Sunday, 10 January 2016

YA RASULULLAH, DATANGILAH KAMI

- No comments

Ya Rasulallöh, Ya habiballöh
Sudikah kiranya Engkau tunjukkan wajahmu yang teduh itu kepada ummatmu ini
yang semakin hari semakin gemar bertikai
memperebutkan kebenaran atas ajaran yang Engkau sampaikan ribuan tahun silam
agar turut teduh wajah kami
damai hati kami
lembut suara kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Adakah tanda-tanda kemenangan bagi kami dalam berjihad melawan hafwa nafsu kami sendiri
sementara dua pusaka yang Engkau wariskan kepada kami tak lebih hanya menjadi hiasan dinding di ruang tamu yang mengundang decak kagum ummatmu yang datang berkunjung
potongan kitab sucimu diukir menjadi kaligrafi dengan bingkai kuningan atau kayu pilihan
sunnahmu ditenggak-tegakkan padahal ia semakin miring dan menunggu saatnya jatuh tersungkur ke kubangan

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Menangiskah Engkau ketika ummatmu terpecah menjadi firqoh-firqoh
dari Washil bin Atho’ hingga Ja’ad bin Dirham
dari khawarij hingga Murji’ah
dari Ahlussunnah hingga Syiáh
ataukah justru air matamu tak kunjung berhenti hingga kini?

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Siapa di antar kami yang benar-benar mengikuti sunnahmu?
di antara kami yang mengikuti tampilan zahirmu atau di antara kami yang menyembunyikan pelajaran hikmahmu
datangi tidur malam kami
atau titipkan melalui mereka yang terbuka mata bashirohnya
yang terkantuk-kantuk di atas sajadahnya
yang lebih mencintai malamnya daripada siangnya
yang bersyukur kala terang dan bersabar kala gelap
yang di tangannya tergenggam ajaran kasih sayang

Kalau Engkau tak pula sudi,
utuslah Abu Bakar, sahabat terkasihmu, untuk menasihati kami

Ya Rasulallöh, Ya Habiballöh
Shalawat dan salam atasmu
Semoga kelancangaku tak menjauhkan syafa’atmu

2015
.

Friday, 25 December 2015

CATHALA

- No comments
CATHALA. Di tengah paranoid publik Barat terhadap Islam, walikota Creteil di Prancis melawan arus dengan mengizinkan pembangunan masjid megah di kotanya. Itulah masjid Creteil, masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Eropa dalam waktu 100 tahun terakhir.

Di bangun di sebuah bukit kecil, di tepi danau yang tak jauh dari balai kota dan pos polisi, masjid Creteil menelan ongkos US$ 7,4 juta. Tempat salatnya bisa menampung 2.500 jemaah, sementara menaranya ada 81 buah. Dikutip “the Washington Post,” 9 Desember 2007; Molly Moore, periset dari Corinne Gavard menyebut pembangunan masjid di Creteil sebagai “pengecualian” di tanah Eropa.

Creteil adalah kota yang terletak di sebelah tenggara Paris. Di Prancis, Creteil merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim paling banyak bahkan mungkin untuk seluruh daratan Eropa. Dari sekitar 88 ribu penduduk di kota kecil itu, 20 persen di antaranya adalah pemeluk Islam. Mereka semua beribadah di sebuah gudang bekas penyimpanan kayu hingga datang tawaran dari Laurent Cathala, walikota Creteil saat itu untuk membangun sebuah masjid.

Dan ketika mulai dibangun [delapan tahun silam], pemerintah daerah Creteil di bawah Cathala tak hanya mendukung, melainkan turut mengongkosi pembangunan kompleks masjid. Cathala bahkan berterusterang dengan semua bantuan keuangan yang disumbangkan untuk pembangunan masjid Creteil, dan hal itu tentu saja menggembirakan Muslim di Prancis di tengah paranoid masyarakat Barat terhadap Islam.

Moore mencatat, Islam di Eropa adalah agama terbesar kedua setelah Nasrani, dan Prancis adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim paling banyak. Dari total penduduk Prancis [2007] 65 juta jiwa, sekitar 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah muslim. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan kedua, yang lahir, besar dan menjadi warga negara di sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis. Tapi hingga masjid Creteil dibangun, pembangunan masjid sangat sulit terwujud di Eropa.

Dari London, Inggris hingga Cologne dan Marseille, Prancis, penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa terus disibukkan dengan penolakan pembangunan masjid. Mereka menentang pembangunan masjid karena dianggap bisa mempengaruhi keamanan nasional dan kepribadian mereka.

Di Ibukota Inggris, London, pendirian masjid di dekat taman yang bersebelahan dengan areal Olimpiade 2012, telah ditentang besar-besaran oleh pemerintah dan warga Inggris bahkan ketika masih dalam bentuk proposal. Kaum nasionalis Swiss pernah beramai-ramai menentang pembangunan mesjid di negaranya. Di sebuah bukit kecil bernama Colle Val d’Elsa, di Tuscan, Italia, penduduk setempat melempari pintu utama menuju masjid setempat yang dalam proses pembangunan dengan sosis. Dan Kanselir Jerman, Angela Merkel pun menyerukan para anggota parlemen agar berhati-hati dengan pembangunan masjid di Jerman.

“Kubah-kubah masjid tidak boleh dibangun dengan tinggi melebihi menara-menara gereja,” kata Merkel.

Sebelum pembangunan masjid Creteil, otoritas Prancis juga sudah “berupaya” keras mengembalikan para imam masjid ke negara-negara asalnya. Para anggota DPRD di Creteil yang anti-imigran gencar memprotes penggunaan dana-dana negara untuk pembangunan pusat kebudayaan termasuk untuk masjid Creteil. Sebagian dari mereka kuatir, para wanita mereka tidak bisa lagi menggunakan bikini ketika berenang di danau dekat mesjid itu.

Tapi Moore menyebut Cathala sebagai pengecualian, dan Moore benar. Cathala, anggota Partai Sosialis Prancis yang menjabat walikota Creteil selama tiga dekade, menganggap pembangunan masjid di Creteil sebagai evolusi demografi di kotanya. Dia meyakini hal itu dan mempraktikkannya.

Lalu Senin tempo hari, sekelompok massa yang mengatasnamakan umat Islam Bekasi, Jawa Barat memprotes pembangunan gereja di kota itu. Sembari berteriak-teriak menyebut nama Allah, mereka meminta pemerintah daerah mencabut izin pendirian pembangunan Gereja Santa Clara meskipun semua persayaratan dan izin mendirikan gereja sudah selesai diurus.

Dan ini yang kemudian terjadi: Walikota Bekasi, Rahmat Effendi seperti mengamini protes yang memalukan itu, lalu menyatakan tidak boleh ada aktivitas dan pembangunan gereja sampai ada kekuatan hukum tetap oleh yang berwenang. Status quo, katanya, meski sulit dimengerti, kenapa dan untuk apa.

Gereja Katolik Santa Clara yang ditentang orang-orang Islam di Bekasi adalah gereja yang sudah ada sejak 11 Agustus 1998, dan selama 17 tahun Paroki setempat berupaya mendapatkan IMB. Dan setelah izin keluar [tiga hari sebelum Lebaran, Juli silam], entah kenapa orang-orang Islam di Bekasi kemudian menentangnya, dan perilaku mereka niscaya memalukan. Tak pelak lagi.

Saya lalu teringat Angel, perempuan asal Brastagi, Sumatra Utara yang berjualan buah tak jauh dari rumah saya. Saya dan istri sering datang ke kiosnya, dan sementara istri saya memilih buah, saya sering mengajaknya bicara. Saya memanggilnya Ito, dan dari Ito itu saya tahu, sungguh sulit bagi minoritas untuk mendirikan tempat ibadah.

Ito seorang Nasrani yang setiap Minggu terpaksa beribadah dengan menumpang sebuah aula milik kesatuan tentara. Dan setiap selesai kebaktian, dia bersama kawan-kawannya anggota jemaah gereja, berpatungan mengumpulkan dana agar bisa membayar sewa aula tempat mereka memuji Tuhan. Tak ada keluhan dari nada bicaranya, tapi kembali rumah, saya terisak. Saya malu.

Di mana saja di seluruh dunia, minoritas memang selalu mendapat tekanan termasuk untuk mendirikan tempat ibadah. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu dituntut menghormati mayoritas. Kaum mayoritas itu, celakanya sering menyandarkan alasan mereka menekan minoritas, kepada ajaran agama, termasuk yang terjadi di Bekasi, Senin silam.

Mereka tampaknya lupa, bahwa tak ada satu ayat pun di Al Quran, juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad saw. yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah. Tidak pula ada larangan untuk berbeda keyakinan karena Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak ada ajaran kebencian di sana. Tidak juga diajarkan untuk curiga dan berburuk sangka.

Dan sungguh adalah ironi, bila semua ajaran baik seperti itu, kemudian justru dipraktikkan oleh Cathala, yang delapan tahun lalu mendukung dan memberi ongkos pembangunan masjid di kotanya, Creteil.

Simaklah kemudian yang dikatakan Cathala saat menjawab protes orang-orang yang menentang pembangunan masjid di Creteil itu: “Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain, apalagi dalam soal agama dan keyakinan mereka.”

----------------------------------------------------------------------------------------
Artikel di atas saya kutip sesuai dengan aslinya dari islami.co oleh Rusdi Mathar. 
Ilustrasi gambar saya ambil dari situs resmi travelmosquee.
CATHALA. Di tengah paranoid publik Barat terhadap Islam, walikota Creteil di Prancis melawan arus dengan mengizinkan pembangunan masjid megah di kotanya. Itulah masjid Creteil, masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Eropa dalam waktu 100 tahun terakhir.
Di bangun di sebuah bukit kecil, di tepi danau yang tak jauh dari balai kota dan pos polisi, masjid Creteil menelan ongkos US$ 7,4 juta. Tempat salatnya bisa menampung 2.500 jemaah, sementara menaranya ada 81 buah. Dikutip “the Washington Post,” 9 Desember 2007; Molly Moore, periset dari Corinne Gavard menyebut pembangunan masjid di Creteil sebagai “pengecualian” di tanah Eropa.
Creteil adalah kota yang terletak di sebelah tenggara Paris. Di Prancis, Creteil merupakan kota dengan jumlah penduduk muslim paling banyak bahkan mungkin untuk seluruh daratan Eropa. Dari sekitar 88 ribu penduduk di kota kecil itu, 20 persen di antaranya adalah pemeluk Islam. Mereka semua beribadah di sebuah gudang bekas penyimpanan kayu hingga datang tawaran dari Laurent Cathala, walikota Creteil saat itu untuk membangun sebuah masjid.
Dan ketika mulai dibangun [delapan tahun silam], pemerintah daerah Creteil di bawah Cathala tak hanya mendukung, melainkan turut mengongkosi pembangunan kompleks masjid. Cathala bahkan berterusterang dengan semua bantuan keuangan yang disumbangkan untuk pembangunan masjid Creteil, dan hal itu tentu saja menggembirakan Muslim di Prancis di tengah paranoid masyarakat Barat terhadap Islam.
Moore mencatat, Islam di Eropa adalah agama terbesar kedua setelah Nasrani, dan Prancis adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim paling banyak. Dari total penduduk Prancis [2007] 65 juta jiwa, sekitar 5 juta atau 8 persen di antaranya adalah muslim. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan kedua, yang lahir, besar dan menjadi warga negara di sejumlah negara di Eropa termasuk Prancis. Tapi hingga masjid Creteil dibangun, pembangunan masjid sangat sulit terwujud di Eropa.
Dari London, Inggris hingga Cologne dan Marseille, Prancis, penduduk dan pemerintah negara-negara Eropa terus disibukkan dengan penolakan pembangunan masjid. Mereka menentang pembangunan masjid karena dianggap bisa mempengaruhi keamanan nasional dan kepribadian mereka.
Di Ibukota Inggris, London, pendirian masjid di dekat taman yang bersebelahan dengan areal Olimpiade 2012, telah ditentang besar-besaran oleh pemerintah dan warga Inggris bahkan ketika masih dalam bentuk proposal. Kaum nasionalis Swiss pernah beramai-ramai menentang pembangunan mesjid di negaranya. Di sebuah bukit kecil bernama Colle Val d’Elsa, di Tuscan, Italia, penduduk setempat melempari pintu utama menuju masjid setempat yang dalam proses pembangunan dengan sosis. Dan Kanselir Jerman, Angela Merkel pun menyerukan para anggota parlemen agar berhati-hati dengan pembangunan masjid di Jerman.
“Kubah-kubah masjid tidak boleh dibangun dengan tinggi melebihi menara-menara gereja,” kata Merkel.
Sebelum pembangunan masjid Creteil, otoritas Prancis juga sudah “berupaya” keras mengembalikan para imam masjid ke negara-negara asalnya. Para anggota DPRD di Creteil yang anti-imigran gencar memprotes penggunaan dana-dana negara untuk pembangunan pusat kebudayaan termasuk untuk masjid Creteil. Sebagian dari mereka kuatir, para wanita mereka tidak bisa lagi menggunakan bikini ketika berenang di danau dekat mesjid itu.
Tapi Moore menyebut Cathala sebagai pengecualian, dan Moore benar. Cathala, anggota Partai Sosialis Prancis yang menjabat walikota Creteil selama tiga dekade, menganggap pembangunan masjid di Creteil sebagai evolusi demografi di kotanya. Dia meyakini hal itu dan mempraktikkannya.
Lalu Senin tempo hari, sekelompok massa yang mengatasnamakan umat Islam Bekasi, Jawa Barat memprotes pembangunan gereja di kota itu. Sembari berteriak-teriak menyebut nama Allah, mereka meminta pemerintah daerah mencabut izin pendirian pembangunan Gereja Santa Clara meskipun semua persayaratan dan izin mendirikan gereja sudah selesai diurus.
Dan ini yang kemudian terjadi: Walikota Bekasi, Rahmat Effendi seperti mengamini protes yang memalukan itu, lalu menyatakan tidak boleh ada aktivitas dan pembangunan gereja sampai ada kekuatan hukum tetap oleh yang berwenang. Status quo, katanya, meski sulit dimengerti, kenapa dan untuk apa.
Gereja Katolik Santa Clara yang ditentang orang-orang Islam di Bekasi adalah gereja yang sudah ada sejak 11 Agustus 1998, dan selama 17 tahun Paroki setempat berupaya mendapatkan IMB. Dan setelah izin keluar [tiga hari sebelum Lebaran, Juli silam], entah kenapa orang-orang Islam di Bekasi kemudian menentangnya, dan perilaku mereka niscaya memalukan. Tak pelak lagi.
Saya lalu teringat Angel, perempuan asal Brastagi, Sumatra Utara yang berjualan buah tak jauh dari rumah saya. Saya dan istri sering datang ke kiosnya, dan sementara istri saya memilih buah, saya sering mengajaknya bicara. Saya memanggilnya Ito, dan dari Ito itu saya tahu, sungguh sulit bagi minoritas untuk mendirikan tempat ibadah.
Ito seorang Nasrani yang setiap Minggu terpaksa beribadah dengan menumpang sebuah aula milik kesatuan tentara. Dan setiap selesai kebaktian, dia bersama kawan-kawannya anggota jemaah gereja, berpatungan mengumpulkan dana agar bisa membayar sewa aula tempat mereka memuji Tuhan. Tak ada keluhan dari nada bicaranya, tapi kembali rumah, saya terisak. Saya malu.
Di mana saja di seluruh dunia, minoritas memang selalu mendapat tekanan termasuk untuk mendirikan tempat ibadah. Mereka dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu dituntut menghormati mayoritas. Kaum mayoritas itu, celakanya sering menyandarkan alasan mereka menekan minoritas, kepada ajaran agama, termasuk yang terjadi di Bekasi, Senin silam.
Mereka tampaknya lupa, bahwa tak ada satu ayat pun di Al Quran, juga ucapan dan tindakan Nabi Muhammad saw. yang mengajarkan untuk melarang penganut agama lain mendirikan tempat ibadah. Tidak pula ada larangan untuk berbeda keyakinan karena Islam adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak ada ajaran kebencian di sana. Tidak juga diajarkan untuk curiga dan berburuk sangka.
Dan sungguh adalah ironi, bila semua ajaran baik seperti itu, kemudian justru dipraktikkan oleh Cathala, yang delapan tahun lalu mendukung dan memberi ongkos pembangunan masjid di kotanya, Creteil.
Simaklah kemudian yang dikatakan Cathala saat menjawab protes orang-orang yang menentang pembangunan masjid di Creteil itu: “Jika Anda belajar tentang keadilan, Anda tidak bisa hanya mengakui sebagian penduduk dan tidak mengakui sebagian penduduk yang lain, apalagi dalam soal agama dan keyakinan mereka.”
- See more at: http://islami.co/feature/511/8/cathala.html#sthash.6QqZBnFG.dpuf

Thursday, 24 December 2015

MAULID NABI DAN EKSPRESI MASSAL KECINTAAN KEPADA RASULULLAH

- No comments
Sumber: http://www.madeenah.com/

Memperingati maulid nabi adalah bentuk ekspresi kecintaan secara massal kepada junjungan tercinta, Rasulullah Saw.

Tidak sedikit yang mengatakan bahwa peringata seperti ini adalah bid’ah. Bahkan ada yang tega menanyakan dalilnya. Maka saya katakan kepada mereka: Ya, ini memang bid’ah. Terus kenapa?

Pemaknaan saya atas kata bid’ah adalah kreatifitas. Acara memperingati kelahiran nabi tercinta yang dipenuhi dengan bacaan shalawat, senandung syair yang romantis dan menggetarkan hati, cerita-cerita tentang Rasulullah yang menyentuh, adalah bentuk kreatifitas yang sangat agung dalam rangka mengekspresikan cinta pada Rasulullah.

Seperti dalam Hari Guru, kita memanfaatkan momentum ini untuk mengenang guru-guru kita yang sangat banyak jasanya membentuk kepribadian kita hingga menjadi seperti ini. Tak cukup dengan mengenang mereka, kita pun—adakalanya—mengunjungi mereka atau setidaknya merapalkan doa-doa kepada mereka, doa yang mereka ajarkan kepada kita. Begitu juga dalam hari Ibu, hari Pahlawan, dan peringatan hari-hari lainnya.

Apakah untuk melakukannya harus di hari yang ditentukan itu? Tentu tidak. Kita bisa melakukannya kapan saja. Hari itu hanyalah momentum untuk me-recharge. Seperti halnya Ramadhan sebagai momentum untuk me-recharge diri kita menghadapi sebelas bulan setelahnya.


Ada yang cemburu kepada para pecinta Rasulullah seperti kita ini. Mereka cemburu bagaimana bisa orang mencintai dengan begitu tulus dan romantis, merasakan kerinduan yang mendalam? Dan kita bisa melihat para pecemburu itu, mereka akan melakukan banyak hal karena posesifitasnya sehingga mereka tega melontarkan kata bid’ah.

Kalau ditanya mana dalilnya? Mana anjuran atau perbuatan yang merujuk pada pelaksanaan peringatan Maulid?

Untuk mengungkapkan rasa cinta kau tak perlu dalil, seperti ketika kau inign menolong seseorang tak perlu kau tanyakan apa agamanya. Dalil-dalil hukum itu jauh berada di bawah tataran etika. Kau bicara dalil hukum maka kau bicara tentang benar dan salah. Kau bicara nilai etis maka kau bicara baik dan buruk.

Lagi pula, maulid nabi bukanlah ibadah (ubudiyyah). Ini adalah bentuk budaya halus para ummat yang merindukan kehadirannya. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan menara (manaroh) yang diadopsi dari Persia yang Majusi itu. Acara maulid nabi tidak jauh beda dengan kubah yang diadopsi dari bangunan-bangun gereja di Romawi yang Nasrani itu. Apa salahnya?

Padahal ada satu jurus jitu supaya aktifitas yang tampak biasa-biasa saja bisa berubah menjadi nilai ibadah yang luar biasa.

Kita membersihkan halaman rumah, menyapu misalnya, pekerjaan ini kan menjadi pekerjaan biasa saja. Tetapi kala kita mengawalinya dengan membaca basmalah maka jadilah aktifitas menyapu ini menjadi nilai ibadah. Sebalik, yang tampak seperti ibadah kalau tak diawali dengan basmalah maka jadilah ia sekedar aktifitas buang-buang tenaga.

Ah, mereka yang terbiasa berbuat sesuatu di atas dalil-dalil tentu tahu dalil—sabda nabi—tentang basmalah ini.


Saya melihat terdapat paradoks dalam mengekspresikan relijiusitas kita. Ada yang mengaku mencintai Rasulullah dengan tulus tapi untuk mengikuti sunnahnya masih pilah-pilih. Mengikuti jalan hidup beliau bukan melulu tentang ibadah yang lima waktu itu, atau tentang rukun islam yang lima itu. Masih ada yang lain: mencintai kaum dlu’afa dan yatim, hidup bersahaja, ramah kepada sesama manusia.

Bukankah kita pernah membaca kisah menakjubkan Abu Bakar yang ingin meniru jalan hidup Rasulullah ternyata belum ada apa-apanya. Saat ia mendatangi seorang Yahudi buta di pasar, memah roti lalu disuapkan, ia tak habis pikir bagaimana Rasulullah bisa sesabar itu hingga akhir hayatnya, berbuat derma kepada non-muslim meskipun ia memberci dan mencercanya.

Dalam keadaan marah, kadang saya menjawab: Kalau kamu benar mencintai Rasulullah, seharusnya kamu tanggalkan pakaian mewahmu, singkirkan kasur empukmu, miskinkan dirimu hanya dengan mengambil apa yang cukup untuk hari ini saja.

Ada kalanya juga ingin menelisik kadar pengatahuannya, tahukah makna sunnah? Atau jangan-jangan masih menyamakan arti sunnah dan hadits? Kalau demikian, perlulah kita belajar lagi apa sunnah dan hadits, secara terminologis dan juga epistemologis (lughotan wa ishtilahan).

Kok, saya lalu curiga. Jangan-jangan mereka yang membid’ahkan ekspresi cinta ini tidak pernah benar-benar membaca maulid diba’, shimthut dluror, atau lainnya.


Banyak cara mengekspresikan rasa cinta dan kerinduan kepada Rasulullah. Ada yang merindukannya dengan cara mengikuti jalan hidupnya (sunnah) semampunya. Ada yang merindukannya dengan cara memanggil-manggil namanya. Ada pula yang mempelajari sejarah hidupnya.

Allah menyuruh kita untuk bershalawat kepada Nabi karena seluruh alam semesta, bahkan malaikan dan Dirinya sendiri pun bershalawat kepada Nabi. Hanya saja dalam ayat itu tidak dijelaskan apakah bershalawat dengan cara duduk, berdiri, sendiri-sendiri atau berjamaah.

Allohummu sholli álä muhammad.

Saturday, 5 December 2015

MENGANALISA BLOG MELALUI GOOGLE ANALYTIC

- No comments
http://www.whiteboardmag.com/wp-content/uploads/2013/01/analytics.jpg
Google Analytic


Beberapa bulan yang lalu ada teman yang memberi saran supaya saya menggunakan google analytic. Aih... untuk apalah. Begitu tanggapan saya. Dan dua hari yang lalu saya saya tergoda mengklik tautan googel analytic dan langsung sign up. 

Awalnya saya agak kecewa karena saat lihat menu audience ternyata page views saya masih nol. Padahal di dashboard blogger terlihat pengunjung blog sudah ribuan. 

Lalu saya pasang umpan ke berbagai media sosial sambil melihat grafik yang tidak kunjung bergerak. Page views tetap nol. Hati semakin berdebar-debar. Apa yang salah dengan blog saya? Hingga setelah beberapa jam mulailah bergerak dan setelah dua hari ternyata page views baru mencapai angka dua belas. 


Loh, kok cuma dua belas? Kemana larinya angka page views yang tertera di dashboard blogger?

Uji coba kecil-kecilan pun saya lakukan. Saya klik beberapa postingan saya yang lalu-lalu. kemudian me-refresh beberapa kali. Hasilnya, di dashboard terlihat jumlah pengunjung yang meningkat. Sedangkan di google analytic sama sekali tidak ada perubahan.

Penasaran? Ya, saya penasaran sekali. Saya pun mencari beberapa informasi dari blog-blog yang membagikan penggunaan google analytics. Tidak lupa pula mengunjungi laman support dari google. Lalu ada kesimpulan-kesimpulan kecil seperti nyala lilin. Sedikit penerangan meskipun belum terang benderang.

Pertama, google analytic akan menghitung jumlah klik, jumlah pengunjung, lama sesi, dan lainnya sejak pengguna mengaktifkan google analytic, bukan sejak blog dibuat. oh.

Kedua, ada beberapa tipe laporan harus dipahami. Dan saya belum ngeh masing-masing bentuk laporan. Setidaknya saya memahami page views yang menunjukkan jumlah halaman yang dilihat oleh pengunjung; users yang menunjukkan jumlah pengunjung; session yang menunjukkan lama pengunjung membuka laman blog kita.

Artinya, page views boleh banyak tetapi belum tentu users-nya juga banyak karena bisa jadi si pengunjung meng-klik beberapa postingan dalam satu sesi. Silahkan deh dipelajari sendiri.

Fasilitas baru dari google ini memang menyita perhatian saya. Jadi kembali termotifasi untuk menulis, bercerita, dan membagikannya di dunia maya. Selamat menjelajah.

google analytic: dingkelik.blogspot.com

google analytic: dingkelik.blogspot.com

Tuesday, 24 November 2015

AYOK NONTON JARANAN

- No comments
Di zaman sekarang ini apa enaknya nonton jaranan? Pertanyaan serupa mungkin juga pernah terlontar pada awal kemunculan televisi. Apa enaknya nonton televisi?

Jaranan itu seni rakyat. Musiknya cuma ting ting tong ting ting tong teng glung dari gamelan yang susah sekali mencari suara merdunya. Nyanyian sindennya melengking dari toa yang trible dan bass-nya sudah default. Kudanya juga cuma kuda-kudaan. Jadi apa enaknya?

Jaranan biasanya dimulai dari tari-tarian yang kecil-kecil dulu, dari kalangan anak-anak, yang gerakannya ritmis dengan suara gamelan. Terus ke yang lebih dewasa. Semakin lama tabuhan gamelan semakin seru dan cepat sampai akhirnya ada yang kesurupan, makan ini itu yang tidak wajar, tapi tetap mengikuti ritme gamelan. Jadi sebenarnya kesurupan atau tidak?

Konon, ada pawang yang menjaga jin-jin yang merasuki para penari. Berpakaian hitam, berkumis tebal, cincin akik yang menggunung, rokoknya dari tembakau dan cengkeh yang ia racik sendiri. Tangannya memegang kembang mawar. Iya, kembang mawar. Kalau di kebun binatang, pawang-pawangnya memegang cemeti. Kalau di pentas jaranan pawangnya menggenggam kembang mawar.

Nonton jaranan harus kisruh. Bukan penontonnya yang kisruh tapi penarinya. Harus ada yang kesetanan mengikuti ritme gamelan dan suara ye a ye a si pesinden. Kisruhnya justru menghibur. Penonton jadi bersorak riang. Kalau para penari tidak ada yang kesurupan, yang kesurupan justru para penonton. Biasanya kalau ada penonton yang kesurupan di luar ritme gamelan justru akan merepotkan pertunjukan. Jaranan bisa bubar segera.

Semakin kesurupan, semakin makan yang aneh-aneh, penonton semakin bersorak. Tidak hanya pemandu acara dan penabuh gamelan yang semakin kegirangan, jin-jin yang merasuki pun semakin keranjingan.

Ye a… ye a… e… e… e… yaa!!! Penonton bersorak.


Orang-orang di senayan sana pastinya sedang merindukan pertunjukan jaranan. Tapi kan tidak mungkin menggelar jaranan di halaman gedung yang terhormat itu. Bisa-bisa runtuh kehormatannya.

Seni jaranan memang ngangenin. Dari yang kecil sampai yang tua, kalau ada pertunjukan jaranan, pasti ikut menonton. Apalagi kalau semasa muda dulu pernah ikut njathil di balai desa. Ketika jarak masa lalu sudah mentok, maka kerinduannya tidak bisa dibendung lagi.

Ngangeninnya di mana?

Makanya, jaranan dirubah konsepnya. Supaya rasanya sama tapi bentuknya yang berbeda. Ada orang-orang yang memanjangkan kumisnya dan diam-diam menggenggam kembang mawar. Baju hitam pawang bisa diganti dengan jas hitam. Lalu menunggu gung yang tepat untuk memanggil jin supaya merasuk di salah satu penghuni gedung terhormat itu.

Jin zaman sekarang cuma merubah bentuk sedikit saja. Iya, sedikit saja. Yang penting sesaji dalam pertunjukan jaranan tetap dihidangkan. Apa sesajinya? Rakyat kecil.

Kalau rakyat kecil sudah bersorak maka senanglah si pawang jadi-jadian ini. Padahal rakyat kecil bukan bersorak karena kegirangan melainkan karena muak. Hanya saja siap yang bisa menahan dahsyatnya rindu. Makanya, cemoohan itu terdengar bak pujian.

Lama-kelamaan yang mabok kesurupan ini semakin banyak. Yang bersorak semakin ramai. Suaranya semakin sumbang. Yang menabuh gendang semakin tidak terhitung. Sinden berhenti bernyanyi. Bingung dia mau ikut tabuhan yang mana. Tapi yang mengherankan tidak ada satupun yang berhenti kesurupan. Justru semakin banyak.

Si pawang kelabakan karena jin yang sudah merasuk tidak mau diatur. “Enak saja. Saya bukan peliharaanmu! Gak usah ngatur-ngatur!” begitu kata si jin.

Yang kesurupan pun merambah ke televisi. Mereka yang paling seneng kalau ada yang kesurupan dan sekarang mereka yang kesurupan. Meliput sana sini, dapat berita yang laku dijual untuk disorakin. Kalau ternyata gak ada yang bersorak diplintir pun jadi. Ah, orang mabok kesurupan mana tahu baik dan salah, mana sadar benar dan salah.

Orang yang tadinya tidak suka jaranan jadi ikut-ikutan kesurupan. Ya gara-gara televisi ini. Padahal di hari televisi kemarin diingatkan kalau televisi adalah sarana untuk berbagi informasi. Loh, televisi itu untuk berbagi informasi? Iya, tapi itu dulu. Sekarang mereka berjualan.


Sudah!! Sudah!!
Saya kan tadi ingin ngomongin enaknya nonton jaranan di zaman sekarang ini tapi kenapa jadi nyinyir sana sini. 

GURU SEBAGAI CAHAYA DI DALAM KEGELAPAN

- No comments

Cara Kita Dididik
Dari semua guru yang pernah mendidik kita, berapa guru yang benar-benar menginspirasi hidup kita—baik karena nasehat-nasehat yang mereka siramkan maupun cerita-cerita mereka yang mencerahkan?

Siapakah mereka yang mendidik kita kala di sekolah dasar? Siapakah mereka yang mulai mengenalkan hal-hal rumit saat kita di sekolah menengah? Siapakah mereka yang telah menjadikan kita sarjana?

Kebanyakan dari kita memiliki pengalaman yang sama dalam belajar padahal kita tidak satu mengenyam pendidikan di sekolah yang sama. Saya menikmati pendidikan yang didominasi dengan pendidikan verbal. Menceramahi murid sehabis-habisnya.

Cara mendidik seperti ini bisa jadi sangat relevan pada saat itu mengingat media informasi di kampung saya hanya melalui televisi dan radio. Gurulah yang kemudian menjadi pintu pembuka wawasan melalui dialog dan diskusi. Namun kebanyakan guru saya memilih berceramah dari pada melakukan eksplorasi melalui praktik dan kegiatan lainnya.

Tapi dari guru yang “banyak bicara” itu jadilah diri saya –juga mungkin kita—yang saat ini; yang masih cadas menyanyikan lagu Gebyar-gebyar, yang membagi bilangan dengan cara porogapit; yang masih terniang-niang nama Harmoko sebagai menteri Penerangan.

Apa yang membuat kita masih mengingat-ingat apa yang kita terima selama pendidikan sepuluh tahun yang lalu? Tidak terbesitkah keinginan supaya anak didik kita, kelak, melakukan hal yang sama dengan kita sekarang?

Cara Kita mendidik

Manusia adalah mahluk mimesis yang sangat cerdas. Masa-masa menjadi mahluk mimesis yang paling efektif adalah pada masa pertumbuhan, saat manusia menjadi “sponge” yang paling haus terhadap air. Lalu ketika kita menjadi guru cara kita mengajarkan tak jauh-jauh dari cara kita mendapatkannya. Silahkan direfleksi.

Saat ini, pendidikan kita mirip dengan apa yang digambarkan oleh Thomas Lickona dalam “Educating for Character: How Our Schools Teach Respect And Responsibility”. Urusan utama sekolah adalah bekerja, beraktifitas dan berkarya sebagai pembelajaran. Sekolah harus merancang rangkaian aktifitas yang dapat membantu siswa memahami kualitas dirinya, mengerjakan sesuatu dengan kemampuan terbaiknya, dan mengembangkan kualitas karakter yang melekat pada dirinya untuk mampu doing the best.

Tapi bagaimana peserta didik kita akan dapat menerima pembelajaran itu kalau sumber cahaya inspirasi mereka masih terbelenggu oleh sistem lama?

Mungkin kita pernah mendengar ungkapan “Yang berkuasa adalah mereka yang menguasai informasi”. Kalau kita tarik dalam perspektif pendidikan yang membedakan antara guru dengan murid adalah penguasaan informasi/materi. Kita dapat menemukan anomali di mana siswa tampak lebih menguasai materi dibandingkan gurunya.

Apa yang terjadi di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat kompleks. Nilai-nilai yang ditanam di sekolah diluluhlantakkan oleh dimensi layar flat. Sehingga kalau guru masih mengajar secara konvensional—ceramah, ceramah, dan ceramah lagi—kesempatan untuk memetik hasil yang maksimal dalam pendidikan menjadi sangat kecil.

Guru memang sudah seharusnya memperluas wawasan dan kritis terhadap lingkungan, senantiasa mengasah kemampuan mengajarnya untuk melakukan simulasi dan stimulus pada diri peserta didik. 

Semakin luas dan kaya wawasan guru semakin mungkin ia melakukan inovasi dalam pembelajaran.

Momentum Hari Guru

Sebagai murid dari guru-guru yang telah membesarkan saya, hanyalah untaian doa yang dapat kusenandungkan untuk mereka. Dari sekian banyak bimbingan sedikit sekali yang dapat kuingat—bahkan yang teringat justru kebandelan dan pembangkangan yang saya lakukan. Saya belajar tentang keuletan, tanggungjawab, dan keikhlasan dari mereka bahkan dari guru yang mata pelajarannya tidak saya sukai.

Bukan salah mereka kalau kita harus melahap habis banyak mata pelajaran. Bukan salah kita pula kita harus menyuapi peserta didik dengan sekian banyak mata pelajaran. Kita sadar bahwa kita tidak bisa melahap habis semua. Begitu pula kita menyadari bahwa peserta didik kita tidak bisa mengkonsumsi semuanya.

Lalu, apa yang bisa guru berikan kalau faktanya mereka tidak menyukai materi yang diajarkan?

Guru tidak hanya mengajarkan materi-materi di kelas. Ada proses ‘transfer’ lainnya yang kasat mata dan yang paling kasat mata dalam pembelajaran adalah energi guru menyambar reseptor-reseptor anak didiknya. Seredup apapun cahaya yang kita pancarkan, di dalam ruang gelap cahaya itu menjadi petunjuk dan harapan yang sangat besar.

Untuk itu, dalam momentum Hari Guru ini, alangkah baiknya kita merenungi posisi kita sebagai guru. Posisi yang memiliki derajat kemulyaan yang sangat tinggi. Dengan demikian, kita tidak hanya akan bersyukur dan memperbaiki diri tetapi juga berterimakasih pada mereka, pada guru-guru kita.

Sebagai penutup, saya kutipkan catatan di buku Thomas Lickona:
Saya menghawatirkan jika saya merupakan elemen penentu di dalam kelas … sebagai guru, saya memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat kehidupan siswa menjadi yang tidak karuan atau menjadikan mereka gembira. Saya dapat menjadi sebuah alat untuk menyiksa atau menjadi sebuat alat inspirasi. Saya dapat menghina atau bercanda, menyakiti atau menyembuhkan. Dalam segala situasi, sudah merupakan tanggung jawab saya utnuk menentukan apakah sebuah konflik akan dibesar-besarkan atau diselesaikan, dan memperlakukan seseorang anak dengan baik atau tidak.
--------------Haim Ginott

Monday, 9 November 2015

PAK WID, APA HASIL KUNJUNGAN BAPAK KE LAMPUNG?

- No comments
Presiden Joko Widodo meninjau pembanguan ruas tol Trans Sumatera. Tampak di foto Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan (berbatik biru) turut mendampingi Presiden. (Sumber gambar dari Kompas.com)
Apa kabar pak Wid? Bagaimana kesan bapak setelah mengunjungi Lampung lagi?

Saya penasaran selain untuk meninjau proyek jalan tol apakah ada obrolan lain dengan pemerintah daerah kami tentang –mungkin—swasembada pangan, proyek perkebunan, atau mungkin bapak berbagi ide bagaimana caranya supaya listrik di Lampung tidak byar pet terus-terusan.

Bapak kemarin lewat jalan mana? Ketemu macet enggak? Beginilah Lampung, Pak. Jalannya gak selebar Jakarta. Sudah begitu, padat oleh mobil dan motor. Bapak tentu tidak merasakan kemacetan karena Paspamres, polisi, dan satpol PP sudah menyisir jalan lebih dulu. Dramatis pak, sama dramatisnya ketika Bapak naik kapal feri Bakauheni-Merak hanya dalam waktu satu jam padahal waktu normal tiga jam.

Sekali lagi, Bapak lewat jalan mana? Ketemu perkebunan kah? Bapak tentu tidak perlu merasakan takut kena begal. Selain bapak dikawal oleh Paspamres, di benak Bapak membayangkan kalau jalanan di sini aman seperti ketika Bapak melewati Alas Roban atau hutan jati di Ngawi.

Padahal, Pak, saya takut sekali kalau melintasi kebun karet atau sawit. Saya takut sekali kena begal. Malu saya berterus terang begini tapi harus saya curhatkan. Saya menyimpulkan dari cerita-cerita teman saya, kejadian pembegalan cenderung meningkat saat harga karet dan sawit turun. Tahu kenapa kan pak?

Kami yang hidup dari buruh perkebunan hanya punya satu sumur mata pencarian. Kalau yang satu-satunya ini sudah menipis apalagi sampai kering, kami harus bagaimana lagi. Yang masih punya iman tentu meyakini kalau Gusti Allah mahakaya. Tapi kan iman itu naik dan turun.

Bapak kan bisnisman tentu tahu betapa pentingnya keamanan bagi pertumbuhan ekonomi. Lampung itu kaya dengan hasil kebunnya pak. Kopi, lada, kakao, sawit, dan karet. Yang air-air juga ada Pak. Tambak udang di mesuji dan rawajitu itu gede banget. Pajaknya sangat potensial untuk mengisi rekening kas negara. Belum lagi pantai-pantainya. Yang masih ramai saat ini adalah pantai-pantai di Pesisir Barat dan Teluk Kiluan.

Kalau masyarakat masih was-was dengan keamanan, bagaimana mereka akan bercocok tanam, mana bisa mereka menjadwalkan liburan pariwisata. Mendingan di rumah, Pak.

Tolong pak, tolong jangan menjawab kalau sudah ada mentri yang menangani sawah dan kebun, sudah ada mentri yang menangani pariwisata, sudah ada ibu cantik yang menangani laut, sudah ada polisi yang menangani keamanan. Jangan sampai jawaban seperti itu meluncur dari bibirmu, Pak.

Kami yang tak punya sawah dan ladang mencoba usaha rumahan. Membuat selendang dan sarung tapis, kripik pisang, sablon, foto kopi, PS, rental internet, jasa ketik, jasa pijet, tukang perbaikan peralatan eletronik, dan lainnya. Tapi apalah arti semua itu kalau listrik byar pet.

Saya malu sekali kalau ada teman dari Jawa singgah di rumah. Teman saya berdecak kagum melihat bendungan Batu Tegi yang diresmikan ibu Bapak, Ibu Megawati. Bagaimana saya tidak malu, sudah punya bendungan pembangkit listrik segede itu tapi tetep saja byar pet. Listriknya malah dialirkan ke Palembang. Lalu, Tarakan bisa apa?

Jadi, kalau kunjungan Bapak kali ini hanya untuk meninjau pembangunan jalan tol, saya katakan Bapak jelas-jelas menjadi pemimpin yang merugi. Maaf, pak, saya harus berterus terang begini.

Thursday, 29 October 2015

SEMOGA DAVINA LEKAS MEMBACA SURATKU INI

- No comments
Davina Cahya Syakira
Nduk, sewaktu kamu lahir tangismu memekik seperti --dalam lagu Ebiet G Ade-- seruling bambu yang merayap ke langit. Sayangnya, karena kelahiranmu terjadi di siang hari, serulingmu terganggu  suara desing kendaraan bermotor. 

Tuh kan, baru lahir saja kamu sudah diribeti. Meskipun hanya tangis. Selain itu, nduk, bukan hanya kamu yang nangis siang itu. Bapak dan eyang utimu juga ikut nangis. Menangis bahagia. 

Ngomong-ngomong tentang bahagia, banyak rumus yang dapat membuat kita bahagia. Cara paling mudah merasakan bahagia adalah dengan memuasi keinginan diri sendiri. Seperti kamu di awal-awal kehidupanmu ini: lapar minta nenen, kamu nangis; popok basah minta diganti, kamu nangis; mati lampu dan pengap, kamu juga nangis. 

Suatu saat nanti, kamu akan merasakan bahagia bukan dengan memuasi apa yang kamu inginkan. Kamu bisa merasakan kebahagiaan dengan cara memberi. Memberi bukan karena kewajiban tetapi memberi karena kamu senang melakukannya. Hanya saja tidak mudah. Eh, inget, yang tidak mudah itu bukan berbarti tidak bisa dilakukan. Bisa, nduk, bisa. Hingga kalau sudah terbiasa semuanya jadi benar-benar terasa mudah.

Nduk, kamu lahir di saat yang tepat, meskipun bak kamar mandi kering karena kemarau, di saat ibumu perlu teman mengobrol di rumah kontrakan, di saat bapakmu masih saja malas pulang cepat dari kantor dengan sederet alasan. 

Kehadiranmu memang jadi pengikat, nduk

Saya pingin ceritakan tentang namamu, nduk, supaya kamu tidak bertanya-tanya kenapa bapak dan ibumu sepakat untuk menyematkan nama Davina Cahya Syakira. Dan juga cerita lucu ketika eyang utimu tanya, "terus manggilnya apa?". 

Tapi saya ceritakan lain kali saja ya, nduk. Bapak mau menghabiskan kopi dulu.

Monday, 5 October 2015

Kue Lupis dan Kesejahteraan Bangsa

- No comments

Pagi ini saya menemani isteri ke pasar, belanja keperluan untuk anak pertama kami, dan kalian pasti bisa menduga-duga betapa kami menjadi pasangan yang bahagia. Mengagumkan. Tapi ada kekaguman lain yang luput dan saya temukan pagi ini.

Kue ini, di Jawa Timur sana, disebut kue lupis. Berbahan dasar beras ketan yang dikukus terus ditaburi ampas dan disiram gula merah yang dicairkan. Kalian bisa cari resepnya lalu mencoba sendiri di rumah.

Istimewanya di mana? Ada di tengah-tengah pasar Koga, di depan toko plastik diapit antara gudang dan penjual pakaian. Kue ini dijajakan oleh perempuan tua, tak bisa kukira-kira umurnya, dengan kebaya hijau dan bersanggul. Bodohnya saya tidak membawa kamera atau memotret menggunakan handphone.

Politik negeri ini boleh jungkir balik tidak karuan tapi selama yang muda masih bisa menghormati yang tua, yang tua menyayangi yang muda, kita tetap bahagia. Apalagi kalau beras ketan dan gula merah tidak tiba-tiba menghilang. Eyang berkebaya hijau dan bersanggul itu masih bisa membuat lupis dan dijajakkan di pasar Koga.

Ada puluhan, ratusan, dan ribuan manusia di negeri ini yang hidup tak mengaduh. Mereka bekerja (coret kata bekerja dan ganti dengan berkarya) untuk kehidupan. Apa untungnya menjual kue lupis di celah sempit antara gudang dan toko baju, duduk di atas dingkelik dan bermeja anyaman bambu? Kalau kalian pernah memberi dengan tulus maka kalian akan merasakan keuntungan menjual kue lupis.

Pak presiden mungkin memang norak ketika memberi instruksi kepada jajarannya kalau rapat tidak usah beli snack macam-macam, cukup kue singkong saja. Anggaplah pak presiden ingin mengangkat ekonomi menengah ke bawah. Kalau memang begitu sebaiknya langkahnya bukan sekedar memborong produknya saja tapi coba sawah-sawah jangan ditanami beton, bangunlah irigasi supaya subuh ladang dan sawah.

Jangan salah, orang-orang pedesaan yang hidup di lereng pegunungan tak butuh apa-apa dari luar sana. Kalianlah yang butuh mereka. Hanya saja akhir-akhir ini mereka, para petani, ikut-ikutan bingun seperti pada pemimpin di parlemen dan pemerintahan. Mereka dibawa-bawa ke dalam catur perpolitikan dan ngenesnya hanya diatasnamakan saja.

Aha, kemarin undang-undang desa sudah diketok. Kita doakan saja semoga gema ketokannya betul-betul merambat sampai ke pedesaan.

Kue lupis hanya sebagian dari tradisi lama yang semakin tergerus sejak lama. Padahal masih ada klepon, gethuk lindri, otak-otak, dan banyak lagi. Kalau tiba-tiba ada kudeta pemerintahan jajanan ini akan tetep enak dinikmati.

Tuesday, 29 September 2015

SALAMAH

- No comments

Di hari-hari biasa, ketika tak ada yang peduli dengan kepunahan kicauan burung di pagi hari, Salamah meneriaki anak yang bagai pinang dibelah dua itu untuk bersiap-siap berbelanja pengetahuan di bangku sekolah. Ia tentunya seorang ibu yang baik dengan mengirim mereka ke sana. Sembari meneriaki mereka tangannya dengan lincah meracik bumbu untuk makan yang akan matang ketika matahari setinggi dua tombak ke langit. Lalu, mereka berdua sarapan apa? Tidak pelak lagi bahwa mie instan sudah menjadi kebiasaan menahun.

Pada jam istirahat pertama, mereka berdua –yang tua bernama Satin dan adiknya bernama Samin- akan kembali ke rumah untuk membayar hutang sarapan pagi yang ditinggalkan. Maklum, sekolah mereka hanya beberapa jengkal saja. Bahkan ujung tiang benderanya dapat diintip dari halaman rumah.

O iya…. Suami Salamah adalah mandor yang selalu pergi meninggalkan keluarganya. Orang-orang memanggilnya Obang. Nama aslinya Oemar Bangkit. Ketika pulang, isterinya akan menyambut dingin dengan senyuman, dan sesekali menanyakan keadaan proyek yang ditanganinya. Sebenarnya ia tidak suka suaminya berprofesi di sana karena sawah warisannya ayahnya tidak tergarap sama sekali. Sesekali ia curiga kalau suaminya memiliki perempuan simpanan.

Seperti malam itu ketika Satin dan Samin masih berumur beberapa bulan di gendongan. Ia serta merta menuduh suaminya berselingkuh karena uang untuk belanja sudah menipis padahal ia sering keluar menangani proyek. Bahkan ia sampai menggunakan popok kain karena uang untuk membeli popok pampers sudah habis. Untuk menunjukkan kesetiannya, akhirnya Obang melepas beberapa proyek yang akan ditanganinya yang akhirnya sangat disesali oleh Salamah.

Obeng hanya menggelengkan kepala keheran-heranan setelah melihat kekonyolannya sendiri.
Terjadi perubahan besar ketika nyawa Obang harus pergi meninggalkan mereka ditelan dunia. Salamah berdiri sendiri di atas tanah warisan ayahnya. Untungnya suaminya meninggalkan dalam keadaan kecukupan sehingga ia tidak perlu terlalu kwatir dengan ekonominya. Rumahnya sudah cukup besar untuk ditinggali empat orang, bahkan walaupun ditambah dua orang lagi.

Sehingga di tahun berikutnya setelah lulus dari SMA Satin dan Samin tidak perlu melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena mereka berdua sudah harus merawat rumah dan melayani suaminya. Dan benih yang dititipkan di rahim mereka telah melahirkan cucu buat Salamah.

Tentu saja dua orang yang masuk ke dalam keluarga itu sangat beruntung. Mereka sudah tidak perlu lagi mencari tanah kosong untuk menanam batu bata.
Namun, seperti kekhawatiran beberapa teman Samin, konflik keluarga pun tak mampu dielakkan lagi.

Dulu, ketika Salamah baru memiliki cucu, banyak sekali coretan kapur membentuk lingkaran mengelilingi genangan air. Perempuan yang baru menjadi nenek selalu mengambil peran untuk mengepel kencing cucunya karena hanya itu yang boleh ia kerjakan –sejak punya menantu ia tidak lagi menantang terik matahari di tengah sawah. Saat anak-anak tidur siang Salamah akan membacakan shalawat atau senandung apapun untuk menidurkan mereka.

Dindingpun sudah tidak lagi berwarna putih bersih seperti sedia kala. Banyak coretan dimana-mana menunjukkan kreatifitas alami anak. Samin dan Satin tidak pernah capek mengomeli mereka, seperti ketika mereka terus-terusan diomeli waktu kecil.

Waktu terus beranjak. Mereka mulai ada ketertarikan terhadap benda tertentu. Sesekali cucu tua memukul adiknya untuk mempertahankan yang menurutnya adalah haknya. Maka ia akan menangis dan mendatangi neneknya. Karena si cucu tua tahu apa yang akan dilakukan nenek ia memilih mengalah dan memberikan kepunyaannya ke adiknya. Bahkan Samin dan Satin sesekali bersikap bukan layaknya saudara hanya karena ingin membela anak sendiri.

Ketika malam didiami oleh kesunyian, si cucu akan lebih memilih tidur bersama nenek dari pada menerima kehangatan ibu mereka. Dan kali ini mereka berdua akan marah atau lupa bahwa mereka sedang mengumpat pada ibunya sendiri hanya karena ingin ngeloni anak meraka.

“Kang, kenapa saufi selalu menolak kalau ku ajak tidur di sini? Dia selalu memilih tidur bareng ibu di kamar belakang.” Tanya Satin dengan cemas.

“Ya… Biarkan saja. Toh Saufi tidak pergi kemana-mana?” Jawab suami dengan enteng.

“Tapi apa Kakang tidak khawatir?”

“Kenapa khawatir. Saufi kan dimomong neneknya. Dia masih memanggil kamu dengan dengan sebutan ibu kan? Dia masih memanggil saya dengan sebutan bapak kan?” Satin mengangguk cemas. “Ya sudah apa yang perlu dikwatirkan.”

Sedangkan di kamar sebelah, saksi bisu kemesraan antara Samin dan suaminya, terdengar pula perbincangan yang mengusik.

“Dik, apa tidak sebaiknya kita tinggal di rumah sendiri saja?”

“Kenapa dengan rumah ini Mas?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja ada ketidak-mandirian dalam diri kita sebagai keluarga.”

“Maksud Mas?”

“Saya ingin membesarkan Asnawi dengan tangan kita sendiri?”
Samin menghela nafas panjang setelah mendengar keinginan suaminya. “Aku tidak tahu apa ibu akan menerima keinginan kita. Apa Mas tidak ingat waktu kita sampaikan keinginan yang sama dulu?”

“Saya akan bicara pada Kang Saliman. Semoga bisa dimengerti?”

[next]
* * *
Ketika dingin mulai terasa menusuk dada, keluarga mereka duduk bercengkrama di depan televisi sambil menikmati takiran dari tasyakuran panen lada tetangganya. Hanya saja, nenek Salamah tidak ada di sana. Semua orang tahu ke mana para nenek berada ketika menjelang Isya’. SepertiKetika Saufi atau Asnawi menangis mencari neneknya orang tuanya akan menjawab Nenek sedang mencari surga di masjid, tunggu sampai isya baru nenek pulang.


“Kang Man. Apa kakang tidak merasa rumah ini terlalu kecil untuk dua keluarga?”

Jelas sulaiman menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Badru karena sebenarnya rumah yang mereka tinggali masih cukup luas meskipun ditambah dua anak lagi.

“Lalu apa kamu dan Samin punya cukup uang untuk memulai dari awal?” Jawabnya langsung ke inti persoalan.

“Kami sudah membicarakan hal ini dengan Samin. Hanya saja kami tidak tahu bagaimana harus kami sampaikan ke ibu.”

Mereka berempat saling bergantian berpandangan. Dan tiba-tiba, selera makan pun menghilang. Ayam ingkung yang ada di tangan dikembalikan lagi ke atas piring.

“Saya ingin tahu masalah sebenarnya apa?” Tanya satin dengan nada sedikit dikeraskan.

“Tidak ada masalah apa-apa. Kami hanya ingin sedikit lebih mandiri.” Badru menjawab dengan hati-hati karena melihat kakak iparnya yang sering cepat naik pitam.

“Kalau permasalahannya adalah kemandirian, kita skat saja rumah ini. Nanti kita tentukan saya dengan Kang Saliman dapat bagian yang mana.”

“Bukan begitu mbak. Kami… “

“Samin! Kalau yang kamu bingungkan adalah keadaan ibu, kita bisa jatah tinggal. Satu minggu bersama kami dan satu minggu bersama kalian.”


[next]
* * *

Di malam yang sepi dengan kesendirian yang sama seperti biasanya Saliman menata kemesraan dan menaruh letih bersama isterinya.

“Kenapa tadi tidak terima saja keinginan mereka?” Ungkap Saliman membahas perhelatan sore tadi.

“Dengan membiarkan mereka pergi dari rumah ini?” Tanya isteri Saliman keheranan.

“Tidak! Mereka yang di sini dan kita yang pergi. Bukankah kamu ingin Saufi jauh dari kemanjaan neneknya?”

“Kang, ibu sudah tua. Kalau kita pergi sekarang kita hanya akan dapat tanah pekarangan kang.”

Saliman hanya tersenyum tipis mendengar alasan isterinya. Lalu ia masukkan wajahnya ke sela antara bantalnya dan bantal isterinya meninggalkan keinginan-keinginan yang sudah tampak biasa di telinganya.
Sedangkan di kamar yang lain.

“Mas, apa kita akan melanjutkan keinginan kang Saliman membuat tembok pembatas di rumah ini?”

“Entahlah.”

“Kok entahlah?”

“Kita teruskan dahulu hidup kita yang telah kita jalani. Mungkin akan ada kesempatan yang lebih baik.”


[next] * * *

Salah seorang jamaah subuh begitu terkaget-kaget ketika mendengar kedua keluarga itu beradu mulut. Pertengkaran mereka terdengar jelas dari luar rumah. Apalagi langit dan seluruh isinya masih hitam.

“Ini salahmu Dru! Kamu juga Min! Kenapa pake ada acara pingin pindah rumah segala? Apa kalian tidak belajar dari pengalaman? Apa kalian tidak tahu kalau ibu sangat menyayangi cucunya? Apa kalian tidak lihat ibu sudah tua? Sabar sedikit kenapa.”

“Begini mas…”

“Begini bagaimana? Ibu sudah udzur. Kalau mau minggat tunggu ibu kehilangan nafasnya. Sekarang, kita harus bagaimana?”

Mereka bernafas dengan kemarahan masing-masing. Asnawi dan saufi yang tidak tahu apa-apa mengkeret di ujung sofa saling berpelukan. Mata mereka menangkap keganasan dan keserakahan dari kedua mata orang tua mereka.

Kedua menantu saling berpandangan dan tertegun dengan kebingungan. Saliman menatap secarik kertas tulisan tangan mertuanya yang ternyata wasiat wakaf seluruh hartanya kecuali rumah yang mereka tempati. Di sudut bawah dibubuhi tanda tangan kepala desa dan mudin setempat. Juga tanggal kesepakatan tersebut dibuat yang ternyata hanya setelah beberapa hari setelah Samin dan Badru mengutarakan maksud untuk pindah rumah dua bulan yang lalu.

Rupanya perbincangan mereka tertangkap Salamah yang pulang untuk mengambil kitab suci yang biasa dipakai untuk tadarus karena tertinggal. Dan karena itulah ia mengambil keputusan. Ketika subuh biasanya sudah diterangi lantunan lirih ayat-ayat suci pagi itu tidak terdengar apapun kecuali detak jam dinding. Samin yang biasanya rajin menyusul ibunya menangkap kegagapan tersebut.

“Mas, kita cari ibu di masjid.” Ajak Samin. Badru sebenarnya menangkap kekonyolan dari ajakan isterinya itu, karena untuk apa sembunyi di sana dengan meninggalkan surat wasiat seperti itu. Justru ia sedang memperkirakan kepergiannya yang sangat jauh.

Berempat mereka keluar rumah meninggalkan Asnawi dan sepupunya tetap tinggal di rumah. Sesampainya di masjid disana tidak ada apa-apa kecuali beberapa jama’ah yang baru pulang yang justru menanyakan kealpaan nenek itu.

Setelah merasa pasti mereka pergi menuju ke rumah RT. Namun pak RT tidak ada di rumah sejak subuh. Isterinya beralasan kalau suaminya sedang mengantarkan tamunya.

Dengan malu-malu Satin meminjam telepon untuk menghubungi mbah Inten yang menjadi kordinator pengajian ibu-ibu. Bukannya mendapat kepastian Satin malah dihujani pertanyaan.

Lalu mereka berpamitan dengan tubuh lesuh dan saling menyalahkan.


* * *
Dan seperti hari yang lain selalu ada yang berbeda. Apalagi berada di bawah atap yang benar-benar baru. Di bawah atap itu terdapat puluhan penghuni. Hanya ada beberapa saja yang masih punya kulit mulus dan singset. Kebanyakan mereka berjalan pelan, sebagian ada yang sambil membungkuk, sebagian lagi dibantu sebatang tongkat.

“Nenek bahagia tinggal di sini.” Tanya seorang perempuan yang berkulit mulus dan berjilbab.

“Tentu saya senang. Apalagi banyak teman sejawat di sini. Tidak seperti di rumah yang dulu.”

“Emang rumah yang dulu bagaimana?”

“Panas. Enakan di sini, di panti, dingin.”

Perempuan berjilbab itu tersenyum. Lalu meninggalkan Salamah yang semakin renta di ranjang yang juga serenta umurnya.


Blitar, 20 Maret 2008

Saturday, 26 September 2015

Menulis itu Ibarat Mendaki Gunung

- No comments
 
Setelah lama beristirahat akhirnya saya putuskan untuk kembali berangkat mendaki gunung itu. Saya yakin pasti akan ada rintangan lagi dan juga reaiki. Tapi bukankah setiap pilihan selalu disertai resiko. Bukannya menantang resiko, tapi sekedar menyadarkan diri kalau resiko itu pasti ada.

Ada banyak resiko yang akan dihadapi oleh pendaki gunung. Mungkin tergelincir atau tersesat lalu dehidrasi dan mati.

Tetapi sebenarnya tidak usah takut dengan kehabisan bekal karena alam sudah menyediakan semuanya. Kalau kehabisan bekal silahkan petik buah atau berburu. Makan rumput juga boleh. Dan kalau saja tersesat, bersyukurlah karena kau baru saja menemukan daerah baru. Jadi kalau benar-benar tersesat, catatlah rute dan gambaran tempatnya karena kelak pasti bermanfaat.

Justru binatang buaslah yang saya takuti. Selain saya tidak punya ketrampilan menaklukkan binatang, badan saya juga kecil dan ringkih. Saya paling berani melawan nyamuk atau laba-laba. Bukan laba-labanya tapi sarang laba-laba yang melintang di jalan.

Padahal menulis itu ya seperti mendaki gunung. Terdapat rintangannya masing-masing. Menurut saya kok justru lebih sulit menulis dari pada mendaki gunung. Mendaki gunung bisa menjadi bahan untuk menulis tapi menulis bisa menjadi apa saat saya mendaki?

Saya paling sering mengalami stag dan tak tahu kalimat apa yang harus disusun selanjutnya. Tulisan tidak tuntas dan idenya terus lari ke sana kemari. Ketika menulis cerita, tokoh berjalan semaunya sendiri seperti tidak mau digiring pada konflik dan klimaks yang saya susun. Ia membuat ceritanya sendiri.

Benarlah kata Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah perjuangan. Menulis tidak hanya memperjuangkan ide atau opini tapi juga keberanian untuk bergulat dengan dirinya sendiri. Tak jarang opini yang dituangkan kita bantah sendiri. Tak jarah sudut pandang kadang menjadi bias ketika sebuah permasalahan dituangkan.

Saya juga tidak pintar-pintar amat menulis. Saya terus berlatih meskipun latihan saya belum berhasil amat. Setidaknya saya menyimpan tulisan-tulisan saya dalam folder di laptop dan ketika saya membaca ulang tumpahan ide atau opini yang saya tulis sepuluh tahun ini saya merasakan hal luar biasa.

Maka mempelajari membuat outline adalah langkah selanjutnya setelah kita belajar menangkap ide. Dulu saya sering gegabah. Setiap kali menemukan ide saya langsung saya menuliskan dalam paragraf-paragraf sehingga kehilangan ruh dan konteks. Rupanya, ini yang membuat tulisan saya banyak yang tidak tuntas dan tidak enak dibaca. Belajar dari sini saya mulai membuat outline, kata kunci, premis, tesis dan anti-tesis.

Perjuangan ini belum selesai. Berani menulis berarti berani juga mempertahankan dan mempertanggungjawabkan isi tulisan. Apalagi opini yang telah ditulis akan dipublikasikan di blog. Bayangkan kalau banyak orang yang membaca kemudian terpengaruh atau terinspirasi. Bayangkan kalau ditulis ternyata tidak bisa dipertanggungjawabkan sedangkan sudah terlanjur ada yang meyakini atau terinspirasi. Kita bukanlah para ababil yang gemar me-rebroadcast pesan horor di gadget.

Tuesday, 22 September 2015

Jangan Lelah Menuju Rumah

- No comments

Karena tiba-tiba saya sendiri di rumah, saya jadi merenung dan kembali menanyakan tentang tujuan hidup saya. Pertama-tama saya menanyakan tentang kemulyaan. Kemulyaan -kalau itu pantas disebut dengan kemulyaan, tapi yang jelas itu adalah anugerah- yang selama ini saya sandang, apakah memang begitu adanya atau hanya pencitraan yang saya munculkan karena gengsi intelektual? Sedangkan penderitaan dan kesengsaraan yang saya jalani selama ini, apakah karena dampak perjuangan dan pengorbanan atau karena sebenarnya saya menjadi korban dari ketidakberdayaan saya memainkan peran dan intelektual?

Lalu saya melihat foto-foto keluarga dan para sahabat. Dari masa lalu itu saya coba keruk kembali tujuan hidup saya. Namun yang saya dapati hanya senyum. Sebuah senyum yang sulit saya maknai. Dan ketika saya mendapati diri saya sendiri di dalam kertas, saya mendapati keluguan dalam mata saya yang menunjukkan bahwa saya tidak punya tujuan sama sekali.

Teman sejawat saya mengusulkan saya supaya saya pergi ke terminal atau stasiun. Saya menemukan ratusan wajah. Melihat sajah mereka saya seperti menemukan sosok diriku sendiri. Ricuh, sengsara, beringas berebut pintu kereta dan bus. Kepucatan wajah pedagang asongan layaknya kepucatan nuraniku yang lama tak tercerahi. Atau keberingasan para pengamen yang seperti batinku yang marah oleh karena terkalahkan zaman.

Ingin sekali mata ini meneteskan air mata. Menangisi diri sendiri yang tidak pernah mau singgah dari perjalanan ini -semacam ketakutan untuk berhenti.

Seperempat abad yang lalu saya terima sebuah tantangan untuk melaju di jalanan ini. Namun saya tidak diberitahu seberapa jauh saya harus pergi. Untunglah ketika saya keluar dari rumah, saya bertemu dengan seseorang yang telah lama berlangla buana. Ia memberiku bekal dan cara melintasi jalanan di depan. Tapi tetap ia tidak memberi-tahuku seberapa jauh saya harus pergi.
 
Kelelahan itu akhirnya membuatku membuah sub-terminal di sana-sini. Di sekolah, sawah, kebun, pegunungan, bahkan masjid. Saya menduga setiap tempat saya berhenti di sanalah saya akan berhenti selamanya. Ternyata tidak/belum. Dan saya lupa kemana harus pergi.

Kudengarkan campursari, kuhirup wangi parfum, ku tatap warna-warni, dan kuraba wajahku sendiri. Saya melihat visi. Saya harus istirahat. Saya harus mendengar sepi.

Sebenarnya memang sepi yang saya cari. Kebisingan selama ini telah membuat jiwaku takut akan sepi, padahal dalam sepi ditemukan jendela untuk melihat masa lalu tapi tidak lupa dengan tujuan.

Sekian.
Rumah, 27 April 2009