Tuesday, 19 May 2015

Dua Puisi

- No comments

kau pergilah sayang. tak usah sematkan lagi senyummu. seharusnya kau malu pada mentari.

bergetar hati membaca pesan singkatmu
aku takjub karena baru kali ini kau berhasil buat hatiku cemburu
ah, mentari tidak hanya datang menerangi dirimu saja kau
hanya kegeeran
kau hanya cari alasan saja kan
supaya aku menjauh dari dirimu supaya kau bisa mengukur rasa cinta dan rindumu

datanglah sayang.
tak usah kau cemberutkan lagi wajahmu yang ayu
mentari seharusnya yang malu karena selalu mengintip puisi-puisiku untukmu.
pesan terkirim

- - - -

sebelum fajar berpijar kuingin terangkan pagimu dengan sapaku.

semakin muak kubaca permainan katamu
aku hanya mendambakan kedatanganmu menjemputku mengarungi malam untuk mengeja bintang
bukan buaian kata yang maksudnya entah tersembunyi di mana
sudahlah sayang, kau bukukan saja gombalanmu itu lalu kirimkan royaltinya ke rekeningku aku jamin aku bahagia.

berhentilah berpuisi.
puisi-puisimu tak mampu menandingi diriku.
pesan terkirim.

Bandarlampung, 15 Januari 2011

Fikih Perempuan: Pendapat Husein Muhammad tentang Perempuan

- No comments
Judul: Fikih Perempuan
Penulis: K.H. Husein Muhammad
Penerbit: LKiS Jogjakarta
Tebal: 262


Karena zaman modern ini banyak orang mempermasalahkan tentang hak-hak perempuan, karena sekarang ini banyak yang berwacana hanya karena diduga banyak perempuan menderita di kalangan tradisionalis, karena sering kali Islam klasik versi Indonesia yang patriarki dianggap semena-mena terhada perempuan, dan karena adanya anggapan bahwa Islam memperkenankan sikap yang demikian itu maka K. H. Husein Muhammad berusaha memberikan jawaban.

Umumnya, kontroversial yang menyerang umat Islam adalah aurat, jilbab, hak kawin, dan yang mungkin jarang sekali kita dengar adalah khitan bagi perempuan. Sebelumnya, K.H. Husein Muhammad berangkat melalui pemahaman gender pada umumnya dan bagaimana Islam -melaui teks Alquran- memaknai gender.

Ia pun mengupas satu persatu permasalah di atas berdasarkan dalil-dalil dan sekaligus menganalisa tentang dalil yang digunakan dalam tersebut yang sering digunakan sebagai legitimasi atas tindakannya itu.

Seperti perihal jilbab dan juga aurat. Aurat menurut pengertian bahasa adalah celah, kekurangan, sesuatu yang dipandang buruk dari anggota tubuh manusia dan yang membuat malu bila dipandang. Dalam Alquran kata aurat diulang sebanyak empat kali, yaitu pada al-Ahzab [33]: 13, an-Nur [24]: 31 dan 58. Dalam al-Ahzab, kata aurat dianggap sebagai suatu celah yang dapat dimanfaatkan oleh musuh untuk menyerang. Sedangkan dalam an-Nur diartikan sebagai "sesuatu dari anggota tubuh manusia yang dianggap malu bila dipandang, atau dipandang buruk untuk diperlihatkan". [Lihat halaman 68].

Lebih lanjut ia juga membahas tentang perbedaan aurat antara perempuan merdeka dan perempuan budak, sekaligus mempertanyakan batas aurat masing masing. Karena Umar bin Khattab pernah memerintahkan seorang budang supaya tidak memakai pakaian tertutup layaknya perempuan merdeka. Ia memerintahkan supaya mengangkat lengan bajunya dan roknya dengan batas yang wajar.

Banyak lagi permasalahan perempuan yang selama ini disudutkan oleh banyak pihak dan dianggap mendapatkan legitimasi dari teks Alquran dan Hadits. Dari permasalahan individu perempuan untuk mendapatkan kebebasan, keluarga, nafkah lahir dan batin, peran sosial, ekonomi dan politik, dan lain sebagainya.

Dari buku ini, setidaknya pembaca mendapatkan wawasan baru tentang sikap dan tindakan Islam dalam mengatur hak-hak umat manusia, khususnya perempuan.**

2010

Rakyat yang Bergerak, Presiden yang Diuntungkan

- No comments
Comic Panji Koming

Siapa pun yang menjadi penguasa di negeri ini, baik karena dorongan yang baik-baik atau karena dorongan nafsu untuk menguasai, sesungguhnya ia menjadi pemimpin yang paling mujur karena dua hal. Pertama, ia menguasai negeri yang berlimpah ruah dengan segala kekayaannya dan kedua, rakyatnya yang tak peduli-peduli amat dengan siapa yang menjadi presiden.

Indonesia dengan segala penindasan yang pernah dialami adalah negara dengan nilai kekayaan yang luar biasa. Kekayaan hayatinya tak ada yang mampu menandingi. Dengan daerah kelautan yang terbentang dari Sabang sampai Marauke, Indonesia memiliki potensi ternak ikan laut terkaya di dunia. Segala ikan ada di sini. Dengan daerah tropis dan hutan hijau yang sangat luas, Indonesia menjadi paru-paru dunia. Kalau ada pajak hirup udara, maka hasil pajak yang terkumpul dari seluruh dunia itu akan dibagi menjadi dua, pertama untuk Brazil dan kedua untuk Indonesia.

Kekayaan buminya pun tak habis-habis dikeruk oleh cukong-cukong yang serakahnya bukan main. Semen, batu bara, minyak, tembaga, emas, perak, dan entah apa lagi yang tak pernah terekspos oleh publik.

Yang lebih menarik lagi adalah rakyat yang tak peduli dengan siapa presidennya. Toh, partai yang menjanjikan ini itu saat musiman lima tahunan itu hanya segelintir saja yang benar-benar mengajarkan politik pada masyarakat. Toh, para anggota legestalif itu hanya menampung sangat kecil dan sedikit manusia yang mau menepati janji kampanyenya. Dan presiden yang telah dipilih oleh rakyat itu entah memenuhi janji yang mana dan yang diucapkan entah untuk siapa.

Tapi rakyat tetap biasa. Tetap jam dua pagi sudah harus bangun, duduk menunggu colt angkutan membawanya dan barang dagangannya ke pasar tradisional. Subuh sudah harus menembus dingin untuk menggarap ladang dan sawah. Obrolan tentang presiden tak jauh beda dengan gosip murahan di televisi-televisi.

Dari dulu para petani sudah berdiri di atas kaki mereka sendiri. Bertumpu pada tumit yang bengkak dan pecah. Memanggul beban hidupnya yang lebih berat dari bongkahan-bongkahan belerang yang beracun itu. Sehingga ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997, rakyat tetap enjoy dengan susah payah yang sudah seperti menjadi pakaian kesehariannya. Mereka tak khawatir sedikitpun karena uang yang mereka hasilnya disimpan di bawah kasur. Hasil uang dari warung dan kaki lima dimasukkan ke dalam celengan bumbung padi.

Jadi, siapa presiden yang tak diuntungkan oleh rakyat ini yang ngurusi negara seperti bancakan korporasi-korporasi tapi rakyatnya tak bergeming?

Namun, keserakahanlah yang telah menjadikan negeri yang kaya raya ini menjadi tampak sangat miskin. Rakyatnya yang kuat perkasa tampak sangat memilukan dan perlu dikasihani. Sebuah negara yang miskin negarawan.

Sebenarnya, rakyat akan sangat berterimakasih kepada siapa saja yang mau membangun dan memperbaiki jalan di pedesaan sehingga hasil bumi bisa segera dikirim ke luar daerah. Irigasi, tanggul, dan talut diperbaiki sehingga air mengalir dengan mesra dari hulu ke hilir. Ajarilah kami tentang teknologi pertanian yang mutakhir yang ramah lingkungan, tekhnologi bahari untuk mensejahterakan para nelayan. Sekolah-sekolah yang ramah dengan pengetahuan dan pendidikan. Transportasi massal yang ramah dengan kesehatan, termasuk kesehatan jiwa penumpangnya.

Siapapun, baik presiden ataupun politisi, siapapun kalau ada yang membantu rakyat seperti itu, tentu mereka akan sangat berterimakasih. Kalau toh juga tak ada yang mau, rakyat Indonesia sudah terbiasa memikul beban mereka sendiri tanpa peduli siapa presidennya, karena obrolan tentang presiden tak jauh beda dengan gosip murahan di televisi-televisi.

September 2014

Qurban, Bukan Hanya Menyembelih Binantang

- No comments
Qurban Yuk! || Garmbar: nomor2.blogspot.com

Penyembelihan binatang qurban adalah salah satu ajaran Islam yang di dalamnya Allah ingin mendidik manusia mencapai kematangan spiritual tentang ketaatan, pengorbanan, keikhlasan atas –setidaknya- kehilangan harta benda. Selain untuk mencapai kematangan spiritual, qurban juga memberi hikmah tentang pendidikan hawa nafsu.

Qurban sering diibaratkan sebagai penyembelihan sifat-sifat kehewanan yang ada pada manusia. Ketika sifat-sifat kehewanan ini disembelih maka yang tertinggal dalam diri manusia adalah sifat-sifat kemalaikatan, yakni ketaatan menghamba pada Allah ta’ala.

Qurban bukanlah pakain jadi yang menghiasi manusia, yang kalau memakainya lantas terbebas dari sifat-sifat kebinatangannya. Atau semacam saklar yang digunakan untuk menyalakan cahya kemalaikatan dalam diri manusia. Tapi ia hanya jalan yang menuju ke cahya itu, dan karena ia hanya sebuah jalan maka wajarlah kalau di tengah perjalanan itu akan ditemui rambu-rambu dan rintangan-rintangan.

Jadi, seseorang mengurbankan seekor kambing sebagai bentuk ketaatan menjalankan sunnah Nabi. Tetapi menjalankan ketaatan itu tidaklah mudah. Bisa saja dalam proses pemilihan binatang qurban terjadi tawar menawar harga yang alot sehingga menimbulkan amarah. Itulah pengganggu pertama. Lalu dalam proses menunggu hari penyembelihan ia lalai merawat kambingnya hingga sesekali kelaparan. Itulah pengganggu kedua. Ketika membawa kambing qurbannya ke lapangan ia melihat temannya membawa binatang qurban yang lebih kecil dari miliknya sehingga ia merasa bangga diri melihat kambingnya lebih ‘bermutu’ daripada milik temannya. Itulah pengganggu ketiga. Dan mungkin akan ditemui pengganggu-pengganggu lainnya.

Seseorang membeli hewan qurban untuk merasakan kedekatannya pada Allah, atau seseorang itu telah merasakan kedekatannya kepada Allah sehingga untuk merasakan lebih akrab lagi maka ia berqurban di hari Ied Adha? Pertanyaan ini penting untuk disuapkan kepada diri kita yang akan berqurban. Karena siapa tahu dalam menjalani ibadah yang mulia ini justru sifat kehewanan itu tumbuh bersemi.

Sifat hewan yang melekat pada manusia bisa berbentuk keinginan untuk menang sendiri, kebanggaan membusungkan dada, meraup kepuasan untuk memenuhi hasrat dirinya sendiri. Padahal Islam mengajarkan pemeluknya untuk senantiasa berbagi dan menolong satu sama lain, Islam mengajarkan kerendah hatian sehingga orang lain merasa nyaman berada di sisinya, dan islam tak henti-hentinya menasehati supaya keras dalam mendidik nafsu karena kecendrungan nafsu lebih pada hal-hal yang merusak dirinya.
 
Korban bukan qurban. Korban ada objek lemah dari sebuah peristiwa besar dan dalam kelemahannya itu seseorang mencoba menguatkan diri. Sedangkan qurban adalah aktifitas ‘melumpuhkan’ sesuatu dalam diri yang tadinya kuat lalu dipenggal dominasinya. Kekuatan itu kalau tumbuh justru akan menjauhkan. Sehingga pemenggalan itu adalah dalam rangka mendekat, tak hanya mendekatkan dirinya sebagai hamba kepada Allah ta’ala tetapi juga mendekatkan yang jauh. Mendekatkan rejeki melalui berbagi, mendekatkan kebahagiaan melalui nikmatnya hidangan, mendekatkan berkah melalui mengalah (ngalah karena hanya mendapatkan sedikit dari hewan qurbannya).

Qurban berasal dari bahasa arab qoruba yang berarti dekat. Ia intransitif. Orang yang dekat disebut qo:rib. Kedekatan satu sama lain disebut qorobah. Tetapi qurban bukan lagi bukan lagi intransitif. Ada pihak yang mendekati dan ada pihak yang didekati. Sehingga yang tadinya jauh berubah menjadi lebih dekat (aqrob). Yang tadinya dekat berubah menjadi lebih dekat lagi.

2014

Monday, 18 May 2015

Mugo Cepet Duwe Anak

- No comments
Sepulang kerja, Tanom mendapati istrinya, Sipon, murung di depan televisi. Matanya menatap layar tapi fikirannya melayang keangkasa. Tanom tak mau ambil pusing. Dia hanya men-dhehem.

“Ngapain dhehem-dhehem. Ra ngerti wong lagek jengkel ta?”

“Ini ada suami tercinta pulang kerja bukannya dikasih senyum malah dicemberutin.”

Dengar kata ‘suami tercinta’ Sipon kepingin ngikik. Kalau sudah seperti ini biasanya ada embel-embel karepan. Sipon tinggal nunggu apa yang dimaui Tanom sekarang.

“Suami tercinta, suami tercinta. Ra sah nggombal. Bilang aja maunya apa?”

“Ra sah endhel.”

Sipon melirik Tanom mengintip dari kaca meja tapi tak dapat melihat langsung wajah Tanom. Sandaran kursi yang ada di sampingnya menghalangi pandangannya.

“Kuwi tipi nek gak ditonton dipatheni ae. Ngabis-ngabisin listrik.”
Sipon gak nanggapin. Malah dia fokus ke kantong celana Tanom yang kelihatan jendol. “Kuwi opo?”

“Endhi?”

“Kuwi nang kantong celono. Kok jendol gitu?”

Sial, batin Tanom. Tapi lain di hati lain pula di mulut, “Halah, kantong celono po samping e kantong celono?”

“Yo Kantong celono. Cepet keluarin.”

“Di sini? Sekarang? Jendelo karo gorden e ditutup dulu, nanti kelihatan sama tetangga.” 

“Sampeyan ini ngomong opo tho? Awan iki awan. Kalau mau nanti malam aja. Sekarang, itu apa yang dikantong?”

Tanom menyerah. Amplop cokelat dikeluarkan dari dalam kantongnya terus diletakkan di meja depan Sipon.

“Kandel pak. Duwit dari mana?”

“Itu bonus dari pak bos. Katanya, banyak pelanggan yang puas dengan hasil kerja bapak. Bengkel jadi sedikit lebih rame sekarang.”

Sipon yang tadi sempat sumringah lihat uang segepok tiba-tiba kembali murung. Bukannya gak suka dengan duitnya, tapi karena bengkelnya. Mereka berdua pernah ribut besar gara-gara Tanom lebih rajin ngerjain bengkel. Sinom cemburu. Tapi kalau mau diusut-usut, bukan masalah pekerjaan yang bikin Sinom cemburu. Sinom dah ngebet pingin punya momongan.

“Lho, sampeyan nganggep aku…” Tanom gak sanggup meneruskan kalimatnya waktu itu. Rasa geramnya meluap luar biasa.

“Bukan gitu maksudku, pak. Apa gak sebaiknya kita pergi keluar? Kita ikhtiyar.”

“Sebenarnya masalahnya ada di saya atau sampeyan?”

“Maksud e??”

Ribut. Darah sudah terlanjur naik, mau diturunkan juga susah. Apalagi ini masalah harga diri. Lalu mereka saling diam. Turu ne singkur-singkuran. Sipon males buatin kopi, Tanom pilih nahan laper. Berangkat kerjanya pun lebih awal tapi pulangnya ditelat-telatin.

“Wes, ojo diterus-terusne daripada ribut maneh koyo mbiyen.”

“Opo ne sing ojo diterus-terusne?”

“Masalah bengkel.” Jawab Sipon.

Tanom nyeruput kopi. Sebenarnya perasannya agak gregetan tapi kopi panas buatan istrinya justru ngademake.

“Bu e, duwit kuwi rejeki seko Pengeran. Jangan diterima dengan kemarahan nanti berkahnya kabur menjauh. Disyukuri. Mugo-mugo dadi barokah terus ngerambat ke rejeki lainnya.” Tanom jadi mulai ceramah untuk ngademin hari Sinom. “Rejeki yang paling kita butuhkan dan inginkan.”

Kalau Tanom sudah ngomong seperti ini, tingkat kematangan hidupnya sedang ditunjukkan, dan itu jadi jurusnya untuk ngadem-ngadem Sipon. Buktinya, Sipon langsung mesem.

“Piye Bu? Sido ditutup tha gordenne?”

Senyum Sipon tambah sumringah.

2015

Tiga Sifat Generator yang Bernama Syahwat

- No comments

Manusia dibelaki tiga software dasar penyusun rohaniahnya. Kalau bisa mensinergiskan, mengendalikan, dan menjalankan sesuai dengan aplikasi yang benar, maka ia akan mencapai derajat kemanusiaannya. Kalau gagal, maka ia akan runtuh dan tidak ada lagi pembeda antara dirinya dan biantang. Ketiga software itu adalah syahwat, kalbu, dan akal.

Dalam nilai dan budaya kita sekarang ini syahwat sering diartikan dengan dorongan seksual belaka. Padahal,  dorongan seksual adalah salah satu output dari syahwat itu sendiri. Kalau dorongan seksual adalah sekedar output maka syahwat adalah sebuah generator yang mampu menghasilkan energi tak terbatas. Kebudayaan dan perkembangan teknologi kehidupan saat ini tidak lain adalah output dari generator yang bernama syahwat.

Salah satu unsur dari generator syahwat ini adalah egosentrisme (ananiyyah), yakni segala sesuatu yang sifatnya ke-aku-an. Bisa juga egosentrisme berarti menempatkan diri sendiri sebagai pusat. ‘Diri sendiri’ di sini bisa dimaknai sebagai perorangan, etnik, golongan, atau lainnya.

Minimal, syahwat memiliki tiga sifat. Pertama adalah penyerap. Ia akan menyerap apapun dari luar untuk dirinya sendiri, tak peduli yang diserap itu bernilai positif atau negatif. Tak peduli daya serapnya memiliki daya merusak atau tidak, yang terpenting kepentingan untuk dirinya sendiri terpenuhi. Semisal Kadir yang melihat seseorang yang sangat dihormati di lingkungannya. Ia melakukan telaah mengapa orang-orang menaruh hormat kepadanya. Ia perhatikan tutur bahasanya, sandang papannya, tingkah lakunya. Hingga akhirnya Kadir memiliki kesimpulannya sendiri bahwa untuk mendapat kehormatan orang lain maka ia harus memiliki kemampuan berbahasa yang begini, sandang papannya yang begitu, dan lainnya. Itulah salah satu bentuk syahwat yang memiliki sifat penyerap.

Kedua adalah menguasai. Menguasai dalam konteks apapun dan pada skala apapun, baik bermakna positif atau pun negatif. Syahwat tanpa sifat menguasai maka hardware-nya (manusia) akan menjadi lemah dan tak berkembang. Tetapi kalau tidak terkontrol maka ia akan menjadi kekuatan yang menghancurkan.

Sedangkan sifat terakhir dari syahwat adalah melampiaskan. Pelampiasan ini bisa dalam bentuk apapun dalam setiap ruang hidup manusia. Tidak hanya soal seksual, tapi segala sesuatu yang mengandung unsur pelampiasan dan kepuasan. Misalnya ketika si fulan sedang menjalankan puasa, seolah-olah ia ingin melahap apapun yang ada di meja: sirup, teh, daging, kolak, dan lainnya. Ketika saat berbuka puasa datang si fulan pun melahap semuanya seperti  yang ia janjikan pada dirinya sendiri sebelum berbuka hingga ia kekenyangan dan kesulitan untuk beranjak dan beraktifitas. Maka ia bukannya sedang sangat lapar tapi ia tidak mampu mengendalikan syahwatnya dalam memuaskan diri sendiri.

Keterangan di atas bukan ijtihad saya, tapi sedikit resume dari tulisan Prayogi R. Saputra tentang pemikiran dan perenungan Emha Ainun Najib yang dikemas dalam “Spiritual Journey”.

Buku ini merekam kegiatan Emha dalam pengajian rutin di Jogja yang diberi nama Pengajian Mocopat Syafaat (MS). Dalam MS jamaah Maiyah berinteraksi dan berdiskusi. Tidak hanya Emha yang menjadi penyaji, sesekali tokoh-tokoh nasional, penulis, sineas, habaib, seniman, aktris, atau siapapun diundang untuk memberi sumbangan pemikiran. Bahkan puteranya sendiri, Sabrang –vocalis Neo- menyuguhkan materi yang tak kalah luarbiasanya dengan Emha.

Spiritual Journey merekam kegiatan-kegiatan tersebut. Tidak semuanya dijadikan bahan dalam buku ini, hanya beberapa pertemuan dan tema saja yang ditulis. Tidak hanya tema-teman tasawuf yang jadi bahan perbincangan, tapi juga tentang keindonesiaan, tentang bangsa yang tidak akan tunduk pada kepedihan, tentang masyarakat yang tahan banting meskipun krisis melanda sepanjang tahun.

Seperti ketika penulis merekam obrolan Cak Nun dengan seorang wartawan yang terus-terusan mengejar pembenaran Cak Nun mengenai keterlibatannya dalam pengunduran diri Soeharto dan proses Reformasi. Begitu pula ketika Cak Nun melakukan dialog hangat dan berfilosofis kepada Sabrang sebagai kado pernikahan. Serta beberapa kegiatan Emha lainnya yang kiranya perlu untuk kita renungkan, untuk dijadikan bahan pelapangan hati, dan pengayaan spiritualitas kita dalam menjalani kehidupan.

2012

Mata Air dan Sekolah

- No comments

Orang bersenang-senang biasanya disalurkan dengan pesta dan bersuka ria. Sangat kecil kemungkinan orang sedang merasa senang dan ingin bersenang-senang dirayakan dengan cara menangis dan bermuram durja. Namun, 'senang' dan 'bersenang-senang' jelas sangat berbeda.

Begini, senang adalah sumber mataair sedangkan bersenang-senang adalah gemercik air ke arah hilir. Karena senang adalah mataair maka orang yang sedang senang justru membawa peringai yang tenang. Ah, senyumnya menawar seperti air jernih dari perut bumi.

Nah, bersenang-senang itu ya memang harus berisik. Kalau ada air sungai tidak memunculkan gemericik yang menggoda telinga, ya saya sarankan jangan nyemplung. Jiwa dan ragamu akan terancam. 


Ujian Nasional itu ibarat batu yang dilewati para pendidik dan terdidik, pendadar dan terdadar, para penempa dan yang ditempa. Kalau Ujian Nasional mengakibatkan gemericik kekisruhan dan prasangka ya wajar saja. Yang penting sumber air tidak ternodai. Pendidikan tetap mengucurkan air jernih yang akan menyirami sawah-sawah. Pendidikan akan tetap tenang dengan kejernihannya. Namanya air, seharusnya siap mengalir di mana saja.

Yang saya heran, kenapa sekarang jadi banyak kanal-kanal? Air diirigasikan kesana sini. Maksud saya banyak sekolah yang ingin mencetak generasi ini dan itu, mengirigasikan anak-anak ke bidang ini itu, tapi lupa menghidupi sumber mataairnya. Kalau kamu ke pegunungan dan ada sumber mata air yg jernih, coba lihat ke sekeliling pasti ada pepohonan rindang yang tumbuh di dekat sana. Kalau ada mataair tapi ditinggalkan pepohonan nan rindang, ah saya kira itu bukan mataair tetapi sumur bor yang tumpah.

Nah, sekarang coba lihat sekolah-sekolah yang ada di sekitarmu. Adakah pepohonan rindang yang menyerap air dari dalam perut bumi? Atau justru sumur bor yang mendatangkan air secara instan tetapi sebenarnya tengah membunuhi kehidupan? 

2014

[Tidak Bisa] Lain di Hati Lain di Bibir

- No comments


Usai menghabiskan malam bersama kekasihnya kawan saya mampir ke rumah kontrakan. Wajahnya sedikit lusuh, kehabisan tenaga seperti usai bertempur, dan nafasnya kembang kempis menahas galau di hatinya. Setelah meneguk segelas air yang ia ambil sendiri dari dispenser, mulailah ia mengeluh.

“Kok pacar saya seperti gak percaya kalau saya mencintainya ya?”

Hmm, saya membatin kalau-kalau kawan saya ini baru rehat dari pertempuran. Biarlah dia bercerita sendiri tanpa saya pancing-pancing, makanya saya jawab begini saja. Kalau begitu tinggal bilang kalau kamu mencintainya.

“Perhatian saya selama ini apa masih kurang cukup untuk menunjukkan kalau saya mencintainya?”

O, rupanya ini masalah ungkapan. Bukan ungkapan bahasa tubuh/gestur sebagaimana sering diteliti om Yasraf A. Piliang, tapi ungkapan lisan yang mencerminkan isi hati si pengucapnya.

Hati (Hampir) Berbanding Lurus dengan Bibir
Hati/kalbu seperti memiliki dimensi berfikir sendiri. Cobalah rasai sendiri perubahan berfikir hati/kalbu dari satu detik ke detik selanjutnya, dari satu menit ke menit berikutnya. Cepat sekali berubah. Berbeda dengan bibir yang merefleksikan segelintir kecil dari hasil berfikir hati/kalbu. Itu pun setelah melalui penyaringan dan penyerapan otak. Sehingga apa yang keluar dari bibir memang mewakili apa yang ada di hati. Dan perempuan senang bermain-main di sini.

Padahal, bibir tidak pernah mampu membahasakan bahasa hati/kalbu. Makanya sebagian sisanya dibahasakan oleh mata, tangan, kening, bahkan lenguhan nafas. Kalau perempuan, atau siapapun, senang dan mudah percaya dengan bahasa bibir berarti ia senang untuk dibohongi. Lah kok dibohongi? Iya, karena bahasanya masih menyembunyikan sisa lainnya dan artinya ia berbohong.

Oke lah kita perhalus bahasanya. Kalau bohong mengacu pada makna tidak menunjukkan fakta yang sebenarnya, maka ungkapan yang tepat adalah tidak sepenuhnya jujur. Misalnya teman saya mengatakan kalau dia mencintai teman perempuannya, tapi pada kenyataannya dia tidak mengungkapkan perasaan lainnya dan tetap disembunyikan di dalam hati. Mengapa tidak diungkapkan? Proses kuantum timbang menimbang antara hati dan fikiran memberi kesimpulan belum saatnya disampaikan.

Sehingga kita harus mawas diri terhadap ucapan orang lain. Ucapan yang tulus itu ya ucapan yang paling mampu meminimalisir kebohongan. Kita juga harus mawas diri terhadap ucapan diri sendiri. Jangan-jangan yang terucap itu sebenarnya untuk menutupi bahasa hati/kalbu.

Saya jadi teringat bahasa cinta Iwan Fals: kalau kita saling percaya // tak perlu nada tak perlu irama // karena cinta bukan hanya nada. Cinta lebih dari sekedar kata-kata.

Saya teringat masa SMP dulu, ketika di PAI membahas tentang niat shalat. Guru saya mengajarkan supaya lafadz niat shalat diucapkan oleh lisan. Tujuannya membimbing hati untuk menghadap ilahi. Nah, saya kira tidak hanya dalam hal niat shalat saja kita perlu berucap-ucap seperti ini. Masalah cinta pun begitu. Bukan untuk menggombal tapi untuk mengingatkan hati—yang banyak sekali urusannya dan mudah sekali berganti topik—tentang perasaan cintanya.

Di ujung curhat teman saya itu saya berucap begini, ya sudah katakan saja kalau kamu mencintainya. Pertama supaya pacarmu tidak ngomel lagi. Kedua supaya semakin yakin hatimu kalau kamu mencintainya.

2013

Wednesday, 13 May 2015

Liburan Sekolah

- 1 comment


(1)
Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.


Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”

(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin es teh atau es jeruk. Bisa sekalian untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu tiba-tiba ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”

(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan. Juga tentang bu guru
yang selalu bilang astaga bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan. Tidak dengan kerupuk,
tapi dengan beberapa biji buah rambutan yang dipetik adik kelasku itu
dan diberikannya kepadaku, katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi, siapa tahu
bisa bertemu kembali dengan si dia. Ah, terlambat. Kulihat ia
keluar dari warung bersama entah siapa. Mereka jalan bersama
dengan mesra sambil ketawa-ketawa. Aku bengong, terpana.
Ia menoleh ke aku, matanya melirik dengan cemerlang, tapi tatapannya
tak sanggup lagi menembus mataku, bahkan seyum manisnya
telah mengubah hatiku menjadi sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku
di sampingnya juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala,
tapi aku keburu balik kanan, pulang. Pulang dengan nelangsa.

Menjelang tiba di rumah, kutemukan sajak Chairil berceceran
di pinggir jalan. Kupungut dan kemasukkan ke saku celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup keren juga. Aku segera mengambil kepingan-kepingan
sajaknya dari saku celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.


Dikutip dari http://jokopinurbo.com

Thursday, 12 February 2015

Berupaya Menjadi Guru yang Sabar

- No comments
Gambar: maspaeng.blogspot.com

 Mendidik membutuhkan kesabaran yang tinggi. Begitu pula untuk menjadi orang yang terdidik. Sudah banyak loh metode mengajar ditemukan, dipaparkan, dan diseminarkan. Datanglah ke toko buku terdekat dan tengoklah etalase bagian pendidikan. Puluhan buku dengan berbagai judul yang membahas teori pendidikan termutakhir. Banyak kan?

Memiliki tekad yang kuat tidaklah cukup sebagai modal. Seorang pendidik semestinya memiliki kekayaan lain sehingga ia mampu menjadi pembimbing bagi para muridnya. Kemampuan pedagogik yang baik, profesional dalam menjalankan profesinya, memiliki hubungan yang baik dengan rekan sejawat, dan ‘inner beauty’ yang matang sebagai seorang pendidik.

Hmm, saya pingin pamer sebentar. Sejak kecil saya sudah terlibat dalam pendidikan. Semasa sekolah di tingkat menengah sudah membantu orangtua untuk membimbing adik-adik di TPA. Meskpun bukan bergelar sarjana pendidikan untungnya saya ditakdirkan menjadi pendidik. Pernah mengajar di sekolah dasar sampai menengah atas. Kalau dinilai dari sisi profesionalisme guru, tentu saya berada di tempat yang sangat jauh untuk menjadi guru profesional. Tetapi saya belajar banyak sekali dari pengalaman itu.

Saya mengenal teman-teman saya adalah guru yang profesional. Mulai dari latar belakang kependidikannya sebagai guru sampai pada ketuntasan administrasi guru. saya kalah telak. Makanya saya belajar banyak dari teman-teman saya. Saya belajar cara membuat perangkat pembelajaran, cara mengevaluasi pencapaian siswa, cara menghadapai walimurid yang gundah gulana, dan masih banyak lagi. Tapi masalah satu ini saya belajar dari sang guru saya.
Yang saya maksud dengan ‘satu ini’ adalah tentang kesabaran. Hmm, menjadi guru harus sabar. Sabar dalam mengajar, mendidik, dan membimbing. Godaan menjadi guru itu besar sekali.

Saat ini kaum brahmana berada di level yang paling rendah padahal pada masa lalu, kaum brahmana itu manusia luhur yang dipanuti. Brahmana itu ya guru (terlepas dari makna guru secara terminologis dan filosofis), orang-orang yang mengajari kita mengerti kehidupan. Dan kini mereka terjungkal, kata-katanya tak didengarkan. Siapa yang didengarkan?

Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih mendengarkan orang yang memiliki uang. Semakin kaya semakin didengarkan. Sekarang, kebanyakan orang lebih memilih memiliki uang dari pada memiliki ilmu pengetahuan. Covernya ia belajar, tapi hatinya mencari kiat menjadi kaya.

Di sinilah guru-guru menghadapi godaannya. Saat orang lain berkendara mewah membelanjakan uang, ia harus berpanas-panasan di ruang kelas mengajarkan calistung. Di saat orang lain makan enak, ia justru tirakat makan ala kadarnya karena gajinya tak cukup untuk membeli daging sekilo. Kalau saja para guru itu tak memahami bahwa dari dalam dirinyalah cahaya Ilahi memancar; bahwa mereka menjadi wakil Adam as. mengenalkan ciptaan-ciptaan Ilahi dan kandungan hikmahnya; maka jatuhlah moralnya.

Tak dipungkiri, banyak pelajar-pelajar saat ini hanya mencari legalitas keilmuan bukan menggali ilmu pengetahuan, mencari angka-angka bukan memaknai nilai-nilai. Pada mulanya, nurani mereka tak menginginkan hal demikian, tetapi orangtua dan lingkungan, tontonan dan pergaulan, memaksanya meredupkan cahya nuraninya sehingga uanglah segala-galanya. Guru yang telah jatuh moralnya akan melihat ini sebagai peluang memperkaya diri.

Maka, saya sering merenungi diri saya sendiri. Sambil merenung sambil berdoa. Rasa-rasanya selama ini saya mengajar tidak baik. Lah, sudah capek-capek mengajar, tapi anak-anak tidak juga pinter. Gregetan tidak juga mencapai standar minimal. Apa yang salah dengan saya? Apa yang salah dengan teman-teman yang senasib dengan saya?

Singkatnya, saya berdiskusi dengan teman dan saya coba reduksi tanggapan beliau. Dari mana kau mengukurnya? Dari angka-angka itu atau dari persepsimu? Atau malah jangan-jangan dari peraturan-peraturan pemerintah?

Menjadi guru adalah menjadi tangan langit. Sedangkan ukuran-ukuran yang dibuat adalah ukuran-ukuran bumi. Seharusnya, dikembalikan kepada langit melalui kepasrahan akan hasilnya. Dan hasil bukan jadi konsern manusia. Yang menjadi konsern manusia adalah prosesnya. Proses yang kontinyulah yang akan menentukan baik buruk manusia menjadi tangan langit. Proses akan putus di tengah jalan kalau tidak dibarengi dengan kesabaran.

Kesabaran seseorang akan tumbuh subur kalau ia mengetahui akar dan sumber masalah yang dihadapi. Mungkin karena kuatnya keyakinan yang ada dalam diri kita kalau orang bekerja maka hasilnya kaya, kalau orang belajar maka hasilnya pintar, sampai-sampai melupakan asal muasal segalanya. Mengapa tidak dimantapkan saja dengan berucap basmalah untuk mengajar yang baik, yang tulus, yang penuh pengharapan dan kepasrahan, lalu menyerahkan semuanya kepada Yang Maha Mengetahui. Karena kita sudah ditempatkan sebagai guru, maka mendidik dan mengajarlah dengan sebaik-baiknya, karena kita ditempatkan sebagai murid maka belajarlah dengan sebaik-baiknya. Bukan hanya sekedar pintar yang dicari di bangku sekolah. Bukan hanya pintar.

Lalu saya terus berdiam diri lalu berkarya.

Friday, 6 February 2015

Paradoks Sergur: Jam Mengajar yang Musykil

- No comments
Rupanya guru yang telah tersertifikasi harus siap menanggung jam mengajar sebanyak 24 jam tatap muka. Kalau anda mengajar di tingkat SMP maka satu jam pertemuan setara dengan 40 menit. Sedangkan kalau di SMA setara dengan 45 menit. Kalau anda sudah tersertifikasi sebagai guru profesional tetapi tidak mengajar minimal 24 jam tatap muka dalam satu pekan maka anda tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Jadi sanksinya memang itu. Saya tidak tahu apakah ada dampak terhadap keprofesionalan anda yang baru disertifikasi itu atau tidak.
Cukup itu saja pemanasannya.
Setiap awal tahun pelajaran, manajemen sekolah mungkin masih bisa tidur nyenyak karena pembagian jam mengajar didesposisikan kepada wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Maka, wakil kepala sekolah dan  gurulah yang susah tidur. Apa gerangan yang menghambat mata terpejam?
Inilah curhat saya. Saya mulai dari hitung-hitungan rasionalisasi jumlah guru. Sekolah akan menentukan jumlah guru berdasarkan jumlah rombongan belajar. Tapi tidak bisa saklek seperti ini. Seperti ini contohnya: Kami memiliki dua belas kelas. Beraapa jumlah guru IPA yang dibutuhkan. Karena jumlah jam IPA adalah 4, maka jumlah untuk dua belas kelas adalah empat puluh delapan. Artinya kami hanya membutuhkan dua guru saja.
Pada kenyataannya, kami dan mungkin juga sekolah-sekolah lainnya tidak bisa sesaklek ini. Ada hitung-hitungan non-matematis seperti ini yang membuat setiap sekolah harus bermanuver meskipun resikonya juga tidak ringan.
Anggaplah, kami memiliki tiga guru IPA. Tentu sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi terkait dengan sertifikasi. Satu guru bisa mendapatkan dua puluh empat jam mengajar, tapi tidak dengan dua guru lainnya. Kalau mereka mendapatkan panggilan untuk mengikuti UKG dan lulus, manuver apa lagi yang akan dilakukan?
Saya teringat pembicaraan dengan orangtua saya. Pernah ada tamu yang datang ke rumah. Maksud dan tujuannya adalah untuk dapat mengajar di sekolah karena di sekolah asal ia tidak memenuhi dua puluh empat jam. Si tamu datang dari kecematan sebelah yang jarah tempuhnya mencapai 25km. Ini baru satu kasus, ditambah kasus rekaan saya tadi, dan ditambah kasus-kasus lain yang tak terberitakan.
Begitulah, sehingga terjadi saling silang jam mengajar antar instansi hanya untuk mendapatkan jam mengajar. Kalau guru yang bersangkutan tinggal di perkotaan, jarak satu sekolah induk dan sekolah non-induk tidaklah jauh, mungkin guru masih memiliki energi untuk mendidik, mengajar, membimbing siswa-siswinya dengan energi positif, bukan sisa-sisa. Tapi bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di luar kota?
Maka ikhlaskanlah untuk tidak mengikuti sertifikasi guru. Bukan karena tidak mau dinilai keprofesionalannya, tetapi untuk menghindari kekaprahan yang telah jamak terjadi di instansi pendidikan ini.
Sesekali dalam momen mengajar, bawalah kamera atau telepon genggam untuk merekam atau menfoto kegiatan anak-anak. Cetaklah ke dalam ukuran yang wajar, postcard misalnya. Ketika lelah lihatlah wajah mereka. Mungkin akan ada energi yang bisa diserap. Bagaimanapun juga, kelak mereka yang akan membawa anak-anak biologis kita.
Februari 2015

Thursday, 5 February 2015

Paradoks Sergur: Permainan Jam Mengajar

- No comments

Beberapa hari belakangan saya perhatikan ada peningkatan aktifitas di sekolah. Guru-guru kok mempercepat langkah kaki mereka bolak-balik dari meja kerjanya ke perpustakaan, dari main office ke ruang kepala sekolah. Yang seperti ini jarang terjadi. Saya jadi tambah heran dan gemas.
 
Kepala sekolah mendatangi saya lalu berpesan, nanti kalau ada guru yang minta izin keluar untuk mengurus PPGJ tolong dilihat dulu ada jam mengajar atau tidak. Wah, instruksi pak Kepsek ini menjadi jawaban dari keheranan saya. Pantes saja. Karena yang lalu-lalu, kalau akan ada Moneva aktifitas guru tidak meningkat seperti ini. Tapi ya tetap sibuk mempersiapkan diri.
Jadi, bulan ini akan ada dua agenda penting: Moneva dan PPGJ.
 
Dinas pendidikan di tempat saya mengajar memprogramkan kegiatan Moneva (Monitoring dan Evaluasi) untuk sekolah-sekolah swasta di semester genap. Mereka akan melihat pelaksanaan pembelajaran melalui evaluasi delapan standar pendidikan nasional. Kegiatan Moneva tidak seketat agreditasi. Setidaknya kalau penilaian moneva ini bagus maka untuk agreditasi tahun ajaran 2015—2016 mendatang kami sudah mengerti mana yang mesti diperbaiki dan dipertahankan.
 
Saya sedikit ragu kalau Moneva ini akan berjalan maksimal karena konsentrasi guru tidak hanya fokus mempersiapkannya tapi juga fokus memenuhi PPGJ (Pelatihan Profesi Guru dalam Jabatan). Tidak semua guru masuk dalam daftar PPGJ tapi jumlahnya cukup lumayan kalau mereka –pada saat yang bersamaan—pamit meninggalkan sekolah untuk ngurusi administrasi PPGJ.

Sertifikasi Guru Profesional
Bagi guru, mendapatkan sertifikat guru profesional adalah titik penting dalam karirnya sebagai guru. Keberadaannya diakui oleh negara. Begitu pula kompetensinya. Karena untuk mendapatkan sertifikat itu guru harus mengikuti serangkaian penyaringan dan tes. Ia harus sudah sekian tahun menjadi guru. Dalam sekian tahun menjadi guru pun ia memenuhi tugas pokok administrasi guru yang dua puluh dua itu. Juga mengikuti tes menggunakan sistem computer based. Sehingga, ketika lulus dan mendapatkan sertifikat seolah-olah ada statemen: Aku bukan sekedar pengabdi kehidupan tapi juga seorang guru profesional. Dan mendapatkan tunjangan dari pemerintah.

Pemerintah tampak serius menopang kehidupan guru di negeri ini. Kisah-kisah seperti guru Umar Bakri semoga tak terdengar lagi kelak. Guru benar-benar menjadi garda depan pembangunan bangsa karena di tangan mereka ilmu pengetahuan diwariskan. Guru benar-benar menjadi profesi yang sepadan sehingga untuk menghidupi keluarga dan memenuhi kebutuhannya mereka tak perlu lagi lompat lapangan pekerjaan.
 
Makanya, pada fase-fase pertama kelahiran ‘sertifikasi guru’ pemerintah mendahulukan guru-guru yang puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Lalu saringan itu diperketat, diperketat, dan terus diperketat. Kalau terus-terusan longgar, tidak menutup kemungkinan sertifikasi guru akan salah sasaran. Hhmm, bukan sertifikasinya yang salah sasaran tapi tunjangan sertifikasi guru yang jadi rebutan.

Permasalahan yang timbul di sekolah saya 
Di sinilah kemudian saya merasa musykil. Untuk mendapatkan sertifikat guru profesional justru tidak diimbangi dengan langkah-langkah yang profesional. Pasalnya, data yang ambil oleh pemerintah adalah data online yang diinput tahun lalu dan pada saat itu guru-guru yang bersangkutan adalah tenaga pendidik di SMP. Sekarang sebagaian guru itu mengajar di SMA.
 
Bagaimanapun juga, menjadi peserta PPGJ adalah hak guru. Mereka diundang oleh pemerintah. Tidak ada hak sama sekali dari sekolah untuk menghalang-halangi mereka. Yang perlu dipegang adalah norma. Norma untuk menghormati aturan-aturan sekolah dan aturan-aturan pemerintah.
 
Makanya, saya merevisi Surat Keputusan Kepala Sekolah tentang pembagian jam mengajar guru sehingga beberapa teman yang mengajar di SMA itu terdaftar sebagai guru SMP. Langkah pendek ini bukan tanpa resiko karena kalau teman-teman lulus PPGJ maka harus dilakukan semacam ‘resuffle’ tugas mengajar. Dampak perubahan seperti ini berimbas pada atmosfir hubungan guru.
 
Ternyata permasalah di atas bukan permasalahan satu-satunya. Pada hari selanjutnya datang beberapa guru mata pelajaran yang tidak memenuhi jumlah jam mengajar. (FYI: Guru profesional harus mengajar minimal 24 jam tatap muka). Luba-lubi, meminta ini itu, lalu jadilah mereka mendapatkan 24 jam mengajar tatap muka. Bagaimana bisa? Caranya adalah saling-silang guru mata pelajaran, meminta atau mungkin merebut jam mengajar. Secara de jure sah mendapatkan 24 jam mengajar, tetapi de facto tidak.
 
Semua jadi musykil. Perihal yang tadinya untuk kebaikan berubah menjadi begitu semrawut. Alih-alih ingin menjadi guru tersertifikasi, peningkatan pedagogik, profesionalisme, personal, dan sosial sedikit sekali mendapat perhatian. Indikasinya adalah saat pelaksanaan Moneva. Semua administrasi guru dikerjakan secara spontanitas. Ada yang salah menghitung jam perpekan ada pula yang salah menulis institusi tempat mengajar.
 
Tidak hanya musykil tapi juga naif. Kenaifan yang tak bisa saya ungkapkan secara gamblang di sini. Semoga bisa menjadi pembelajaran.

Februari 2015