, dan seterusnya. Dan itu tak ada, atau mungkin tak akan pernah ada!
Sam terdiam. Ia paku bagai kelana: semua diktum terkulum gelombang di kaki pancang; berpias-berpias.
Dan sorenya juga, Sam melihat di bawah cahaya senja yang senantiasa keemasan sebelum muram jadi gelap, lelaki itu mengajar dua anaknya dan tiga dari muridnya yang belakangan absen. Dia mengajari cara memegang dayung, menggerakkannya kanan kiri di atas perahu di tengah kelas satu. Dan, tak sekalipun lelaki itu membentak atau bahkan memukul bila salah. Dia selalu berkata,
Ko pasti bisa! Ko dilahir atas laut, makan ikan laut, garam laut, ko anak laut! Laut ibu torang. Kitorang cintai, dayungi, dan ciumi angin asin ini. Laut tempat ko makan, laut tempat ko besar nanti, ko paham sa pu nasehat? Ini tujuan ko sekolah di Lat, ko belajar hidupbukan Cuma omong kosong dan menggambar. Ko dititipi laut bapa kitorang.”

/3/
Peristiwa dua tahun silam terngiang makin dalam, di meja kelas, ketika kini dia menghadapi pesan pendek berisi keluh dari sejumlah kawan kawan di Jogja yang belum juga mendapat kerja. dia menarik nafas. Untung dia dapat ikatan dinas; meski jauh seperti ini, terpisah dari keluarga.
Dia sedang mengabsen, saat tiba-tiba lelaki kepala suku Lat itu datang mengetuk pintu kelas. Dia izin sebentar pada murid-muridnya yang kini tinggal setengah-sisanyanya “sekolah” di Lat: memilih belajar membelah ombak dengan benar, membaca rasi bintang dengan sket cangkang kerang, dan seterusnya.
“Maf, ada yang bisa saya bantu, Pak?” Sam bertanya, dalam hati ia mengira lelaki itu, yang kini membawa kedua anaknya beserta sejumlah anak  lain, ingin menyekolahkan di tahun ajaran baru yang sebentar lagi tiba.
Ko orang Jawa, bisa ajar torang buat ini?”
Sam mundur sedujut. Ia kaget. Lelaki itu menujukkan ikan kalengan bermerek sarden.
Usut punya usut, setelah bercakap kemduian, sekolah Lat tengah mengalami masalah. Murid-muridnya bertambah banyak, orang-orang di Batu Tua lebih memilih menyekolahkan anaknya di sana, yang dalam waktu tak lebih dari setahun dapat membantu menangkap ikan. Yang mengajar juga dari orang mereka sendiri yang berpengalaman. Nah, dari sana penghasilan menangkap ikan naik deras. Ketika kepala suku Lat itu pergi ke Jayapura untuk memasar ikan, ia melihatikan kaleng yang ternyata harnya sebuahnya setara dengan harga satu kilo ikan mentah. Dia terkejut. Padahal, menurut kepala suku Lat itu, atu kaleng hanya berisi dua tiga potong. Dari sini dia ingin menemui sekolah yang bisa mengajarkan “murid”-nya membuat ikan kaleng.
Dan, sekali lagi Sam menggeleng. Ia mejnelaskan kembali tentang standar pengajaran di sekolah, kurikulum, evaluasi, ijazah, dan ketrampulang, menghitung, bahasa, menghafal nama menteri, Pancasila, Undang-Undang Dasar….
“Ah, baik. Ko tau tempat buat ini?” kepala suku Lat mengas. Matanya resah. Anak-anakn di belakangnya tengah membaur bersama anak-anak dalam kelas. Sam membaca pabrik produksinya yang ternyata itu di Banyuwangi Jawa Timur.
“Sa mau ke sana! Ko kaih tau…”
Sam terbengong. Dan ia akan makin kaget, jika tahu bahwa lima hari mendatang, akan ada rombongan kecil dengan perahu layar sedang, berbekal peta yang ia berikan sewaktu bertanya, berduyun mengarungi Samudra Hindia, menuju Jawa Timur buat belajar cara mengalengkan ikan agar tidak rugi dalam menangkap demikian banyak ikan, agar anak-anak kelak sejahtera, agar listrik penuh, televisi seperti di kota, mobil, motor…. Tidak ada yang ragu; mereka anak-anak sekolah Lat; terlatih membelah ombak dengan dayung, membaca ngin, gemintang, dan asin air laut dn jejak-jejak iakan di antara buih dan gelombang. Jiah! Khiaak!

2010


* Ikan Kaleng karya Eko Triono 
Disalin dari 20 Tahun Cerpen Pilihan Kompas: Dari Salahat Dedaunan sampai Kunang-kunang di Langit.  Jakarta. 2012.
[full_width]

Tuesday, 13 August 2013

Lain di Hati Lain di Bibir

- No comments

Usai menghabiskan malam bersama kekasihnya kawan saya mampir ke rumah kontrakan. Wajahnya sedikit lusuh, kehabisan tenaga seperti usai bertempur, dan nafasnya kembang kempis menahas galau di hatinya. Setelah meneguk segelas air yang ia ambil sendiri dari dispenser, mulailah ia mengeluh.
“Kok pacar saya seperti gak percaya kalau saya mencintainya ya?”

Hmm, saya membatin kalau-kalau kawan saya ini baru rehat dari pertempuran. Biarlah dia bercerita sendiri tanpa saya pancing-pancing, makanya saya jawab begini saja: Kalau begitu tinggal bilang kalau kamu mencintainya.

“Perhatian saya selama ini apa masih kurang cukup untuk menunjukkan kalau saya mencintainya?”
O, rupanya ini masalah ungkapan. Bukan ungkapan bahasa tubuh/gestur sebagaimana sering diteliti om Yasraf A. Piliang, tapi ungkapan lisan yang mencerminkan isi hati si pengucapnya.

Hati (Hampir) Berbanding Lurus dengan Bibir
Hati/kalbu seperti memiliki dimensi berfikir sendiri. Cobalah rasai sendiri perubahan berfikir hati/kalbu dari satu detik ke detik selanjutnya, dari satu menit ke menit berikutnya. Cepat sekali berubah. Berbeda dengan bibir yang merefleksikan segelintir kecil dari hasil berfikir hati/kalbu. Itu pun setelah melalui penyaringan dan penyerapan otak. Sehingga apa yang keluar dari bibir memang mewakili apa yang ada di hati. Dan perempuan senang bermain-main di sini.

Padahal, bibir tidak pernah mampu membahasakan bahasa hati/kalbu. Makanya sebagian sisanya dibahasakan oleh mata, tangan, kening, bahkan lenguhan nafas. Kalau perempuan, atau siapapun, senang dan mudah percaya dengan bahasa bibir berarti ia senang untuk dibohongi. Lah kok dibohongi? Iya, karena bahasanya masih menyembunyikan sisa lainnya dan artinya ia berbohong. 

Oke lah kita perhalus bahasanya. Kalau bohong mengacu pada makna tidak menunjukkan fakta yang sebenarnya, maka ungkapan yang tepat adalah tidak sepenuhnya jujur. Misalnya teman saya mengatakan kalau dia mencintai teman perempuannya, tapi pada kenyataannya dia tidak mengungkapkan perasaan lainnya dan tetap disembunyikan di dalam hati. Mengapa tidak diungkapkan? Proses kuantum timbang menimbang antara hati dan fikiran memberi kesimpulan belum saatnya disampaikan.

Sehingga kita harus mawas diri terhadap ucapan orang lain. Ucapan yang tulus itu ya ucapan yang paling mampu meminimalisir kebohongan. Kita juga harus mawas diri terhadap ucapan diri sendiri. Jangan-jangan yang terucap itu sebenarnya untuk menutupi bahasa hati/kalbu.

Saya jadi teringat bahasa cinta Iwan Fals: kalau kita saling percaya // tak perlu nada tak perlu irama // karena cinta bukan hanya nada. Cinta lebih dari sekedar kata-kata.

Saya teringat masa SMP dulu, ketika di PAI membahas tentang niat shalat. Guru saya mengajarkan supaya lafadz niat shalat diucapkan oleh lisan. Tujuannya membimbing hati untuk menghadap ilahi. Nah, saya kira tidak hanya dalam hal niat shalat saja kita perlu berucap-ucap seperti ini. Masalah cinta pun begitu. Bukan untuk menggombal tapi untuk mengingatkan hati—yang banyak sekali urusannya dan mudah sekali berganti topik—tentang perasaan cintanya.

Di ujung curhat teman saya itu saya berucap begini, ya sudah katakan saja kalau kamu mencintainya. Pertama supaya pacarmu tidak ngomel lagi. Kedua supaya semakin yakin hatimu kalau kamu mencintainya.

Tuesday, 12 March 2013

Kau yang Menjauh dari Tepi Jendela

- No comments

Sudah mengering dan mengeras yang di dalam hati
Hampir lumat senyummu yang pernah berseri
Kau dulu senang duduk di tepi jendela dengan kaca yang terbuka selebar mata
Sesekali tersenyum sambil membuang nafas panjangmu yang kau hidup untuk kehidupan
Mereka tersenyum padaku, katamu
Padahal kau lah yang ternyum untuk mereka
Sekarang kau duduk agak menjauh
Sehasta demi sehasta
Takutmu menjadi tampak jelas terlihat di mata
Kehidupan menceritakan dukanya padaku. Melalui hembusan angin ia berbicara, ucapmu
Padahal kaulah yang melihat duka itu melalui matamu lalu kau ceritakan padanya
Hembus angin itu adalah damai yang ingin menghempas takut dalam hatimu
Dan akhirnya kau benar-benar tidak lagi berani duduk di tepi jendela
Aku tak mau lagi mendengar cerita-cerita duka, katamu
Padahal kaulah yang terus-terusan menceritakan duka
Tidak lagi melalui mata kau pun bercerita melalui tanganmu dan keberingasanmu

.

Monday, 12 July 2010

Selamat Datang Sya'ban

- No comments

tidak terasa sudah di bibir Sya'ban
bulan yang baik untuk kembali membuka firman-firman
seperti tahun-tahun sebelumnya
ayat-ayat suci akan dikumandangkan dari menara secara bergantian

rupanya, kau pun harus kembali menghafal doa-doa
menundukkan pandangan mata
memahami maknanya
serta mengangkat tinggi-tinggi tanganmu di atas kepala
supaya orang-orang yang berbuka puasa bersama bisa mengamini dengan gegap gempita

bangunmu dipagikan
tidurmu dimalamkan
shalatmu dikhusyu'kan
dzikirmu dilamakan:
bertasbih, bertahmid, bertakbir
lalu diakhiri dengan tahlil dan istighfar

sudah saatnya kau belajar menangis
renungkanlah dosa-dosa, takutlah siksa
sehingga pipimu bisa kau basahi dengan air mata
namun kalau tak bisa
kau bisa pura-pura menangis
usapkan bawang merah dekat alis
atau cukup dengan meringis

kau sudah di bibir Sya'ban
saat yang tepat meminta ampunan
ketika datang Ramadhan
kau sudah bersih jiwa dan badan
amin 


27 Rajab 1431