Wednesday, 17 June 2015

RAUT SEDIH YANG SUDAH BERJALAN LAMA

- No comments

Setiap kali senja datang beriringan dengan gerimis, dan pohon rambutan di halaman rumah juga berbuah ranum, aku kembali teringat padamu. Sejujurnya aku benci mengingatnya kembali; saat kau dan ibu duduk di pelataran rumah ini.

Seharusnya memang kubuang jauh-jauh peristiwa itu, tetapi tetap saja ia menemukan celah jalannya untuk kembali ke kepalaku. Seperti angin malam yang selalu menemukan lubang dinding geribik dapurku. Adakah kau merasakan getir seperti yang kurasakan dari hari ke hari, sejak peristiwa itu.

Kusuguhkan secangkir teh untuk masing-masing; kau dan ibu. Lalu kusempatkan mencuri pandang, mencari tahu apa yang telah dibicarakan. Kutatap wajahmu sedikit lebih lama—butir keringat dikeningmu mengalir pelan seperti binatang melata yang kelaparan. Selama ini tak pernah kulihat keringat seperti itu mengalir di keningmu.

Dan ibu, wajahnya yang selalu terlihat ayu, tampak sayu. Letih pada tubuhnya tak pernah ia tampakkan lewat raut wajahnya. Bahkan kepedihan demi kepedihan yang kami lalui tak pernah tampak di mata. Wajahnya yang seperti saat ini pernah kutemui sekali ketika ayah meninggalkan kami untuk selamanya empat tahun yang lalu. Setelah sekian lama tersembunyi kini tiba-tiba tergurat kembali di wajah ibu, dan itu ia tampakkan padamu, bukan padaku.

Aku menahan diri tak segera undur diri. Di samping ibu aku duduk. Namun tak lama aku diusir.
“Ratih, tolong kau angkat jemuran. Awan di timur sepertinya mendung.”

Ibu tak pernah berkata apa adanya. Maka kupahami maknanya kalau aku tak pantas duduk di antara kalian berdua. Kau yang diam saja pun setuju dengan ibu.

/1/

“Tidak bisa ditunda lagi, Ratih.” Desakmu kala itu.

Kau jadi begitu lain dari yang kukenal selama ini. Tiba-tiba kau begitu keras, begitu memaksakan kehendak. Setan apa yang telah merasukimu. Meskipun matamu tak memerah tetapi ucapanmu lebih panas dari api.

“Apakah kau menghendaki lelaki lain?”

Aku kehilangan diriku sendiri dan juga tak mengenal siapa lelaki yang ada di depanku saat ini. Peringaimu sungguh berbeda. Kelembutan yang selama ini memanjakanku telah tercabut entah oleh apa. Atau begitulah sejati dirimu dan yang kau tunjukkan selama ini adalah kepura-puraan untuk meluluhkanku, dan juga ibu.

Kau berdiri tepat di depan wajahku. Kau tundukkan sendiri nafasmu dan kau kendurkan tulang pipimu. Sepertinya kau menyesalkan ucapanmu yang tadi.

“Tidak ada yang buruk dalam pernikahan. Perkara baik tidak seyogyanya ditunda-tunda.”
Perihal pernikahan yang kita rencanakan itu, bukannya aku tak ingin segera menjalaninya. Aku punya alasan yang membuatku harus menundanya. Tidakkah kau bisa mengerti seperti yang lalu-lalu. Aku mengkhawatirkan ibu. Beberapa hari ini ada orang datang ke rumah. Berbicara tentang masa lalu yang tak pernah kuketahui. Perihal tamu-tamu itu pun ibu selalu bungkam. Tetapi melihat gelisah nafasnya saat tidur, aku tahu ia ketakutan bahkan dalam mimpinya.

“Kalau begitu biar aku yang berbicara langsung dengan ibu, Ratih.”

Kukira kau sedang menanyakan pendapatku tapi nyatanya tidak. Kau sedang memberitahuku.

/2/

Ibu belum selesai menyampaikan semuanya ketika tiba-tiba Ratih datang dengan nampan plastik hitam bermotif kembang-kembang. Ia suguhkan dua cangkir hangat. Aromanya sedap sekali. Ia tahu aku menyukai teh tubruk seperti itu dan aku yakin takarannya pasti tepat seperti biasanya. Ingin kuseruput sedikit-sedikit untuk mengendurkan urat tubuhku yang menegang. Tapi entah mengapa semuanya terasa kaku untuk digerakkan.

Aku sudah utarakan maksud dan tujuanku datang kemari. Tekadku sudah bulat. Termasuk mendengar jawaban ibu yang sarat dengan isyarat-isyarat. Bahkan aku siap dengan hardikan halusnya karena menganggapku tidak sopan menyampaikan perihal seperti ini seorang diri.

Lain yang dipersiapkan lain pula yang dialami. Ibu tak banyak meminta, justru untuk kali ini ia ingin bercerita. Bagaimana ia mau bercerita, putri kembangnya tiba-tiba datang lalu duduk di dekatnya. Aku bersyukur mendung di langit timur memberi petanda, hingga ia pun bergegas meninggalkan kami berdua.

“Sudah bulat tekadmu untuk menikahi Ratih?”

Ibu mengulangi dari awal, “Iya, Bu.”

“Sebelumnya saya ingin mengisahkan satu cerita dari bapak sebelum ia meninggal empat tahun lalu. Bapak punya seorang teman yang waskita. Mengetahui yang halus dan yang kasar. Ia memiliki seorang putri pula, hanya seorang putri, sama seperti kami.”

Aku menyimak karena menurutku ini tentang sejarah keluarga. Pikirku bagaimana bisa aku memasuki sebuah keluarga baru tanpa mengetahui sejarah kehidupannya.

“Lima tahun lalu mereka bertemu. Entah apa yang mereka bicarakan. Lalu keduanya berjabat erat seperti sedang menukar janji, tidak hanya janji tetapi juga sebuah cendramata. Bapak menerima ini –ia menunjukkan cincin keemasan—dan saya tidak tahu apa yang diberikan bapak padanya.

Baru menjelang wafat bapak bercerita tentang pertemuan itu. Kepada saya bapak berpesan supaya kelak, lelaki yang akan menikahi Ratih, terlebih dahulu harus menemui teman bapak itu, Ki Buyung. Minta ia untuk menyerahkan cincin ini dan dari Ki Buyung ia akan menerima yang lain.
Hanya lelaki yang membawa cincin dari Ki Buyung lah yang boleh menikahi Ratih.”

“Tekadku sudah bulat, Bu. Mohon restumu untuk melawati ujian ini.”

Kemudian aku pergi ke Madiun setelah mendapatkan berkah dan restu dari ibu. Juga setelah berat hati harus berpamitan dengan Ratih. Dari Madiun kutelusuri jejak Ki Buyung ke Klaten lalu ke Magelang dan berakhir di Jepara. Di sana kulihat seorang perempuan yang begitu anggun. Aku begitu mengenalnya. Aku heran bagaiamana ia bisa datang lebih dulu di rumah Ki Buyung. Namun rasa heranku redup oleh cahaya emas cakrawala: Ratih sudah sampai di sini menungguku.

/3/

Malam belum begitu larut. Angin yang bertiup pelan menghantarkan lantunan al-Barzanji dari rumah di sebrang jalan. Ternyata tidak hanya lantunan syair-syair yang berkisah tentang sang Nabi yang datang. Seseorang telah dihantarkan oleh angin malam ke teras yang mengetuk pintu tak begitu keras. Aku musykil karena selama ini tak pernah ada tamu datang di malam hari.

Sejak kepergianmu empat puluh hari yang lalu, inilah tamu pertama yang datang. Sejujurnya aku mengagumi ketampanannya; rambut kelamnya, hidung besarnya yang mancung, dan gigi putihnya yang berjajar di balik bibir memagari setiap kata-katanya yang keluar. Ibu menjawab ramah salamnya. Meskipun angin cepat membawanya pergi aku, dan mungkin ibu, takkan pernah lupa ucapan salamnya yang pertama kali ini.

Tamu itu begitu serius dan juga gamang. Beberap kali kuperhatikan ia mencoba menerobos pandangan melalui gorden yang memisahkan ruang tamu denganku. Dan dengan ragu ia menanyakan keberadaan bapak.

“Bapak sudah pergi setahun lalu. Hanya ada kami berdua di rumah ini.” Jawab ibu.

Lelaki itu tampak terkejut, lalu mengucapkan belasungkawa dan beberapa rapal doa yang umumnya diucapkan.

“Lalu, adik ini siapa? Dari mana?”

“Saya Syahidan dari Jepara, mau mengantar ini.”

Ditunjukkannya sebuah kotak antik dari saku baju lusuhnya. Baju itu tentu melekat di badan untuk beberapa hari. Tiga hari, lima hari, atau mungkin satu minggu. Daki yang menempel di kerah bajunya dan juga lipatan-lipatan di ujung baju yang mengangkat menunjukkan pinggulnya yang kekar, tak mampu berbohong meskipun wajahnya bersih tersapu air. Mungkin ia membasuhnya di masjid sebrang jalan.

“Dari Ki Buyung?”

“Betul.”

Tiba-tibu ibu lemas. Tubuhnya yang terhempas ke sandaran kursi menarik perhatianku. Nama ‘Ki Buyung’ dan kotak antik di tangan ibu mencambuk kesadaranku. Ketika kutinggikan tubuhku, menjinjit untuk mengintip dari celah gorden, kulihat cincin keemasan terselip berdiri di dalam kota dalam genggaman ibu. Aku terhenyak. Kalau lelaki itu yang datang, lalu kau di mana?

/4/

Aku, di matamu, adalah lelaki durja. Kusembunyikan satu peristiwa. Aku berhutang budi pada seseorang. Ia telah menyelamatkan keluargaku dalam keterpurukan. Lama aku mencarinya selama sepuluh tahun, namun tak juga kutemui. Kami mengenalnya dengan nama haji Rahmat. Saat ku tiba di sini, di Jepara, mataku terbelalak. Tidak lain ki Buyung itu adalah haji Rahmat. Dalam keramahtamahannya ia meminta satu hal; ia ingin aku menanggung kehidupan putrinya. Dan inilah balas budiku yang harus kubayar.

Ratih, di sini, di langkah pertamaku di pelataran rumah Ki Buyung, kulihat dirimu. Aku yakin itu kamu. Tapi Ki Buyung menjelaskan berulangkali kalau itu, yang harus kutanggung kehidupannya itu, adalah perempuan yang lain. Mungkin benar kata orang, setiap insan diciptakan dengan tujuh kembaran. Dan entah setan apa yang merasukiku, aku melihatnya sebagai dirimu.

/5/

Senja hampir berlalu. Dan semoga kau pergi bersamanya untuk selamanya.


Bandar Lampung, 5 Februari 2014

Tuesday, 16 June 2015

Mengarungi Tubuh Sendiri

- No comments


[Refleksi atas “Di Sebuah Mandi”]

Sudah seharusnya saya –manusia yang hina ini- hidup dengan membuat lompatan-lompatan. Membuat trambolin dari ilmu pengetahuan dan bisikan alam untuk meninggalkan sesuatu dan mendatangi Sesuatu (sengaja dengan S kapital).

Karena Sesuatu itu lebih mulia dan berharga dari sesuatu yang lain, maka saya harus membersihkan dan mensucikan diri, mendandani yang luar dan yang dalam. Pensucian itu harus saya lakukan dengan membaca, merenungkan, kemudian mengamalkan. Guru spiritual saya membimbing saya dalam rangka pembersihan melalui pertaubatan. Sedangkan Joko Pinurbo –biasanya dikenal dengan Jokpin- meminjam sebuah kamar mandi untuk acara pensuciannya sendiri.

Dunia tidak lagi mampu menjawab rasa kering di dalam hati. Kserakahan tubuhku semakin menjadi-jadi. Ingin ini harus segera dituruti. Ingin itu harus segera ketemu. Bahkan seandainya yang diinginkan adalah mati tentu harus diladeni. Pantas saja Jokpin menganggapku makin montok saja.

Ah, peduli amat. Orang lain menganggapku bahagia karena seolah-olah kugenggam dunia. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya aku makin ciut saja. Sebab hasrat-hasrat itu lebih liar dari ilalang, dan akhirnya aku tak kebagian lahan di tubuhku sendiri.

Siapapun orangnya –termasuk saya- pastilah pernah mengalami kesendirian yang dalam, merasa ada sebuah kehilangan yang besar, dan rasa ingin pulang entah kemana. Malan itu, aku merasakan hal itu untuk kesekian kali. Gejolak yang meledak untuk membawaku pulang meskipun sebenarnya saya tak punya lagi kampung halaman. Semua sudah direbut oleh glamor dan euforia dunia. Saya hanya bisa mengenang.

Suatu saat nanti, ketika tubuhku semakin kering, eufora dunia semakin bisu untuk memberi jawaban di mana letak telaga, semoga saya bisa menemukan sendiri sebuah mandi yang akan kuziarahi dan kudapatkan jejak-jejak cinta. Namun, apakah perjalanan pencarian itu akan terlalu lama sehingga kuhantarkan tubuhku ke waktu senja dan terlantar di simpang waktu? **

(2010)

Bodoh

- No comments


"Kamu gak usah marahin orang karena dia berbuat salah. Orang yang berbuat salah itu karena sikap dan jiwanya kurang matang." 

Nasehat orang tua seperti itu sudah luput dari telinga anak-anak mereka. Bahkan saya sendiri pun demikian. Rasa-rasanya males mau nasehatin anak terus menerus. Makanya saya selalu mengambil jalan pintas supaya anak saya kembali becus. Marah. Itulah jalan pintasnya. Anak mesti dimarahi supaya jiwa dan mentalnya kuat, karena di luar sana jauh lebih keras. Begitu pandangan saya. 

Saya punya lima anak. Artinya sudah hampir lima belas tahun saya marah-marah. Bayangkan, lima ribu tiga ratus empat puluh hari saya marah-marah ke anak saya. Perilaku lima belas tahun itu pun sudah menjadi watak. Dan ketika saya menjadi bos seperti sekarang ini, kebiasaan memarahi bawahan pun tidak bisa terhindarkan. Apa lagi saya punya alasan kuat buat marahin mereka. Saya bos mereka bawahan. 

Padahal setelah marah-marah saya selalu sedikit menyesal. Apa lagi kalo ingat nasehat teman saya yang punya ribuan buku literatur itu. "Mereka itu durung ngerti. Jiwanya sedang luput karena kurang berkembang sebagai manusia sempurna." Untuk mengimbangi hubungan kemanusiaan saya pun selalu mengakhiri acara marah-marah saya dengan berapologi sedikit. Saya minta maaf seribu maaf. saya harus melakukan ini karena saya ditugaskan untuk begini. Tau kan siapa yang menugasi saya harus begini. Saya juga bernasib sama dengan anda. Tapi bukan berarti anda menjadi pelampiasan saya. Semua ini karena memang anda harus ditegur. Harus diluruskan. Harus diingatkan kembali kepada jalur kereta yang kita lewati saat ini. Mohon anda bisa mengerti. 

Setelah lima belas tahun ditambah beberapa tahun ini saya menjadi atasan, menjadi orang yang harus dilapori, saya merasa makin lama makin bodoh. Saya hanya pintar berucap dari pada bertindak. Mereka yang saya marah-marah justru menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Atau mereka yang kemudian memutuskan untuk keluar juga mendapatkan prestasi yang gemilang. Bos saya memuji saya karena saya berhasil membina dan membimbing mereka. Itu sepengetahuan saya. Padahal nol besar. Saya hanya marah-marah. Seperti halnya orang bodoh. 

Orang bodoh itu orang yang sukanya menuruti hawa nafsu, yang bertindak untuk keuntungan pribadi. Dan saya memang bodoh. Sesuai definisi itu.

September 2012

Tempat Pergi Tempat Kembali

- No comments



apa kabar catatan harianku?
akhir-akhir ini aku begitu rakus: rakus waktu, rakus kesenangan 
dan tak kusisakan sedikitpun untukmu 

kau lelah menunggu?
rupanya kau tetap setulus dulu: menungguku menghampirimu
kau tahu, bukan, kuhampiri kau ketika aku lelah
dan jawabanmu selalu sama: ketulusan akan membuahkan akhir yang indah

kau jawab itu supaya aku tak pergi atau kau memang ingin berkata demikian
karena bagaimanapun juga, nanti atau esok hari, aku pasti pergi
dan kau kembali pada penantianmu
kalau aku ingat aku akan kembali
tapi bagaimana kau aku lupa
hah, memang benar, selama ini pada akhirnya aku kembali

jangan kau ajari aku tentang ketulusan seperti yang kau lakukan
jangan 
saya masih ingin membohongi diriku sendiri 
karena ini alasanku untuk selalu kembali

Friday, 5 June 2015

Air Mata adalah Air Mata

- No comments


Teman saya tidak pernah menangis
Dia selalu mengolok-olok rekan-rekannya yang sedikit-dikit meneteskan air mata. "Menangis itu pelarian. Kalau kita menangis terus itu artinya kita selalu mencoba untuk lari. Bagaimana orang yang mempunyai tanggung jawab besar di muka bumi ini selalu mencari pelarian untuk setiap masalahnya." Begitulah teman saya berkilah. Memang, saya sebagai rekan karibnya tidak pernah melihat sama sekali dia menangis. Bahkan mengeluh. 

Kalau dia merasa kesulitan menghadapi permasalahannya, ia akan berkonsultasi -dia tidak mau menggunakan istilah curhat. Entah mengapa?- dengan teman-temannya yang cerdas. "Ketika Napoleon dibuang di sebuah pulau, dia menghadapi 'deportasinya' dengan membangun koalisi dan diskusi dengan temannya. Kehebatan Napoleon bukanlah un sich dirinya, tapi juga temannya. Saya bla.. bla.. bla... Bagaimana menurut kamu?" Begitulah cara dia berdiskusi dan berkonsultasi dengan temannya. 

Suatu hari saya menginap di rumah teman saya itu. Sebelum tidak ia tampak baik-baik saja. Dia tidur di samping saya. Di tengah malam saya terbangun. Saya merasa kalau spring-bed ini menopang beban yang lebih ringan dari pada ketika hendak tidur. Lalu tangan saya meraba ke sekitar. Ternyata saya tidur sendiri. Teman saya tidak ada di kamar bersama saya. 

Saya bangun dan keluar mencari-cari di ruang tengah. TV tetap mati. Kamar mandi juga kosong. Tapi, lamat-lamat saya mendengar isak tangis dari ruang kecil dekat ruang tamu. Saya memberanikan diri mengintip. Ternyata yang menangis itu teman saya. Jadi teman saya memang tidak pernah menangis (di depan temannya).

Air mata bukan air mata buaya
So, biar tidak dituduh cengeng, air mata buaya, manja, dan predikat lainnya, pilih-pilihlah kalau ingin menangis. Menangis itu ada tempatnya:
  1. Anak perempuanmu yang selama 20-an tahun sudah kamu suapin tiba-tiba harus dibawa pergi suaminya. Wajarlah kalau kamu menangis.
  2. Seminggu yang lalu kamu memaki-maki ayah ibumu karena tidak diterima merit dengan doi pilihanmu. Belum sempat kamu meminta maaf eh ortumu kecelakaan dalam perjalanan pulang dari masjid dan langsung koit.
  3. Nah, karena kamu sadar kalau kita ini hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan apapun, enggak ada salahnya kalau kita meminta pada-Nya yang maha kuasa. Enggak harus tengah malam koq, siang hari juga bisa. Kalau malu seperti teman saya itu, ya bangun tengah malam kan tidak ada salahnya. Dari pada nonton mid-night sesekali mid-night di atas sajadah ok juga kan?!** 

Tuesday, 2 June 2015

Alasan Tetap Menikmati Waktu Luang

- No comments

Sudah banyak orang berbagi pengalaman atau nasehat tentang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dari nasihat kecil-kecil sampai semboyan-semboyan klise. Kali ini, saya tidak akan berbagi pengalaman tentang memanfaatkan waktu, justru sebaliknya. Saya ingin berbagi pengalaman tentang membuang waktu.

Banyak orang tidak suka melihat orang lain membuang waktu sia-sia tanpa kegiatan berarti tanpa mau menilik ke dalam. Yuk, kita lihat ke dalam, siapa tahu justru kita lebih menyia-nyiakan waktu daripada orang yang dibenci itu.

Ada banyak alasan mengapa waktu yang berharga dibiarkan begitu saja berlalu. Setidaknya poin-poin berikut dapat mewakili.

Pertama, time is not really a money. Bagaimana bisa menganggap waktu adalah uang toh dengan berlehai-lehai gaji tetap masuk ke nomor rekening pribadi. Teman-teman saya yang jadi pegawai sering berselorok begini: gak usah ngoyo toh gak jadi duit.

Memang benar, di lingkungan dia bekerja, gaji antara yang ngoyo dan yang letoy tidak jauh berbeda. Lebih dekat dari jangkauan kilan jari. Sama-sama dapat gaji pokok, tunjangan kesehatan, dan tunjangan kehadiran.

Falsafah "bekerja untuk mengabdi pada kehidupan" sepertinya mulai usang. Mulai luntur seperti tinta yang tersiram air. Memudar seperti cetakan tinta di atas kertas ATM. Kalau falsafah yang begitu saja sudah dibiarkan memudah, apalagi memaknai kata bekerja (Jawa: kerjo) dan berkarya (Jawa: makaryo). Lihat saja dua kata itu, sangat dekat antara kerjo dan makaryo tapi ikatan keduanya sudah dilepas.

Kedua, keajaiban deadline. Berapa banyak teman kita, atau mungkin kita sendiri, yang menjadi mister deadline. Yang jadi pertanyaan saya mengapa suka menjadi mister deadline. Perlahan saya mulai mendapatkan jawaban: karena pertolongan tuhan hadir di detik-detik terakhir.

Nah, lihat saja kisah para nabi dan rasul, hikayat para wali dan orang-orang suci betapa pertolongan tuhan selalu menghampiri mereka ketika daya dan upaya manusiawinya tak lagi membantu. Tangan tuhanlah yang selanjutnya bekerja. Para mister deadline sangat meyakini ini.

Ketiga, kegemaran memacu adrenalin. Saat menggiring bola kaki, mata, tangan, dan seluruh tubuh berpacu kepada satu tujuan, gawang lawan. Saat bercengkrama dengan pasangan, bibir, mata, tangan, dan seluruh tubuh berpacu pada satu tujuan pula, gawang lawan. Dan semua penyemangat itu sebenarnya berasal dari bahan bakar bernama adrenalin.

Saat mengerjakan tugas yang berjangka lama, anggota tubuh tidak bisa bekerja dengan maksimal. Kalau toh dapat bekerja, ia tetap tidak maksimal. Silahkan dicoba sendiri. Tetapi ketika ada adrenalin dalam tubuh berhasil dipicu, dalam sesaat performa meningkat.

Mungkin, hidup ini memang tidak sepenuhnya diikat oleh waktu. Kata Sapardi "Yang fana adalah waktu || Kita abadi: Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga || Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa."

Ditulis untuk menjawab tantang #NulisRandom2015 -- Hari kedua.

Monday, 1 June 2015

Ujian Hari Pertama Bikin Sesak Hati

- No comments

Saya kira sudah banyak sekolah yang memanfaatlan e-learning system untuk melaksanakan asesmen atau evaluasi belajar. Sistem ini sangat membantu guru dalam pelaksanaan penilaian. Kalau ada yang belum mau memanfaatkannya mungkin karena ingin menyibukkan diri dengan kegiatan tambahan: mengoreksi lembar jawaban. 

Sialnya, kalau sedang ujian seperti hari ini, tiba-tiba PLN melakukan pemadamana listrik. Bubar! Panitia harus putar otak supaya ujian tetap berjalan dengan baik. Tapi putar otaknya juga tidak bisa lama-lama, karena yang di dalam kelas sudah gusar pingin cepet keluar. 

Jalin Hubungan yang Harmonis
Saya tidak tahu pasti apakah PLN sudah melakukan sosialiasi untuk jadwal pemadaman hari ini. Atau ini hanya insiden sesaat yang harus dimaafkan. Meskipun begitu, insiden mau terencana, badan milik negara ini harus rajin melakukan sosialisasi dan gaul dengan masyarakat. Terutama tentang jadwal pemadaman. 

PLN perlu membuat sistem yang ramah. Misalnya, membangun sistem sms gateway yang akan menginformasikan segera kepada masyarakat dua jam sebelum pemadaman. Kalau terlalu banyak yang harus dikirimi pesan singkat, setidaknya institusi/badan usaha penting yang ada di lingkungan yang bersangkutan segera dikabari: sekolah, industri besar/kecil, masjid, dan radio.

Saya masih heran bagaimana bisa PLN merugi? Padahal masyarakat rajin membayar bulanan. Apalagi sekarang, meteran KwH sudah menggunakan elektrik atau prabayar. Pendapatan PLN lebih akuntabel. PLN harus segera berbenah ke arah yang lebih baik. 
Semoga.

Hari Pertama
#MenulisRandom2015

Body Lotion

- No comments

“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.”

Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

Kulit kering

Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal.

Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan supaya mereka bisa sembuh dan tidak “pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil, doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya. Tuhan bisa saja menyembuhkan, tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh. Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan baik. Saya tak pernah mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak sembuh dan kehilangan. Kehilangan itu membebaskan saya dari berpikir egois. Contohnya begini. Saya ingin orangtua tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan sesak napas setiap saat, mata yang sudah tak melihat, dan telinga yang susah mendengar, sehingga sering kali malah berantem karenanya.

Saya ingin meraka ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tidak bisa melihat. Saya punya teman yang memiliki kepribadian sangat negatif. Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelamahan. Tetapi, makin hari, kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya nyaris KO. Kalau dimisalkan kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.

Tiga Folder Melalui peristiwa itu, saya belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orang tua, atau siapa pun itu adalah sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan itu bisa mengubah anda menjadi the better you. Anda dan saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna manusia adalah mahluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi mahluk sosial selalu saja ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya. Maka, setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman.

Ini saran saya saja. Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima siapa saja. Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahun teman-teman pada butir satu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step berikutnya. Ketiga, sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani. Nah, menurut pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin peka saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada folder-nya masing-masing. Saya memiliki tiga folder.

Ada folder untuk teman yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan. Kalau Anda merasa saya meperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, anda keliru besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan.

Oleh karena itu, saya takakan memusuhi, mereka bukan musuh saya. Kalau mereka kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di mal, saya sarankan sesuatu. Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri anda sendiri. Begini. Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda kemudian menyebar cerita kemana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah mati, padahal yang harus membenahi diri adalah diri Anda sendiri. Maka, cobalah berusaha menjadi body lotion yang melembabkan kulit kering mulai sekarang.

Anda siapa? Ready, set, go.

** Samuel Mutia dalam Kompas, Minggu, 25 September 2011

Thursday, 28 May 2015

Menulis Random: Sebuah Tantangan

- No comments

Saya buka link yang di-share akun @nulisbuku di Twitter. Isinya, penulis mengajak (menantang!!)  kita semua untuk menulis apapun tanpa takut apapun. Setiap hari. Sedikit atau banyak. Tanpa takut dicap ini dan itu.


Darah saya naik ke ubun-ubun. Saya putuskan saya akan berpartisipasi. 


Saya buat aturan untuk diri saya sendiri. Saya baru selesai mengimport postingan dari blog lama yang akan saya sunting dan diposting di blog ini. Hasil suntingan ini tidak masuk hitungan. Harus benar-benar fresh and new writting.


Semoga saya mampu mengalahkan writer's block kali ini. Cukup satu bulan untuk bertahan, mulai 1 juni sampai 30 juni. Semoga.



Gusti Pangeran dan Sepercik Kemesraan

- No comments


Aku terlahir dan tumbuh di sebuah desa. Yang kuingat dua puluh lima tahun silam, ketika mulai kumasuki masa-masa remaja, adalah embun yang membutir di atas dedaunan bunga-bunga di depan rumah, rumput jepang yang memaku telapak kaki telanjang, puncak gunung dan perbukitan yang berselimut awan salju, suara eyang bungkuk mengumandangkan tilawah pagi.
 
Ketika fajar menyingsing aku harus sudah membersihkan halaman, membuang dedaunan yang gugur diterpa angin malam atau rontok karena sambaran kelelawar, mematikan lampu dian yang hitam menjelaga.
 
Sedangkan di jalan yang lama tak ditambal jua anak-anak, yang entah karena kesadarannya atau takut pada cambuk orangtuanya, pulang belajar membaca huruf-huruf bangsa Semitik, tak takut pada anjing yang pulang berburu anak ayam atau kelinci, tak bergeming oleh dingin yang menyergap bersama kabut.
 
Lalu aku pergi dan kini kumerindukannya.
 
Aku ingat pula ketika musim panen sebagian dari kami bermain layang-layang di sawah dengan leluasa, mencari jamur di tumpukan damen yang basah dan lembab, atau membakarnya begitu saja hingga asapnya yang kuning tebal tak memberi celah untuk melihat siapa di seberang sana. 
 
Dan desaku terus tumbuh. Ekonomi terus tumbuh. Seperti yang dinyanyikan Iwan Fals, desa adalah kekuatan ekonomi. Padi, kopi, kakau, cabe, sawi, tomat, dan hasil bumi lainnya menghidupi warga. Ketika Rajaban atau Maulidan, yang tersaji di atas piring adalah makanan-makan hasil bumi sendiri, hasil tangan sendiri, yang berbeda nada berbeda suara (baca: beda bentuk beda rasa).
 
Aku seperti sekarang ini adalah buah dari ketelatenan orangtua menyisihkan uang untuk belajar. Begitu juga dengan teman-teman sebayaku yang pergi meninggalkan kampung halaman, menuntut ilmu dengan iringan doa para tetua. Ketika satu persatu para pengembara itu kembali, aku tetap belum berani menampakkan diri.
 
Mereka sangat berani dengan keyakinan yang tinggi. Menjunjung ilmu pengetahuan sebagai cahya dari ilahi takkan menjadikannya mati terkapar lagi kelaparan di muka bumi. Anugerah-Nya akan menetes dari awan yang ada di atas kepalanya, terjatuh di atas tanah tepat di depan kakinya berpijak. Ketulusan yang semakin tersamarkan belakangan ini.
 
Aku paham nilai-nilai itu. Derma dan anugerah memang datang beriringan tapi tak selalu harus bersatu. Bekerja dan menghasilkan uang sering datang bersamaan tapi tak selalu harus datang beriringan. Belajar dan kepintaran memang sering datang berdampingan tapi tak selalu harus datang bergandengan.
 
Aku terlalu sering melihat orang-orang modernis, orang-orang kapitalis, orang-orang borjuis yang dalam keberuntungannya yang melimpah lalu beranggapan bahwa tiada yang lebih berarti dari rupiah. Perlahan menjalar ke setiap urat saraf para pelajar.
 
Aku rindu kampungku. Aku rindu kemesraan dan kepolosannya seperti waktu itu.
 
Atau mungkin karena aku masih terlalu lugu.

April 2014

SHADA DAN GEMERICIK DALAM MASJID

- No comments


ALAM mensabdakan hujan. Seperti dalam kesempatan yang berbeda ia mensabdakan kemarau, senja, dan terkadang duka. Gemericik air dari talang rumah, atau kodok yang kegirangan di pinggir sungai, dalam sekejap mampu membawa kenangan yang telah lama terpendam. Yang entah karena kesibukan atau karena suasana baru secara mengherankan ia terlupakan. Lalu untuk membangkitkannya ternyata hanya membutuhkan bunyi gemericik air hujan. 

Siapapun boleh menafsirkan air hujan yang menggelitik atap rumahmu.

Seperti Shada yang diberhentikan oleh hujan lebat singgah ke rumah ibadah yang di dinding-dindingnya tertulis nama Allah. Ia singgah karena memang benar-benar singgah, bukan karena terpanggil untuk menjalankan ibadah. Ia sudah lama meninggalkannya yang mungkin orang-orang di sekitarnya mengatainya bahwa kekayaan telah membuatnya buta. Tapi setidaknya, hujan ini seperti sedang menghantarkannya pada rumah yang telah lama hilang.

Tepatnya kemarin sore, di tengah perjalan pulang langit menghitam di sepanjang jalan. Tak ada jaminan hujan mampu menahan diri untuk tak turun sebelum Shada sampai rumah. Tak dapat pula ia menahan diri untuk keadaan yang tak pasti seperti ini. Tekad. Maka ia pun beranjak. Di pucuk bukit matahari benar-benar telah disekap. Awan hitam di atasnya hanya menyisakan cahaya temaram. Dan sesekali seperti ada yang marah di balik awan hitam itu karena gemuruh membuat siapapun menjadi ngeri. Orang-orang dibuat kerdil oleh kilatan perak yang kemerahan. Tapi mana mungkin ia berhenti di sini?

Mungkin saja. Hujan telah menghentikan Shada dan ia tak mampu berbuat apa-apa. Hujan tak hanya mendinginkan mesin motor yang di parkir di depan masjid. Asap putih menyembul dari bagian mesin kendaraan—Itu uap dari air hujan menyirami knalpot. Juga sepatu pantopel hitam yang sudah penuh menampung hujan. Shada masih tak bisa berbuat banyak. Sama halnya dengan knopi teras yang besi-besi penyanggahnya mulai keropos. Ia tak lagi mampu menahan hujan menggerayangi muka tubuhnya lalu mengalir melalui serat-serat yang mulai bersela dan menetes tepat di kepalaku.

Setelah hampir setengah jam riuh hujan yang berjatuhan di atas knopi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Seiring bunyi rintik yang mensunyi dari dalam masjid terdengar riuh lainnya. O, itu bukan riuh tapi koor anak-anak yang duduk memangku turutan baca Alquran.

Di masjid itu, puluhan anak belum baligh ikut berjamaah, lebih banyak dari orang dewasa yang ikut berjamaah. Usai imam shalat membaca doa, anak-anak itu menyalami jamaah lainnya lalu menuju serambi masjid. Anak laki-laki duduk di sebelah selatan dan anak perempuan duduk di sebelah utara. Mereka menyandang kitab tuntunan baca Alquran, ada pula yang membuka Alquran.

Belum ada guru ngaji yang duduk di antara mereka, tapi mereka sudah memulai majlis mereka dengan membaca Al-Fatihah dan beberapa surat pendek lainnya. Shada masih mengamati mereka dari dalam. Melihat mereka yang tadarrus sendiri-sendiri untuk melancarkan bacaan sebelum menghadap guru ngaji.

Shada merasa takjub. Di saat anak-anak lainnya di luar sana berasik ria menonton kartun atau bercengkrama dengan orang tua, justru belasan anak belum baligh itu terbata-bata mempelajari kitab agama. Saat anak-anak seumuran mereka bergulat dengan asiknya teknologi dan keramaian, mereka menyepi melawan keingin mereka sendiri untuk lebih memilih mendekatkan diri pada Ilahi.

Hujan masih rintik-rintik tapi Shada harus pulang sambil terus merenungkan mereka. Semoga mereka mampu bertahan, meskipun di luar sana semakin ramai, semakin riuh. Tapi keramaian dan keriuhan pasti akan menjemukan. Semoga mereka tetap bertahan, meskipun hujan kerap menjadi penghalang. Shada membatin dalam doa.

Oktober 2012

Wednesday, 27 May 2015

Tentang Saya

- No comments
Saya ingin menjadi penulis yang baik, yang mampu mengungkapkan ide dalam ungkapan-ungkapan yang renyah. Tetapi menjadi penulis yang baik ternyata tidak mudah. Stag dan titik jenuh adalah penghambat sekaligus tantangan yang saya hadapi selama ini.

Saya membaca Bumi Manusia. Pada saat itu, saya tidak yakin akan selesai membaca buku tebal itu. Tapi siapa sangka, saya dapat menyelesaikannya dengan cepat. Saya begitu terhanyut, menjadi saksi mata, seolah-olah tokoh Minke ada di depan mata. Begitu pula ketika membaca Ronggeng Dukuh Paruk, Saman, Supernova, dan novel-novel lainnya.

Saya sangat merasa iri. Mereka tentu sudah melalui proses-proses panjang, berjibaku dengan kemalasan, stag, rutinitas, dan atmosfir lainnya yang membunuh semangat berkarya. Mereka mampu melampuinya tapi saya tidak. Atau saya dipertanyakan: mampukan saya setangguh mereka.

Tak hanya karya sastra yang membuat saya ingin sekali menulis. Esai-esai Gus Dur, Gus Mus, Cak Nun, Gunawan Muhammad, dan penulis lainnya pun saya rasai sebagai penyemangat yang luar biasa. Rasa iri saya semakin menjadi-jadi.

Dulu saya merawat sebuah blog, maspaeng.blogspot.com, yang saya kelola dari tahun 2008. Karena beberapa hal saya mengimpor tulisan yang saya publish di saya ke blog ini. Beberapa saya sunting kembali. Ungkapan-ungkapan dan pikiran pokoknya juga. Sedangkan nasib blog itu sekarang saya hibernasi, didiamkan begitu saja.