Tuesday, 16 June 2015

Tempat Pergi Tempat Kembali

- No comments



apa kabar catatan harianku?
akhir-akhir ini aku begitu rakus: rakus waktu, rakus kesenangan 
dan tak kusisakan sedikitpun untukmu 

kau lelah menunggu?
rupanya kau tetap setulus dulu: menungguku menghampirimu
kau tahu, bukan, kuhampiri kau ketika aku lelah
dan jawabanmu selalu sama: ketulusan akan membuahkan akhir yang indah

kau jawab itu supaya aku tak pergi atau kau memang ingin berkata demikian
karena bagaimanapun juga, nanti atau esok hari, aku pasti pergi
dan kau kembali pada penantianmu
kalau aku ingat aku akan kembali
tapi bagaimana kau aku lupa
hah, memang benar, selama ini pada akhirnya aku kembali

jangan kau ajari aku tentang ketulusan seperti yang kau lakukan
jangan 
saya masih ingin membohongi diriku sendiri 
karena ini alasanku untuk selalu kembali

Friday, 5 June 2015

Air Mata adalah Air Mata

- No comments


Teman saya tidak pernah menangis
Dia selalu mengolok-olok rekan-rekannya yang sedikit-dikit meneteskan air mata. "Menangis itu pelarian. Kalau kita menangis terus itu artinya kita selalu mencoba untuk lari. Bagaimana orang yang mempunyai tanggung jawab besar di muka bumi ini selalu mencari pelarian untuk setiap masalahnya." Begitulah teman saya berkilah. Memang, saya sebagai rekan karibnya tidak pernah melihat sama sekali dia menangis. Bahkan mengeluh. 

Kalau dia merasa kesulitan menghadapi permasalahannya, ia akan berkonsultasi -dia tidak mau menggunakan istilah curhat. Entah mengapa?- dengan teman-temannya yang cerdas. "Ketika Napoleon dibuang di sebuah pulau, dia menghadapi 'deportasinya' dengan membangun koalisi dan diskusi dengan temannya. Kehebatan Napoleon bukanlah un sich dirinya, tapi juga temannya. Saya bla.. bla.. bla... Bagaimana menurut kamu?" Begitulah cara dia berdiskusi dan berkonsultasi dengan temannya. 

Suatu hari saya menginap di rumah teman saya itu. Sebelum tidak ia tampak baik-baik saja. Dia tidur di samping saya. Di tengah malam saya terbangun. Saya merasa kalau spring-bed ini menopang beban yang lebih ringan dari pada ketika hendak tidur. Lalu tangan saya meraba ke sekitar. Ternyata saya tidur sendiri. Teman saya tidak ada di kamar bersama saya. 

Saya bangun dan keluar mencari-cari di ruang tengah. TV tetap mati. Kamar mandi juga kosong. Tapi, lamat-lamat saya mendengar isak tangis dari ruang kecil dekat ruang tamu. Saya memberanikan diri mengintip. Ternyata yang menangis itu teman saya. Jadi teman saya memang tidak pernah menangis (di depan temannya).

Air mata bukan air mata buaya
So, biar tidak dituduh cengeng, air mata buaya, manja, dan predikat lainnya, pilih-pilihlah kalau ingin menangis. Menangis itu ada tempatnya:
  1. Anak perempuanmu yang selama 20-an tahun sudah kamu suapin tiba-tiba harus dibawa pergi suaminya. Wajarlah kalau kamu menangis.
  2. Seminggu yang lalu kamu memaki-maki ayah ibumu karena tidak diterima merit dengan doi pilihanmu. Belum sempat kamu meminta maaf eh ortumu kecelakaan dalam perjalanan pulang dari masjid dan langsung koit.
  3. Nah, karena kamu sadar kalau kita ini hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan apapun, enggak ada salahnya kalau kita meminta pada-Nya yang maha kuasa. Enggak harus tengah malam koq, siang hari juga bisa. Kalau malu seperti teman saya itu, ya bangun tengah malam kan tidak ada salahnya. Dari pada nonton mid-night sesekali mid-night di atas sajadah ok juga kan?!** 

Tuesday, 2 June 2015

Alasan Tetap Menikmati Waktu Luang

- No comments

Sudah banyak orang berbagi pengalaman atau nasehat tentang memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Dari nasihat kecil-kecil sampai semboyan-semboyan klise. Kali ini, saya tidak akan berbagi pengalaman tentang memanfaatkan waktu, justru sebaliknya. Saya ingin berbagi pengalaman tentang membuang waktu.

Banyak orang tidak suka melihat orang lain membuang waktu sia-sia tanpa kegiatan berarti tanpa mau menilik ke dalam. Yuk, kita lihat ke dalam, siapa tahu justru kita lebih menyia-nyiakan waktu daripada orang yang dibenci itu.

Ada banyak alasan mengapa waktu yang berharga dibiarkan begitu saja berlalu. Setidaknya poin-poin berikut dapat mewakili.

Pertama, time is not really a money. Bagaimana bisa menganggap waktu adalah uang toh dengan berlehai-lehai gaji tetap masuk ke nomor rekening pribadi. Teman-teman saya yang jadi pegawai sering berselorok begini: gak usah ngoyo toh gak jadi duit.

Memang benar, di lingkungan dia bekerja, gaji antara yang ngoyo dan yang letoy tidak jauh berbeda. Lebih dekat dari jangkauan kilan jari. Sama-sama dapat gaji pokok, tunjangan kesehatan, dan tunjangan kehadiran.

Falsafah "bekerja untuk mengabdi pada kehidupan" sepertinya mulai usang. Mulai luntur seperti tinta yang tersiram air. Memudar seperti cetakan tinta di atas kertas ATM. Kalau falsafah yang begitu saja sudah dibiarkan memudah, apalagi memaknai kata bekerja (Jawa: kerjo) dan berkarya (Jawa: makaryo). Lihat saja dua kata itu, sangat dekat antara kerjo dan makaryo tapi ikatan keduanya sudah dilepas.

Kedua, keajaiban deadline. Berapa banyak teman kita, atau mungkin kita sendiri, yang menjadi mister deadline. Yang jadi pertanyaan saya mengapa suka menjadi mister deadline. Perlahan saya mulai mendapatkan jawaban: karena pertolongan tuhan hadir di detik-detik terakhir.

Nah, lihat saja kisah para nabi dan rasul, hikayat para wali dan orang-orang suci betapa pertolongan tuhan selalu menghampiri mereka ketika daya dan upaya manusiawinya tak lagi membantu. Tangan tuhanlah yang selanjutnya bekerja. Para mister deadline sangat meyakini ini.

Ketiga, kegemaran memacu adrenalin. Saat menggiring bola kaki, mata, tangan, dan seluruh tubuh berpacu kepada satu tujuan, gawang lawan. Saat bercengkrama dengan pasangan, bibir, mata, tangan, dan seluruh tubuh berpacu pada satu tujuan pula, gawang lawan. Dan semua penyemangat itu sebenarnya berasal dari bahan bakar bernama adrenalin.

Saat mengerjakan tugas yang berjangka lama, anggota tubuh tidak bisa bekerja dengan maksimal. Kalau toh dapat bekerja, ia tetap tidak maksimal. Silahkan dicoba sendiri. Tetapi ketika ada adrenalin dalam tubuh berhasil dipicu, dalam sesaat performa meningkat.

Mungkin, hidup ini memang tidak sepenuhnya diikat oleh waktu. Kata Sapardi "Yang fana adalah waktu || Kita abadi: Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga || Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa."

Ditulis untuk menjawab tantang #NulisRandom2015 -- Hari kedua.

Monday, 1 June 2015

Ujian Hari Pertama Bikin Sesak Hati

- No comments

Saya kira sudah banyak sekolah yang memanfaatlan e-learning system untuk melaksanakan asesmen atau evaluasi belajar. Sistem ini sangat membantu guru dalam pelaksanaan penilaian. Kalau ada yang belum mau memanfaatkannya mungkin karena ingin menyibukkan diri dengan kegiatan tambahan: mengoreksi lembar jawaban. 

Sialnya, kalau sedang ujian seperti hari ini, tiba-tiba PLN melakukan pemadamana listrik. Bubar! Panitia harus putar otak supaya ujian tetap berjalan dengan baik. Tapi putar otaknya juga tidak bisa lama-lama, karena yang di dalam kelas sudah gusar pingin cepet keluar. 

Jalin Hubungan yang Harmonis
Saya tidak tahu pasti apakah PLN sudah melakukan sosialiasi untuk jadwal pemadaman hari ini. Atau ini hanya insiden sesaat yang harus dimaafkan. Meskipun begitu, insiden mau terencana, badan milik negara ini harus rajin melakukan sosialisasi dan gaul dengan masyarakat. Terutama tentang jadwal pemadaman. 

PLN perlu membuat sistem yang ramah. Misalnya, membangun sistem sms gateway yang akan menginformasikan segera kepada masyarakat dua jam sebelum pemadaman. Kalau terlalu banyak yang harus dikirimi pesan singkat, setidaknya institusi/badan usaha penting yang ada di lingkungan yang bersangkutan segera dikabari: sekolah, industri besar/kecil, masjid, dan radio.

Saya masih heran bagaimana bisa PLN merugi? Padahal masyarakat rajin membayar bulanan. Apalagi sekarang, meteran KwH sudah menggunakan elektrik atau prabayar. Pendapatan PLN lebih akuntabel. PLN harus segera berbenah ke arah yang lebih baik. 
Semoga.

Hari Pertama
#MenulisRandom2015

Body Lotion

- No comments

“Sedih deh gue, kayaknya bakal kehilangan temen, nih.”

Demikian BBM yang saya terima pada saat mendengarkan celoteh klien di sebuah ruang rapat. Kemudian, saya membalas dengan menanyakan, bagaimana itu bisa terjadi. Dan selanjutnya, anda pasti tahu, kalau saya tenggelam dalam keasyikkan mengirim dan menerima pesan itu, dan membuat konsentrasi di ruang rapat yang awalnya seratus persen menjadi setengahnya.

Kulit kering

Soal kehilangan, saya jadi teringat saat ibu dan ayah sedang menghadapi ajal.

Saya menulis kata ibu sebelum kata ayah karena ibu game over terlebih dahulu. Tetapi, untuk kejadian yang berbeda waktunya itu, benang merahnya sama. Saya berdoa merayu-rayu Tuhan supaya mereka bisa sembuh dan tidak “pulang ke rumah” terlalu dini. Alhasil, doa dijawab dengan jawaban yang tidak berkenan untuk saya. Tuhan bisa saja menyembuhkan, tetapi saya harus dinaikkan kelas supaya bisa lebih pandai dengan mengerti arti kehilangan. Karena saya ini terlalu biasa kalau sakit selalu minta sembuh. Kalau sembuh, mulutnya cepat mengatakan, Tuhan baik. Saya tak pernah mengatakan, Tuhan itu baik kalau saya tidak sembuh dan kehilangan. Kehilangan itu membebaskan saya dari berpikir egois. Contohnya begini. Saya ingin orangtua tetap saya miliki, tetapi lupa kalau mereka hidup, itu adalah hidup dengan sesak napas setiap saat, mata yang sudah tak melihat, dan telinga yang susah mendengar, sehingga sering kali malah berantem karenanya.

Saya ingin meraka ada, tetapi saya tak mau menempatkan sebagai yang sesak napas, budek, dan tidak bisa melihat. Saya punya teman yang memiliki kepribadian sangat negatif. Awalnya tak masalah, saya sangat menyadari kami ini sama-sama manusia dengan sejuta kelamahan. Tetapi, makin hari, kekuatan aura negatifnya semakin kuat dan sudah mengeringkan saya, dan saya nyaris KO. Kalau dimisalkan kondisi kulit, maka pada awal pertemanan kami, kondisi kulit saya indah karena kelembabannya terjaga. Tetapi, lama-lama menjadi kering dan pecah-pecah seperti tanah gembur yang berubah menjadi kering kerontang. Dan sebelum saya menjadi KO dan benar-benar pecah, saya mengundurkan diri. Pengunduran diri itu menyedihkan, tetapi sekaligus mengembalikan kelembaban kulit saya.

Tiga Folder Melalui peristiwa itu, saya belajar sesuatu bahwa kehilangan teman, orang tua, atau siapa pun itu adalah sebuah perjalanan yang membuat hidup itu lengkap. Kehilangan tak negatif malah menjadi pintu masuknya sebuah pengalaman baru yang mengembalikan kegemburan tanah dari keretakan yang ditimbulkan pihak kedua, ketiga, dan kesejuta. Kehilangan itu bisa mengubah anda menjadi the better you. Anda dan saya perlu berteman, artinya menerapkan dengan nyata makna manusia adalah mahluk sosial. Tetapi, di dalam perjalanan menjadi mahluk sosial selalu saja ada kerikilnya. Sama saja seperti naik kapal terbang ada saja turbulensinya. Maka, setelah hidup nyaris lima puluh tahun, saya mengambil langkah-langkah berteman.

Ini saran saya saja. Pertama, dengan menggunakan dada yang lapang saya menerima siapa saja. Kedua, saya bersosialisasi sehingga paling tidak saya makin tahun teman-teman pada butir satu sesungguhnya. Langkah kedua ini membutuhkan waktu cukup panjang untuk mengetahui seberapa besar atau kecilnya kerikil, atau turbulensi, ketika bersama mereka. Ini berguna saat saya melangkah ke step berikutnya. Ketiga, sebagai langkah terakhir, saya menyeleksi teman-teman yang sejuta banyaknya itu. Seleksi ini berguna agar tanah saya yang gembur tak menjadi kering kerontang. Penyeleksian itu harus dilakukan dengan akal dan nurani. Nah, menurut pengalaman saya, semakin saya dekat dengan Sang Pencipta, semakin peka saya dibuatnya. Kepekaan itu yang memampukan untuk menempatkan teman-teman pada folder-nya masing-masing. Saya memiliki tiga folder.

Ada folder untuk teman yang akan saya simpan seumur hidup, ada yang hanya untuk dah-nek dah-nek atau cipika-cipiki, dan terakhir folder untuk teman yang harus saya tinggalkan. Kalau Anda merasa saya meperlakukan folder terakhir sebagai tong sampah, anda keliru besar. Mereka bukan sampah, mereka hanya membuat saya tidak gembur lagi. Bisa jadi untuk orang lain mereka bak body lotion yang melembabkan.

Oleh karena itu, saya takakan memusuhi, mereka bukan musuh saya. Kalau mereka kemudian berpikir demikian, itu hak mereka. Maka kalau Anda masuk ke dalam folder yang ketiga, sehingga Anda mengalami peristiwa di mana teman Anda pura-pura tidak melihat kalau berpapasan di mal, saya sarankan sesuatu. Daripada Anda berasumsi yang tidak-tidak, mengapa Anda tidak berpikir sederhana saja dengan menyodorkan sebuah pertanyaan untuk diri anda sendiri. Begini. Mengapa saya sampai masuk ke folder yang patut ditinggalkan? Daripada Anda kemudian menyebar cerita kemana-mana bahwa seseorang itu jahatnya setengah mati, padahal yang harus membenahi diri adalah diri Anda sendiri. Maka, cobalah berusaha menjadi body lotion yang melembabkan kulit kering mulai sekarang.

Anda siapa? Ready, set, go.

** Samuel Mutia dalam Kompas, Minggu, 25 September 2011

Thursday, 28 May 2015

Menulis Random: Sebuah Tantangan

- No comments

Saya buka link yang di-share akun @nulisbuku di Twitter. Isinya, penulis mengajak (menantang!!)  kita semua untuk menulis apapun tanpa takut apapun. Setiap hari. Sedikit atau banyak. Tanpa takut dicap ini dan itu.


Darah saya naik ke ubun-ubun. Saya putuskan saya akan berpartisipasi. 


Saya buat aturan untuk diri saya sendiri. Saya baru selesai mengimport postingan dari blog lama yang akan saya sunting dan diposting di blog ini. Hasil suntingan ini tidak masuk hitungan. Harus benar-benar fresh and new writting.


Semoga saya mampu mengalahkan writer's block kali ini. Cukup satu bulan untuk bertahan, mulai 1 juni sampai 30 juni. Semoga.



Gusti Pangeran dan Sepercik Kemesraan

- No comments


Aku terlahir dan tumbuh di sebuah desa. Yang kuingat dua puluh lima tahun silam, ketika mulai kumasuki masa-masa remaja, adalah embun yang membutir di atas dedaunan bunga-bunga di depan rumah, rumput jepang yang memaku telapak kaki telanjang, puncak gunung dan perbukitan yang berselimut awan salju, suara eyang bungkuk mengumandangkan tilawah pagi.
 
Ketika fajar menyingsing aku harus sudah membersihkan halaman, membuang dedaunan yang gugur diterpa angin malam atau rontok karena sambaran kelelawar, mematikan lampu dian yang hitam menjelaga.
 
Sedangkan di jalan yang lama tak ditambal jua anak-anak, yang entah karena kesadarannya atau takut pada cambuk orangtuanya, pulang belajar membaca huruf-huruf bangsa Semitik, tak takut pada anjing yang pulang berburu anak ayam atau kelinci, tak bergeming oleh dingin yang menyergap bersama kabut.
 
Lalu aku pergi dan kini kumerindukannya.
 
Aku ingat pula ketika musim panen sebagian dari kami bermain layang-layang di sawah dengan leluasa, mencari jamur di tumpukan damen yang basah dan lembab, atau membakarnya begitu saja hingga asapnya yang kuning tebal tak memberi celah untuk melihat siapa di seberang sana. 
 
Dan desaku terus tumbuh. Ekonomi terus tumbuh. Seperti yang dinyanyikan Iwan Fals, desa adalah kekuatan ekonomi. Padi, kopi, kakau, cabe, sawi, tomat, dan hasil bumi lainnya menghidupi warga. Ketika Rajaban atau Maulidan, yang tersaji di atas piring adalah makanan-makan hasil bumi sendiri, hasil tangan sendiri, yang berbeda nada berbeda suara (baca: beda bentuk beda rasa).
 
Aku seperti sekarang ini adalah buah dari ketelatenan orangtua menyisihkan uang untuk belajar. Begitu juga dengan teman-teman sebayaku yang pergi meninggalkan kampung halaman, menuntut ilmu dengan iringan doa para tetua. Ketika satu persatu para pengembara itu kembali, aku tetap belum berani menampakkan diri.
 
Mereka sangat berani dengan keyakinan yang tinggi. Menjunjung ilmu pengetahuan sebagai cahya dari ilahi takkan menjadikannya mati terkapar lagi kelaparan di muka bumi. Anugerah-Nya akan menetes dari awan yang ada di atas kepalanya, terjatuh di atas tanah tepat di depan kakinya berpijak. Ketulusan yang semakin tersamarkan belakangan ini.
 
Aku paham nilai-nilai itu. Derma dan anugerah memang datang beriringan tapi tak selalu harus bersatu. Bekerja dan menghasilkan uang sering datang bersamaan tapi tak selalu harus datang beriringan. Belajar dan kepintaran memang sering datang berdampingan tapi tak selalu harus datang bergandengan.
 
Aku terlalu sering melihat orang-orang modernis, orang-orang kapitalis, orang-orang borjuis yang dalam keberuntungannya yang melimpah lalu beranggapan bahwa tiada yang lebih berarti dari rupiah. Perlahan menjalar ke setiap urat saraf para pelajar.
 
Aku rindu kampungku. Aku rindu kemesraan dan kepolosannya seperti waktu itu.
 
Atau mungkin karena aku masih terlalu lugu.

April 2014

SHADA DAN GEMERICIK DALAM MASJID

- No comments


ALAM mensabdakan hujan. Seperti dalam kesempatan yang berbeda ia mensabdakan kemarau, senja, dan terkadang duka. Gemericik air dari talang rumah, atau kodok yang kegirangan di pinggir sungai, dalam sekejap mampu membawa kenangan yang telah lama terpendam. Yang entah karena kesibukan atau karena suasana baru secara mengherankan ia terlupakan. Lalu untuk membangkitkannya ternyata hanya membutuhkan bunyi gemericik air hujan. 

Siapapun boleh menafsirkan air hujan yang menggelitik atap rumahmu.

Seperti Shada yang diberhentikan oleh hujan lebat singgah ke rumah ibadah yang di dinding-dindingnya tertulis nama Allah. Ia singgah karena memang benar-benar singgah, bukan karena terpanggil untuk menjalankan ibadah. Ia sudah lama meninggalkannya yang mungkin orang-orang di sekitarnya mengatainya bahwa kekayaan telah membuatnya buta. Tapi setidaknya, hujan ini seperti sedang menghantarkannya pada rumah yang telah lama hilang.

Tepatnya kemarin sore, di tengah perjalan pulang langit menghitam di sepanjang jalan. Tak ada jaminan hujan mampu menahan diri untuk tak turun sebelum Shada sampai rumah. Tak dapat pula ia menahan diri untuk keadaan yang tak pasti seperti ini. Tekad. Maka ia pun beranjak. Di pucuk bukit matahari benar-benar telah disekap. Awan hitam di atasnya hanya menyisakan cahaya temaram. Dan sesekali seperti ada yang marah di balik awan hitam itu karena gemuruh membuat siapapun menjadi ngeri. Orang-orang dibuat kerdil oleh kilatan perak yang kemerahan. Tapi mana mungkin ia berhenti di sini?

Mungkin saja. Hujan telah menghentikan Shada dan ia tak mampu berbuat apa-apa. Hujan tak hanya mendinginkan mesin motor yang di parkir di depan masjid. Asap putih menyembul dari bagian mesin kendaraan—Itu uap dari air hujan menyirami knalpot. Juga sepatu pantopel hitam yang sudah penuh menampung hujan. Shada masih tak bisa berbuat banyak. Sama halnya dengan knopi teras yang besi-besi penyanggahnya mulai keropos. Ia tak lagi mampu menahan hujan menggerayangi muka tubuhnya lalu mengalir melalui serat-serat yang mulai bersela dan menetes tepat di kepalaku.

Setelah hampir setengah jam riuh hujan yang berjatuhan di atas knopi mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Seiring bunyi rintik yang mensunyi dari dalam masjid terdengar riuh lainnya. O, itu bukan riuh tapi koor anak-anak yang duduk memangku turutan baca Alquran.

Di masjid itu, puluhan anak belum baligh ikut berjamaah, lebih banyak dari orang dewasa yang ikut berjamaah. Usai imam shalat membaca doa, anak-anak itu menyalami jamaah lainnya lalu menuju serambi masjid. Anak laki-laki duduk di sebelah selatan dan anak perempuan duduk di sebelah utara. Mereka menyandang kitab tuntunan baca Alquran, ada pula yang membuka Alquran.

Belum ada guru ngaji yang duduk di antara mereka, tapi mereka sudah memulai majlis mereka dengan membaca Al-Fatihah dan beberapa surat pendek lainnya. Shada masih mengamati mereka dari dalam. Melihat mereka yang tadarrus sendiri-sendiri untuk melancarkan bacaan sebelum menghadap guru ngaji.

Shada merasa takjub. Di saat anak-anak lainnya di luar sana berasik ria menonton kartun atau bercengkrama dengan orang tua, justru belasan anak belum baligh itu terbata-bata mempelajari kitab agama. Saat anak-anak seumuran mereka bergulat dengan asiknya teknologi dan keramaian, mereka menyepi melawan keingin mereka sendiri untuk lebih memilih mendekatkan diri pada Ilahi.

Hujan masih rintik-rintik tapi Shada harus pulang sambil terus merenungkan mereka. Semoga mereka mampu bertahan, meskipun di luar sana semakin ramai, semakin riuh. Tapi keramaian dan keriuhan pasti akan menjemukan. Semoga mereka tetap bertahan, meskipun hujan kerap menjadi penghalang. Shada membatin dalam doa.

Oktober 2012

Wednesday, 27 May 2015

Tentang Saya

- No comments
Saya ingin menjadi penulis yang baik, yang mampu mengungkapkan ide dalam ungkapan-ungkapan yang renyah. Tetapi menjadi penulis yang baik ternyata tidak mudah. Stag dan titik jenuh adalah penghambat sekaligus tantangan yang saya hadapi selama ini.

Saya membaca Bumi Manusia. Pada saat itu, saya tidak yakin akan selesai membaca buku tebal itu. Tapi siapa sangka, saya dapat menyelesaikannya dengan cepat. Saya begitu terhanyut, menjadi saksi mata, seolah-olah tokoh Minke ada di depan mata. Begitu pula ketika membaca Ronggeng Dukuh Paruk, Saman, Supernova, dan novel-novel lainnya.

Saya sangat merasa iri. Mereka tentu sudah melalui proses-proses panjang, berjibaku dengan kemalasan, stag, rutinitas, dan atmosfir lainnya yang membunuh semangat berkarya. Mereka mampu melampuinya tapi saya tidak. Atau saya dipertanyakan: mampukan saya setangguh mereka.

Tak hanya karya sastra yang membuat saya ingin sekali menulis. Esai-esai Gus Dur, Gus Mus, Cak Nun, Gunawan Muhammad, dan penulis lainnya pun saya rasai sebagai penyemangat yang luar biasa. Rasa iri saya semakin menjadi-jadi.

Dulu saya merawat sebuah blog, maspaeng.blogspot.com, yang saya kelola dari tahun 2008. Karena beberapa hal saya mengimpor tulisan yang saya publish di saya ke blog ini. Beberapa saya sunting kembali. Ungkapan-ungkapan dan pikiran pokoknya juga. Sedangkan nasib blog itu sekarang saya hibernasi, didiamkan begitu saja.

Wednesday, 20 May 2015

Review: Exodus Gods and Kings

- No comments

Menarik sekali untuk menuangkan opini ini setelah menonton film Exodus: Gods and Kings. Tentu saja tulisan ini tidak up to date. Hanya saja film yang dibesut oleh Ridley Scott dengan menggaet Christian Bale dan Joel Edgerton untuk memerankan Moses dan Ramses saya rekomendasikan untuk ditonton. Selain karena keduanya yang berakting apik tetapi juga alur ceritanya yang sudah diketahui oleh khalayak karena bersumber dari kitab suci. Film ini, bagi beberapa orang, mungkin akan mengganggu keimanan. Bagi saya, film ini adalah hiburan yang lucu seru.

Exodus: Kings and Gods benar-benar menceritakan eksodus orang-orang Israel dari Mesir menuju ke Kenaan. Bermula dari ramalan dukun Fir’aun bahwa dalam pertempuran melawan bangsa Het sang penguasa akan diselamatkan dan penyelamatnya kelak akan menjadi pemimpin. Ketika pertempuran dengan bangsa Het terjadi, Ramses yang tersungkur dari kereta kudanya diselamatkan oleh Moses. Bisa dibayangkan kegelisahan Ramses melihat penyelamatan itu.

Exoduse Gods and Kings
Moses bukanlah siapa-siapa hingga ia mengunjungi Phitom di mana ratusan ribu orang Israel diperbudak. Di sana ia melihat kesemena-menaan, penindasan terhadap budak, dan keserakahan dari wakil raja di Phitom dan pertemuan tak terduga dengan seorang tetua bernama Nun yang menunjukkan jati dirinya sebagai seorang keturuan Israel. Sebagaiamana kebanyakan orang yang tak mudah menerima fakta yang bertentangan dengan keyakinannya sebelumnya, Moses menolak kebenaran bahwa ia terlahir dari seorang budak yang dititipkan kepada saudarinya, Miriam, untuk dihanyutkan di sungai Nil. Lalu ditemukan oleh Bithia, Puteri Firaun Paramesse, dan diasuhnya.
Alur dalam Exodus: Gods and Kings ini tidak banyak yang menggangu saya, kecuali satu adegan dipenghujung film. Ketika The Messanger berpisah dengan Moses yang ditandu menuju Kenaan. Ia tampak sudah lelah dan tua, jangka waktu yang tidak memakan usia segitu lama dalam eksodus dari Phitom ke Kenaan.

Saya pun bertanya-tanya, setua apa umur Moses saat bertemu Khidir (berdasarkan perspektif ajaran Islam)? Atau ketika ia mengalami konflik dengan ummatnya tentang sapi yang bersiul dan tentang empat puluh hari yang ditinggalkan? Mungkin sebaiknya, Moses tidak perlu didandani setua dan selelah itu saat ditandu.

Nabi Musa dalam Islam
Alquran banyak berkisah tentang nabi Musa karena banyak yang bisa dipelajari dari kisah-kisahnya. Yang paling tersohor adalah kisah pertemuannya dengan Khidir, sosok misterius yang banyak disebut tapi sedikit sekali referensi yang menunjukkan jati dirinya.

Nabi Musa ditemani oleh Nun menyisir pantai untuk bertemu dengan Khidir. Dalam pertemuan itu, Khidir mau mengangkat Musa sebagai murid dengan satu syarat: Musa tidak boleh bertanya apapun. Lalu mereka berjalan menyusuri pantai. Cerita selanjutnya sudah kita ketahui bersama.
Begitu juga kisah nabi Musa yang pusing bukan main melihat orang-orang Israel yang mudah sekali berpaling dari keimanan. Ditinggal hanya empat puluh hari saja mereka sudah kembali berdusta, berpaling keimanan mereka, oleh sapi emas yang dapat bersiul.

Ada pula kisah tentang nabi Musa yang beradu sakti dengan dukun-dukun kepercayaan Ramses. Mereka melemparkan tali ke lapangan yang sekonyong-konyong berubah menjadi ular berbisa. Tidak hanya nabi Musa yang keder, para budak dan penonton lainnya pun ikut merasakan ngeri. Lalu nabi Musa melemparkan tongkatnya yang juga dengan sekonyong-konyong berubah menjadi ular yang lebih besar dan memakan ular-ular jelmaan penyihir Ramses.

Tetapi kisah-kisah itu hanya segelintir perjalanan nabi Musa. Sisanya adalah kisah-kisah israiliyat. Kisah-kisah dalam Alquran adalah kisah-kisah yang inspiratif yang darinya kita menyerap banyak hikmah dan pelajaran.

Tentu saja, kalau kita menilai film Exodus ini berdasarkan ajaran Alquran tentu saja yang tertinggal di dalam hati adalah kegelisahan dan cibiran karena banyak sekali yang tak seperti dalam kitab suci. Sekali lagi, di sinilah asyiknya menonton film-film seperti ini. Selain untuk hiburan, juga untuk menguji nyali keimanan kita.

Mungkin perlu membaca kritik tentang film ini di sini.

Gajah Mada dalam Guratan Prosa

- No comments
Langit Kresna Hariadi (LKH) sangat piawai dalam memberikan gambaran sejarah fiksi. Momentum sejarah Indonesia yang luar biasa kembali dikemas dalam tutur sastra. Sehingga muncul pertanyaan tentang objektivitas dan validitas data yang terdapat di buku ini.

Memang, ini adalah fiksi. Deskripsi yang terdapat di dalamnya tidak bisa ditelan mentah-mentah begitu saja, diharuskan untuk membandingkan kenyataan sejarah, sebagaimana yang terdapat dalam pengantar bukunya yang ke-2, LKH mengakui adanya beberapa kesalahan fakta sejarah. Bagi penikmat fiksi -bukan bagi penikmat sastra, sejarawan, dan kritikus- yang hanya mencari hiburan, apakah kesalahan ini dimaklumi?

Bagi saya, itu tidak bisa. Karena disadari atau tidak, fiksi sejarah yang ditulis dengan mengesampingkan fakta sejarah akan mengubah histori itu dan -ditakutkan- bahwa kebenaran sejarah tersebut terletak pada novel fiksi itu.

Sejarah -bagi beberapa orang- memang tergantung pada siapa yang menulis sejarah tersebut, yang ingin mencari enaknya sendiri untuk kepentingan pribadi. Namun bagi saya, LKH kok kayaknya tidak punya ambisi itu ya?

Keperkasaan yang luar biasa yang dimiliki Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara di dalam novel ini akan menumbuhkan mitos baru dan mengukuhkan mitos lama tentang kedigayaan seorang Gajah Mada yang hanya seorang Bekel dan meningkat karirnya menjadi seorang Mahapatih Majapahit. Mitos dan pengelu-eluan itu terlihat pada pasukan khusus tentara kita yang juga diberi nama sama dengan Bhayangkara.

Lalu bagaimana sikap pembaca?
Tentu saja setiap pembaca memiliki penilaian masing-masing dalam mengapresiasi karya sastra. Bagi saya sendiri, Gajah Mada dan juga buku-buku yang selanjutnya adalah buku yang dipenuhi dengan pelajaran yang menarik untuk diambil contoh dalam mempertahankan keyakinan, ketelitian, perhitungan langkah, dan piuritas ambisi.

Awalnya saya benci buku ini, tapi nyatanya saya telah membeli seri berikutnya. Mampus deh gue.**

Tuesday, 19 May 2015

RUSMINI

- No comments

Karena dorongan yang sangat -berasal dari kegelisahan dan harapan- Rusmini berpamitan. Anggrek, mawar, bunga sepatu, dan bunga-bunga lainnya yang tumbuh di pot-pot harus bersiap diri merindukan sentuhan Surmini. Siapapun yang akhirnya menyiram, memupuk, memotong tunas pengganggu, tentu akan dirasa tak selembut tangan Surmini. Surmini -pada senja yang pilu- berucap pada bunga, saya akan kembali.

Kepergiannya tidaklah seberapa. Hanya sebuah pencarian untuk memenuhi jiwanya yang momplong.

Maka ketika Rusmini ditawari untuk menjaga kasir sebuah warung internet ia mengiyakan. Dari sanalah ia bertemu Raden. Lelaki yang dirasa Rusmini bisa memengisi separuh jiwanya itu.

Rusmini mendambakan ketentraman. Di saat teman-teman sebayanya bisa memenuhi kehampaan seperti yang ia rasakan maka Rusmini pun memutuskan untuk mengakhirinya. Saya harus segera menikah. Gumam Rusmini. Keputusan menikah bukan keputusan sembarangan. Ia telah mendapat nasehat dan perenungan. Toh, teman-temannya -termasuk wejangan orangtuanya sendiri- mengiming-imingi.

Dan Rusmini yang tinggal di kamar kost seperti menerima jawaban doa-doanya ketika bertemu Raden. Apalagi Raden memiliki kematangan dan kedewasaan. Sehingga ketika Raden menyatakan cinta Rusmini pun mengiyakan.

Cinta terjalin rapi antara keduanya. Rusmini ingin dicintai, Raden sudi mencintai.

Tapi Raden terkesima, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Mas cari perempuan lain saja, saya urung menikah. Kata Rusmini.

Bagaimana bisa kau bilang begitu? Raden kalap. Bukankah sejak awal mereka sudah komit bahwa hubungan mereka akan berakhir pada labuhan pernikahan. Sepuluh kali Raden meminta penjelasan sepuluh kali pula Rusmini menjelaskan dengan diam... Dan tangis.

Maafkan aku mas. Sayangnya permintaan maaf itu hanya terucap di hati.

Ruang lebar, meskipun pepohonan tampak menjulang di sana sini namun cakrawala masih bisa ditangkap mata. Dan Masih tersisa banyak untuk dimasukkan semua ke dalam kornea. Namun tidak di sini, di kota, yang jangan angin sejuk, cakrawala pun sudah habis direnggut. Setiap ruang dipenuhi batu pondasi. Meskipun tidak kunjung selesasi yang penting sudah ada pondasi. Sehingga tidak ada lagi ruang sisa. Semuanya menyempit. Sialnya, Rusmini tinggal di sana.

Tetangganya tanpa diminta sering memberi pertunjukan. Sebuah kemasan. Sialnya lagi pas malam hari. Suara dampratan, makian, dan sesekali meludah. Rusmini tidak menolak untuk tidak mendengar itu. Suami macam apa dia ini. Tidakkah terenyuh mendengar isak tangis isterinya yang mencekik itu, atau tersentuh sedikit saja permohonan ampun dari bibir yang telah mamar itu.

Di situ Rusmini berdiri. Mendengar dan menyaksikan. Dan semua itu melahirkan kengerian di batinnya. Lalu bertanya-tanya. Apakah bapak pernah melakukan hal sama kepada ibu. Mungkin tidak, karena Rusmini selalu melihat ibunya bahagia. Setidaknya di depannya.

Kalau ibu mungkin pernah menjadi korban seperti itu berarti Rusmini pun punya peluang mendapat perlakuan yang sama.

Rusmini menjadi gamang.

Ketika ia harus mengucapkan perpisahan kepada Raden batinnya pun menjerit. Lebih baik menjerit sekarang dari pada perih nantinya.

Dan ia teringat pada bunga-bunganya. Indahnya melihat bunga. Indahnya menjadi bunga. Ya... Menjadi bunga kota.

2011
[full_width]